
Sesuai rencana yang sudah dibuat Azka dan Yuna sebelumnya. Bahwa begitu mereka kesibukan Azka di kantor berkurang, mereka langsung akan melaksanakan bulan madu tiga hari di Pulau Bora-Bora, pulau dalam kelompok Leeward pulau Tahiti di polinesia prancis yang sangat dekat dengan samudra Pasifik.
Alasannya simple, Karena tempat itu sangat indah dengan menyuguhkan resort-resot mewah didekat pantai-pantai yang memberikan pemandangan indah dan romantic cocok untuk berbulan madu. Azka mendapatkan informasi itu dari rekan kerjanya di new York yang merekomendasikan tempat ini melalui email dan mengirimkan photo-photo indah disana juga. ketika ia tunjukan pada Yuna ternyata Yuna tertarik dan menyukai view yang ada diphoto tersebut dan membuatnya benar-benar penasaran dan ingin menginjakkan kakinya disana.
Begitu mereka sampai diBandara mereka mendapat sambutan hangat oleh Representative dari Hotel yang akan Yuna dan Azka inapi yaitu Bora-Bora Nui, Azka dan Yuna juga dikalungi bunga yang mereka namai Flower Lei atau bunga selamat datang, setelah koper bawaan Yuna dan Azka diurus dengan baik oleh mereka lalu mereka diajak naik Private Boat milik Hotel Nui. yang membawa mereka dari Bandara sampai ke lokasi resort yang akan dituju Yuna dan Azka. Katanya jarak yang ditempuh dari bandara menuju resort tersebut adalah 25 menit.
Terdengar sama seperti dari Incheon ke Subway yang akan membawa ke Seoul. karena pemandangan disini benar-benar indah air laut yang jernih dengan pasih putih serta jajaran pohon-pohon kelapa dan angin laut yang bertiup sepoi-sepoi membuat pasangan pengantin baru ini sangat nyaman. Apalagi di dalam Private Boat atau lebih tepatnya kapal fery mini ini hanya ada Azka dan Yuna serta satu nahkoda dan satu pelayan yang akan siap melayani keperluan Yuna dan Azka.
Yuna dan Azka berdiri diatas kapal sambil bersandar pada jagaan kapal. Mereka terhanyut memandang indahnya air laut yang berwarna biru langit, dari sini mereka dapat melihat dengan jelas kerumbu-kerumbu karang yang cantik dan ikan-ikan laut yang berwarna warni. Yuna dan Azka sama-sama memakai pakaian santai ala pantai. Mereka juga memakai kacamata couple berwarna hitam Yuna mensandarkan kepalanya dibahu Azka. Dia tadi sempat mengalami jet leg saat tiba dibandara. Tapi untungnya selama perjalanan menuju hotel yang akan mereka inapi sangatlah indah.
Azka memegang tangan Yuna sambil meremas-remasnya dengan lembut. Dia benar-benar terlihat bahagia sekali. Azka mengangkat telapak tangan Yuna dan menciumnya dengan penuh perasaan.
“Apakah mabuk penerbangannya sudah hilang?” tanya Azka dengan penuh perhatian pada Yuna.
“Iya.. sudah mendingan.” Jawab Yuna.
“Kita akan meghabiskan waktu ditempat yang indah ini kan?” tanya Yuna sambil memandangi wajah Azka yang hanya berjarak 10senti dari wajahnya sendiri.
“Tentu saja.. akan menghabiskan waktu berdua yang sangat indah juga. kau mau dimulai dari mana Honeymoon kita ini?? Apa dari proses pembuatan generasi baru kita dulu?” bisik Azka dengan nakal. Dia mulai menggoda Yuna.
“Ah.. apa-apaan sih..” elak Yuna dengan muka bersemu merah.
Azka hanya tersenyum puas karena selalu berhasil menggoda dan menjahili Yuna. Azka memeluk Yuna dari belakang dan menciumi pipi Yuna. Tangan Yuna ia rentangkan kesamping bersama dengan tangannya. Seperti sebuah adegan di film romantic Titanic. Jack and Rose. Yuna memejamkan matanya merasakan angin mengelus pipinya dengan lembut. Rasanya ia seperti terbang dengan pelindung Azka yang nyaman sehingga berpikir tidak akan pernah takut jika jatuh.
~***~
Yuna langsung melompat keatas Super bed yang super halus dan nyaman begitu seorang pelayan hotel yang tadi mengantarkan koper kekamar mereka pergi. Yuna duduk diatas kasur sambil melompat-lompatkan tubunnya keatas kasur yang sangat empuk dan membel. Yuna menarik koper miliknya dan Yuna. Lalu tanpa merapikan isinya dia langsung menyimpannya didalam lemari yang sudah disediakan. Azka membuka gorden pada jendela kamar hotelnya.
“Wahhh…!!!” Seru Yuna dengan perasaan tabjub melihat pemandangan didepan matanya. Seperti sebuah film tentang alam yang disajikan pada layar lebar.
Yuna turun dari kasurnya dan mendekati Azka. Dari kamar hotelnya yang terletak dilantai 14 mereka dapat melihat View bibir pantai yang sangat indah. Apa lagi sekarang sudah sore, matahari yang akan terbenam membuat garis batas kuning antara dirinya dengan lautan. Sayangnya hotelnya ada dibagian timur jadi mereka tidak bisa menyaksikan langsung matahari terbenam sore ini.
Yuna berjalan dengan kecewa karena tidak dapat menonton matahari terbenam secara langsung. Dia membanting tubuhnya ketas kasur lagi. Menidurkan dirinya di perebaan yang paling nyaman itu.
“Sepertinya kasur di rumah harus kau ganti dengan kasur seperti ini. Ini enak sekali.” Kata Yuna sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya diatas kasur.
Azka melepas jaket demin yang tadi ia kenakan ia letakan begitu saja diatas meja. Lalu ia berjalan kearah kasur dan merebahkan dirinya disamping Yuna. Dan mengikuti apa yang dilakukan Yuna.
“Benar ini enak sekali. Oke begitu kita tiba di Indonesia aku akan membeli yang seperti ini.” Ucap Azka.
Yuna tersenyum senang. Tentu saja hidup bersama Azka yang royal membuat hidupnya bagaikan seorang ratu. Azka merentangkan tangannya memberi tempat untuk kepala Yuna menjadikan tangannya sebagai alas.
Mereka sama-sama memandang kelangit kamar yang interiornya diukur dengan penuh seni. Cirri khas prancis. Bagaimanapun pulau bora-bora dari Tahiti ini masih milik Negara Prancis yang penuh seni dan keromantisan.
Azka memutar badannya dan memeluk Yuna. Dan kaki mereka yang sama-sama tergantung diatas kasur saling berpautan. Saling mengikat dan bersentuhan.
“Ah.. rasanya aku senang sekali. Rasanya aku bebas sekali.. tidak harus memikirkan pekerjaan, tidak harus memikirkan hal lain. dunia ini sekarang hanya milik kita berdua.” Ucap Azka masih memeluk Yuna.
Yuna tersenyum. Benar, karena sekarang hanya ada dirinya dan Azka disini. Tak ada orang lain yang ia kenal. Dunia memang benar-benar terasa milik mereka berdua saja. menyenangkan sekali.
Azka mulai memberikan ciuman pada leher Yuna yang panjang. Membuat Yuna menggeliat geli Karena sentuhan lembut bibir Azka. Tangan kekar Azka mulai menyentuh bagian-bagian sensitive tubuh Yuna. Membuat Yuna benar-benar tak berdaya tidak tahu harus berbuat apa. Azka menaikkan ciumannya kemulut Yuna. Mereka berciuman lama sekali karena terbawa suasana. Azka melepas ciumannya. Dan membuka kaos yang ia pakai. Hingga membuatnya hanya berkelanjang dada.
Yuna membetulkan kaosnya yang sudah naik-naik keatas. Dia berjalan mencari tasnya yang ternyata ada diatas meja. Azka menggerutu dalam posisi jatuh terduduk dilantai. Sial! Siapa sih yang bisa-bisanya menelpon Yuna disaat mereka sedang bermesraan.
“Iya Siska?? Ada apa?”
Azka benar-benar menggerutu begitu tahu ternyata yang menelpon Yuna adalah Siska, sahabat Yuna.
“Ah.. apa Husna yang menyuruhmu menelponku hanya untuk mengingatkan aku untuk memakai baju tidur dari kalian?? Hahha.. yang benar saja. disini baru pukul delapan. Iya.. aku baru saja tiba. Hah?? Iyaa.. disini sangat indah.. oke.. kau juga jika menikah nanti, cobalah kesini. Bora-bora Island. Ya.. bye!”
Yuna menyimpan ponselnya. Kembali kedalam tas dan ia memandang Azka yang masih duduk dilantai.
“Apa yang kau lakukan disitu?” tanya Yuna dengan tatapan polos.
Azka menatap Yuna dengan pandangan kesal. “Kau yang mendorongku hingga terjatuh, kan?.”
Yuna membelalakan matanya. “Benarkah? Aku sekuat itu ya memangnya.” Lalu ia berjalan kearah Azka dan menarik tangan Azka membantunya berdiri.
Azka berjalan kearah meja dan mengambil ponsel Yun dari dalam tas. Wajahnya terlihat kesal. Dia sedang merajuk rupanya.
“Apa yang kau mau lakukan dengan ponselku?” tanya Yuna tidak mengerti.
Azka melepas baterai ponsel Yuna dan menyimpan baterenya serta ponselnya didalam tas miliknya. “Biar tidak ada yang bisa mengganggu Honeymoon kita lagi.” Ucapnya dengan tegas.
“Ya ampun Mas Azka..” decak Yuna melihat tingkah Suaminya.
“Curang.. lalu ponselmu bagaimana?” tanya Yuna sambil ingin meraih tas Azka. Tapi Azka menabok tangan Yuna. Mereka sama-sama memanyunkan bibir.
“Aku sudah mencopot baterainya sejak dibandara tadi. Aku tidak mau siapapun mengganggu..” Jawab Azka plus alasannya.
“Oke kalau begitu.” Yuna memanggutkan kepalanya setuju. “Aku mau mandi dulu.. setelah ini kita makan malam ya?”
Azka membesarkan matanya menatap Yuna. “Mandi? Kita tidak melanjutkan yang tadi tertunda?” wajah Azka terlihat frustasi sekali.
Yuna menggelengkan kepalanya. Dia mengeluarkan kopernya dari lemari untuk mengambil handuk dan baju ganti. “Aku gerah.. dan aku lapar.” Jawab Yuna.
“Ah!!! Yang benar saja!! Arrggh!!!” teriak Azka frustasi sambil menjambaki rambutnya sendiri.
“Hasratku tidak terpenuhi!! Kau selalu menundanya.. hahh….” Keluh Azka dan berjalan kekasur. Dia menjatuhkan dirinya dikasur dan berguling-guling disana sambil merengek.
Yuna hanya dapat tertawa kecil melihat tingkah Azka. Dan dia tetap berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk mandi. “AKu tidak mau berhubungan dengan orang yang belum mandi!! Dan jangan terus berguling seperti Larva!” teriak Yuna dari dalam kamar mandi.
Azka menghentikan gerakan guling-gulingnya. Lalu menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. “Ya sudah kalau gitu kita mandi bersama saja!” ucapnya seenaknya.
“TIDAK…!!!” teriak Yuna dari dalam kamar mandi.
Azka menutup telinganya. Sambil mencibir kesal.
***
tbc