
“Yuri, kau ingin aku mengambilkan sesuatu untukmu?”
Suara Azka yang berada disampingnya yang kemudian membuyarkan pemikiran yang berputar-putar dibenaknya. Ketika ia menoleh, wajah Azka yang tersenyum padanya dengan seketika membuat hatinya menghangat..
“Apa yang kau inginkan?”
Azka tak menunggu Yuri memberikan jawaban, Ia langsung menggunakan sendok ditangannya untuk mengambil beberapa menu makanan didepannya dan meletakkannya diatas piring nasi milik Yuri.
“Terimakasih..”
“hm, makanlah.. Kau harus memiliki banyak tenaga untuk melakukan terapi hari ini..”
Yuri tersenyum, merasa Azka sedang memberikan perhatian untukknya..
“omong-omong soal terapimu hari ini, aku minta kau tidak menyuruh Yuna untuk menemanimu. Aku membutuhkannya melakukan pekerjaan..”
Ny.Dania menyela..
“Tapi I__ tapi nyonya, saya ingin menemani Kak Yuri..”
Ny.Dania memutar mata pada Yuna..
“Bukankah tadi aku sudah mengatakannya padamu. Aku memiliki acara dan kau harus ikut denganku..”
Yuna sedikit memberengut, namun kemudian suara ponselnya yang menandakan pesan masuk didalamnya, mengalihkan perhatiannya..
“I___ emm, Nyonya.. Kumohon ijinkan aku, dokter Ahmad bahkan baru memberitahuku bahwa ada yang ingin dibicarakan denganku. Nyonya bisa melihat sendiri isi pesannya..”
Azka membulatkan mata mengetahui hal itu..
Dokter itu kembali mengirim pesan?
Sial..
Sedangkan Yuna kemudian mencoba menunjukkan ponselnya, tapi Ny.Dania justru melengos-kan wajahnya..
“Nyonya..”
Suara Yuna terdengar mengiba..
“Tidak, kau tetap ikut denganku. Kau sadar kan berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk terapi kakakmu? Haruskah aku menyebut nominalnya, dan mengingatkanmu bahwa kau harus bekerja padaku untuk membayar semua itu..”
Tn.Rian menggelengkan kepala mendengar itu, sedangkan Azka justru sedikit menarik senyum dibibirnya atas sikap keras ibunya pada saat itu..
“Kurasa Mama benar, kau memang lebih baik ikut bersama ibuku, Yuna.. Akan lebih aman bila kau bersama dengan mama..”
Dan jauh dari dokter itu..
Azka menambahkan dalam hati.
Yuna langsung mengalihkan perhatiannya pada Azka, dan melihat pria itu mengedikkan mata padanya.
Yang langsung dibalas Yuna dengan putaran mata kearahnya.
Azka tidak berpihak padanya dan malah mendukung niatan ibunya..
Benar-benar pria menyebalkan..
Rasanya ia sudah lama tidak memaki Azka. Dan sekarang ia sangat ingin melakukannya pada pria itu..
“Kau lihat, Azka juga menyuruhmu untuk ikut denganku..”
Ny.Dania tersenyum senang setelah mendapatkan dukungan dari Azka.
“Tapi Kakak.. bagaimana dengan Kak Yuri ku..?”
“Sudah kukatakan Jena bisa diandalkan”
“Aku yang akan mengantar Yuri kerumah sakit..”
Ucapan Azka kembali membuat Yuna mengarahkan perhatiannya, sesaat melihat pria itu, ia kemudian justru terpaku melihat binaran dimata Yuri, ketika sang kakak kemudian memusatkan pandangannya pada Azka.
***
Azka POV
Melihat Yuna yang memberengut dan begitu berwajah kesal sekarang, apa dia sebenarnya juga ingin bertemu dengan dokter itu?
Dan apa dia mengira aku akan begitu saja membiarkannya bertemu dengan dokter itu?
Tidak..
Jelas saja tidak..
Dia tidak boleh bertemu dengan dokter itu.
Mengetahui ada pria lain, dokter itu yang berhubungan telpon dengannya, sudah cukup membuatku kesal.
Dia mungkin menganggapku konyol. Tapi dia hanya tak mengetahui jika seorang pria terkadang memiliki insting, atau firasat ketika ada sesuatu yang mengancam ingin mengambil sesuatu yang dimilikinya.
Dan aku merasakan hal itu..
Aku merasa dokter itu berniat untuk memiliki gadisku.
Sialan..
Saat seperti ini aku merasakan pentingnya Yuna memakai cincin pertunangan kami. Dan menunjukkan pada orang-orang yang masih belum mengetahui, bahwa gadis belia itu telah terikat pertunangan denganku.
Sayangnya aku sendiri yang justru telah membuang benda itu dan menganggapnya tak penting.
Tapi pada saat itu, Yuna memang benar-benar sedang membuatku marah karna dengan mudahnya dia melepas dan mengembalikan cincin itu padaku.
Lalu bagaimana aku harus menjaga milikku, selain menjauhkannya dari dokter itu.
Itulah satu-satu nya cara. Bukan karna aku pria pencemburu.
Bukan..
Aku yakin bukan karna itu.
Tapi..
Demi Tuhan, Yuna masihlah gadis belia. Dia delapan belas tahun.
Astaga..
Haruskah aku mengingat itu..
Dia memiliki kelabilan emosi dan jelas sangat muda terpengaruh. Bagaimana jika dokter itu merayunya dan dia terjerat kedalam perangkapnya.
Ini akan membuatku gila dengan hanya memikirkannya saja..
Meski Yuna mengatakan pria itu tak mungkin mendekatinya, karna telah menikah dan memiliki istri. Aku tetap tak sepenuhnya dapat menerima alasan seperti itu.
Oh, ayolah..
Melihat dari keadaan manusia didunia ini, populasi pria yang berkurang dan cenderung lebih sedikit bila dibandingkan dengan para wanita. Hal itu bisa dimanfaatkan para pria hidung belang untuk merayu wanita-wanita yang masih belum memiliki pasangan.
Dan dokter itu, aku bukan bermaksud menuduh. Ini hanya dugaan dan sekaligus hal yang kuwaspadai. Meski telah beristri, tapi dia mungkin berada dalam barisan pria hidung belang semacam itu dan sudah pasti dia bukan jenis pria setia.
Sampai saat ini aku masih beranggapan bahwa, satu-satunya pria yang bisa kupercayai sebagai pria setia adalah Papa. Papa begitu setia pada Mama, setia pada cintanya. Dan sangat jarang menemukan pria seperti nya. Karna bagiku tak ada pria lain yang kesetiaan dan cintanya bisa menandingi ayahku.
Itu..
Kecuali aku.
Ya..
Aku..
Karna aku mewarisi darah ayahku, darah pria setia yang mengalir didalam tubuhku. Aku memastikan diriku akan menjadi pria setia seperti Papa.
Jadi mana mungkin aku akan mempercayai dokter itu setia dan tidak akan menggoda Yuna.
Dia jelas sedang melancarkan aksi dengan berkali-kali mengirim pesan pada Yuna.
Modus..
Dan aku jelas tidak akan membiarkan gadisku terjebak..
“Azka..”
Aku menoleh pada Yuri dan merasakan sentuhan tangannya ditanganku. Dia telah membuyarkan isi dikepalaku..
“hm..?”
“Kau benar akan mengantarku kerumah sakit?”
Aku melihat binaran dimatanya, seperti yang dulu seringkali ia tunjukkan padaku.
Ya Tuhan..
Aku memang peduli padanya. Tapi aku tak ingin dia menyalah artikan kepedulian ku.
Aku sungguh tidak ingin memberinya harapan palsu. Yuri layak mendapatkan pria yang mencintainya.
Tapi permintaan Yuna padaku..
Aishh..
Gadis itu benar-benar menempatkanku dalam posisi yang sulit, tapi kusadari diriku tetap mengikutinya. Alasannya semata karna aku tak ingin melihat airmatanya.
Aku tak ingin melihatnya bersedih. Aku bahkan tak ingin membuatnya terus memohon.
Aku mencintainya..
Gadis itu, aku sungguh akan melakukan apapun demi untuk kebahagiaannya.
Dan yang menjadi salah satu kebahagiaannya adalah Yuri. Kesembuhan kakaknya, itu apa yang saat ini diinginkannya.
“Azka..”
Yuri kembali menggerakkan tanganku ketika aku hanya diam menatapnya.
“Ya, aku akan melakukannya. Aku tidak memiliki jadwal penting pagi ini..”
“Tapi.. Tapi aku tidak mau kau melihatku saat aku melakukan terapi”
Ada kecemasan yang kemudian kulihat dimatanya.
“Aku bisa menunggumu diluar..”
Dia meremas tanganku dan tersenyum.
“Terimakasih..”
Aku mengangguk dan mengalihkan tatapan dari Yuri. Dan yang kemudian kutemukan adalah Yuna yang sedang memperhatikanku.
Tatapan kami bertemu, sesaat sebelum dia mengalihkannya. Aku merasa ada sesuatu dimatanya, namun aku tak bisa membaca makna apa yang tersirat disana saat itu.
Sepuluh menit berlalu dan yang kulihat Yuri tidak berselera dengan makanan didepannya. Jelas saja, siapa yang akan bisa menelan makanan disaat ibuku terus mengucapkan kata-kata sindiran disetiap kalimat yang diucapkannya. Yang kulihat justru ketegangan yang menggurat diwajahnya.
“Kau sudah selesai, Yuri?”
Dia menoleh padaku dan mengangguk..
“Baiklah, ayo kita pergi..”
Aku memanggil Jena untuk membawa Yuri, dan terlebih dulu mengambil beberapa berkas dari dalam kamarku.
Kembali keruang makan, aku berpamitan pada Papa dan juga Mama. Tidak melewatkan untuk memberikan ciuman pada ibuku. Ibuku yang tersayang, yang kadang berbicara manis tapi lebih sering bermulut tajam.
Beralih dari Mama, aku mendekat pada Yuna yang berada disebelahnya. Gadis ini masih diam dan terus memberengut. Aku menyentuh kedua bahunya dan sedikit merundukkan tubuhku untuk kemudian berbisik ditelinganya.
“Aku pergi.. Aku akan mengantar Yuri kerumah sakit”
Dia hanya merespon dengan anggukan ringan, dan hal itu jelas tidak membuatku merasa puas.
Setidaknya dia seharusnya menoleh dan menatapku.
Maka aku meremas bahunya dan lantas memberikan ciuman dipipinya. Sebelumnya aku telah memastikan Jena sudah membawa Yuri keluar dan menungguku dimobil. Jadi takkan ada masalah dengan apa yang kulakukan pada Yuna.
Ciuman dipipinya pasti membuatnya terkejut. Dia hampir terlonjak, dan langsung memberikan respon dengan memutar tubuhnya dari kursi yang didudukinya, dan kedua matanya membulat menatapku. Namun semburat diwajahnya jelas lebih menarik perhatianku. Dia mungkin malu karna apa yang sudah kulakukan didepan Mama dan Papa.
“Pak___ Mas…”
Benar..
Nada suaranya jelas terdengar kesal. Tapi aku suka saat dia memanggilku seperti itu. Terdengar sangat manis, seperti rasa di bibirnya. Meski hal itu hanya akan kudengar bila dia berada diantara Papa ataupun Mama. Tapi Aku akan menemukan cara agar dia mau memanggilku seperti itu disetiap waktu.
“Aku pergi..”
Ucapku mengedikkan bahu, tapi kurasakan tangan mama memukul pada bahuku.
Oh..
Apalagi ini?
“Mama bilang jaga kelakuanmu, bagaimana jika gadis itu melihatmu mencium Yuna..”
Aku mengedikkan mata dan kembali memberikan kecupan dipipi Mama.
“Aku tahu, Ma..”
Papa menggeleng-gelengkan kepala padaku dan aku membalasnya dengan tersenyum.
Langkahku terasa ringan meski aku meninggalkan Yuna yang masih merasakan kekesalan terhadapku. Setidaknya dia sudah aman. Dia takkan bertemu dengan dokter itu.
Jena benar sudah membantu Yuri masuk kedalam mobil, aku menyusul dengan duduk disampingnya dibagian kursi belakang. Yuri terlihat tersenyum ketika itu dan aku mencoba untuk membalasnya.
“Kau sudah siap?”
“hm..”
Jena ikut bersama kami, dan supir yang seperti biasa mengemudikan mobilku, lantas menghidupkan mesin dan melajukannya meninggalkan halaman rumahku.
Melewati pagar, aku tanpa sengaja melihat sebuah mercedes yang terparkir dipinggir jalan, nampak tak asing, tapi aku mencoba mengabaikannya.
Bukankah banyak pemilik mobil yang semacam itu?
Namun kemudian aku menyadari jika mercedes itu mengikuti laju mobilku..
Benarkah seperti itu?
Aku mencoba memastikan dengan beberapa kali menoleh kebelakang, dan memang sepertinya mobil itu sedang mengikuti, dengan lajunya yang berada tak terlalu jauh dibelakang.
“Azka.. Ada apa?”
Yuri pasti menyadari saat aku berkali-kali menengok kebelakang dan hal itu kemudian dipertanyakan olehnya.
Aku tidak akan mengatakan jika aku sedang mencoba memastikan apakah benar ada yang mengikuti kami, aku tidak ingin membuat Yuri menjadi khawatir atau yang lebih parah membuatnya menjadi panik. Dia masih rentan dan cenderung memiliki ketakutan dan kewaspadaan berlebih setelah apa yang dialaminya. Dan aku merasa prihatin untuk itu.
Mungkin aku perlu berbicara dengan Jena dan mengatakan padanya nanti.
“Apa kau mungkin meninggalkan sesuatu?”
Yuri memiringkan kepala dan kembali bertanya padaku.
“Tidak, tidak ada apa-apa..”
“Tapi kau terus melihat kebelakang, ada apa?”
Yang kemudian kulihat, Yuri menoleh kebelakang mencoba mencari tahu apa yang ada dibalik kaca mobil dibelakang kami, dan jelas dia tidak menyadari apa yang sebelumnya terus kuperhatikan.
“Tidak ada apa-apa Yuri ssi, tenanglah..”
Dan yang kemudian kulihat, mercedes itu sudah tidak ada dibelakang laju mobilku.
Mungkin aku hanya terlalu berlebihan tentang pengemudi didalamnya yang sedang mengikuti kami. Dia pastilah hanya kebetulan berada disana sebagai pengguna jalan seperti yang lain.
***
to be continue