
Telah banyak orang yang kemudian mulai berkomentar pada berita miring yang beredar. Menjadikan Yuna merasakan ketidak nyamanan ketika dirinya harus keluar rumah. Orang-orang itu yang mengenalinya sebagai tunangan Azka (atau setelah berita yang beredar menjadi menyebutnya sebagai mantan tunangan pria itu) secara terang-terangan berkasak-kusuk dibelakangnya dan membuat telinganya memanas atas sindiran-sindiran pedas yang sengaja ditujukan padanya.
Mereka memandangnya dengan tatapan mencibir seolah dirinya adalah pengkhianat besar. Dan pasti penilaian yang juga bersarang dikepala mereka adalah dirinya sebagai gadis tak tahu diri, karna telah diangkat derajat dan status sosialnya dari kalangan bawah oleh keluarga Azka, tapi justru berkhianat dengan melakukan perselingkuhan.
Demi Tuhan..
Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya membaca berita yang tanpa adanya konfirmasi darinya.
Dirinya memang gadis tak tahu diri.
Ya..
Ia mengakui dan akan menerima komentar seperti itu. Tapi berselingkuh?
Itu sama sekali tidak benar. Ia tak pernah berselingkuh.
Apalagi tuduhan itu berhembus dengan kencang hanya karna sebuah foto. Foto yang baru disadarinya diambil pada saat ia berada dikampus. Ia memang beberapa kali bertemu dengan Fariz, itupun tanpa disengaja ketika dokter itu mengajar dikampus nya. Tapi Yuna sendiri lupa, kapan tepatnya ia bertemu dokter Fariz hingga ada yang mengambil fotonya.
Yuna menghela napas..
Bukankah mengambil foto tanpa ijin bisa dikenakan pidana?
Tapi siapa yang akan ia pidanakan bila dirinya tak mengetahui orang yang mengambil fotonya dan menyebar luaskannya ke media. Hingga timbul fitnah yang menyakitkan untuknya.
Pemikirannya dengan seketika teralih, saat ponsel diatas tempat tidurnya mengeluarkan suara, tanda pesan masuk. Menggapai dengan sebelah tangannya, ia tertegun mendapati nama Azka sebagai pengirimnya..
‘kita perlu bicara’
Yuna tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepala setelah membaca pesan singkat itu.
Mendadak ia menjadi risau dengan apa yang dipikirkan Azka setelah melihat fotonya bersama Fariz yang telah beredar.
Apa Azka sudah melihatnya?
Apa Azka juga mempercayai dirinya berselingkuh?
Bila mengingat lagi bagaimana berlebihannya sikap pria itu terhadap Fariz, bisa jadi Azka akan mempercayai berita itu.
“Yuna..!! Yuna.. Buka pintunya..!!”
Yuna tersentak mendengar gedoran pada pintu rumahnya menyertai suara Azka yang memanggilnya. Rasanya belum ada satu menit ia membaca pesan yang dikirimkannya.
Jadi pria itu telah berada didepan rumahnya?
Ya Tuhan..
Yuna dengan segera keluar dari dalam kamarnya. Tidak langsung membuka pintu, melainkan berdiri diam dibaliknya.
“Aku tahu kau berada didalam.. Yuna! Buka pintunya..!!”
Tangannya yang mendadak gemetar telah terulur hendak membuka pintu. Mungkin ada baiknya ia memberitahukan pada Yuna mengenai ketidak benaran foto itu. Benar itu fotonya bersama Fariz. Tapi isi berita yang tertulis yang menuduhnya berselingkuh, sama sekali tidak benar.
Namun kemudian, niatannya untuk membuka pintu rumahnya terhenti saat ia mendengar suara lainnya yang berasal dari luar, suara kakak nya..
“Apa yang kau lakukan disini, Azka?”
“Aku harus bertemu dengan Yuna..”
“Dia tidak ada dirumah, Yuna meminta ijin untuk keluar tadi”
“Omong kosong.. Ini menunjukkan dimana dia sekarang”
Azka mengacungkan ponsel ditangannya. Memperlihatkan pelacakan GPS yang dilakukannya..
“Kalau begitu, dia berarti tak mau bertemu denganmu. Apa kau tidak membaca berita terbaru hari ini?”
“Aku melihatnya, karna itu aku harus bicara dengannya. Tolong, suruh dia keluar dan menemuiku..”
Yuri justru tersenyum miring mendengarnya..
“Jadi kau sudah membaca berita hari ini? Kau tidak takut ada pencari berita yang menguntitimu. Mereka bisa saja menuliskan hal-hal yang bisa menjatuhkan reputasimu bila melihatmu berada disini..”
“Persetan dengan hal itu.. Kau pikir aku peduli?”
“Aku mengenalmu, Azka. Tentu saja kau cukup perduli dengan reputasimu. Itu akan mempengaruhi kelangsungan bisnismu”
Azka mengerang..
“Demi Tuhan, Yuri.. Aku tak lagi peduli dengan menjaga reputasi bisnis apapun itu bila masalahnya menyangkut Yuna. Aku tahu, aku telah menyakitimu. Tapi tolong, bantu aku kali ini..”
Azka mencoba meraih tangan Yuri, namun dia menepiskannya..
“Kalau kau tak peduli dengan reputasimu. Setidaknya, pedulilah pada adikku. Kau pikir apa yang bisa mereka tulis saat melihatmu disini dan menggedor-gedor pintu rumahku. Mereka bisa jadi memelintir fakta dan menulis kau seolah-olah tengah melabrak Yuna atas perselingkuhan yang dilakukannya”
“Aku tahu itu tidak benar..”
“Tapi mereka tidak akan mau tahu. Mereka lebih suka berita yang mereka tulis menjadi semakin menarik dan diburu banyak orang..”
Ya Tuhan..
Akan sampai kapan ia menimbulkan masalah dan mejadi beban bagi keluarga Azka.
Yuna mengusap airmatanya dan buru-buru masuk kedalam kamarnya ketika mendengar suara kuncian pintu yang terbuka dari luar dengan knop yang ditekan..
“Yuna.. Aku pulang..”
Yuri masuk, melongok kamar Yuna dan mendapati sang adik tertidur dengan posisi miring membelakanginya.
Yuri sesaat berdiam diambang pintu. Dengan kencangnya Azka menggedor-gedor pintu tadi, tak mungkin Yuna masih bisa tertidur tanpa terjaga. Dan memperhatikan dari bahunya yang bergetar, Yuna pastilah sedang menangis. Bukan kali ini saja Yuri mendapati Yuna diam-diam menangis.
Dihari pertama mereka menempati lagi rumah itu, Yuri mendapati Yuna menangis tanpa suara sambil memeluk sebuah boneka kecil berjenis kuma, dengan sebuah ponsel dan tas tangan yang tergeletak disampingnya. Yuri tak tahu mengapa, Yuna hanya mengatakan ibu Azka datang untuk memberikan ponselnya dan mendadak ia teringat akan orangtua nya. Yuri merasa bukan hanya itu saja alasan Yuna menangis dengan begitu pilu, namun ia tak bisa melakukan apa-apa selain memeluknya.
Setelah hari itu Yuna memang tak lagi memperlihatkan tangis didepannya, namun hampir disetiap malam dalam dua hari itu, Yuri dapat mendengar lirih suara isakannya yang tertahan. Bahkan disiang hari, ia masih mendapati kedua matanya yang memerah.
Sungguh..
Ia hanya ingin melindungi adiknya. Bukan justru semakin menyakitinya.
Dengan kejadian buruk yang pernah dialaminya, ia semakin takut Yuna akan merasakan hal yang sama sepertinya. Terlebih sang adik masihlah sebagai bocah kecil dimatanya. Meski Yuri juga tak menutup mata, Yuna telah dipaksa oleh keadaan untuk menjadi gadis yang dewasa.
Beranjak dari depan kamar Yuna, Yuri beralih kedapur disebelahnya. Mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kantong plastik mini market, dan memutuskan membuat dua cup mie instan untuk mengisi perutnya.
“Kakak..”
Menoleh, Yuri mendapati Yuna melangkah menghampirinya.
“Tidur siang dengan nyenyak?”
Yuna mengangguk. Yuri tahu sang adik membohonginya..
“Aku membuat mie instan.. Ayo kita makan bersama”
Yuri mengarahkan Yuna untuk duduk dilantai dapur, dengan sebuah meja kecil dan dua cup mie instan yang mengeluarkan uap panas dihadapannya. Namun Yuna justru terdiam, ia sedang teringat malam dimana Azka menginap dan mereka memakan mie instan bersama.
“Yuna.. Ayo..”
“Ah, iya kak.. kakak tadi darimana?”
“Bukankah aku sudah katakan sebelum pergi. Aku mencari pekerjaan..”
“kakak belum pulih benar. Jangan dulu bekerja, biar aku saja..”
Yuri hanya tersenyum dan mulai memakan mie instan yang dibuatnya. Sengaja tak memunculkan topik kedatangan Azka tadi.
“Aku akan bekerja, Yuna. Aku tak bisa terus berhutang pada Arkhan”
“Kakak bertemu dengannya?”
Yuri mengangguk..
“Kami juga mengobrol. Dia juga yang membelanjakan ini tadi”
Meski sebenarnya, keduanya memiliki lebih dari cukup bahan makanan yang dikirimkan oleh ibu Azka melalui Jena, bersamaan dengan dua koper besar pakaian-pakaian yang dikatakan telah menjadi milik Yuna. Yang kesemuanya tak bisa ditolak..
“Dia sangat baik”
“hm, dia memang pria yang baik. Dia juga mengatakan akan membantuku mendapatkan pekerjaan”
“Kakak, apa aku boleh keluar sebentar?”
“Kau ingin pergi?”
“Hanya bertemu dengan dua temanku. Semalam kami telah membuat janji..”
“Siapa temanmu? Apa aku mengenalnya? Apa tak masalah kau keluar sendirian? Aku bisa menemanimu..”
“Tidak kak.. Kau baru pulang. Kakak pasti lelah. Tidak apa-apa.. Lagi pula hanya disekitar sini, tidak akan lama”
***
Dua puluh menit setelahnya, Yuna telah berada disebuah kedai pinggir jalan. Menunggu kedatangan Husna dan juga Siska. Semalam keduanya sama-sama menghubunginya dan membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar berita yang ramai beredar. Yuna tak menanggapi dan mengatakan ingin bertemu langsung dengan keduanya. Terakhir ia bertemu, itu pada saat Azka memberinya kejutan perayaan hari pertamanya masuk universitas. Dan rasanya ia sangat merindukan keduanya..
Sepuluh menit sudah ia menunggu, Yuna mulai dibuat gelisah karna kedua temannya yang tak kunjung datang. Padahal ia sudah merasa risih pada beberapa orang yang berada dikedai yang sama dengannya, yang sedari tadi terus menatapnya sambil berbisik-bisik dengan satu sama lainnya.
Jika ada Husna dan Siska disana, ia pasti takkan peduli. Masa bodoh dengan omongan mereka..
Berniat mengambil ponsel dari dalam tas nya, Yuna justru meraih boneka kecil dari dalamnya. Boneka kuma yang didapatkan Azka dengan teramat bersusah payah pada kencan pertama mereka. Mungkin ia akan menyebutnya sebagai kencan pertama dan terakhir. Boneka yang entah sejak kapan berada didalam tas nya itu, tadinya akan selalu membuatnya tersenyum geli bila mengingat bagaimana usahanya untuk memaksa Azka agar mendapatkannya dan bagaimana usaha yang dilakukan Azka agar mendapatkan boneka itu untuknya.
Tapi sekarang, boneka kecil itu terasa sedikit basah setelah hampir setiap kali ia menangis, Yuna menempelkan boneka itu dimatanya, untuk menyerap airmatanya. Dan berharap kesedihannya ikut terserap dan takkan lagi dirasakannya.
***
tbc