At First Sight

At First Sight
Episode 39



Sementara Azka bergumul dengan berbagai teka-teki mengenai apa yang terjadi dengan Yuri dan penyebab depresi yang dialami gadis itu. Juga begitu misteriusnya motivasi Doni, serta jadwal pekerjaan yang tak bisa Ia abaikan.


Yang terjadi dengan Yuna kini berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Azka. Ia tak banyak memikirkan apa yang akan dilakukan Ny.Dania padanya, Ia memutuskan untuk mengikuti saja perkataan wanita itu yang entah bertujuan kemana, Yuna masih belum mengetahui sampai kemudian sang sopir memberhentikan laju mobil didepan sebuah bangunan berlantai tiga setidaknya, dan terpasang plang dengan nama salon khusus wanita. Yuna kemudian menyadari harinya akan dimulai disana.


“Ayo turun..”


Keluar dari dalam mobil dan langsung mengikuti langkah Ny.Dania masuk kedalam salon itu, mereka disambut oleh seorang wanita cantik yang sepertinya sudah sangat mengenali Ny.Dania yang menjadi salah satu pelanggan tetap disana..


“Selamat datang Nyonya..”


Yuna memperhatikan Ny.Dania yang tersenyum membalas sapaan wanita itu.


“Inikah gadis itu?”


Ucapnya kemudian menatap meneliti pada Yuna. Membuat Yuna sedikit risih karenanya. Seharusnya hal itu sudah tak lagi dirasakannya, Yuna tak perlu heran. Orang-orang yang baru melihatnya secara dekat memang selalu menunjukkan tatapan yang semacam itu terhadapnya.


“Hm.. Seperti yang sudah kukatakan padamu ditelpon. Kau pasti bisa menanganinya kan..?”


“Tentu saja Nyonya.. Gadis ini hanya perlu sentuhan dan beberapa perawatan”


Wanita itu tersenyum dan kemudian Ny.Dania mengarahkan pandangannya pada Yuna.


“Kau bisa ikut dengannya, Yuna..”


Bukan langsung menurut pada apa yang baru saja dikatakan oleh Ibu Azka padanya, Yuna justru melingkarkan tangannya pada lengan Ny.Dania.


“Apa yang akan dilakukan wanita itu padaku, Ibu..? Aku tak mau ikut dengannya”


Ny.Dania mendecak sekaligus memelototi nya.


“Aku hanya akan melakukan perawatan pada tubuhmu, nona muda..”


Wanita cantik itu memberitahukan.


“Tapi ibu tidak akan meninggalkanku kan?”


“Ck! Tentu saja tidak, masih banyak yang harus kulakukan denganmu..”


Dengan terpaksa Yuna kemudian mengikuti sang wanita pekerja disalon itu. Memasuki ruangan khusus yang dikatakan wanita itu sebagai tempat perawatan yang telah mereka siapkan untuknya.


Ada beberapa wanita pekerja yang lainnya, yang membawakan perlengkapan dan termasuk pakaian ganti untuknya.


Yuna sedikit ngeri tentang apa yang akan mereka semua lakukan padanya, namun perlahan dengan senyum ramah yang ditunjukkan padanya, Ia mulai bisa merasa lega. Setidaknya ia sadar tidak sedang dalam bahaya.


Astaga..


Pikirannya memang sangat konyol.


“Apa yang harus kulakukan sekarang?”


Tanyanya terdengar bodoh..


“Nona bisa mengganti pakaian dengan ini.. Kita akan melakukan lulur sebagai perawatan pertama untuk anda”


Selanjutnya Yuna tak lagi mengeluarkan suara, ia justru menikmati ketika tubuhnya dipijat dan dilulur oleh tangan yang terampil, dan juga mendapatkan facial pada wajah. Hingga tak sadar itu telah menghabiskan waktu sekitar dua jam.


Setelahnya, Ia kemudian diminta untuk berendam dengan air hangat yang telah ditaburi kelopak-kelopak mawar, dengan menggunakan waktu selama tiga puluh menit.


Usai itu, Yuna mendapati seseorang kemudian membersihkan kuku-kuku dari jari tangan dan kakinya sekaligus menawarkan warna apa yang disukainya untuk mewarnai kuku-kukunya. Yuna sudah akan menjawab, ketika kemudian Ny.Dania muncul hanya untuk memberitahukan jika Yuna akan mewarnai kukunya dengan warna merah.


Ia hanya bisa mendengus, sebenarnya ia lebih menyukai putih daripada merah. Yuna merasa kurang menyukai warna merah. Tapi Ibu Azka jelas tak mau dibantah..


“Oh, sudah selesai..?”


Ketika seseorang itu masih mewarnai kuku-kukunya, seorang wanita cantik yang tadi menyambutnya saat pertama kali datang kembali datang menghampirinya.


“Aku yang akan mengurus rambutmu, nona..”


“Apa kau akan memotong rambutku?”


“sedikit..”


ucapnya sambil menyentuh mahkota hitam yang tergerai dalam keadaan basah sehabis mandi berendam yang dilakukan Yuna.


“Emm, dan Nyonya memintaku untuk mengganti warna rambutmu..”


Yuna langsung melebarkan mata mendengarnya. Gerakannya juga membuat seseorang yang sedang mewarnai kukunya terkejut, karna ia hampir saja mengacaukan apa yang sedang dikerjakannya.


“Maaf..”


Ucap Yuna kemudian meminta maaf, dan lantas menatap pada cermin didepannya untuk kembali berbicara pada sang wanita yang sudah siap dengan peralatan yang akan digunakan untuk memotong rambutnya dan kemudian mewarnainya.


“Aku tidak menginginkan mengganti warna rambutku.. Bisakah kau tidak melakukannya?”


“Oh, sayang..”


Ucap wanita itu terdengar berlebihan.


“Percayalah padaku, apa yang kulakukan bertujuan untuk mempercantik dirimu”


“Tapi aku tak menginginkannya..”


“Aku yang ingin kau untuk melakukannya, Yuna..”


Ny.Dania kembali muncul dengan tatapan memperingatkan kearahnya.


“Ibu..”


“Lakukan seperti apa yang kukatakan tadi..”


Ny.Dania tidak menggubris apa yang ingin dikatakan oleh Yuna dan justru memerintahkan seorang wanita itu untuk melakukan pekerjaannya.


“Uh, Aku sedang dijadikan boneka hari ini..”


Keluh Yuna setelah Ny.Dania kembali meninggalkannya disana.


“Kau akan berterimakasih karna menjadi boneka cantik ibu mertuamu..”


Dengusnya pelan..


“Hey.. Kau pikir aku tak bisa mengenalimu. Tentu saja dia ibu mertuamu.. Kau sudah bertunangan dengan putra semata wayangnya bukan? Pertunangan kalian cukup menghebohkan..”


“Karna aku gadis biasa? Dan terlihat tak pantas melakukan pertunangan itu..?”


“Em, aku takkan berbohong memang salah satunya karna itu. Tapi pertunanganmu dan Tuan muda itu setidaknya telah mematahkan anggapan bila keluarga kaya tak mungkin ber-mantu-kan gadis biasa..”


Yuna kembali hanya bisa menghela napasnya dan masih dengan menunjukkan wajahnya yang memberengut. Ia juga masih harus menunggu beberapa jam setelah sang wanita melakukan pengecatan pada rambutnya.


Tidak selesai sampai disitu, sambil menunggu proses pewarnaan pada rambutnya, seorang yang tadi mewarnai kukunya juga kemudian melakukan waxing pada bulu-bulu halus di kakinya, membuat Yoona mengeluarkan jeritan kencang dari bibirnya. Dan hanya bisa meringis sambil menggigit bibir bawahnya ketika Ny.Dania kembali masuk untuk melihat apa yang terjadi dengannya.


“Kau hanya sedang di waxing, Yuna..! Berhentilah menjerit seperti itu..”


“Tapi aku tak pernah merasakan perawatan yang semacam ini sebelumnya.. Ini sedikit terasa sakit Ibu..”


Ny.Dania mendecakkan lidah dan menggeleng heran kearahnya. Maka kemudian, untuk menghilangkan kekesalannya yang mulai kembali ia rasakan pada Yuna, Ny.Dania beralih pada sang pekerja salon.


“Apa masih perlu menunggu lama untuk pewarnaan rambutnya?”


“Hanya menunggu sebentar lagi Nyonya..”


“Kau memberikan warna yang telah ku pilihkan?”


“Iya, Nyonya..”


“Jika sudah selesai, tolong antarkan dia ke butik yang berada diatas. Aku akan berada disana..”


“Baiklah, Nyonya..”


Ny.Dania sempat memberikan tatapan yang mengisaratkan agar Yuna berhenti berulah dan Yuna hanya mengangguk sebagai jawaban.


Tak sampai tiga puluh menit setelahnya, wajahnya mulai dirias dengan bedak tipis, diberi perona dikedua pipinya, alis dan bulu matanya juga diatur. Dan bibirnya diberi pewarna merah muda dengan menggunakan lipstik, dan lipglos untuk memberikan kesan lembab dan basah.


Rambutnya telah diatur sedemikian rupa, hingga sempat membuat Yuna merasa tak mengenali dirinya yang kini memiliki rambut berwarna coklat, bergelombang dan berkilau terang.


Apakah dirinya menjadi seperti cerita dalam dongeng?


Si itik buruk rupa yang menjelma menjadi angsa jelita..?


Yuna mengerjap beberapa kali memandangi pantulan dirinya dicermin..


“Kau menyukai penampilan baru mu, nona muda..?”


“Iya..”


“Kalau begitu, ayo ikut aku.. Ibu mertuamu pasti telah memiliki sesuatu untukmu..”


Yuna mengikuti wanita itu menyusul Ny.Dania yang telah menunggunya di butik yang berada dilantai paling atas. Salon itu rupanya digunakan oleh sang pemilik merangkap sebagai butik. Beberapa gaun berwarna soft, dipajang pada beberapa manekin. Dan lebih banyak yang lain digantung dengan berjejer pada etalase.


“Ibu..”


“Oh, kau sudah selesai..”


Yuna mengangguk ketika Ny.Dania beralih dari seorang wanita yang sepertinya seusia dengannya, yang diyakini Yuna sebagai pemilik tempat itu, untuk kemudian menjalankan tatapan kearahnya, menelusuri setiap jengkal pada tubuhnya, menggunakan kedua matanya yang awas.


“Ganti pakaianmu dengan ini..”


Yuna menerima sebuah dress berwarna merah ditangannya.


Merah..


Mengapa Ibu Azka selalu memberinya warna merah?


Ia sedikit memprotes meski hanya dilakukannya dalam hati saja.


Berbalik menuju kamar pas dengan bantuan seorang wanita muda pegawai butik, Yuna tak membutuhkan waktu lama untuk menukar pakaian yang saat itu dikenakannya dengan dress merah yang dipilihkan Ibu Azka untuknya.


Keluar dari kamar pas, Yuna kembali menghampiri Ny.Dania dan sesaat melihat wanita itu tersenyum melihatnya..


“Kau memiliki calon menantu yang cantik..”


pujian terucap dari sang pemilik butik yang berdiri disamping Ny.Dania.


“Para pekerja salonmu benar-benar sudah mengubahnya..”


Ny.Dania membalas sambil mengeluarkan kredit card dari dalam dompet di tas tangannya.


“Aku membayar untuk semuanya..”


Setelah selesai dengan salon sekaligus butik itu, Ny.Dania mengajak Yuna untuk pergi dari sana, dengan membawa tiga paper bag ditangannya.


Sudah lewat tengah hari saat itu, entah berapa jam mereka menghabiskan waktu disana. Awalnya Yuna mengira sudah cukup sampai disitu dan Ibu Azka akan membawanya pulang.


Namun wanita itu sepertinya tak kehabisan tenaga untuk kemudian membawa Yuna mendatangi setidaknya lima butik ternama lainnya.


Meminta Yuna menjajal setidaknya puluhan pakaian, dari mulai gaun dan dres-dres pendek. Pakaian santai hingga pakaian tidur yang Yuna tak dapat menghitung berapa jumlah pastinya.


Ia juga dibuat ternganga ketika Ny.Dania mengeluarkan kartu kredit tanpa limit miliknya, dan terheran bahkan hampir tak percaya Wanita itu merelakan ratusan ribu atau mungkin telah mencapai Puluhan juta hanya untuk membayar pakaian-pakaiannya.


Ny.Dania hanya mengatakan padanya..


“Tak perlu melebarkan matamu seperti itu, Yuna.. Semua itu akan masuk kedalam tagihan Azka. Dia yang harus membayar semuanya untukmu. Salahnya karna telah memilih bertunangan dengan gadis yang masih harus banyak didandani sepertimu..”


Yuna tak ingin merasakan tersinggung oleh kata-kata seperti itu.


“Semua itu akan menunjang penampilanmu.. Setidaknya untuk terlihat pantas sebagai tunangan putraku, Kau harus terlebih dulu terlihat pantas dalam segi penampilan. Itu yang pertama kali dipandang oleh orang-orang diluar sana”


Yuna sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Karna Ia tak memiliki kalimat yang bisa digunakan sebagai bantahan. Atau dirinya sudah terlalu lelah hari itu meski hanya untuk sekedar mendebat apa yang dikatakan Ibu Azka padanya. Yuna sadar, ia masih belum bisa melawan wanita itu..


***


To Be Continued