
Yuna merasakan sesak didadanya. Ia hampir-hampir meneteskan airmatanya. Apa yang akan terjadi benar-benar diluar dugaannya. Terbayang bagaimana rasanya Ia telah terperangkap kedalam jurang gelap menganga yang menelannya.
Ia hanya bisa memejamkan mata ketika Azka membawanya kembali masuk kedalam aula tempat acara berlangsung, dengan cara terus merangkulnya, memastikannya takkan lari kemana-mana.
Melihat Azka bersama Yoona, Tn.Rian langsung menghampirinya namun tanpa sang istri disisinya.
“Papa..dimana mama?”
“Mama mu hanya ingin menenangkan diri.. tenanglah, kemarahannya hanya dibibir, Aku telah lama hidup dengannya dan tahu bagaimana wataknya. Dia memang mau yang terbaik untukmu, tapi dibalik itu ibumu juga menginginkan kebahagiaanmu..”
Tn.Rian tersenyum dan beralih pada Yuna..
“dimana kakakmu sekarang? Mungkin kau bisa menghubunginya untuk datang dan menyaksikan pertunangan kalian..”
Ada airmata yang hampir menyeruak keluar ketika Yuna mendengarnya.
“Saya tidak bisa menghubunginya.. Dia berada diluar negeri sekarang..”
Azka membualatkan mata, mendengar keberadaan Yuri yang kini diluar negeri.
“Owh.. Baiklah, mungkin kau bisa mengabarkan ini padanya besok.. Kau sudah siap Azka? Papa akan mengumumkan pertunangan kalian.. Setelahnya kita bisa bahas untuk kepastian pernikahannya”
Azka mengangguk dan merasakan tubuh Yuna gemetar saat itu. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali meraih tangannya, meski Yuna berusaha menolak namun Azka tetap menggenggamnya dengan harapan Itu mungkin bisa untuk sedikit menenangkannya.
Ketika kemudian Tn.Rian memulai pidatonya mengenai ulang tahun perusahaannya malam itu dan berucap terimakasih pada semua rekan bisnis dan juga karyawan yang bekerja untuk perusahaannya, Riuh tepuk tangan mengiringinya saat itu.
Namun keriuhan itu segera berubah menjadi antisipasi sesaat setelah Tn.Rian mengucap tentang pertunangan yang akan dilakukan putranya dengan seorang gadis yang menjadi pilihannya.
Banyak yang kemudian mempertanyakan siapa gadis berkwalitas dan pasti dari kalangan terhormat yang kemudian diterima dalam keluarga Tn.Rian untuk menjadi menantunya.
Dan dengan santai nya Tn.Rian memberikan jawaban..
“Dia hanyalah seorang gadis biasa yang diinginkan oleh putraku.. Kami menyetujuinya karna tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat putra kita mendapatkan apa yang diinginkannya..”
Beberapa orang nampak menganguk menyetujui apa yang dikatakannya. Namun lebih banyak yang penasaran dengan sosok sang gadis yang begitu istimewa karna diinginkan oleh putra pemilik perusahaan yang sekarang juga menjadi pemimpin perusahaan itu.
“Aku takkan berlama-lama.. Dan inilah putraku Azka Rianda dengan calon tunangannya Yuna Arsyila…”
Antisipasi itu berubah seketika menjadi ketercengangan, lebih-lebih bagi karyawan lain yang telah mengetahui siapa Yuna sebenarnya.
Gadis itu sudah cukup membuat kehebohan dengan posisinya yang hanyalah seorang resepsionis dan tiba-tiba menjadi sekretaris pimpinan perusahaan.
Dan kini Yuna justru membuat lebih dari sekedar kehebohan. Ia telah membuat shock sebagian besar orang-orang yang berada ditempat yang sama dengannya pada malam itu.
***
Yuna juga menyadari pada saat tadi orang-orang menatapnya dengan tanya yang menyelidik dan dengan tatapan yang seakan bisa mengulitinya. Terutama kedua rekannya, Husna dan Siska yang hampir menjatuhkan bola matanya ketika melihat Azka melingkarkan cincin itu dijari manisnya.
“Astaga Yuna.. Ini luar biasa, hebat.. Aku tak menyangka kau bisa menjalankan rencana melebihi apa yang aku harapkan”
Doni memeluknya dengan suka cita. Seakan tak menyadari dengan kesedihannya.
Tentu saja..
Kini Ia telah merasa berhasil untuk menempatkan Yuna diposisi paling dekat dalam kehidupannya.
Setatus Yuna lambat laun akan dijadikan alat untuknya menjatuhkan Azka.
Yuna jelas akan memiliki akses lebih untuk mengetahui hal-hal yang tidak bisa ia ketahui..
“Aku lelah mas.. Tolong, bisakah antarkan aku pulang sekarang?”
“tentu saja Yuna.. Tentu aku akan mengantarmu pulang. Kau bisa tidur dengan nyenyak sekarang..”
Bahkan didalam mobil dalam perjalanan menuju rumah Yuna, Doni terus mengatakan puja-pujinya atas apa yang dikerjakan Yuna, tak perduli pada saat itu Yuna hanya diam dan tak menanggapinya.
meski saat itu juga banyak hal mengganjal yang ingin dikatakannya pada Doni. namun Yuna sudah terlalu lelah untuk membahasnya malam itu.
***
Tiba didepan rumahnya, Yuna tak menunggu Doni membukakan pintu mobil untuknya. Ia hanya mengucap terimakasih dan langsung berlari masuk kedalam rumahnya yang gelap. Tak perlu menyalakan lampu untuknya tahu dimana keberadaan kamar Yuri.
Ia masuk kedalamnya dan terisak tanpa suara saat membenamkan wajahnya diatas tempat tidur Yuri.
“Kak Yuri.. Apa yang harus kulakukan sekarang..? Kakak pulanglah.. Bantu aku, Kak..”
Rasanya Yuna baru saja tertidur dan bermimpi bertemu dengan Yuri kakak nya yang tersenyum menggandeng tangannya, namun suara gedoran pada pintu rumahnya yang kemudian menyadarkannya bahwa matahari pagi telah memunculkan sinarnya saat itu.
Dengan wajah kacau, mata sembab karna tangis, perlahan Yuna turun dari atas tempat tidur dan berjalan keluar untuk membuka pintu rumahnya dan terkejut dengan kehadiran Ibu Azka disana.
“Nyonya..”
“Kemasi barang-barangmu sekarang. Mulai hari ini kau akan tinggal bersama kami. Kau akan berada dalam pengawasanku.. aku yang akan mendidikmu dan mengajarimu untuk menjadi layak sebagai tunangan Azka, putraku..!!
***
to be continued