At First Sight

At First Sight
Episode 110



“Kakak..! Kak Yuri..!!”


Dengan dada naik turun oleh karna nafasnya yang tak beraturan, Yuna tersentak bangun dari tidurnya. Teriakannya tadi juga kemudian membangunkan Azka yang tertidur pada sebuah kursi disampingnya.


“Yuna.. Kau sudah sadar..”


Yuna masih berusaha mengatur pernapasannya dan mengingat-ingat apa yang tadi dilihatnya, yang kemudian disadarinya hanyalah mimpi buruk saja.


Apakah tadi itu mimpi?


Ia yang menangis ketika Kak Yuri nya pergi meninggalkannya, apakah hanya mimpi?


Tidak..


Kakak nya memang telah benar-benar pergi meninggalkannya..


Tersentak oleh kejadian-kejadian yang sebelumnya terjadi, Yuna langsung menyingkap selimut dari atas tubuhnya dan menarik lepas jarum infus dari pergelangan tangannya. Mengabaikan nyeri dan sedikit darah yang keluar dari pergelangan tangannya akibat mencabut jarum infus itu dengan paksa.


“Demi Tuhan Yuna.. Apa yang kau lakukan?”


Azka memegang kedua bahunya, meremas dan kemudian mengguncangnya ketika yang terus digumamkan Yuna hanyalah nama Yuri saja..


“Lepaskan aku! Aku ingin bersama Kak Yuri..! Aku harus mencari Kak Yuri..”


Wajahnya telah menjadi lebih dari sekedar cemas ataupun panik ketika ia kemudian turun dari atas tempat tidur..


“Kak Yuri, dimana kakak ku?”


“Aku mengerti, tapi tenanglah dan lihatlah pada kondisi tubuhmu sendiri?”


“Lalu bagaimana dengan kakak ku. Dia pasti tidak lebih baik diluar sana.. Kumohon biarkan aku mencari Kak Yuri”


“Dia sudah ditemukan.. Yuri sudah ditemukan?”


“Kakak ku.. Benarkah kak Yuri sudah ditemukan?”


Azka mengangguk, sambil tangannya terulur mengusap rambut Yuna..


“Dimana Kakak ku sekarang? Apa dia ada dikamarnya? Aku ingin bertemu dengannya.. Aku harus berbicara dengannya..”


Azka menggeleng..


“Kenapa?! Aku harus menjelaskan pada Kakak ku, Pak..”


“Dia tidak berada dirumah ini..”


“Apa maksudmu? Tadi kau mengatakan Kakak ku sudah ditemukan.. Jadi ada dimana kak Yuri sekarang?”


“Dia berada disuatu tempat..”


“Sendirian?”


“Tidak, seseorang bersama dengannya..”


“Siapa?”


“Yuri bersama dengan seorang pria yang mencintainya..”


Yuna hampir-hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ataukah pendengarannya yang memang sedang bermasalah?


Siapa pria yang Azka maksud?


“… Jadi tenanglah, Aku juga sudah meminta Jena untuk berada disana. Yuri akan baik-baik saja. Sementara ini kau lebih baik memulihkan kondisi tubuhmu terlebih dulu..”


Azka mencoba mendorong tubuh Yuna agar kembali menempati tempat tidurnya. Namun Yuna justru menepiskan tangannya.


“Aku harus bertemu dengan kakak ku..”


“Demi Tuhan, Yuna.. Bisakah sekali ini saja kau memperdulikan keadaanmu..!”


Azka sedikit menggertak dengan tatapan matanya..


“Aku akan baik-baik saja jika aku melihat kak Yuri juga baik-baik saja..”


“Aku sudah katakan Yuri akan baik-baik saja. Dia aman bersama dengan Arkhan, pria yang mencintainya..”


“Tidak.. aku bahkan tak mengenal siapa pria itu. Bagaimana bisa aku membiarkan kak Yuri bersamanya”


“Dia Arkhan.. pria yang pernah aku perkenalkan padamu. Kau ingat? Dia juga telah…”


“Tapi terakhir kali aku membiarkan kakak ku bersama dengan pria yang mengaku mencintainya, Dia malah mendapatkan pelecehan.. kak Yuri diperkosa..!! Sampai kapanpun aku takkan pernah melupakan kenyataan mengerikan itu..! Jadi biarkan aku menemui kakak ku..”


Yuna mendorong dada Azka dari hadapannya dan menghalangi jalannya. Ia melangkah dengan cepat meraih gagang pintu, membuka pintu yang tertutup dan keluar dari dalam kamar itu.


“Yuna, kau sudah bangun sayang..”


Ia sesaat menoleh pada Ny.Dania yang dalam langkah mendekatinya. Namun kemudian Yuna mengabaikannya dengan kembali mempercepat langkahnya menuju pintu depan. Namun belum sampai ia mencapainya, Azka telah lebih dulu meraih tangannya.


“Aku akan mengantarmu.. Kau bahkan tak tahu kan dimana Yuri berada sekarang..?”


Yuna terdiam, merasakan tangannya yang kemudian digenggam erat oleh Azka..


“Yuna.. Azka.. Mau kemana kalian?”


Ny.Dania mendekati keduanya..


“Kau baik-baik saja, Yuna? Kau masih terlihat pucat..”


Yuna mengangguk ketika tangan Ny.Dania kemudian terulur untuk meraih wajahnya.


“… Sebaiknya kau makan terlebih dulu.. Aku sudah membuat bubur untukmu..”


Yuna menggeleng, menolak ketika tangan Ny.Dania beralih dari wajahnya, berpindah untuk meraih pergelangan tangannya..


“Maaf Ibu, Aku harus menemui kakak ku..”


“Kenapa bukan kakakmu saja yang datang kemari? Kau masih terlihat lemah untuk keluar dari rumah, Yuna. Biarkan Azka yang membawanya kemari. Azka, kau saja yang pergi dan jemput gadis itu. Biar Yuna bersama dengan Mama..”


Azka hanya diam, tahu dengan kekeras kepalaan gadis yang berada disebelahnya yang pastinya takkan menyetujui ide ibunya saat itu..


“Maafkan aku Ibu, tapi aku.. Aku ingin secepatnya bertemu dengan kakak ku..”


“Tapi Yuna..”


“Sungguh aku minta maaf, Ibu..”


“Tapi kau akan kembali kan? Kau akan pulang kerumah ini kan..?”


Yuna merasa tak yakin, namun ia kemudian mengangguk..


“Baiklah, aku akan membiarkanmu. Pergi dan selesaikanlah apa yang harus kau selesaikan. Setelah menyelesaikan semuanya, segeralah pulang.. Aku menunggumu..”


Yuna kembali hanya bisa menganguk..


“Aku akan mengantarnya, Ma..”


“hm, pastikan kau membawanya pulang, Azka..”


“Iya, aku mengerti..”


Ny.Dania kembali hanya bisa mendesah ketika kemudian Azka menghela tubuh Yuna masuk kedalam mobil. Dan kemudian melaju meninggalkan rumahnya.


***


Yuri masih terlihat tegang saat itu, namun terus menyimak apa yang sedang dikatakan oleh pria dihadapannya.


Arkhan pada akhirnya berhasil membuat Yuri mendengarkan ucapannya. Ia dengan hati-hati mengatakan bagaimana awal mula dirinya mengetahui keadaan Yuri. Yang terjadi lantaran jasanya yang disewa oleh Azka untuk melakukan penyelidikan terhadapnya yang tiba-tiba menghilang. Namun akhirnya dari hasil penyelidikan intens yang dilakukannya, diketahui bila Yuri bukanlah menghilang melainkan mengalami keterguncangan dan ditempatkan disebuah rumah sakit jiwa.


Selesai dengan itu, Arkhan beralih mengatakan tentang apa saja yang kemudian dilakukan oleh Doni. Ia tahu, ketika menyebut nama pria itu, Yuri menjadi bertambah tegang. Kedua tangannya terkepal, matanya menyiratkan sorot kemarahan yang bercampur dengan kebencian. Namun Arkhan tetap meneruskan.


Ia mengatakan Doni telah banyak melakukan kebohongan. Mengklamufase beberapa hal yang hanya bisa dibenarkan sendiri oleh otak kotornya. Pria itu juga mencekoki Yuna dengan informasi-informasi yang tidak benar. Doni mengatakan jika Azka lah, dalang atau tersangka utama yang menjadi penyebab keterguncangan yang dialaminya ketika itu. Arkhan sendiri masih belum tahu pasti alasan Doni yang justru mengkambing hitamkan Azka atas kesalahannya. Bila melihat dari latar belakangnya sebelumnya, seharusnya pria itu tak sampai hati melakukan hal demikian kepada orang yang telah memberinya penghidupan dengan lebih layak.


Namun pria itu nyatanya memiliki pemikiran lain. Doni berhasil mempengaruhi Yuna, dan membuatnya dengan mudah mengikuti rencananya. Yuna yang berpikiran teramat polos, kemudian diracuni hingga dengan serta merta mendarah daginglah kebenciannya terhadap Azka. Yang ia percayai dari omongan Doni, pria itu sebagai seorang yang sudah sepantasnya dihancurkan karena telah pula menghancurkan kehidupan Kakak nya. Keduanya lantas mulai menyusun rencana untuk membuat kehancuran Azka menjadi nyata. Entah kehancuran seperti apa, tapi rencana itu dimulai dari memasukkan Yuna sebagai resepsionis perusahaan.


Namun yang kemudian tak diketahui oleh keduanya, Azka tak sebodoh atau lebih tepatnya bukanlah orang bodoh yang memiliki kerja otak lamban. Ia dapat dengan cepat mengendus ketidak beresan yang terjadi disekitarnya. Meski ia nyaris tak sedikitpun percaya Doni yang dikenal baik olehnya sedang merencanakan suatu kehancuran yang tak dimengerti olehnya karna apa, tapi kemudian Azka mengikuti permainan yang dimainkan. Ia pun kemudian ikut bergerak. Gerakannya justru jauh lebih cepat bila dibandingakan dengan gerak rencana yang disusun oleh Doni dan melibatkan Azka didalamnya.


Azka yang memegang kail, melempar umpannya tepat kesasaran..


Mengatakan pada Doni tentang rencana pertunangannya yang berasal dari perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtua nya dengan salah satu putri pemilik perusahaan yang bergerak dibidang yang sama dengannya, Azka mengansumsikan kedalam pemikiran Doni betapa penyatuan kedua perusahaan yang nantinya dilakukan akan semakin membumbungkan kejayaan bisnisnya. Meski sebenarnya yang yang diinginkan oleh Azka hanyalah untuk mengetahui kehancuran semacam apa yang diinginkan Doni darinya. Bila pria itu menginginkan kehancuran bisnis ataupun kehidupan pribadinya, Doni sudah harus pasti menjalankan rencananya.


Dengan semua itu, Doni telah tanpa sadar menyambar umpan yang dilemparkan Azka, hingga pada malam yang seharusnya menjadi malam pertunangan Azka dengan seorang wanita bernama Jessica, justru Yuna lah yang kemudian menggantikan posisi wanita itu.


“Aku sebenarnya tak tahu pasti apa yang sudah direncanakan Azka maupun Doni. Tapi malam itu Yuna lah yang justru diperkenalkan ayah Azka sebagai gadis yang akan bertunangan dengan putranya.. Kurasa salah satu diantaranya atau malah keduanya sama-sama terjebak..”


Komentar Arkhan setelahnya..


“Ta-tapi wanita itu.. Dia dengan penuh kebencian mengatakan Yuna adalah pelacur”


Ucap Yuri dengan suara bergetar, serta kedua tangannya meremas kuat pada ujung sweter hangat yang dikenakannya..


“Maksudmu? Dia, siapa dia?”


“Wanita itu.. Jessica, aku pernah bertemu dengannya dirumah sakit”


Arkhan yang cukup terkejut mendengarnya kemudian menanyakan apa saja yang sudah Jessica katakan. Hingga ia akhirnya mengetahui dari apa yang kemudian Yuri katakan, gadis itu nyatanya telah lebih dulu mengetahui kebohongan yang dilakukan Yuna melalui mulut wanita itu.


“Dengar Yuri, kaulah yang paling mengenal adikmu. Coba tanyakan pada hatimu, apa menurutmu Yuna seperti itu?”


Yuri menggeleng..


Tangannya kemudian menyusut airmatanya yang perlahan-lahan menetes.


Ya Tuhan..


Ia bahkan juga telah menyebut adiknya seperti itu.


“Kita sendiri tak bisa mengontrol perasaan cinta yang kita miliki untuk seseorang, apalagi mengontrol perasaan orang lain.. Kita takkan bisa melakukannya, sekalipun itu adikmu sendiri. Kau mengerti maksudku?”


Yuri mengangguk, Arkhan kembali meneruskan..


“… Aku tak tahu sejauh mana perasaan Azka dan juga adikmu tumbuh setelah keduanya tinggal dibawah atap yang sama. Apalagi setelah Yuna mengetahui bila Azka bukanlah seseorang yang menyebabkan kesakitanmu. Tapi yang kuketahui, adikmu mengesampingkan semua perasaan yang dimilikinya demi untuk melihat kesembuhanmu”


Arkhan meraih tangan Yuri kemudian menggenggamnya, lantas menatap kedalam mata Yuri yang basah oleh karna airmatanya yang tak berhenti mengalir.


“Aku tahu bagaimana sakit hatimu. Aku tahu kau terluka. Aku tahu kau kecewa. Aku juga tahu kau marah pada apa yang telah dilakukan adikmu. Tapi mengertilah, Yuna melakukan kebohongan itu semata untuk melindungimu. Adikmu hanya memiliki satu pemikiran, yaitu kesembuhanmu. Kau bisa melihatnya saat kau benar-benar menatap kedalam mata polosnya. Dia tak memiliki keinginan lain, apalagi niat untuk mengkhianatimu..”


Yuri menangis tersedu-sedu setelahnya, hingga Arkhan memerlukan beberapa waktu untuk menenangkannya.


Tuhan..


Alangkah kejam dirinya telah memperlakukan Yuna.


Adik kecilnya telah telah diperalat. Dia seharusnya tidak menjadi serapuh saat itu. Dia seharusnya bisa bertahan untuk melindungi Yuna. Maka takkan ada yang bisa meracuni adik kecilnya.


Dia juga seharusnya mendengarkan adiknya. Bukan malah berteriak memaki, dan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia katakan seumur hidupnya.


Tapi kebohongan itu terlalu menyakitinya. Kebohongan yang dilakukan Yuna telah dalam melukai perasaannya. Bukan hanya sekali itu saja, beberapa kali ia telah melihat Yuna dan Azka bersama secara diam-diam. Sakit hatinya mengetahui Azka mengatakan cinta padanya, tapi pria itu jelas tak merasakan perasaan itu padanya.


Juga ketika ia melihat Yuna kembali kerumah Azka, adiknya akan selalu lebih dulu menghampiri ibu Azka. Memeluk dan menciumnya, seringkali Yuri juga mendengar tawa terkikik mereka dihalaman belakang ketika sedang merangkai bunga bersama-sama. Tapi bila dihadapannya, Yuna akan memperlihatkan rasa sungkan terhadap ibu Azka.


Begitupun sebaliknya, wanita itu juga menatap adiknya dengan sinis, seakan bermusuhan dengan Yuna. Semua kebohongan dan sandiwara itu membuatnya muak. Hingga meledaklah kemarahannya yang sudah tak mampu lagi ia kendalikan..


Sekarang, apa yang harus dilakukannya setelah mendengar keseluruhan ceritanya?


Bagaimana dengan Yuna?


Apa dia akan membencinya setelah semua kata-kata kasar yang diucapkannya?


“Yuri..”


Arkhan kembali menyadarkan Yuri dari berbagai kelebat dipikirannya.


“Maaf, bisakah kau meninggalkanku.. Aku ingin sendirian”


Pintanya pada Arkhan..


“Kau janji akan memakan makananmu setelah kita berbicara. Tapi sepertinya makanan itu sudah dingin. Aku akan menggantinya dengan yang baru..”


Yuri tak merespon. Ia hanya menatap pada punggung Arkhan yang berjalan keluar meninggalkannya. Setelahnya, Yuri menutup wajahnya dengan telapak tangan dan kembali terisak. Hanya berselang beberapa detik setelahnya, tubuhnya mendadak kaku ketika mendengar suara teriakan dari luar..


“Kakak..! Kak Yuri..!!”


Ia mengenali suara itu sebagai suara Yuna. Buru-buru Yuri turun dari atas tempat tidur kemudian berlari kearah pintu dan menguncinya..


Bukan ia tak ingin bertemu dengan adiknya. Yuri hanya merasa apa ia akan sanggup bila nantinya Yuna mempertanyakan kebenaran ucapannya, mengenai siapa sesungguhnya dirinya..


***


tbc