
“Apa kau baru saja menyebut ibuku menyebalkan..?!”
Karna terkejut dengan suara Azka yang tiba-tiba sudah berada disana, berdiri dengan kedua tangan menyilang didepan dada, akibatnya Yuna menjatuhkan sebuah vas disampingnya yang tersenggol oleh sebelah tangannya yang lantas terdengar suara terkikik dari Azka yang justru menertawakannya.
“Aku akan mengatakan pada mama jika kau membuat kekacauan pada bunga-bunga kesayangannya setelah kau juga mengatakan bahwa dia ‘menyebalkan’ ”
Azka menyeringai saat menyebutkan kata ‘menyebalkan’ yang ditandai dengan tanda kutip dengan menggunakan jemarinya.
“mama.. mama.. Kau ingin tahu apa yang dikatakan gadis itu tentangmu? Mama..!”
Yuna berubah panik melihat Azka yang mulai melangkah sambil berteriak memanggil ibunya.
“Apa yang kau lakukan bodoh.. Jangan mengatakan itu..!”
“mama.. mam.. Ouhh..”
Dengan cepat dari belakang, Yuna membungkam mulut Azka dengan kedua tangannya. Menghentikannya agar tidak berteriak dan memanggil ibunya untuk mengatakan umpatan yang didengar Azka keluar dari bibirnya.
Namun Azka memberontak, dengan menarik tangan Yuna yang sedang membungkam mulutnya. Ia membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Yuna, namun Yuna kemudian mendorongnya.
Tidak sigap dan kurangnya keseimbangan tubuhnya, dengan mudah Yuna bisa membuat Azka terjatuh. Namun sebelum tubuhnya terjatuh Ia sempat meraih tangan Yuna hingga kemudian membuatnya ikut terjatuh diatas tubuh Azka.
Azka mengerang merasakan sakit dibagian punggungnya, sekaligus nyeri saat tubuh Yuna **** tubuhnya…
“Ya Tuhan.... Azka.. Yuna..!! APA LAGI YANG KALIAN LAKUKAN..!! YA TUHANNN..!!”
Ny.dania meradang melihat kekacauan dihadapannya…
Gurat kemarahan itu juga kembali terlihat jelas ketika Ny.dania sekali lagi meradang oleh kelakuan putranya dan seorang gadis yang baru semalam menjadi tunangannya.
Pertunangan yang diluar dari keinginannya.
Gadis itu belia dan cenderung liar dimatanya. Sama sekali tak sesuai dengan apa yang diinginkannya, yang menjadi harapannya adalah Azka memiliki tunangan seorang wanita dewasa yang anggun, terhormat dan terlahir dari sebuah keluarga baik-baik, sehingga layak untuk berdampingan dengan putranya yang juga seorang pria yang memiliki reputasi baik dari segi materi maupun silsilah keluarganya, dan sudah masuk kedalam kategori dewasa bila dilihat dari segi umurnya.
Namun sayangnya Azka justru bermain-main dan parahnya, dengan menggunakan mata kepalanya sendiri, Ia menyaksikan bagaimana sang putra yang begitu tertarik dan menginginkan gadis belia itu. Gadis belia yang menjadi liar tanpa didikan dari kedua orangtuanya.
Risih dengan pemandangan yang ada dihadapannya, Ny.dania langsung saja menarik tangan Yuna, menjauhkan tubuhnya yang terjatuh menimpa tubuh Azka. Ia hanya bisa berdiri kikuk, sekaligus gelisah dengan tatapan Ny.dania kearahnya.
“Demi Tuhan.. Kalian tak seharusnya berbuat asusila dirumahku..!”
Azka langsung berdiri setelah mendapat tatapan tajam dari ibunya. Meringis mengusap punggungnya, menahan rasa sakit disana, Ia justru mendapat tambahan dari Ny.dania yang memukul-mukul lengannya dan membuatnya mengaduh dan berusaha menghindar..
“mama.. mama kau menyakitiku.. Kenapa tak memukul gadis itu dan malah memukulku. Mama..!”
Mendengar apa yang Azka katakan, Yuna dengan kesal memutar mata kearahnya..
“Keterlaluan.. Kau keterlaluan Azka! Apa yang akan kau lakukan..! Tidak bisakah Kau menahan dirimu..!”
“Aku tidak melakukan apapun mama.. Yuna yang mendorongku. Aku tidak tahu apa yang sedang dia rencanakan..”
Menghentikan pukulan-pukulan yang diberikannya pada lengan Azka, Ny.dania beralih menatap Yuna yang hanya bisa menggigit bibir bawahnya setelah Azka melempar kesalahan padanya. Ia tahu posisinya akan semakin buruk dimata Ibu Azka..
“Kau..!”
“Nyonya.. Saya bisa jelaskan, Pak Azka yang lebih dulu…”
“Kau akan mengingkari jika kau lah yang mendorongku hingga terjatuh dan kemudian menjatuhkan tubuhmu diatasku..?”
Azka dengan santai memotong kalimat Yuna dan mengatakan hal yang semakin membuat Yuna menatap kesal kearahnya.
“mama.. Kali ini dia lah yang bersalah dan bukan aku. Aku juga mendengarnya mengatakan jika.. Hmm…”
“PAK AZKA..!”
Yuna tanpa sadar mengucapkannya terlalu keras, hingga membuat Ny.dania memelototi ketidak sopannannya.
“Astaga.. Dasar gadis liar!”
Bibi.. bibi, bawakan aku air dingin.. Aku harus mendinginkan kepalaku.. bibi..!”
Ny.dania dengan kesal menjauhinya, membawa kemarahan yang mendidih dikepalanya..
“saya tidak menyangka jika Anda benar-benar kekanakan pak..”
Yuna langsung melontarkan kalimat itu pada Azka, dan membuat Azka langsung memberikan tatapan dingin kepadanya..
“bagian mana dari sikap ku yang kekanakan nona..?”
Azka mendekat, meraih dagu Yuna dan mendongakkannya, membuatnya bertatapan lurus dengannya.
“sekarang sebutkan padaku yang mana yang kau bilang kekanakan itu..?”
Yuna merasa tatapan dingin Azka telah membekukan tubuhnya, dan membuatnya kehilangan kata-kata.
“Astaga.. Azka! Tidak bisakah kau menjauhkan tanganmu dari gadis itu.. Sekarang!!”
Azka sedikit kaget mendapati ibunya yang Ia kira telah menjauh, kini justru sedang melebarkan mata melihatnya. Ia buru-buru menjauhkan tangannya dari dagu Yuna untuk kemudian berjalan menghampiri ibu nya.
“mama.. Kau harus percaya padaku.. Aku tidak..”
“Diam Kau Azka..! Mama tidak ingin mendengarmu bersuara atau mama akan meledak karna kelakuanmu..”
“Aku akan berada dikamarku..”
Ucapnya kemudian melenggang masuk kedalam kamarnya, dan meninggalkan lagi kesalah pahaman dipundak Yuna.
Yuna benar-benar mengarahkan tatapan kesal pada pria itu, sampai kemudian ia tersadar jika yang harus dilakukannya adalah menjelaskan apa yang sebenarnya tadi terjadi pada Ny.dania, agar wanita itu menarik kembali ucapannya yang menuduhkan Ia hendak berbuat asusila dirumahnya.
“Nyonya..”
Yuna mendekat pada Ny.dania yang berkali-kali sedang menarik nafas panjang. Tangannya terlihat gemetar saat memegang segelas air dingin ditangannya.
“menjauhlah dariku..”
“Nyonya.. Anda hanya salah paham. Tadi hanyalah..”
“Aku tidak bisa mendengar penjelasan apapun darimu, Yuna.. Menjauhlah..”
Ny.dania meneguk habis segelas air dingin ditangannya..
“bibi.. Berikan aku segelas lagi..!”
“Nyonya.. Anda harus mendengarkan penjelasan saya. Jika tidak, Nyonya.. Akan terus menanamkan perilaku buruk itu melekat pada diri saya..”
Yuna memberanikan diri kembali bersuara..
“Apa maksudmu aku tak seharusnya menilaimu buruk? Kenyataannya Kau adalah gadis liar..! Bibi.. Dimana kau? Mana air dingin untukku..?”
Bibi Lia entah muncul darimana, Ia sudah tiba-tiba berada disana dengan nampan berisi segelas air dingin sesuai dengan permintaan Ny.dania. Mungkin Ia sudah sedari tadi berada diantara mereka, hanya takut-takut untuk menampakkan dirinya.
“Ini nyonya..”
“Bibi..”
“Iya..”
“bawa gadis itu menjauh dariku..”
Bibi Lia langsung menatap pada Yuna dan menganggukkan kepala kearahnya, namun Yuna menggeleng..
“Nyonya.. Anda belum mendengarkan penjelasan saya..”
“Tidak perlu.. Pergilah!”
“Apa maksud Nyonya saya boleh pergi dari rumah ini?”
Ny.Dania mendecak kesal, berdiri dari duduknya dan kemudian berkacak pinggang dihadapan Yuna..
“Kau masih belum mengerti?! Aku bukan menyuruhmu pergi dari rumahku.. Banyak hal yang perlu kau pelajari, dan aku tak akan melepaskanmu sebelum kau berhasil mengerjakan itu dengan baik..! Pergilah ke kamarmu..”
“Tapi Nyonya..”
“MASUK KE KAMARMU, YUNA..!”
Ny.Dania mulai membentak..
“Ketahuilah, suamiku sebentar lagi akan pulang dan meskipun kemarahanku saat ini mendidih padamu.. Aku tak ingin dia melihatku masih terus mengomeli mu.. Dia tidak akan suka. Maka jangan lagi membantah..! Bersihkan tubuhmu dan kembali turun dalam satu jam.. Ahjumma, siapkan makan malam..!”
Bibi Lia mengangguk mengerti dengan kalimat yang ditujukan padanya sesaat sebelum
Ny.Dania pergi dari hadapannya dan Yuna. Gadis itu memucat dan tak lagi bisa bersuara..
“Yuna..”
Yuna menoleh dan melihat Bibi Lia yang tersenyum padanya..
“turutilah apa yang dikatakan Nyonya tadi.. Jika memang ada kesalah pahaman diantara kalian, akan ada waktunya nanti untukmu bisa menjelaskan padanya. Aku melihatnya sedang dilingkupi amarah..”
Yuna mengangguk dengan pasrah dan kemudian mulai melangkah menaiki anak tangga menuju tempat yang telah menjadi kamarnya. Kamarnya yang sangat luas.
Namun sesaat Ia menghentikan langkahnya saat melihat Azka pintu terbuka, dan Azka keluar dari dalamnya.
Dibelakang pintu itu pastilah kamarnya..
Yuna menduganya demikian.
Wajahnya menunjukkan kekesalan pada Azka dan lantas menggumam..
“Bajingan..!”
Lalu dengan cepat Ia melangkahkan kakinya untuk menaiki puluhan anak tangga diatasnya.
Azka yang melihatnya, hanya bisa tersenyum miring kearahnya..
“Gadis bodoh..!”
***
to be continued