
Yuna menghela nafas panjang, setelah seharian mengikuti perintah Ny.Dania untuk belajar merangkai bunga, akhirnya ia bisa duduk santai di taman belakang rumah.
“Sedang santai rupanya.”
Yuna terkejut dan spontan membalikkan badannya dan menemukan sumber suara yang menggangu waktu santainya.
Azka yang baru pulang dari kantor, tersenyum miring dan berjalan menghampiri Yuna.
“Sudah cukup santainya, ayo ikut aku.”
Tanpa basa basi Azka menarik tangan Yuna, memaksa gadis itu ikut dengannya.
“Bapak mau bawa saya kemana? Saya baru saja istirahat pak.”
Yuna berusa melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Azka.
“Kau hanya perlu diam dan ikut aku.”
Akhirnya Yuna hanya pasrah dan mengikuti kemana Azka akan membawanya.
Sesampainya di lantai atas, Azka langsung menyeret Yuna masuk ke kamarnya.
“Pak Azka kenapa anda membawa saya ke kamar anda. Ibu bisa salah paham lagi kalau begini.”
“Aku sengaja membawamu kekamarku, supaya kamu terbiasa dengan suasana kamar calon suamimu.”
Azka menyeringai saat melihat wajah Yuna yang terkejut mendengar kata-katanya.
“Pak Azka, hentikan kepura-puraan ini.”
Yuna mulai jengah dengan tingkah Azka yang sangat menyebalkan menurutnya.
“Siapa yang berpura-pura sayang.”
Azka berjalan mendekati Yuna, sehingga Yuna otomatis mundur untuk menghindari tubuh Azka yang semakin dekat dengannya. Sampai akhirnya punggung Yuna menabrak dinding kamar. Azka mengurung Yuna dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajahnya pada Yuna.
“Apa yang dilakukan Bajingan ini padaku, oh Tuhan tolong aku..”
Yuna hanya bisa membatin, spontan ia menutup kedua matanya.
“AZKA... YUNA”
Teriakan Ny.Dania refleks membuat Yuna membuka matanya dan mendorong tubuh Azka menjauh darinya. UntukoYuna kaget bukan main melihat ibu Azka berdiri di depan pintu dengan wajah memerah.
“Oh astaga Yuna, maafkan aku, aku lupa menutup pintu. Jadinya mama memergoki kita.”
Yuna memelototi Azka yang seenaknya berbicara asal. Bisa Yuna lihat api kemarahan terpancar di wajah Ny.Dania.
“Aku tunggu kalian di bawah.”
***
Rasanya Yuna sangat ingin menyumpal mulut Azka yang telah seenaknya sendiri dalam berbicara.
Ia kemudian dengan cepat mengikuti langkah pria itu untuk menuruni tangga dan menghampiri Tn.Rian dan Ny.Dania.
Bila Tn.Rian terlihat biasa saja, menunjukkan ketenangan seperti biasanya bahkan memberikan senyum padanya, berbeda halnya dengan Ny.Dania yang pada saat itu menatapnya dengan kekesalan yang menggurat diwajahnya dan dalam kemarahan yang sebentar lagi akan meledak.
Oh Ya ampun..
Bukankah hal itu kini juga telah menjadi sesuatu yang biasa untuk diterima oleh dirinya. Seperti halnya kesalahpahaman yang selalu dilihat oleh ibu Azka yang belum sekalipun bisa untuk ia jelaskan kebenarannya.
“Jangan mengatakan apapun untuk membela dirimu, Yuna..!”
Yuna langsung mengunci mulutnya ketika Ny.Dania memberikan tatapan tajam terhadapnya,menandakan Ia tak membutuhkan lagi penjelasan apapun darinya.
“Apa yang baru saja aku lihat dikamarmu? apa yang Kalian berdua perbuat didalam sana..?”
Ny.Dania telah beralih ke Azka..
“mama.. Aku hanya ingin..”
“Kau akan mengatakan jika Kau menginginkannya? Menginginkan gadis belia mu? Hah..? Keterlaluan..!”
“Tidak.. ma, bukan seperti itu..”
Tidak ada kesempatan bagi Azka untuk menjelaskan ketika sebuah tas tangan ibunya telah menghantamnya berkali-kali. Tubuhnya kini yang menjadi sasaran amukan ibunya.
“mama.. Kenapa kau jadi suka memukulku..?”
“Kau pantas mendapatkannya..!”
Tn.Rian kembali hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah sang istri dan Azka yang mencoba untuk menghindari pukulan dari ibunya. Sedangkan Yuna, Ia justru sedang kesulitan menahan tawa dengan apa yang saat itu disaksikannya.
“Apa sih yang kau lihat dari gadis itu? Yuna tidak lebih cantik dari Jessica.. Dia hanya gadis belia. Coba kau perhatikan lagi, Yoona bahkan memiliki dada yang belum sepenuhnya bertumbuh. Apa yang bisa kau nikmati dari tubuh gadis kurus seperti itu..?”
Disaat akhirnya Ny.Dania berhenti memukulkan tas tangannya ketubuh Azka, dan beralih menatap Yuna. Yuna tak lagi merasa perlu menahan tawa, Ia tidak mungkin menertawakan dirinya sendiri kan.
Ia membelalakkan mata kali ini oleh kata-kata Ny.Dania yang terang-terangan mengoreksi kekurangan tubuhnya. Yuna merasa malu, terlebih wanita itu membicarakannya didepan sang suami dan juga didepan Azka yang kemudian menatapnya, seakan sedang membenarkan perkataan ibunya bahwa dirinya memang tidaklah menarik secara fisik.
“Astaga mama.. Ada apa denganmu? Aku melihat kau sudah cukup tenang pagi tadi saat mengajari Yuna merangkai bunga.. Tapi sekarang, Aku menilaimu kembali dikuasai amarah. Apa yang terjadi?”
Tn.Rian mengambil alih, mengendalikan keadaan yang dirasanya menjadi sangat tidak nyaman untuk Yuna, terlebih setelah Ia memperhatikan gadis itu menunduk dengan jemarinya yang mengusap sudut matanya. Tn.Dania memperhatikan Yuna yang sedang menyembunyikan tangis saat itu.
“Tolong jaga ucapanmu.. Kau akan menyakiti Yuna bila berbicara seperti itu..”
“Aku berbicara hal yang benar.. jangan munafik. Kebanyakan pria menyukai dan menikmati gadis berpayudara besar kan? Sedangkan Yuna, gadis itu memang hanya…”
Ibu Azka menahan kalimatnya saat sang suami merangkulnya, *** bahunya dan menunjukkan pada apa yang saat itu dilakukan oleh Yuna dengan beberapa kali menyeka matanya.
“Oh Tuhan, papa.. Jadi apa yang harus kulakukan? Aku seharusnya memiliki banyak putra, agar bila ada satu yang mengecewakanku.. Aku masih bisa membanggakan putraku yang lain..”
“Aku cukup bisa membanggakan Azka..”
“Sekarang tidak denganku.. Aku tak lagi bisa membanggakannya setelah semua orang tahu siapa yang menjadi tunangannya..”
“Apa masalahnya dengan siapa yang dijadikan tunangan oleh putra kita. Azka memiliki hak untuk memilih siapapun gadis yang diinginkannya..”
“Tapi mereka terus membicarakannya, pa.. Teman-temanku terus-terusan membahas gadis biasa itu, dan Azka yang tak seharusnya bertunangan dengannya. Semua yang mereka katakan membuat telingaku panas. Aku bahkan tak bisa menikmati makan siangku.. Aku langsung pergi karna sudah tidak tahan..”
karna itu Ny.dania sudah kembali pulang tidak lama setelah kepergiaannya dari rumah. Pembahasan mengenai tunangan putranya membuatnya sangat tidak nyaman.
Kekesalannya pada beberapa teman yang dengan sengaja meledeknya, berubah dan bertambah menjadi kemarahan saat melihat apa yang Azka dan Yuna lakukan tadi.
“Sudahlah ma, jangan dengarkan mereka.. Orang yang semacam itu tidak pantas untuk dijadikan teman”
“Diam Kau, Azka! Mama tidak perlu pendapatmu.. Kau yang seharusnya mendengarkan mama.. mama akan memperingatkanmu untuk jangan mencoba lagi berada dikamar bersama Yuna.. Kalian tidak pantas melakukan perbuatan dosa didalam rumahku..”
***
to be continue