At First Sight

At First Sight
Episode 49



Di dalam mobil, di sepanjang perjalanan menuju tempat diadakannya jamuan makan malam itu, Yuna hanya terdiam. Ia merasa terlalu gugup untuk bersuara apalagi membuka pembicaraan dengan Azka yang juga sama saja seperti dirinya, hanya diam.


Hingga sampai mobil menghentikan lajunya, kemudian Azka melangkah turun lebih dulu dan kembali mengulurkan tangannya, Yuna masih hanya terdiam ditempatnya.


“Kau masih ingin berada didalam sana, Yuna..?”


“Pak.. Aku, aku.. Mungkin aku tak bisa ikut masuk. Dapatkah aku menunggu didalam mobil saja?”


“Kau sudah membuatku terlambat dan sekarang kau justru menginginkan berdiam diri saja didalam mobil..? Tidak.. Tentu tidak Yuna, aku tidak akan membiarkannya”


Azka meraih tangannya dan sedikit melakukan tarikan untuk memaksa Yuna keluar dari dalam mobilnya.


“Kau akan menjadi gadis yang baik dengan bersikap baik saat menemani tunanganmu.. Mama seharusnya mengatakan itu padamu..”


Yuna mendengus ketika kemudian Azka memaksakan tangannya untuk melingkar pada lengannya. Keduanya berjalan memasuki tempat berlangsungnya acara jamuan makan pada malam itu. Dan Azka menyadari kegugupan Yuna pada saat itu.


“Kau hanya harus tersenyum saat aku memperkenalkanmu pada mereka..”


Azka berbisik ditelinganya..


“Dan lebih merapatlah padaku, Yuna..”


Azka menarik pinggang Yuna untuk kemudian membawanya menemui beberapa rekan bisnis yang akan menjalin kerja sama dengannya.


Dan Yuna benar-benar hanya tersenyum ketika Azka memperkenalkan dirinya sebagai gadis yang berstatus tunangannya. Ia masih merasakan gugup dan malah ditambah dengan perasaan minder ketika mengetahui seperti apa pasangan yang juga dibawa oleh rekan bisnis Azka.


Mereka adalah wanita-wanita dewasa yang cantik, dan beberapa telah berstatus istri. Sedangkan dirinya hanyalah seorang gadis belia yang didandani sedemikian rupa. Rasanya masih tidak pantas bila dirinya disejajarkan dengan mereka.


Oh dear..


Kau tidak seharusnya memiliki perasaan rendah diri semacam itu. Karna Azka nampaknya tak terpengaruh oleh pasangan lain dari rekan bisnisnya.


Azka benar-benar bersikap gentle mulai dari lengannya yang terus merangkul Yuna, menarik sebuah kursi untuk didudukinya juga menawarkan makanan apa yang diinginkan Yuna pada saat itu.


“Kau ingin aku mengambilkan lagi untukmu?”


Nada suaranya penuh dengan perhatian.


“Tidak, terimakasih..”


Yuna mengusap mulutnya setelah sedikit memakan makanannya.


Azka yang kemudian menyodorkan segelas air untuknya.


“Gadismu masih terlihat malu-malu, Azka..”


Komentar dari salah satu rekan bisnisnya..


“Sebenarnya tidak.. Dia cukup berani saat hanya berdua denganku”


Dia gadis belia paling berani yang pernah kukenal..


Azka ingin menambahkan namun apa yang telah dikatakannya sudah cukup untuk membuat banyak rekan bisnisnya yang berada disana langsung tergelak. Dan Azka justru bersikap santai dengan tersenyum pada Yuna yang kini memiliki wajah memerah setelah mendengar apa yang diucapkannya. Dan menyadari gelak tawa dari orang-orang disana tentulah disertai dengan asumsi yang beragam didalam pemikiran mereka.


“Sepertinya kalian memiliki percintaan yang menyenangkan..”


“Maaf.. Aku perlu ke toilet sebentar..”


Ucap Yuna, tahu jika pembicaraan bisnis yang sebelumnya menjadi topik pembicaraan kini telah berubah menjadi tak terlalu serius dengan dimulainya kelakar dari mereka. Dan ia berharap tak sedang berada disana bila dirinya kemudian hanya dijadikan sebagai objek pengganti topik pembicaraan. Maka ia perlu untuk menghindar..


“Jangan terlalu lama, sayang.. Kita akan segera pulang”


Kedipan matanya justru membuat Yuna memutar mata kearahnya. Dan sebelum Yuna sempat berdiri dari duduknya, Azka telah lebih dulu meraih tangannya yang berada diatas meja dan kemudian meremasnya..


Jika hanya sebuah sentuhan yang pernah dilakukan Azka pada tangannya sudah cukup untuk membuatnya merasakan seperti tersengat aliran listrik, bagaimana dengan sekarang? Bagaimana setelah Azka meremas jari-jari tangannya?


Ribuan volt aliran listrik itu seakan langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.


“Ya...”


Yuna tanpa berbicara lagi melepaskan tangannya dari Azka, ia terburu-buru saat berjalan mencari toilet dan tanpa sadar langkahnya telah bertabrakan dengan seseorang.


Seorang wanita yang kemudian sedikit mengumpat setelah gelas minuman yang dipegangnya, tertumpah membasahi blous putih yang dikenakannya.


“Astaga, maaf.. Aku tidak sengaja. Aku benar-benar minta maaf, maafkan aku..”


Wanita itu mendongak dan seketika keterkejutan dirasakannya. Lebih tepatnya dirasakan pula oleh Yuna, setelah mengetahui Jessica lah wanita yang bertabrakan dengannya.


“Kau..! Sial.. Kau sengaja menumpahkan minumanku?!”


Jessica sedikit membentak..


“Sama sekali tidak.. Aku tidak sengaja melakukannya. Maafkan aku..”


“Omong kosong..!”


Setiap kali melihat Yuna, Jessica memang langsung merasakan amarah berkobar di dalam dirinya. Ia sudah mengangkat sebelah tangannya ketika kemudian sebuah suara menghentikannya..


“Sebaiknya jauhkan tanganmu dari tunanganku, Jessica..”


Azka yang memang mengetahui apa yang terjadi saat itu, karna dirinya tak melepaskan pandangannya dari Yuna, kemudian mendekat dan langsung menarik Yuna untuk berada disebelahnya.


“Dia tidak sengaja dan sudah meminta maaf, apalagi yang kau inginkan?”


Jessica justru menajamkan tatapan matanya pada Azka.


“Aku tidak memiliki urusan dengan **** sepertimu..!”


“Tapi Kau memiliki urusan dengan gadis yang menjadi tunanganku. Ketahuilah, apa yang menjadi urusannya sudah pasti menjadi urusanku..”


Yuna tahu Azka yang kemudian mengambil alih, maka ia memutuskan untuk diam dan hanya memperhatikan pada Azka.


Pria itu yang kini sedang melindunginya.


Oh..


“Brengsek Kau, Azka..!”


Jessica menggeram kesal dan kemudian melangkah pergi, namun sempat dengan sengaja menabrakkan tubuhnya pada bahu Yuna. Pada saat itu, mengetahui Yuna yang menjadi berdiri dengan tidak seimbang akibat apa yang dilakukan Jessica, membuat Azka kemudian dengan kuat mendekapnya agar tidak terjatuh.


“Kau tidak apa-apa?”


Yuna mengangguk..


“Kau masih ingin ke toilet..?”


Yuna kembali hanya mengangguk..


“Baiklah, aku akan menunggumu.. Setelah itu kita akan pulang..”


Azka melepaskan rangkulannya pada Yuna, kembali pada rekan bisnisnya dan membiarkan Yuna melangkah menuju toilet.


Setelah sekitar sepuluh menit berada didalam toilet itu, Yuna merasa telah berhasil menenangkan gemuruh dalam dadanya. Sebelumnya, jantungnya terasa berdebar dengan kencang dan Ia sedikit kebingungan dengan apa yang menjadi penyebabnya.


Apakah ia akan terkena serangan jantung saat itu?


Tidak..


Ia tak memiliki riwayat penyakit itu sebelumnya. Ia juga merasa sehat secara fisik. Dan bukankah dirinya masih terlalu muda untuk terkena serangan jantung semacam itu?


Maka jelas, yang dirasakannya bukanlah sejenis serangan jantung.


Jadi..


Apakah itu sejenis perasaan yang sama seperti rasa tersengat aliran listrik?


Dan itu adalah bagian dari reaksi tubuhnya akibat dari apa yang dilakukan Azka padanya?


Yuna menggelengkan kepalanya didepan cermin, membuang jauh-jauh pemikiran itu dari dalam kepalanya, dan setelahnya ia melangkah keluar dari dalam toilet.


Tak sampai lima langkah ia berjalan, seseorang dengan tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dan kemudian membawanya keujung lorong.


“Oh, Mas Doni.. Kau disini?”


Ya..


Doni berada disana untuk bertemu dengan Jessica. Tapi setelah ia sempat melihat gadis itu mengalami insiden dengan Yuna, yang ditambah dengan campur tangan Azka setelahnya, hal itu nampaknya yang membuat Jessica merasakan kesal dan sekaligus marah. Ia membatalkan janjinya dan justru mendesak Doni untuk secepatnya mendapatkan dokumen dari perusahaan Azka.


“Sekali lagi aku melihat bukti kau telah melupakan sakit hati Yuri. Kakakmu sendiri, Yuna..”


“Tidak Mas.. Aku tidak seperti itu, apa yang kau bicarakan? Bukankah saat kita berbicara pagi tadi, aku sudah mengatakan padamu..”


“Kau hanya mengatakan omong kosong. Bagaimana dengan yang kulihat sekarang? Yang aku lihat adalah kau menikmati status dan posisimu sebagai tunangan Azka. Kau berlagak seperti nona muda disampingnya..”


Doni kembali menunjukkan kesinisan dalam nada suaranya.


“Tidak Mas.. Tidak seperti itu. Aku.. Aku hanya..”


“Buktikan jika memang tidak seperti itu! Buktikan jika kau memang tidak terlena oleh status dan posisimu.. Buktikan jika kau tidak menikmati barang-barang mewah pemberiannya..!”


Doni merapatkan tubuhnya, menyentuh kalung yang berkilau dengan berlian yang menjadi liontinnya yang pada saat itu menghiasi leher Yuna, sebelum kemudian menyentaknya. Menarik lepas dari leher Yuna dan kemudian melemparnya.


Yuna terkesiap oleh apa yang dilakukan Doni padanya saat itu..


“Mas..”


“Buktikan jika memang benda itu tidak membuatmu melupakan Yuri! Buktikan semua itu tidak membuatmu terpengaruh, Yuna..”


Doni selangkah mundur dari hadapannya..


“Dapatkan dokumen itu untukku, Yuna.. Dan aku akan mempercayai kau tidak hanya mengatakan omong kosong dan benar-benar menginginkan ini berakhir dengan cepat..”


Dengan itu Doni meninggalkannya, meninggalkan Yuna yang merasakan lemas pada kedua kakinya. Kedua matanya juga memanas, namun sekuat hati ia menahan diri untuk tidak menangis. Ia masih harus menghadapi Azka disana.


Maka kemudian, setelah beberapa menit berdiam diri, Yuna berhasil menyeret kedua kakinya untuk melangkah menghampiri Azka.


“Kau sudah selesai?”


Yuna mengangguk, wajahnya pucat tanpa ekspresi dan sepertinya Azka menyadari hal itu. Ia mengerutkan kening saat melihatnya.


“Aku ingin pulang..”


ucap Yuna kemudian..


“Ya, kita memang akan pulang.. Ayo..”


Yuna menolak ketika Azka berniat merangkulnya. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Azka yang masih melakukan sedikit basa-basi dengan rekan bisnisnya sebelum undur diri dan menyusul Yuna.


Azka sengaja berjalan dibelakangnya dan memperhatikan langkah Yuna yang terlihat gontai, ia bahkan beberapa kali tersandung oleh gaun yang dikenakannya dan hampir membuatnya terjatuh andai Azka tak bergerak cepat dengan menangkap tubuhnya.


“Apa yang terjadi?”


Azka mengamati wajahnya. Hanya wajahnya dan pasti lehernya luput dari pengamatannya. Azka jelas tidak menyadari kilauan yang sebelumnya menghias dilehernya, kini telah raib.


“Kau sakit?”


Yuna menggeleng..


“Aku merasa pusing.. Tolong bawa aku pulang..”


Pulang ke rumahnya..


Ia ingin pulang ke rumah kecilnya yang menjadi saksi kebersamaannya bersama dengan Kakak nya.


Mendadak Yuna menginginkannya dan berpikir mungkin tidak seharusnya ia memulai permainan itu..


Maka ia tak harus merasakan yang seperti itu..


“Ya, kita akan segera pulang.. Sebelumnya Aku telah mendengar kau mengeluhkan sakit, tapi mengapa kau tetap menyetujui apa yang dikatakan Mama untuk ikut denganku..”


Yuna hanya terus melangkah, tidak menanggapi meski saat itu Ia tengah berada dalam rangkulan Azka.


“Kau tidak harus meng-iya-kan apapun yang ibuku katakan. Kau masih bisa menggunakan mulutmu untuk mengatakan menolak kan..?”


Bahkan dalam perjalanan pulang Yuna terus terdiam. Ia hanya memandang keluar melalui kaca jendela mobil. Dan menjadikan keadaan pada saat itu justru terasa lebih hening bila dibandingkan dengan pada saat perjalanan keberangkatan mereka tadi.


Setelah mengetahui mobil yang ditumpanginya telah menghentikan lajunya, Yuna bahkan tak menunggu Azka keluar lebih dulu ataupun sang sopir membukakan pintu untuknya. Ia sendiri yang kemudian membuka pintu disampingnya dan melangkah keluar dari dalamnya.


Sesampainya didalam rumah Azka, Yuna merasa sedikit lega setidaknya Ny.Dania tidak sedang menunggunya saat itu dan tidak akan melihatnya tanpa sebuah kalung yang berkilau dilehernya. Ia jelas terbebas dari introgasi wanita itu mengenai kemana hilangnya benda itu. Meskipun tadi ia benar-benar melupakan mengenai yang satu itu.


Masuk kedalam kamarnya dan dengan segera melepas gaun yang dikenakannya dan langsung menggantinya dengan pakaian tidur, Yuna mengetahui sudah pukul sepuluh saat itu.


Dan kegelisahan semakin menghimpitnya, hingga seakan membuatnya kesulitan untuk bernapas.


Ia kembali berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Semua yang dikatakan Doni memenuhi pikirannya dan Ia tak lagi bisa menahan diri. Yuna terduduk dipinggir tempat tidur dan menangis..


Ia benar-benar mengalami kebingungan yang seharusnya tidak perlu ia rasakan. Ia bertujuan untuk menghancurkan Azka, maka hal itulah yang seharunya dilakukannya. Dan tidak perlu membuatnya terus bergumul dengan keragu-raguan..


“Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan? Kakak.. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan bertemu denganmu setelah ini? Apakah kau benar-benar akan kembali seperti dulu? Apakah ini yang benar-benar kau inginkan kakak..? Jawab aku.. Kumohon jawab aku.. Apa yang harus aku lakukan sekarang..?”


Yuna kembali menjatuhkan airmatanya saat tubuhnya terduduk dengan memeluk kedua lututnya. Entah sudah berapa lama ia dalam posisi itu, hingga kemudian ia merasakan menemukan kemantapan.


Menjalankan rencana awal, menjadi apa yang akan dilakukannya..


Jam dua dini hari ketika itu, dan Yuna mulai keluar dari dalam kamarnya. Ia bergerak dengan langkah pelan menuruni puluhan anak tangga. Setelah berhasil melewatinya, ia langsung mengarah ke ruang kerja Azka.


Tangannya gemetar pada saat mencoba meraih knop pada pintu dihadapannya. Dalam hati menggumamkan doa semoga Azka melupakan untuk menguncinya.


Dan sepertinya keberuntungan itu berpihak padanya. Dengan hanya sekali menekannya, Yuna dapat membuat pintu itu terbuka. Sedikit mendorong untuk membuatnya terbuka lebih lebar, Yuna melakukan itu dengan memejamkan matanya. Berharap gerakan yang dilakukannya tidak menimbulkan bunyi berderit pada pintu itu.


Setelah masuk kedalam ruangan dan kembali menutup pintu dibelakangnya, Yuna menekan saklar lampu untuk penerangan. Setelahnya matanya dapat dengan jelas menyapu seluruh isi ruangan itu.


Yuna mendesah, melihat ada dua lemari besar yang pasti menyimpan berbagai dokumen didalamnya. Dan bagaimana ia dapat menemukan dokumen penting itu?


Entah karna apa, tapi Yuna langsung berpikir untuk memulai mencarinya diatas meja kerja Azka. Ia pernah melihat pria itu berada disana dan mengerjakan sesuatu, bukan tidak mungkin bila Azka menempatkan dokumen itu disana.


Yuna berusaha dengan cepat, membolak-balik beberapa tumpukan map diatasnya. Matanya bekerja bergantian mengawasi pada pintu ruangan itu, takut-takut ada seseorang yang masuk dan menemukannya disana.


Yuna bernapas dengan terburu-buru, namun sedetik berikutnya matanya berbinar mengetahui dokumen penting itu berada ditengah-tengah tumpukan map.


Sedikit aneh mengapa ia dapat dengan mudah menemukannya. Namun Yuna segera menyingkirkan pemikiran itu dan menggantinya dengan, mungkin itu adalah keberuntungannya. Ataupun Tuhan memang mempermudahnya dan mendukung apa yang telah direncanakannya..


“Terimakasih Tuhan..”


Pada saat mulai melangkah keluar dari dalam ruangan itu, Yuna mendekap dokumen itu dengan mempergunakan sebelah tangannya, sementara tangan yang satunya ia pergunakan untuk menutup pintu. Dengan pelan ia melakukannya dan yang selanjutnya harus dilakukannya adalah bergegas mencapai kamarnya dan menyembunyikan dokumen itu sebelum ia menyerahkannya pada Doni.


Namun sayangnya, niatannya terganjal oleh seseorang yang mencengkram pergelangan tangannya dan menariknya dengan kasar. Tubuhnya seakan dihempaskan saat dengan cepat ia telah berada dalam ruang lain disebelahnya. Kamar Azka.


“Pak...Az-Ka..”


Yuna merasakan tenggorokannya langsung mengering pada saat itu. Tubuhnya gemetar menerima tatapan tajam dari pria itu..


“Apa yang telah kau curi dari dalam ruang kerja ku, Yuna..”


Ucapannya terdengar dingin, namun sorot matanya jelas seperti api yang membara dan mengancam..


Oh dear..


***


to be continue