At First Sight

At First Sight
episode 3



Hari ini berlalu dengan cukup baik.


Setelah menyelesaikan jam kerjaku


hari ini, Aku memutuskan untuk


mengunjungi kak Yuri. Dua hari tak


melihatnya dan aku sangat


merindukannya.


Namun ketika aku hampir mencapai


sebuah kamar yang ditempati kak Yuri, aku bisa melihat seseorang


berbalik keluar dari dalamnya.


Oh, pria itu?


Bukankah dia bajingan itu?


Ya Tuhan..


Apa yang dia lakukan disini?


Apa dia menyakiti kak Yuri lagi?


Tidak..


Aku takkan membiarkannya..


“Hei..Tunggu!”


Ketika aku kemudian melangkah


dengan cepat atau mungkin bisa


menyebutnya dengan berlari untuk


mencapai pria itu, aku menyentuh


pundaknya yang kemudian


membuatnya menoleh, Membalikkan


tubuhnya menatap dengan heran


padaku.


“ada apa nona?”


Oh dear..


Bukan dia orangnya.


Dia bukan pria bajingan itu.


Aku salah mengenali seseorang..


Sepertinya setelah ini aku harus


belajar dari Husna tentang


bagaimana caranya bisa mengenali


pria bajingan itu hanya dari


punggungnya.


Hanya untuk mengenali, bukan


mengagumi seperti apa yang


dilakukan Husna padanya.


Bagiku tak ada sesuatu hal pun yang


bisa dikagumi darinya..


“euh, maaf.. Aku mengira anda


seseorang yang kukenal..”


menggigit bibir bawahku, aku lantas


tersenyum canggung dan sedikit


membungkukkan badan sebagai


permintaan maaf.


“baiklah, tidak apa-apa..”


“emm, tapi apa yang anda lakukan? Itu


kamar kakak ku..”


“apa?”


Aku menunjuk pada kamar yang


Ditempati kak Yuri yang tadi kulihat


pria ini keluar dari dalamnya.


“Oh, saya hanya salah kamar..


Permisi nona, saya harus pergi..”


Aku mengerutkan dahi ketika pria itu


kemudian melangkah terburu dari


hadapanku dan merogoh ponsel dari


dalam saku celananya untuk


selanjutnya menempelkan pada


telinganya.


Astaga..


Kenapa aku justru memperhatikan


orang itu?


Aku seharusnya langsung menemui kak Yuri. Aku sangat merindukannya..


Bergerak menuju ke hadapan pintu


kamarnya, aku mengetuk sekali dan


kemudian masuk kedalamnya.


“Asslamualikum Kakak..”


Hatiku selalu teriris ketika


melihatnya.


Sapaan ku tak pernah dianggap.


Apa yang kukatakan dan kuceritakan


tak pernah sedikitpun direspon


olehnya.


Ini menyedihkan..


mengenaliku sebagai adiknya.


Kak Yuri terguncang, depresi karna


patah hati.


Memuakkan bagiku, disaat hal itu


bahkan tak masuk akal untuk bisa


kuterima.


Kakak ku yang pintar seharusnya tak


akan jatuh terpuruk hanya karna


seorang pria.


Terlebih pria bajingan seperti Azka.


“kakak sudah makan?”


menutup pintu dibelakangku, aku


mendekat kesisi nya yang sedang


duduk dengan tatapan kosong,


dipinggiran ranjang tidurnya.


“Aku membawakan makanan


untukmu”


meletakkan bungkusan yang kubawa


keatas meja, Aku lantas berdiri


dihadapannya dan meraih tangannya.


Menggenggamnya erat, merasakan


betapa dinginnya tangan kakak ku..


“ingatkan aku untuk membawakan


sarung tangan untukmu.. Tanganmu


benar-benar dingin kak, biarkan Aku


menghangatkanmu..”


Yang kulakukan kemudian adalah


menggosok-gosokkan tanganku


ketangannya, berusaha untuk bisa


menghangatkannya.


Meski tak ada respon darinya, aku


tahu oenni tak keberatan dengan apa


yang kulakukan. Hingga kemudian aku


mengambil sisir dari dalam tas ku


untuk merapikan rambutnya..


“kak, hari ini akhirnya aku


melihatnya..Bajingan itu, akhirnya


aku tahu seperti apa wajahnya..”


Tiba-tiba saja kakak meraih


pergelangan tanganku..


“kakak..”


bibirnya bergetar seakan ingin


mengatakan sesuatu.


“Jangan mengkhawatirkanku.. Aku


tidak akan bertindak ceroboh,


mas Doni dan aku akan


membalas perbuatannya padamu


dengan lebih menyakitkan”


Kak Yuri semakin mencengkeram kuat


pergelangan tanganku.


“Aku akan baik-baik saja kak..”


“Tidak.. Jangan..Tidak..!”


“kak.. Ada mas Doni, dia akan


menjagaku”


“Tidak.. Tidak..!”


Kak Yuri melepaskan tangannku saat


kemudian dia menutup telinganya


dengan kedua tangan dan


menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


Airmatanya kemudian mengalir


deras..


“Ada apa kak? Katakanlah padaku..


Kakak harus mengatakannya padaku,


agar aku tahu apa yang harus


kulakukan..”


Kuraih tubuhnya dan memeluknya


erat. Kurasakan tubuhnya bergetar


dalam pelukanku.


Ya Tuhan..


Apa yang saat ini sedang dirasakan kak Yuri pastilah tak jauh-jauh dari


rasa sakit. Rasa sakit yang disebabkan pria itu.


Brengsek..


Dia harus membayar untuk semua


kesakitan itu.


To be continued