
Azka POV
Aku marah..
Kecewa..
Dan terluka..
Karna itu aku meninggalkannya disana.
Aku tidak habis mengerti dengan apa yang diminta Yuna dariku.
Permintaannya sungguh konyol. Dan apa dia berpikir aku akan mengabulkannya?
Tidak..!
Aku paham jika dia menganggap Yuri segalanya untuknya. Tapi memintaku untuk berpura-pura mencintai Yuri bukanlah solusi.
Tidakkah sedikit saja dia memahami perasaanku?
Oh,
Dia jelas-jelas mengabaikan nya. Gadis itu tidak perduli bahkan setelah Aku membuat pengakuan padanya. Aku bahkan menunjukkan padanya melalui tindakan nyata bahwa aku memiliki perasaan terhadapnya. Aku menyukainya..
Tidak..
Tapi lebih dari itu. Aku telah mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Tidakkah dia menghargai itu?
“Sial Yuna..! Mengapa kau lakukan ini padaku?”
Memikirkan permintaanya hanya semakin membuatku marah. Aku telah memukul kemudi mobilku berkali-kali sebagai sasaran kemarahanku.
Aku sedang dengan leluasa memacu mobilku dalam kecepatan tinggi. Tidak heran bila tak banyak pengendara, ini dini hari. Dan aku meninggalkan Yuna sendirian disana, didalam rumah sakit yang memiliki hawa tidak mengenakkan.
Oh Tuhan..
Aku juga melihat ketakutan dimatanya ketika aku marah dan aku mengabaikannya.
Apakah aku menyesalinya sekarang?
Tapi melihat dia melepas cincin itu dan mengembalikannya padaku, serta menolak ketika aku mencoba memasangkannya kembali, sungguh telah membuatku benar-benar marah. Meski sejujurnya sekarang aku menjadi tidak perduli apakah dia memakai cincin itu atau tidak, gadis itu telah berstatus tunanganku. Dan akan tetap seperti itu.
Sial..
Aku bisa menjadi ******** pemaksa yang akan tetap memaksakan status pertunangan itu terhadap Yuna.
Aku tidak lagi perduli..
Bukankah gadis itu juga sama tak peduli dengan perasaanku.
Aku kembali memukul pada stir ketika berbelok untuk memasuki jalanan menuju rumah. Penjaga membukakan pagar untukku dan mobilku melesat dengan cepat memasuki halaman dan langsung masuk kedalam garasi.
Keluar dari dalam mobil, aku pasti telah membanting pintu mobil itu dengan begitu keras. Masuk kedalam rumah, aku melihat Mama yang baru membuka pintu kamarnya dengan wajah mengantuk, dan terkejut ketika melihatku.
Aku pasti telah membuat kegaduhan..
“Azka Suara apa itu? Kau pulang? Sendiri? Bagaimana dengan Yuna?”
Demi Tuhan Mama..
Tak perlu mengkhawatirkan gadis itu.
Aku ingin berteriak..
“Azka.. Apa yang terjadi?”
Aku memberi isarat dengan tanganku agar Mama tidak mendekat dan tetap berada disana.
“Aku merasa lelah, Mama..”
“Lalu bagaimana dengan Yuna? Kau meninggalkan gadis itu sendirian disana?”
“Dia akan baik-baik saja. Yuna bisa menjaga dirinya sendiri..”
“Azka..!”
Aku tahu Mama masih ingin berbicara, namun aku dengan segera meninggalkannya dan masuk kedalam kamarku, melempar tubuhku keatas tempat tidur dengan tanpa melepas sepatuku.
Aku perlu tidur dan melupakan semuanya. Tapi begitu memejamkan mata, wajah Yuna dengan raut ketakutan dan berlinang airmata, justru terlintas.
Membuatku mengerang dengan berlebihan..
Bisakah dia dikeluarkan dari dalam pikiranku, sekarang.
“Azka.. Semua baik-baik saja kan?”
Aku membalikkan tubuhku dan mendapati Mama telah masuk dan dalam gerakan mendekatiku.
“Tidak bisakah Mama mengetuk pintu terlebih dulu?”
Aku bergerak bangun dan duduk dipinggir tempat tidur..
“Apa masalahmu..? Aku ibumu dan bukan orang lain. Haruskah seformal itu hanya untuk masuk kedalam kamar putraku..”
Aku mendengus pada Mama yang kini telah berdiri dihadapanku..
“Aku tidak dapat tidur, tapi Papamu terbangun karna mendengar suara gaduh itu dan memintaku untuk bertanya padamu apa yang sebenarnya terjadi?”
“Aku sudah katakan, Ma.. Aku lelah. Bisakah Mama keluar dan hanya membiarkanku beristirahat?”
“Sungguh?”
“Hmm..”
“Baiklah, tapi bisakah kau memberitahuku bagaimana dengan keadaan Yuna dan kakaknya?”
“Mereka baik.. Jika Mama tidak percaya padaku, Mama bisa mengunjunginya besok”
Mama memicingkan matanya padaku..
“Mama memang sudah merencanakan akan kesana besok. Tapi sikapmu begitu mengesalkan, Azka. Aku tidak yakin dengan apa yang kau katakan jika keadaan baik-baik saja. Kau jelas terlihat sedang bermasalah..”
Ya..
Aku bermasalah..
Bermasalah dengan seorang gadis belia yang telah menjadi kesayangan ibuku.
Mama tidak lagi berbicara dan langsung keluar dari dalam kamarku.
Menarik napas dalam-dalam aku sedang mencoba untuk merilekskan diriku dan menghilangkan gambaran-gambaran wajah Yuna yang masih terus melintas didalam benakku.
Sampai pada sekitar pukul enam pagi hingga kemudian matahari terbit, aku benar-benar tidak bisa tidur. Meninggalkan Yuna justru membuatku kian gelisah.
Memutuskan untuk turun dari atas tempat tidur, aku dengan segera masuk kedalam kamar mandi dan menyegarkan tubuhku.
Ketika pada akhirnya aku keluar dari dalam kamar, keadaan rumah sepi. Tidak ada Bibi Lia yang berada didapur seperti biasanya.
Melangkahkan kaki ku menuju pada salah satu kamar yang biasanya ditempati Bibi Lia ketika dia menginap, aku dengan perlahan membuka pintunya. Melihatnya yang tertidur dengan mendekap sesuatu didalam pelukannya.
Ketika telah mendekat, aku mengetahui itu adalah bingkai foto Doni. Bingkai foto yang sebelumnya dipakai dalam acara pemakaman.
Aku menatapnya, wajahnya bahkan masih memperlihatkan sisa-sisa airmatanya. Bibi Lia pasti telah terjaga sepanjang malam dan terus menangis. Menangisi putranya yang telah tiada. Keadaannya begitu memprihatinkan dan aku begitu sedih melihatnya.
Memasangkan selimut ditubuhnya aku lantas meninggalkannya. Dia membutuhkan tidur dan beristirahat.
Keluar dari kamar bibi Lia, aku menemui seorang supir yang biasa mengantarku dan menanyakan padanya keberadaan Mama dan juga Papa..
“Nyonya telah meminta diantar pada pagi-pagi sekali, dan Tuan menemaninya..”
Mama pasti telah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis kesayangannya.
“Apa kita akan pergi sekarang, Tuan..?”
“Ya, tentu saja..”
“Anda akan terlebih dulu kerumah sakit atau..?”
“Tidak, aku akan langsung ke kantor..”
Aku tidak ingin datang.
Aku tidak akan berada disana pada saat ini dan bertemu dengan Yuna. Akan lebih baik jika untuk sementara aku menghindarinya. Aku masih saja merasakan marah ketika mengingat permintaannya..
Aku masuk kedalam mobil dan membiarkan supir mengemudikannya. Hingga kemudian setelah beberapa menit lamanya berada diperjalanan, laju mobil berhenti didepan gedung perusahaan.
Aku sudah akan keluar ketika seseorang telah bergerak membukakan pintu untukku, namun suara dering ponsel yang kemudian menahanku untuk melakukan itu.
“Halo Ma..”
“Kau dimana sekarang?”
Aku langsung menyadari tak ada kalimat basa-basi dari apa yang Mama katakan.
“Aku telah sampai dikantor..”
“Datanglah ke rumah sakit, keadaan menjadi gawat dan jelas Mama memerlukan penjelasan darimu.”
“Mama, apa yang..”
“Cepatlah Azka, bahkan ayahmu menunggumu disini..”
Mama menutup telpon bahkan sebelum aku mengatakan ketersediannku untuk pergi kesana.
Itu jelas bukan sebuah permintaan melainkan perintah..
“Rumah sakit, Paman..”
Pintu mobil kembali ditutup dan paman kembali melaju kejalan raya. Butuh beberapa menit untuk sampai dirumah sakit. Dan beberapa menit itu rasanya begitu cepat ketika mobil yang membawaku didalamnya kembali berhenti dengan Paman yang langsung bergerak keluar untuk selanjutnya membuka pintu mobil untukku.
“Terimakasih Paman..”
Setelahnya, dengan langkah lebar aku memasuki lobi dan telah mengetahui tempat mana yang akan ku tuju.
Disana..
Ketika sejenak kemudian aku menghentikan langkahku. Aku melihat Mama yang berada dalam rangkulan tangan Papa, sedang berdiri didepan pintu ruang ICU. Dengan tatapan yang terus tertuju kedalam ruangan itu.
“Mama.. Papa..”
Aku sedikit berlari untuk menghampiri mereka.
“Oh, Azka.. Mama masih tidak tahu apa yang terjadi tapi gadis itu, bagaimana bisa kakak Yuna begitu menjadi histeris dan mencari-cari keberadaanmu..? Meski Yuna berada didalam, dia tetap tak bisa untuk menenangkannya.”
Aku dapat mendengar suara teriakan Yuri pada saat itu yang menyebut namaku..
“Biarkan aku masuk terlebih dulu Ma, Pa.. Aku akan menjelaskannya nanti”
Walau bagaimana pun aku lah seseorang yang dapat menenangkan Yuri. Dan aku akan melakukannya. Lebih untuk membuat keadaan tidak menjadi semakin panik..
“Azka.. Dimana Azka..! Katakan padaku dimana Azka.. Azka.. Tidak, Azka..”
“Yuri..”
Aku memanggilnya meski pada saat itu pandanganku tertuju pada Yuna.
Ya Tuhan..
Gadis itu..
Dia masih menangis.
Raut diwajahnya begitu terlihat memilukan. Dia akan bisa menghancurkanku dengan keadaannya yang seperti itu. Melihat airmatanya bahkan seakan telah ada sebilah belati yang menghujam kedalam tubuhku.
Kesedihan jelas tak dapat terelakkan dari dalam sorot kedua matanya yang sayu, terlebih melihat dua orang suster yang pada saat itu mencoba untuk mengikat tangan dan kaki Yuri.
Haruskah sampai seperti itu..
“Yuri..”
Aku bergerak semakin dekat menghampirinya dan sepertinya Yuri kemudian menyadari keberadaanku. Dia berhenti meronta dari dua orang suster yang memeganginya. Bahkan ada seorang dokter yang juga memeganginya.
Oh..
Dokter itu..
Dokter wanita itu, aku sempat melihatnya menghadiri pemakaman. dan bahkan aku juga mengetahui Jessica berada dalam barisan para pelayat. Entah ada hubungan apa yang sebelumnya terjalin dengan Doni, aku masih tak mengetahuinya.
Tapi dokter wanita itu, dialah yang selama ini menangani Yuri.
Dan siapakah yang telah mengundangnya untuk datang?
“Az-Ka..”
“Aku ada disini..”
“Az-ka..”
Ketika kemudian aku mencapai disisi tempat tidurnya, Yuri menyentakkan tangan kedua suster itu dan langsung memelukku.
“Az-ka.. Aku takut.. Aku benar-benar takut..”
“Tidak apa-apa Yuri.. Bukankah sudah kukatakan tidak akan ada yang menyakitimu. Kau hanya bermimpi..”
Dia menggelengkan kepalanya..
“Kau tidak mempercayaiku?”
“Tidak.. Aku takut.. Aku benar-benar takut..”
Aku tidak menyangka akan seperti ini..
Seorang wanita yang pintar seperti Yuri akan menjadi seperti ini.
Menyedihkan..
Dan sulit dipercaya.
Sedangkan masih jelas terekam dalam ingatanku saat dia begitu lihai menangani pekerjaannya. Yuri juga selalu dapat untuk diandalkan.
Tapi keadaannya yang sekarang, aku harus menyebutnya dengan memprihatinkan.
Bahkan beberapa saat setelahnya, setelah dia dapat untuk ditenangkan dan perlahan mengenali dokter wanita itu dan juga Yuna yang berada disekitarnya, Yuri masih tak ingin melepaskan tangannya dariku. Dia benar-benar memandangku seolah aku lah satu-satunya orang yang dapat untuk menjaga dan melindunginya. Berbeda ketika sebelumnya dia menatapku dengan binar-binar dikedua matanya. Sorot mata Yuri yang sekarang justru lebih sering terlihat penuh dengan kewaspadaan dan serta antisipasi didalamnya.
Dua orang suster telah keluar dari dalam ruangan, Yuri pun perlahan memejamkan kedua matanya dan pegangan tangannya pada pergelangan tanganku ikut mengendur. Pengaruh obat sepertinya yang kemudian membuatnya kembali tertidur.
***
to be continue