At First Sight

At First Sight
Episode 92



Yuna hanya masih terlalu bingung dengan bagaimana cara untuk menyampaikan pada Yuri mengenai dirinya yang telah didaftarkan masuk dalam salah satu universitas. Hal itu jelas tidak akan masuk akal bagi Yuri, dan sang kakak sudah pasti akan mengajukan banyak pertanyaan untuknya.


Karna itu, pada esok harinya, dihari pertamanya masuk, Yuna menunda untuk mengatakan hal itu pada Yuri. Ia hanya mengatakan pada sang kakak, jika dirinya akan pergi karna mendapatkan pekerjaan dari Ny.Dania, dan tak dapat menemaninya untuk berterapi pagi itu.


Selanjutnya, Yuna sudah memikirkan akan memilih jadwal mata kuliahnya agar tidak berbenturan dengan jadwal terapi Yuri, sehingga ia masih bisa menemani sang kakak menjalani terapinya.


Tapi hari itu, Yuna terpaksa membiarkan Yuri pergi ke rumah sakit sendirian. Hanya dengan seorang supir yang mengantarnya, dan bahkan tidak dengan Jena yang biasa menemaninya.


“Nona Yuri..”


Seorang suster yang sudah seringkali mendapatkan tugas untuk membantu Fariz dalam sesi terapi, menghampiri Yuri dan kemudian mengambil alih untuk mendorong kursi roda Yuri, menuju ruang terapi.


Saat berada dikoridor rumah sakit itulah, Yuri tanpa sengaja melihat seorang wanita yang baru saja Keluar dari salah satu ruang prakter dokter. Wanita itu yang kemarin sempat menyebutnya sebagai wanita cacat.


“Tunggu sebentar suster..”


Intruksinya untuk berhenti pada seorang suster yang mendorong kursi rodanya.


Yuri lantas mengamati gerak langkah ketika wanita itu mulai berjalan kearahnya. Tampilannya menarik, menunjukkan kelas sosial tinggi yang pasti dimilikinya. Mungkin malah telah mendarah daging dalam dirinya.


Ketika wanita itu berjalan hampir melewatinya, rasa penasaran pada apa yang sebelumnya wanita itu ucapkan dan masih terus terngiang-ngiang dalam pikirannya bahkan sampai saat itu, membuat Yuri kemudian berani untuk menghentikannya.


“Permisi..”


Jessica berhenti melangkah untuk sekilas saja menatap pada Yuri..


“Permisi..”


Ulang Yuri sekali lagi ketika merasa wanita yang tadi dipanggilnya nampak tak peduli dan justru hendak meneruskan langkahnya.


“Siapa kau? Aku tidak memiliki urusan dengan wanita cacat sepertimu..!”


Gertaknya kasar, dengan memicingkan matanya Jessica jelas sedang memberikan tatapan remeh kepadanya. Namun Yuri mencoba menghiraukannya. Ia justru meraih pergelangan tangan Jessica ketika wanita itu kembali hendak melangkahkan kakinya.


“Hei.. Apa sih mau mu?!”


Jessica dengan segera menyentak tangan Yuri, pandangan matanya menatapnya risih. Tapi kemudian ia ingat dengan sesuatu..


“Oh, kau.. Kau gadis cacat itu, yang kemarin bersama dengan ******** bernama Azka..”


Jessica makin menunjukkan kesinisannya begitu sekelebat ingatannya tentang sosok Yuri yang kemarin hanya sekilas lalu dilihatnya, kini muncul ke permukaan.


“Ada urusan apa kau mengganggu ku?”


“Aku.. Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu..”


“Sayang sekali, aku tidak memiliki waktu yang bisa kusia-sia kan..”


Jessica mencoba kembali melangkah dan Yuri kembali menahannya..


“Siapa yang kau maksud dengan tunangan dan pelacur?”


Apa yang ditanyakan Yuri benar-benar berhasil menghentikan Jessica dan sekaligus membuat wanita itu menertawainya..


“Kau.. Menayakan hal bodoh seperti itu padaku? Hei, berada dibelahan bumi mana kau selama ini..? Kau tidak tau jika Azka menjadikan seorang pelacur rendahan sebagai tunangannya?”


“Apa maksudmu?”


“Ya, si brengsek itu.. Memilih pelacur sialan itu daripada aku.. Oh, tidak tidak.. Aku lah yang memilih tidak bersama dengan Azka. Dia sampah dan seorang ********..”


Jessica menunjukkan kilatan kebencian dan sekaligus kemarahan dari dalam sorot kedua matanya..


“Tapi siapa.. Siapa yang kau maksud dengan pelacur?”


Meski Yuri sama sekali belum sepenuhnya mempercayai apa yang dikatakan Jessica pada saat itu, namun ia merasa perlu memperjelas omongan wanita itu..


“Yuna.. Dia tak lebih dari pelacur sialan itu. Menjijikkan aku masih mengingat namanya..”


“Apa..?!”


Yuri merasakan sekujur tubuhnya gemetar kala mendengarnya..


***


Yuna telah menyelesaikan beberapa urusannya yang menyangkut dengan segala hal mengenai kemahasiswaan yang harus diurusnya diperguruan tinggi itu. Sebagai salah satu mahasiswi baru, kehadirannya ternyata cukup banyak menarik minat beberapa orang untuk melirik dua kali kearahnya. Entah oleh sebab apa, tapi Yuna menduga, beberapa mengenalinya sebagai tunangan seorang Azka Rianda dan bahkan telah ada yang menyebutnya sebagai calon menantu keluarga Azka. Namun tak sedikit pula yang menatapnya dengan remeh, seolah menyimpan olok-olokan didalam kepala mereka.


Yuna mencoba berjalan acuh ketika keluar dari ruangan salah seorang dosen yang nantinya akan menjadi salah satu pengajar dalam salah satu mata kuliah yang diambilnya. Ia menuju arah parkiran mobil, mencari seorang supir yang tadi mengantarnya. Namun sejurus matanya justru menemukan sosok Azka yang tengah tersenyum sambil melambaikan tangan kearahnya.


“Pak..”


Gumam Yuna sesaat menghentikan langkahnya. Melihat Azka yang berada didepan kap mobil hitamnya yang mengkilap, terlihat santai dengan kemeja putihnya yang telah digulung, pria itu benar-benar terlihat mencolok, setidaknya bila dibandingkan dengan para mahasiswa disana.


Kenyataan itu kemudian justru membuat Yuna menggerutu. Ia menghampiri Azka dengan langkah yang dipercepat..


“Hai..”


Sapa Azka santai, dengan tangannya yang terulur mencoba meraih pinggul Yuna..


“Apa yang kau lakukan disini?”


“Menjemputmu..”


“Aku bersama supir..”


“Aku sudah menyuruhnya pulang..”


Azka tersenyum, membuat Yuna mendengus mengetahuinya..


“Kau tak lihat berpasang-pasang mata sedang memperhatikanmu?”


“Aku tau.. Itu sudah menjadi hal biasa bagiku..”


“Kau sangat suka mencari perhatian..”


“Aku hanya menginginkan perhatian darimu..”


Azka malah tergelak saat Yuna memukul dadanya, merona oleh apa yang baru saja dikatakannya..


“Kau sudah selesai kan?”


“hm..”


“Kalau begitu, Ayo ikut denganku?”


Azka meraih tangannya, namun Yuna menyingkirkannya..


“Tunggu, kita akan kemana..? Aku sudah berencana menyusul kak Yuri ke rumah sakit..”


“Ini hari pertama mu masuk universitas. Maka kita akan melakukan perayaan untuk itu..”


Oh..


Benarkah..


“Hmm.. Kau akan tau nanti.. Ayo..”


***


Yuri..


Untuk beberapa saat keterkejutan itu yang menggurat jelas diwajahnya, membuatnya hanya bisa terdiam dengan tubuhnya yang mendadak menjadi kaku.


Ia yakin telah salah mendengar. Atau wanita itu yang telah salah berbicara.


Tidak..


Tidak mungkin..


Yuna, adiknya..


Tidaklah mungkin seperti apa yang disebutkan wanita itu yang dengan penuh kebencian tersirat dimatanya menyebut adiknya sebagai seorang pelacur.


Tapi apa yang didengarnya, yang dengan jelas dikatakan oleh seorang wanita yang kemudian beranjak dari hadapannya, tak berhenti berputar-putar dikepalanya..


Tuhan..


Kenyataan macam apa yang sedang coba Kau tunjukkan..


“Tunggu.. Tunggu dulu..!!”


Entah mendapatkan kekuatan darimana untuknya kemudian bergerak. Kedua kakinya yang sebelumnya lemas seakan tak bertulang, kini justru dapat menopang tubuhnya untuk berdiri dari kursi roda yang didudukinya..


“Nona Yuri..”


Seorang suster yang masih bersama Yuri saat itu bahkan terkejut ketika perlahan Yuri menggerakkan kakinya untuk melangkah.


Satu langkah..


Dua langkah..


Yuri masih merasakan gemetar disekujur tubuhnya. Namun ia menghalangi dengan tangannya, saat suster itu berniat membantunya.


Tiga langkah ia menggerakkan kedua kakinya, Yuri merasakan kekuatan untuk mengejar wanita itu yang telah berada jauh meninggalkannya.


Ia harus memastikan..


Memastikan jika omongan wanita itu hanyalah omong kosong yang tidak memiliki kebenaran sama sekali..


“Tunggu.. Tunggu dulu sebentar, nona..!”


Yuri melangkahkan kakinya semakin cepat, mengabaikan denyut nyeri yang kemudian dirasakannya.


Ia terus berusaha mengejar Jessica..


“Kumohon berhenti.. Tunggu..!”


Jessica, akhirnya menghentikan langkahnya. Ia berbalik kebelakang dan langsung melebarkan bola matanya tatkala melihat Yuri, wanita yang disebutnya cacat itu sedang berjalan kearahnya.


Meski Yuri melangkah dengan sempoyongan, nafas terengah dan keringat membasahi dahinya, namun akhirnya ia berhasil mencapai Jessica dan berhasil menegakkan kakinya untuk tetap berdiri dihadapan wanita itu..


“Oh, kau bukan wanita cacat rupanya..?”


Jessica memberikan tatapan sinis kearahnya, namun Yuri mengabaikannya..


“Kenapa kau menyebut Yuna tunangan Azka tapi juga menyebutnya sebagai seorang pelacur?”


Mengucapkan pertanyaan itu, bahkan telah membuat Yuri merasakan sakit dihatinya.


Adiknya tidaklah mungkin seperti yang dituduhkan wanita itu..


”Dari yang sepintas kulihat saat itu, Kau terlihat intim dengan Azka kemarin, tapi kau tak tau dengan pemberitaan tentang statusnya? Apa kau mengabaikan atau kau benar-benar tak tau karna hidup dibelahan bumi lain selama ini? Lucu sekali..”


Jessica menertawai sekaligus menunjukkan dalam raut wajahnya bahwa ia tak lagi memiliki minat untuk berlama-lama berada disana. Tapi Yuri jelas merasa itu belumlah selesai. Ia masih belum mendapatkan penjelasan. Maka ia menahan pergelangan tangan Jessica ketika wanita itu mencoba pergi dari hadapannya..


“Hei, lepaskan aku..!”


Hardiknya kesal sambil menyentakkan tangan Yuri..


“Kau tidak bisa menyebut Yuna seperti itu!!”


Yuri pasti tak menyadari telah menaikkan nada suara dalam kalimatnya. Hal yang kemudian membuat Jessica mengerutkan dahi melihatnya..


“Kenapa.. Kenapa kau menyebutnya seperti itu?”


“Benar-benar tidak penting.. kenapa kau terus mengulang-ulang pertanyaanmu? Siapa kau dan apa sih maumu? Sudah cukup aku menjawab apa yang kau tanyakan.. Apa itu masih belum jelas kau dengar..!”


“Kenapa.. Kenapa kau menyebut Yuna pelacur?”


Jessica mendecakkan lidah sambil menatap Yuri tajam setelah mendengar pertanyaan yang sama lagi darinya..


“Gadis murahan seperti itu memanglah pantas disebut pelacur.. Kau mau tau kenapa? karna dia, dengan cara murahannya telah merebut Azka dariku. Dia menjual tubuhnya untuk mendapatkan kemewahan.. Aku bahkan memergoki saat mereka nyaris telanjang..! Menjijikkan..”


Yuri kehilangan kekuatan yang tadi berhasil membuatnya berdiri tegak. Ia limbung, kedua kakinya lemas dan ia terjatuh, terduduk dilantai koridor rumah sakit itu dengan kesakitan luar biasa yang dirasakannya. Dadanya sesak seakan tengah ada yang meremasnya dengan begitu kuat. Kepalanya terasa berat, setelah menyerap informasi yang masih tak dapat dipercaya apalagi diterima olehnya.


Pandangannya pun mengabur, terhalang oleh bening airmata yang menggenang dikedua matanya.


Yuri terisak..


Ia juga menjerit..


“Pembohong..! Kau pasti membohongiku. Aku tak percaya padamu.. Aku tak percaya.. Tidak, tidak mungkin..”


“Ck! Itu bukan urusanku..!”


Sebelum menarik perhatian banyak orang yang berada dirumah sakit itu, Jessica dengan cepat berjalan pergi, jelas tak peduli dengan keadaan Yuri saat itu.


“Pembohong.. Kau wanita pembohong..!”


Yuri memegang pada bagian dadanya yang terus berdenyut kesakitan..


“Yuna tidak seperti itu.. Dia tidak seperti itu.. Pembohong.. Kenapa kau mengatakan kebohongan seperti itu..”


Suara Yuri makin terdengar lirih, pandangan matanya benar-benar telah mengabur, tubuhnya lunglai, benar-benar lemas. Kepalanya bahkan nyaris membentur lantai andai pada saat itu tak ada tangan kokoh yang dengan cepat menahannya..


“Ya Tuhan, Yuri.. Yuri, apa yang terjadi?”


Yuri merasakan seseorang tengah mengguncang tubuhnya, ia yang telah mengatupkan kedua matanya kemudian dengan perlahan kembali membukanya. Namun pandangannya masihlah mengabur, ia tak dapat dengan jelas mengenali wajah seseorang yang kini sedang meletakkan lengannya dibelakang lehernya, menahan kepalanya agar tak berbenturan dengan lantai..


“Azka..”


Sebelah tangan Yuri terulur untuk menyentuh wajah seseorang itu. Yuri merasakan gerakan dari kepala pria itu yang menggeleng..


***


to be continue