At First Sight

At First Sight
Episode 30



Tak menunggu wanita itu mengakhiri pembicaraan, Ny.Dania telah menutup telpon lebih dulu dan langsung kembali ke ruang makan.


“Kau sudah selesai dengan temanmu itu?”


Ny.Dania hanya mengangguk kearah sang suami dan kembali menduduki kursinya meski rasanya Ia takkan bisa meneruskan untuk makan pada malam itu..


“Aku sudah selesai, aku akan kembali berada diruang kerja..”


Azka mendorong piring makannya dan menyisakan banyak makanan yang belum ia sentuh diatasnya.


“Ada apa denganmu? Kau tidak memakan makananmu, Azka..”


Ny.Dania mencegah, namun sesaat setelahnya menatap pada Yuna dan memberikan tatapan mencurigai padanya. Gadis itu juga tidak menikmati makanannya dan mungkin dia memiliki janji dengan Azka setelahnya. Jelas Ia tidak akan membiarkannya..


“Aku masih memiliki pekerjaan yang harus aku selesaikan, ma..”


“Masuklah kedalam kamarmu, Azka.. Kau lebih baik tidur. Pa, biarkan dia beristirahat.. Kau bisa menggantikan Azka menyelesaikan pekerjaannya kan?”


Tn.Rian mengangguk..


“Aku perlu berbicara dengan Yuna, Aku akan mengajaknya pada acara amal besok..”


Yuna langsung mengarahkan tatapannya pada Ibu Azka yang berada disebelahnya. Wanita itu mengacuhkan dan tidak memandang kearahnya..


“Oh, itu terdengar bagus ma..”


Tn.Rian tersenyum, terlihat senang dan menyambut baik niatan sang istri..


“Kau memang perlu untuk memperkenalkan Yuna, dia calon menantu kita..”


“Mama yakin akan mengajak Yuna?”


Azka mempertanyakan, sedikit menahan keinginannya untuk kembali ke ruang kerjanya, seperti yang telah dikatakannya.


“Ya.. Kenapa? Kau keberatan..? Kau memiliki rencana untuk tidak datang kekantor besok dan menghabiskan waktumu dengannya. Jangan harap kau bisa melakukannya.. mama tidak akan membiarkan kalian..”


Azka berdiri dari duduknya dan tidak menanggapi tuduhan yang dilontarkan ibunya yang menjadi terus berpikiran buruk terhadapnya. Percuma, ibunya tidak akan mempercayainya..


“Lakukan apa yang mama inginkan..”


Azka beranjak, namun sesaat Ia tertahan oleh tatapan Yuna yang tiba-tiba bertemu dengan tatapannya.


Jantungnya kembali berdegub kencang, sepertinya sedang bekerja keras untuk memompa darah yang mengalir ditubuhnya atau sebenarnya itu efek dari tatapan mata Yuna.


Gadis itu biasanya memiliki tatapan berkilat-kilat marah seperti pada pandangan pertama ia melihatnya. Namun saat itu, Azka menemukan sinaran lain dari kedua mata bening itu. Keluguan dan kepolosan khas gadis yang masih berada dikisaran umur belasan..


Sial..


Setelah bibir merah jambunya yang memikat.


Apa kini ia juga mulai terpikat oleh mata gadis itu..?


Oh Tuhan..


Pemikiran macam apa ini..


“Ayo kita tinggalkan mereka.. Biarkan ibumu mengatur rencananya bersama dengan Yuna untuk besok. Sebelum beristirahat, terlebih dulu Kau perlu menunjukkan padaku apa yang bisa kukerjakan untuk membantumu..”


Tn.Rian menepuk bahu Azka dan melangkah lebih dulu. Azka pun kemudian mengikutinya dan meninggalkan Ibunya bersama dengan Yuna disana.


***


Pada pagi hari ketika alarm yang berada disampingnya berbunyi dengan suara nyaring seakan ingin merobekkan gendang telinganya dan mampu untuk membangunkan semua orang dirumah itu, Yuna mengerang dan langsung mematikannya untuk selanjutnya menjauhkannya.


Ia baru bisa tidur pada sekitar pukul empat pagi dan harus terbangun pada saat jarum jam itu bergerak diangka tujuh. Nyaris, Yuna hanya mendapatkan tiga jam waktu istirahatnya.


“Yuna..! Yuna.. Kau sudah bangun? Yuna..!”


mendengar suara ibu Azka menyertai ketukan pada pintu kamarnya, Yuna dengan cepat membuka matanya. Melompat turun dari atas tempat tidur dan langsung berjalan kearah pintu untuk membuka kunciannya..


“Kau baru bangun saat aku membangunkanmu..? Astaga..!”


“Ibu..”


Ny.Dania tak menggubris dan langsung masuk kedalam kamarnya.


“Kau tidak lupa kau harus ikut denganku kan? Kita harus bersiap Yuna..!”


“Ibu.. Maafkan aku..”


Yuna merasa tidak mungkin untuk mengatakan pada ibu Azka jika dirinya baru bisa tertidur pada saat fajar bersiap menyingsing.


Wanita itu pasti hanya akan semakin memarahinya atau parahnya akan melemparkan tuduhan-tuduhan terhadapnya dan menghubungkannya dengan Azka.


Maka yang kemudian bisa Yuna lakukan saat itu adalah mengikuti Ny.Dania yang masuk kedalam kamarnya. Ibu Azka itu sudah terlihat rapi dan cantik dengan setelah yang dikenakannya. Ia langsung menuju pada lemari pakaian Yuna, membukanya, dan mendecakkan lidah sambil menggelengkan kepalanya. Miris melihat isi didalamnya.


Yuna menggigit bibir bawahnya dan menganggukkan kepala pada Ny.Dania yang sedang memandangnya penuh keprihatinan..


Oh dear..


“Bagaimana seorang gadis yang bahkan masih seusiamu tak memiliki sebuah pakaian yang layak..”


Tolak ukur ke-layak-an dimata Ny.Dania jelaslah berbeda dengan yang menurut Yuna. Bagi Yuna apa yang dimilikinya, pakaiannya sudahlah cukup pantas dan layak untuk dikenakannya pada saat dirinya berada dilingkungannya. Tapi Ia juga menyadari saat berada dirumah Azka, apa yang dimilikinya jelaslah menjadi tidak layak.


Ny.Dania mendesah melihat hanya ada sebuah gaun yang menurutnya bisa untuk disebut pantas untuk dikenakan, yang tergantung didalam lemari itu. Yang pasti takkan mungkin Ia menyuruh Yuna untuk kembali mengenakannya.


Gaun itu membuat Ny.Dania teringat akan malam penuh kemarahan menjengkelkan yang pernah Ia rasakan sepanjang hidupnya. Dan apa yang nanti akan dikatakan oleh teman-temannya bila melihat tunangan putranya mengenakan gaun yang sama, mereka jelas akan mencemooh dirinya habis-habisan. Ny.Dania bergidik membayangkannya..


Gaun berwarna kuning pucat yang dikenakan Yuna pada malam itu, juga membuatnya teringat pada malam yang menjebak dirinya untuk masuk kedalam situasi yang sekarang ini dirasakannya. Malam pertunangan dadakannya dengan Azka yang dirasakan Yuna menjadi awal terjungkir balik nya kehidupannya.


Ny.Dania kembali menutup lemari pakaian itu dan beranjak dari sana, berpikir apa yang kemudian akan dilakukannya. Jika dirinya membatalkan untuk mengajak Yuna menghadiri acara amal sesuai undangan salah seorang temannya, jelas Ia tahu pasti dirinya kemudian hanya akan kembali menjadi bahan pembicaraan disana dan bahkan menjadi bahan olok-olokan teman-temannya. Jelas Ny.Dania tidak menginginkannya..


“Mandilah terlebih dulu.. Aku yang akan mengurus pakaianmu..”


Yuna mendesah dengan perintah yang diucapkan Ny.Dania sesaat sebelum keluar dari kamarnya dan meninggalkannya disana. Sekali lagi, Yuna menurut. Dengan enggan Ia memasuki kamar mandi dan melakukan beberapa menit untuk membersihkan tubuhnya.


Pada sekitar lima belas menit setelahnya, Yuna keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk kimono yang menutupi tubuhnya, Ia melihat Ny.Dania yang telah kembali berada dikamarnya.


Dan mendapati sebuah gaun yang sewarna dengan bunga tulip berada diatas tempat tidurnya. Ia tidak akan berani bertanya dari mana ibu Azka bisa mendapatkannya dalam waktu singkat..


“Ibu..”


“Kau bisa memakai itu dan beri sedikit riasan pada wajahmu..”


Ny.Dania sudah akan kembali meninggalkannya ketika kemudian Yuna menahan lengannya..


“Ibu..”


Takut-takut untuk berbicara, Yuna kembali menggigit bibir bawahnya..


“Ibu..”


“Katakan Yuna.. Apa yang kau ingin katakan padaku?”


“Ibu.. Aku, emm.. Aku tak tahu bagaimana cara merias wajahku..”


Ny.Dania melebarkan mata kearahnya, membuat Yuna merasakan perasaan malu pada pengakuannya. Karna sejujurnya Ia memang jarang sekali melakukan riasan terhadap wajahnya. Terlebih semenjak kondisi Yuri yang terpuruk, tak ada lagi yang memperhatikan tampilannya..


“Ya ampun.. Bagaimana bisa kau disebut seorang gadis..”


Ny.Dania menyingkirkan tangan Yuna yang memegangi lengannya.


“Pakai dulu pakaianmu, aku akan mengambilkan peralatan rias milikku..”


Yuna tak menyangka, Ibu Azka akan melakukan itu. Wanita itu keluar dari dalam kamarnya dan membiarkan Yuna untuk terlebih dulu mengenakan pakaian yang dibawakannya.


“Kau terlihat begitu sibuk, ma..”


Tn.Rian berkomentar setelah melihat sang istri yang bolak-balik, naik turun tangga dari kamar Yuna. Dan Ny.Dania mendesah mendengarnya..


“Aku harus mengurus gadis itu..”


“Sepertinya Yuna begitu menyita perhatianmu..”


Tn.Rian menutup lembaran surat kabar yang dibacanya dan tersenyum pada sang istri yang memutar mata kearahnya.


“Dia gadis yang benar-benar buruk..”


“Dia hanya perlu sentuhan tanganmu..”


Tn.Rian mendekat, merengkuh bahu sang istri dan kembali menunjukkan senyum kearahnya..


“Aku masih tak mengerti bagaimana bisa Azka menyukainya..”


“Azka pastilah melihat sisi lain yang belum kau lihat dari gadis itu.. Yuna gadis yang lugu, dia polos dan pasti tak meminta macam-macam dari Azka”


“Dia liar, Pa..!”


“Aku memaklumi itu.. Yuna tak mendapatkan perhatian dari orangtua nya dan sang kakak, Dia pasti sedang bekerja keras diluar negri. Yuna gadis yang malang, dia kekurangan kasih sayang.. Untuk itu aku memintamu agar tidak terlalu keras terhadapnya”


“Bagaimana aku bisa bersikap lunak padanya, bila sikapnya selalu membuat darahku mendidih..”


Tn.Rian justru tergelak mendengar perumpamaan sang istri, yang lantas dengan kesal meninggalkannya dengan membawa kotak berisi peralatan rias ditangannya.


***


to be continue