At First Sight

At First Sight
Episode 108



Azka telah meninggalkan Yuna yang sudah ditangani dokter, namun masih belum sadar, untuk dijaga oleh ibunya dan juga Bibi Lia.


Ia yang merasa paling bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi, juga kemudian berusaha keras menemukan keberadaan Yuri. Azka merasa sangat perlu untuk memberi penjelasan pada situasi yang terjadi antara dirinya dan Yuna, juga dengan hubungan dan status pertunangan mereka. Agar Yuri tak semakin salah paham dan memuntahkan amuk kemarahan terhadap Yuna. Yuri harus banyak mendengar. Ia yakin, bila Yuri telah mendengar duduk persoalannya, dia akan mengerti dengan posisi sulit yang juga dialami oleh Yuna, adiknya.


Tapi, demi Tuhan..


Apa dia tadi mendengar saat Yuri menyebut Yuna bukan sebagai adiknya?


Lalu bagaimana kebenarannya?


Tidak..


Pasti tidak benar. Yuri hanya sedang berada dipuncak amarah hingga ia tak sadar dengan apa yang diucapkannya.


Bagaimana jika itu benar?


Azka tak ingin membayangkan bagaimana hancur dan remuk redamnya hati Yuna. Gadis itu sudah cukup menderita karna selama ini hanya terus mengkhawatirkan keadaan Yuri. Haruskah Tuhan menambah lagi penderitaannya dengan kenyataan Yuri, sang kakak yang begitu ia bela dan sayang, bukanlah kakak kandungnya.


Azka mendesah panjang..


Sebelum kemudian apa yang saat itu berkecamuk dipikirannya, terhenti oleh dering suara ponselnya. Ia dengan segera menjawab panggilan itu begitu nama Arkhan tertera pada layarnya.


Ia sempat menahan napas menunggu Arkhan bersuara, namun kemudian Azka merasa lega setelah mendengar Arkhan mengatakan telah menemukan Yuri dan sedang bersama dengannya.


“Kau menemukannya? Oh Tuhan.. Syukurlah. Katakan dimana kalian? Aku akan kesana..”


“Sebaiknya kau datang besok saja.. percuma bila sekarang, karna Yuri masih tertidur setelah menerima beberapa suntikan obat”


“Tidak, aku perlu kesana sekarang. Aku harus memastikan.. Kirimkan alamatmu sekarang..”


Azka memutus sambungan telponnya, dan menunggu sambil terus melajukan mobilnya. Sampai kemudian bunyi pesan masuk, dari Arkhan yang mengirimkan alamat kepadanya.


Segera, Azka memacu mobilnya..


Perlu waktu sekitar satu jam hingga akhirnya Azka menghentikan laju mobil yang dikendarainya setelah memastikan ia benar telah sampai didepan alamat yang dituliskan Arkhan melalui pesan yang dikirimkannya.


Azka keluar dari dalam mobil dan dengan langkah lebar berjalan menuju pintu depan villa yang kemudian langsung berhadapan dengan Azka yang membukakan pintu untuknya.


“Dimana Yuri?”


Azka menerobos masuk kedalam, bahkan sebelum Arkhan sempat menggeser tubuhnya.


“Dimana Yuri?”


Mengulang sekali lagi pertanyaannya, Azka lantas mengikuti arah telunjuk Arkhan yang menunjuk pada salah satu pintu yang tertutup. Dengan segera ia melangkahkan kakinya, berhenti sejenak untuk menekan knop membuka pintu dan selanjutnya masuk kedalamnya.


Mendekat, Azka merasakan kelegaan yang luar biasa mendapati Yuri terbaring diatas tempat tidur dengan tubuh tertutupi selimut.


“Yuri..”


Kesedihan dengan cepat menelusup kedalam hatinya. Wajah Yuri yang terlihat pucat, tanpa sedikitpun menyisakan rona disana, seakan tengah memperlihatkan kerapuhan dalam dirinya. Hal yang sama yang sebelumnya ia lihat pada Yuna.


Tuhan..


Betapa kebohongan itu telah membuat keduanya sama-sama terluka.


“Maar Yuri.. Tak sedikitpun aku berniat menyakitimu. Kau harus mendengar penjelasanku dan juga Yuna.. Dia dalam posisi sulit sepertimu. Mengertilah..”


Azka baru saja ingin meraih tangan Yuri, namun terhenti oleh suara Arkhan yang berbicara..


“Percuma kau mengatakan itu sekarang, Azka.. Dia tidak akan mendengarmu. Dokter yang memeriksanya mengatakan Yuri akan tertidur dalam beberapa jam, sebaiknya biarkan dulu dia beristirahat. Sementara itu, sepertinya kita perlu untuk berbicara..”


Azka mengalihkan perhatiannya pada Arkhan yang kemudian meninggalkan ambang pintu dimana ia mengatakan kalimat itu darisana, dan tak lama berselang, setelah sekali lagi ia menggumamkan permintaan maafnya, Azka meninggalkannya mengikuti Arkhan.


***


Pukul tiga dini hari, setelah berbincang panjang dengan Arkhan mengenai situasi yang pada saat itu terjadi, Azka memutuskan untuk kembali kerumahnya. Keresahan yang nampak jelas diwajahnya-lah yang juga menjadi penyebabnya hingga Arkhan memberinya saran agar ia meninggalkan villa miliknya, setelah menjanjikan ia akan menghubunginya bila Yuri telah terbangun nanti.


Arkhan juga mengatakan akan mencoba berbicara dengan Yuri, meski kecil kemungkinan Yuri akan mendengarkannya. Tidak menatapnya dengan pandangan waspada saja, Arkhan sudah sangat bersyukur. Tapi meskipun begitu ia tetap akan mencoba. Siapa tau Yuri sudah jauh lebih tenang dan mau berpikiran jernih untuk mencerna hingga menelaah apa yang nantinya akan coba dikatakannya.


Masuk kedalam rumahnya, Azka mendapati ibunya yang masih terjaga, sedang berdiri mondar-mandir tak jauh dari kamarnya. Sementara, dari arah dalam kamarnya, bibi Lia baru saja keluar dan langsung melihat kedatangannya..


“Azka..”


Ibunya menoleh..


“Oh, Azka..”


Azka mendekat untuk kemudian merangkul ibunya, dan mengeluarkan helaan napas panjang setelahnya..


“Yuri masih belum ditemukan?”


“Sudah.. Dia sudah ditemukan.”


“Oh Tuhan ku, syukurlah..”


Bibi Lia tak bisa menutupi kelegaan diwajahnya. Ia mendekati Azka yang kemudian mempergunakan lengannya yang satunya untuk meraihnya. Ia merangkul bahu kedua wanita itu untuk selanjutnya membawa mereka duduk..


“Jadi dimana Yuri sekarang?”


“Dia ada disebuah tempat bersama dengan seseorang yang menjaganya..”


“Apakah itu akan baik-baik saja untuknya? Kau sudah menjelaskan semuanya padanya? Kenapa kau tidak membawa Yuri agar dia melihat keadaan Yuna setelah dia meninggalkannya..”


“Aku belum bisa berbicara dengannya.. keadaan Yuri tak lebih baik dari Yuna. Dan apakah Yuna masih belum sadar?”


“Dia mungkin sebaiknya tidur saja.. Mama takut dia akan kembali histeris saat terbangun nanti. Kebohongan ini kemauannya, maka dia seharusnya siap menerima apapun konsekuensinya. Tapi kenapa aku tak bisa menyalahkannya. Aku bahkan tak tega untuk mengomelinya seperti biasanya.. Dia begitu terlihat tertekan, Azka. Mama sangat kasihan padanya..”


Azka mengusap-usap bahu ibunya. Apa yang dirasakan sang ibu jelas sama persis dengan apa yang dirasakannya..


“Sekian lama aku mengenal mereka, tak sekalipun aku melihat mereka bertengkar. Baru tadi, baru tadi aku melihat mereka menjadi seperti itu.. Tuhan, aku tak ingin keduanya terpisah seperti ini..”


Suara yang terdengar parau dari Bibi Lia, juga membuat Azka melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan terhadap ibunya untuk menenangkannya.


Bibi Lia lantas menyusut airmata diujung kedua matanya, yang terus saja basah sejak tadi. Ia mencemaskan Yuna dan juga sangat mengkhawatirkan keadaan Yuri..


“Bibi.. Apakah aku bisa menanyakan sesuatu pada Bibi?”


“Apa Azka?”


“Sejak kapan Bibi mengenal Yuri dan orangtua nya?”


“Itu sudah sangat lama ketika dulu mereka menempati rumah disebelahku.. Yuri masih disekolah dasar sepertinya. Dan Yuna, dia masih sangat kecil dan terus berada dalam gendongan ibunya..”


“Benarkah apa yang Yuri katakan tadi?”


Bibi Lia tidak langsung menjawab. Ia mencoba mencerna apa yang ditanyakan oleh Azka pada saat itu..


“Benarkah Yuna bukanlah adiknya? Bukan adik kandung Yuri?”


Azka memperjelas pertanyaannya, membuat bibi Lia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Airmata kembali lolos dari sudut kedua matanya.


“Tidak.. Pasti tidak benar. Yuri hanya sedang sangat marah hingga dia mengatakan hal seperti itu.. mereka adalah satu keluarga yang kompak. Yuri bahkan dengan bangga memperkenalkan Yuna sebagai adiknya. Tak terlihat ada yang janggal. Semuanya normal, tak sedikitpun terlihat jarak yang menunjukkan jika Yuna bukanlah anak kandung dalam keluarga itu.. Setelah kedua orangtua nya meninggal, Yuri lah yang mengambil alih peran mereka dengan menjaga dan mengurus semua kebutuhan Yuna, sendirian.. Yuri sangatlah mencintai adiknya..”


Bibi Lia kembali menyusut cairan bening dimatanya..


***


Azka memasuki kamarnya usai ia meminta atau lebih tepat disebut memaksa sang ibu dan Bibi Lia untuk beristirahat, sementara dirinya yang kemudian menggantikan kedua wanita itu untuk menjaga Yuna.


Yuna masihlah belum sadar ketika Azka mengambil duduk disebelah tempat tidurnya, memperhatikan pada bagian tangannya dimana terdapat jarum infus yang menempel pada pergelangannya. Azka meraih tangan itu untuk selanjutnya menjalin jari-jari tangan Yuna dengan jari-jari tangannya. Merasakan permukaan kulit dinginnya yang hanya semakin menambah kecemasan yang masih terus membelitnya semakin kuat disetiap menitnya.


Tuhan..


Betapapun ia ingin menyerap kesakitan yang dirasakan gadis itu, ia tetap tak akan bisa melakukannya.


Betapapun ia ingin memutar waktu kembali sebelum ia mengikuti keinginan Yuna untuk melakukan kebohongan, ia sadar tak akan mampu untuk melakukannya.


Semua sudah terlambat untuk dilakukan..


Kebohongan yang diinginkan Yuna untuk kebaikan, sekarang justru mengakibatkan kekacauan.


Kebohongan itu nyatanya bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan membuat siapapun yang berada didekatnya terluka oleh karna serpihan-serpihan yang dihasilkan.


Ya..


Kebohongan itu telah membawa beribu-ribu serpihan yang menimbulkan luka rasa sakit yang bukan saja mengenai Yuri, tapi jelas paling parah dirasakan oleh Yuna, yang memegang bom waktu itu ditangannya.


Azka tak dapat membayangkan bagaimana perasaan Yuna saat ini..


Ia ingin menggenggam hatinya, mengamankannya, agar serpihan itu tak mengenainya. Namun apalah daya, terlambat untuknya bisa melakukannya.


Semua sudah terjadi, tak ada pilihan lain selain menghadapi..


“Aku akan terus menggenggam tanganmu.. Aku hanya berharap kau tidak akan pernah melepaskan genggaman tanganku, Yuna. Aku tahu semua ini teramat berat untukmu.. Tapi yakinlah, selalu ada ujung untuk setiap masalah yang terjadi. Dan aku inginkan kau akan terus bersamaku sampai kita mencapai ujung itu bersama-sama..”


***


tbc