
Setelah memastikan Bibi Lia keluar melewati pagar rumah, Yuna baru kembali masuk dan menghampiri Husna dan Siska. Keduanya asik menikmati makanan yang tadi dibawakan Bibi Lia untuk mereka.
“Jadi apa kau akan menceritakan pada kami tentang kisah cintamu bersama dengan Tuan muda..? Hingga membuatmu berakhir ditempat ini dan…”
“Hei.. Kenapa kau menyebutku berakhir?”
Yuna memprotes..
“Aku belum berakhir.. Itu terdengar begitu kejam”
Ia memberengut pada keduanya..
“Jangan menyebutku seperti itu hanya karna kalian menganggapku berada bersama dengan seekor singa.. Begitukah?”
Husna dan Siska tergelak, sementara Yuna langsung menutup mulutnya, menengok kesekelilingnya dengan wajah panik.
Itu akan jadi masalah bila apa yang baru saja diucapkannya didengar oleh Ibu Azka.
“Baiklah akan ku rubah..”
Husna mengulang sambil menyomot makanan didepannya.
“Emm.. Sampai dimana tadi..?”
Yuna mendengus kearahnya..
“Aishh.. Terlalu banyak makanan dimulutmu. Biar aku yang meneruskan”
Sunny mengambil alih dengan terlebih dulu membuka kaleng minuman bersoda, yang menjadi kaleng keduanya yang telah ia buka.
“Kami sungguh penasaran Yuna.. Kau jelas menyembunyikan hubunganmu dengan Presdir. Bagaimana sebenarnya kisah cintamu dimulai hingga kini kau bisa duduk dihadapan kami selayaknya kami menyebutmu nona muda didalam rumah ini. Dan siapakah yang telah mengucapkan mantra sihir ataupun menyulapmu menjadi secantik ini..?”
Siska terang-terangan memandanginya tanpa berkedip.
“Kau memiliki rambut coklat yang indah. Kau luar biasa cantik, Yuna..”
Yuna menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Pipinya pasti telah memerah karna mendadak ia tersipu dengan pujian yang Siska ucapkan.
“Ya ampun.. Lihatlah bagaimana caramu memujinya, kau seakan sedang berusaha merayu pasanganmu”
“Kau pikir aku seorang lesbian..”
Siska mendelik kearah Husna yang terkikik melihatnya.
“Oh, ayolah ceritakan pada kami..”
Husna mengarahkan kembali pada inti obrolan mereka yang sebelumnya. Yuna kini menjadi gelisah dalam duduknya. Bagaimana dia harus mengarang cerita? Jelas ia tak pandai dalam hal itu. Dan tak mungkin juga ia mengakui bahwa dirinya sebenarnya telah terperangkap dalam jebakannya sendiri.
Itu sangat konyol..
Dan mungkin kedua temannya itu akan menertawakannya atau parahnya akan membencinya karna telah merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Azka.
Tidak..
Ia jelas tak akan mengatakan apapun pada mereka.
“Tidak ada yang bisa kubagi dengan kalian.. Semua berjalan begitu saja..”
Husna dan Siska saling menatap mendengarnya.
“Tidak mungkin..”
Husna tak terima dengan penjelasan singkat yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai penjelasan, dari Yuna.
“Pasti telah terjadi sesuatu diantara kalian.. Pada malam itu kau jelas tak mempersiapkan diri untuk sebuah pertunangan besar. Mungkinkan wanita yang seperti singa itu memergoki kau dan Presdir sedang berciuman? Tidak, tidak.. Pasti lebih dari itu. Kalian sedang bermesraan mungkin..?”
Ucap Husna santai sambil mengangkat kedua bahunya.
“Awhh.. Siska!!”
Setelahnya, Ia justru mengaduh cukup keras saat kemudian Siska memukulkan kaleng minumannya yang telah kosong keatas kepalanya.
“Kau harus membersihkan isi kepalamu yang telah kotor itu.. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?”
“Aku hanya mencoba menebak.. Bukan sesuatu yang serius kan?”
“Sebelum menebak kau seharusnya melihat betapa polosnya, Yuna.. Dia baru delapan belas tahun. Tidak mungkin dia berani melakukan hal semacam itu..”
Yuna menghela napas, setidaknya ia justru merasa terselamatkan oleh tindakan Siska dan sekaligus perdebatannya dengan Husna, yang kemudian justru menjadi pengalih hingga Ia tak perlu lagi menjawab pertanyaan mereka.
Sisa menit berikutnya mereka kembali meneruskan obrolan, Yuna bisa tertawa dengan keduanya sampai kemudian Husna dan Siska berpamitan untuk pulang, dan Yuna mengantar mereka sampai ke pintu depan. Disana Ia melihat seorang supir yang sedang menunggu dan mengatakan jika Ia diperintahkan sang Tuan untuk mengantar kedua temannya.
“Sampai bertemu lagi Yuna..”
“Aku akan senang bila kau mengatakan pada Presdir..emm, maksudku tunanganmu yang baik hati itu untuk mengijinkan kami datang lagi lain waktu”
“Aku tak ingin kalian pergi, sungguh..”
Yuna menahan tangan Husna..
“Tapi kami sungguh takut jika terlalu lama berada dikandang singa seperti ini. Bagaimana kalau dia bangun, kemudian mengaung lagi seperti tadi..”
Candanya membuat Yuna kemudian memukul pelan lengan Husna.
“Berhati-hatilah, sampai jumpa lagi..”
“Tenanglah kami pasti aman berada dalam mobil mewah itu. Aku mungkin akan meringkuk didalamnya dan tidur sampai besok pagi..”
Lagi-lagi Yuna dibuat tertawa oleh kedua temannya itu. Ia melambaikan tangan begitu keduanya memasuki mobil dan membuka jendela kacanya.
Selanjutnya sang supir melajukan mobil itu, meninggalkan Yuna yang masih berdiri disana. Ia masuk beberapa saat setelahnya dan langsung menuju teras belakang untuk membereskan bekas kaleng minuman juga sisa-sisa makanan seperti yang dikatakannya pada Bibi Lia tadi.
Namun Yuna dibuat terkejut, mendapati Azka yang kini duduk disana. Entah apa yang sedang diperhatikannya, karna sepertinya Ia tak mendengar langkah kaki Yuna pada saat itu.
“Pak Azka..”
Yuna mendekat, aroma dari sabun mandi langsung terhirup kedalam hidungnya. Wangi seperti biasanya dan benar-benar segar.
“Oh, mereka sudah pulang?”
Yuna hanya mengangguk..
“Sepertinya kalian bersenang-senang tadi?”
“Ya.. kami melakukannya. mereka banyak membuat lelucon tadi”
Azka melihat senyum tersungging diwajah Yuna.
“Lalu untuk apa kau kembali kesini..? Udara sudah terlalu dingin, sebaiknya kau masuk kedalam”
“Aku ingin membereskan meja terlebih dulu.. Aku sudah berjanji pada Bibi Lia tadi..”
Yuna mulai mengambil beberapa kaleng kosong yang tercecer diatas meja. Menyatukannya dalam satu nampan dan kemudian membuangnya ketempat sampah.
Ia kembali lagi, kali ini untuk membereskan sisa-sisa makanan. Ia tahu Azka terus memperhatikan apa yang dilakukannya, dan itu membuatnya gugup. Ia bahkan merasa tangannya sedikit gemetar saat memegangi nampan itu dengan kedua tangannya.
Azka tak berbicara lagi sampai kemudian Yuna kembali meninggalkan teras itu. Ia menduga Yuna akan langsung naik kekamarnya setelah meja itu telah bersih namun kemudian Yuna kembali lagi kehadapannya. Jari-jarinya terjalin didepan, dan tiba-tiba ia kembali bersuara..
“Terimakasih untuk membawa mereka kemari.. Saya merasa senang dan menghargai apa yang telah anda lakukan dengan membujuk Nyonya, tadi..”
Azka tak pernah menyangka Yuna akan mengatakan hal itu padanya. Suaranya bernada lembut dan penuh ketulusan.
“Sama-sama, Yuna.. Kebetulan aku dalam mood yang baik tadi”
Ia menunjukkan senyum nya, yang seakan makin melelehkan hati Yuna yang kemudian membalas senyum itu.
“Jika tidak keberatan, bisakah anda membawa mereka lain waktu..”
“Emm.. Akan ku pertimbangkan”
“Terimakasih, Pak dan selamat malam..”
Yuna sudah akan beranjak, namun tertahan saat Azka meraih pergelangan tangannya.
“Tidakkah kau ingin menemaniku disini? Duduklah.. Mungkin kita bisa membicarakan sesuatu”
“Apa..?”
Yuna cukup terkejut dengan permintaan Azka, terlebih pria itu masih memegangi pergelangan tangannya. Dan Yuna merasakan lagi perasaan seperti tersengat aliran listrik pada saat itu..
“Emm.. Sebaiknya saya masuk saja. Bukankah.. Bukankah tadi Bapak mengatakan udara diluar sudah terlalu dingin. Dan lagi, Nyonya akan marah bila saya tidak segera tidur. Mungkin besok aku akan memiliki lingkaran hitam dibawah mata dan juga kulit yang mengeriput. Nyonya tidak akan menyukai hal itu..”
Azka tersenyum mendengar alasan halus yang diucapkan Yuna sebagai penolakan terhadapnya. Ia kemudian melepaskan pergelangan tangannya.
“Masuk dan tidurlah.. Selamat malam, Yuna..”
Yuna mengangguk dan buru-buru beranjak. Entahlah, rasanya terlalu aneh dengan percakapan singkatnya dengan Azka tadi. Namun kemudian ia justru menarik sudut bibirnya dan tersenyum ketika kakinya perlahan melangkah menaiki anak tangga. Untuk pertama kalinya Ia tidak merasa kesal pada Azka, dan pria itu juga tak bersikap mengesalkan seperti yang biasa dilakukannya.
Dan kupu-kupu itu kembali berterbangan, menggelitiki perutnya. Mungkin karna itu, Ia terus tersenyum sepanjang malam itu sebelum dirinya benar-benar tertidur pulas dan rasanya ia juga bermimpi bertemu dengan Azka..
Oh, Ya ampun…
***
to be continue