At First Sight

At First Sight
Episode 37



Author POV


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Ny.Dania dan kemudian mempersiapkan dirinya dengan mandi dan mengganti pakaian tidurnya dengan celana jeans panjang dan atasan berwarna putih, Yuna memperlihatkan tampilan casual, khas gadis-gadis muda seusianya.


Dengan terlebih dulu harus berada di meja makan untuk melakukan sarapan bersama, kegelisahan mendadak kembali menyergapnya.


Bukan lantaran Ny.Dania yang mungkin akan memprotes apa yang dikenakannya, melainkan menyadari fakta dirinya berada dekat dengan Azka.


Keberadaan pria itu disampingnya, dengan tubuhnya yang menguarkan aroma parfum, murni parfum dan bukan bercampur dengan keringat melainkan sedilit wangi dari body wash, yang keharumannya terasa menyegarkan untuk dihirup, namun justru membuat Yuna merasa gelisah.


Sebelumnya hal itu bukanlah menjadi masalah, hingga mampu membuatnya gelisah. Namun sejak semalam, sejak Azka memberikan ciuman yang membekas dibibirnya.


Sejak wajah pria itu yang seakan tergambar dilangit kamarnya. Serta aroma dari tubuhnya yang ia rasakan mendominasi udara dalam kamarnya dan bahkan seakan menempel pada pakaiannya, meski nyata-nyata ia telah mengganti apa yang sebelumnya dikenakannya. Perasaan aneh itu yang menjadi sumber kegelisahannya.


Namun Yuna tidak mengetahui apa yang dirasakan oleh Azka yang kini duduk disebelahnya, dan memperlihatkan ekspresi yang biasa saja pada wajahnya, sebenarnya tak berbeda jauh dengannya.


Azka sedang bersusah payah mengendalikan dirinya, mengatur degup jantungnya yang tak menentu saat itu.


Semalam ketika dirinya memutuskan untuk menyusul Yuna yang berada di halaman belakang rumahnya, semata hanya untuk mengetahui hukuman macam apa yang diberikan ibunya. Namun kemudian hal itu sekaligus digunakannya untuk memastikan apakah jantungnya masih akan berdegup dengan cepat saat melihat gadis itu? Ataukah apa yang dirasakannya hanyalah rasa sesaat saja..


Lalu hasil yang didapatkannya adalah sama, jantungnya masih bereaksi dengan berlebihan. Dan ketika mengetahui Yuna yang terlihat tidak mengalami kesusahan membuat kehangatan merasuk ke dalam dadanya, menjadi rasa baru yang kemudian diketahuinya.


Dan bagaimana dengan ide untuk bersembunyi dari ibunya? Hal itu sebenarnya terlintas begitu saja, hingga ciuman yang dilakukannya tanpa pikir panjang hanya karna merasa kesal dengan Yuna yang tak bisa diam, sekaligus tergoda oleh bagaimana gadis itu menggigit bibirnya. Hasratnya terbangun karna itu, dan kesempatan dalam kesempitan itu terasa sangat menguntungkan untuknya. Ia dengan cukup lama dapat merasakan bibir sewarna merah jambu itu didalam mulutnya.


Sial nya, hal itu lah yang kini menjadi sumber kegelisahannya. Hingga perlu untuk nya mengendalikan diri agar tak lagi menginginkan untuk mencicipi rasa itu didalam mulutnya..


“Kenapa kalian hanya diam saja? Dan malah terlihat canggung.. Bukankah seperti itu, Ma..?”


Suara Tn.Rian memecah apa yang saat itu sedang berada dalam pikiran keduanya. Azka memberi respon dengan berdeham, sementara Yuna tersenyum kikuk tanpa memberi jawaban.


Ny.Dania juga hanya berdeham, sambil terus memperhatikan antara Azka dan Yuna. Sepertinya Ia masih belum mengatakan pada sang suami mengenai kejadian semalam yang Ia pergoki tengah dilakukan oleh Azka dan Yuna dihalaman belakang rumahnya. Yang sukses membuatnya mengomeli keduanya, dan terutama Azka putranya sendiri atas kelakuannya.


“Bagaimana dengan acara amal yang kemarin kalian hadiri? Kau belum menceritakannya padaku, Ma..”


Tn.Rian membuka topik, membuat Yuna langsung mengarahkan tatapannya pada Ny.Dania yang kemudian akan memberikan jawaban..


“Kau bisa tanyakan itu pada Yuna, Pa..”


“Oh, seperti itu kah?”


Pada saat Tn.Rian mengarahkan perhatian padanya, Yuna menjadi sedikit memucat pada wajahnya dan keringat dingin mendadak muncul didahi nya.


“Bagaimana Yuna? Apakah acaranya berjalan dengan baik..?”


“Emm, itu.. Acara itu..”


Yuna memilin jari-jari tangan di atas pangkuannya. Merasa gugup oleh haruskah ia mengatakan kejadian memalukan yang dilakukannya.


“Katakanlah pada ayahku, disana kau melakukan perkelahian dengan gadis yang menginginkan tunanganmu..”


Yuna memutar mata setelah mendengar Azka membisikkan itu ditelinganya, dan menyadari pria itu justru sedang menahan geli dengan situasi yang dihadapinya.


“saya.. Maafkan saya Tuan, tapi saya membuat kekacauan dan justru mempermalukan Ibu disana. Saya sangat menyesal..”


Yuna menunduk malu, tak berani menatap pada ayah Azka yang mengerutkan dahi mendengarnya.


“Oh, benarkah?”


Tn.Rian kemudian mengarahkan tatapannya pada sang istri yang nampak menghela napasnya dengan berat..


“Dia melakukan perkelahian dengan Jessica didalam toilet. Itu benar-benar mempermalukanku, Pa..”


“Wanita itu yang mencelaku lebih dulu..”


Yuna menyela dan kembali menunduk.


“Sepertinya aku bisa me mahami penyebabnya. Tapi lain kali kau harus menjaga sikap mu, Yuna.. Ingatlah posisimu dan statusmu sekarang, Kau adalah tunangan putraku. Bukan aku bermaksud untuk menekanmu, tapi kau harus tau sekecil apapun hal yang kau lakukan, akan menjadi besar dimata orang-orang”


“Saya mengerti Tuan.. Maafkan saya..”


Yuna berucap masih dengan menundukkan wajahnya. Benar-benar merasa tak enak hati pada ayah Azka yang sejak awal selalu bersikap baik dan menunjukkan keramahan padanya. Bahkan telah beberapa kali melindunginya dari serangan ibu Azka.


“Aku sudah berencana mendaftarkannya mengikuti kelas kepribadian”


Yuna mengangkat wajah mendengar apa yang dengan jelas dikatakan oleh Ny.Dania.


“Tapi Ibu..”


“Jangan membantah, Yuna.. Itu bagian dari apa yang harus kau lakukan untuk menjadi pantas sebagai tunangan putraku..”


Yuna hanya bisa memberengut, menyadari Ia takkan mampu melawan apa yang dikatakan oleh ibu Azka, setelah kesalahan yang kembali dibuatnya.


“Dan sepertinya kalian akan melakukan sesuatu hari ini?”


Menyadari sang istri yang mulai terlihat kesal, setelah menyinggung apa yang terjadi pada acara amal dihari sebelumnya, Tn.Rian dengan segera mengubah topik pembicaraan.


“Aku tak akan membocorkan pada kalian apa yang akan kulakukan dengan Yuna. Ini murni menjadi urusanku.. Kalian hanya perlu melihat hasilnya nanti..”


“Oh, aku jelas tak sabar untuk mengetahuinya. Tapi aku akan menunggu..”


Tn.Rian berseloroh dan kembali meneruskan..


“Kulihat kau dan Yuna semakin akrab. Lebih sering untuk pergi bersama memang bagus untuk kalian menjadi dekat. Kau juga setuju kan Azka jika ibu mu dan tunanganmu menjadi dekat?”


Yang ditanya justru kesulitan memberi jawaban. Azka hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan atas apa yang dikatakan sang ayah.


***


To be continue