
Pagi harinya ketika Yuna telah bersiap memulai kelas kepribadiannya hari itu, Ia tersenyum saat keluar dari dalam rumah untuk menuju mobil yang akan mengantarkannya. Senyumnya merekah bak bunga yang bermekaran dipagi yang cerah itu. Baju bermotif bunga-bunga kecil yang dipilihkan oleh Ny.Dania untuk hari itu, sepertinya tepat dan mewakili hatinya yang sedang berbunga-bunga.
Entah oleh karna sebab apa..
“Paman..”
Yuna menoleh kekanan dan kirinya, mencari keberadaan sang supir yang biasa mengantarnya.
“Paman.. Aku sudah siap..! Uwhh..”
Tapi kemudian ia dikejutkan oleh tarikan pada pergelangan tangannya..
“Jadi seperti inikah hidupmu sekarang? Kau menikmati peranmu sebagai nona muda dirumah ini.. Aku yakin tak ada lagi nama Yuri didalam kepalamu, Yuna.. Kau telah melupakan kesakitan kakakmu. Benarkan..!!”
“Mas Doni..”
Yuna masih merasakan keterkejutan dengan keberadaan Doni disana. Namun pria itu nampak tak memperdulikan gambaran ekspresi itu diwajahnya. Ia mencekal pergelangan tangan Yuna, dan sempat membuatnya mengaduh ketika kemudian ia menariknya dengan keras ke sisi sebelah rumah. Yuna merasa tak ada siapapun yang melihat keduanya saat itu, dan jelas Doni telah mengenal bagian-bagian dari rumah Azka.
“Kau menikmati gaya hidupmu sekarang?!”
Ucapnya penuh kesinisan setelah menghempaskan pergelangan tangan Yuna, dan memojokkan tubuh gadis itu hingga punggungnya menyentuh pada bagian tembok rumah.
“Mas..”
“Apa sekarang kau mengingat bagaimana Yuri? Apa kau masih bisa merasakan sakit hatinya? Kau ingat apa yang telah kita rencanakan sebelumnya? Tidak.. Pasti tidak. Kulihat kau tidak lagi mengingat apalagi merasakan. Kau terlena dengan kemewahan yang diberikan si brengsek itu..! Sialan Yuna..!”
Yuna tersentak kaget ketika tangan Doni yang mengepal meninju bagian tembok yang tepat berada disebelah wajahnya. Yuna langsung menutup kedua matanya, bahkan sekujur tubuhnya langsung gemetar, ngeri dengan sikap Doni saat itu.
Ketika perlahan kemudian Yuna membuka matanya, Ia bisa melihat tatapan keras dikedua mata Doni saat itu.
Pria itu marah padanya..
“Mas..”
Ada getaran dalam nada suaranya ketika itu..
“Jawab aku, Yuna! Apa kau masih perduli dengan bagaimana perasaan kakakmu?”
Yuna merasakan kedua matanya memanas. Cairan bening dari airmatanya menetes saat itu. Membasahi wajahnya yang sebelumnya nampak berseri-seri.
“Bagaimana bisa kau menanyakan hal seperti itu padaku, Mas..?”
Yuna merasakan sakit dihatinya atas tuduhan Doni terhadapnya.
Bagaimana bisa..
Bagaimana bisa pria itu memiliki pemikiran semacam itu terhadapnya.
Sejenak Yuna terdiam memikirkan..
Tapi benarkah?
Benarkah Ia telah terlena?
Benarkah dirinya melupakan Yuri? Melupakan kesakit hatian sang kakak dan melupakan rencana awalnya untuk menghancurkan Azka.
Seperti itukah..?
Apakah diam-diam ia memiliki perasaan lain yang kemudian menutup dan membuatnya terlupa akan semua itu?
Tidak..
Tidak mungkin seperti itu.
Yuna jelas masih merasa mengingat Yuri kakaknya. Ia tidak akan mungkin lupa. Yuri satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Yang menjaganya, menyayangi dan melindunginya. Karna itu Ia akan melakukan apapun untuk mengembalikan keadaan kakaknya Yuri. Dan untuk itu Ia menyetujui rencana Doni yang ingin membalaskan kesakit hatian Yuri terhadap Azka.
“Mengapa kau berpikir seperti itu terhadapku, Mas?”
“Itu berdasar oleh apa yang kulihat.. Lihatlah dirimu, kau menjadi nona muda sekarang?”
Doni masih menatapnya dengan sinis..
“Aku hanya mencoba bertahan dirumah ini.. Maka aku menurut, aku melakukan apa yang mereka inginkan dariku. Aku menunggu.. Aku menunggumu mengatakan padaku apa rencanamu, Mas..”
Doni diam dengan masih menatapnya. Mencoba untuk menemukan kesungguhan dari apa yang telah Yuna katakan.
“Begitukah?”
“Aku tak tahu.. Aku tak tahu apa rencanamu yang selanjutnya, Mas. Maka cepatlah katakan padaku.. Aku ingin mengakhiri ini secepatnya. Aku tak ingin lagi berada disini..”
Setelahnya Yuna terdiam, terbersit perasaan bersalah yang mendadak menyelimuti hatinya. Bukan pada Azka, melainkan perasaan bersalah itu lebih pada kedua orang tua Azka. Terhadap Tn.Rian yang begitu bijaksana dalam menyikapi kehadirannya sebagai tunangan sang putra. Meski jelas-jelas dirinya hanyalah gadis biasa.
Pria itu bahkan bisa menerimanya sedari awal.
Yuna juga menyimpan rasa bersalah terhadap Ny.Dania yang meskipun bersikap keras, namun dalam beberapa hari terakhir ia bisa melihatnya dari sisi yang lain. Dan menemukan bahwa wanita itu memiliki keperdulian terhadapnya. Jika tidak, untuk apa dia mendandaninya. Memperbaiki tampilannya. Memasukkannya dalam kelas kepribadian yang bertujuan untuk membantunya bersikap. Setiap pagi Ny.Dania bahkan berada dikamarnya hanya untuk menyiapkan apa yang pantas untuk dikenakannya.
Awalnya wanita itu memang terkesan mengatur, dan Yuna merasakan hanya menjadi sebuah objek atau sebuah boneka tepatnya. Namun kemudian nampaknya Yuna melihat sesuatu yang lain, hingga ia lebih menilai apa yang dilakukan wanita itu ialah sebagai sebuah bentuk kepedulian terhadapnya.
Untuk beberapa saat didalam kepalanya terus berputar pemikiran mengenai itu dan akan seperti apakah nantinya?
Meski hanya Azka yang menjadi sasarannya, Ia juga sadar jika nanti pasti akan menorehkan luka mendalam terhadap kedua orangtua Azka yang tak mengetahui permasalah yang menyangkut Yuri.
Itulah yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehnya. Yuna tak pernah menyangka akan terlibat juga dengan kedua orangtua Azka.
“Baiklah.. Jika kau ingin aku mengatakan apa rencanaku..”
“Kau tahu letak ruang kerja Azka?”
Yuna hanya mengangguk..
“Bagus..”
Ia mendongak menatap Doni dengan penuh antisipasi untuk apa yang akan dia katakan selanjutnya.
“Dengarkan aku baik-baik.. Kau akan mengambil sebuah dokumen penting perusahaan yang aku yakin tersimpan didalamnya, dan menyerahkannya padaku. Selanjutnya akan menjadi urusanku..”
Doni berbisik ditelinganya. Yuna masih terdiam, berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya.
“Apa kau mengerti, Yuna..?”
Yuna masih belum Yakin..
“Bagaimana.. Bagaimana aku tahu dokumen seperti apakah itu?”
“Kau pasti tahu, Yuna.. Aku yakin kau cukup pintar untuk dapat membedakan mana sebuah dokumen penting dengan yang hanya sebuah sampah..”
Doni menatapnya dengan tatapan meyakinkan.
“Aku sudah berusaha mencarinya, tapi aku tidak menemukannya diruang penyimpan dokumen yang ada dikantor, itu berarti Azka menyimpannya dirumah”
Yuna sedikit merasakan terkesiap atas apa yang baru saja diucapkan oleh Doni.
“Mas.. Apa itu berarti.. Itu berarti kau lah yang telah..?”
“Kebakaran itu maksudmu? Ya.. Aku memang berada didalam sana saat itu. Tapi kebakaran yang terjadi.. Itu hanya kecelakaan. Aku tak benar-benar merencanakannya”
Yuna kembali merasakan gemetar disekujur tubuhnya. Ia merasa ngeri dengan apa yang telah Doni lakukan.
Membakar kantor Azka?
Ya Tuhan..
Sampai harus sejauh itukah?
“Sudahlah.. Lupakan masalah kebakaran itu. Yang harus kau lakukan sekarang adalah menyelinap masuk kedalam ruang kerja Azka dan menemukan dokumen itu untukku”
Doni meraih dagu Yuna, menjadikan wajah yang menunduk itu kini bertatapan dengannya.
“Inilah saatnya, Yuna.. Lakukan bagianmu dan selanjutnya akan menjadi bagianku”
Doni dengan perlahan mulai menjalankan jemarinya, menyentuh wajah Yuna.
Pada saat itu yang dilakukan oleh Yuna hanyalah menahan napas. Doni, seseorang yang selama ini dikaguminya dan bahkan ia telah lama menempatkan perasaan tersembunyi dalam hatinya untuk pria itu, yang kini sedang melakukan apa yang belum pernah dilakukannya sebelumnya dengan menyentuhnya.
Sentuhan itu mungkin menjadi sesuatu yang selama ini diharapkannya, diinginkan olehnya. Namun yang Yuna rasakan pada saat itu justru tak seperti apa yang dibayangkan olehnya. Yuna hanya semakin merasakan gemetar ditubuhnya.
“Menguntungkan memilikimu yang tinggal dirumah ini, Yuna.. Azka tidak akan menyadari sampai kehancuran itu meruntuhkan segalanya. Dan setelah kita melihat itu, kita akan pergi jauh dari jangkaunnya..”
Ucapannya terdengar seperti teror dan penuh dengan kebencian yang tersorot dimatanya. Doni menjauhkan tangannya dan sekaligus tubuhnya.
“Kau akan melakukannya bukan?”
Yuna masih terdiam..
“Kau akan melakukannya, Yuna..”
Ucapnya sekali lagi hingga kemudian Yuna mengangguk dengan perlahan. Doni tersenyum dan kemudian mengulurkan tanggannya untuk kembali menyentuh wajah Yuna.
“Itulah apa yang aku inginkan darimu, Yuna.. Dan aku menunggumu menyerahkan dokumen itu padaku, secepatnya.. Moment nya sangat tepat untuk dilakukan saat ini dan kita tak akan memiliki banyak waktu. Semua tergantung pada keberanianmu..”
Yuna justru diselimuti kegelisahan saat itu.
“Aku tahu kau akan melakukan itu untukku dan terutama ingat, kita melakukan ini untuk Yuri..”
Doni sudah akan beranjak, namun Yuna menahan lengannya.
“Apakah.. Apakah setelah itu kita benar-benar akan pergi? Pergi keluar negri dan bertemu dengan Kak Yuri?”
Doni tersenyum mendengarnya.
“Itu pasti Yuna.. Dan ketika itu, dia akan tersenyum karna kau telah membawa kabar menggembirakan untuknya. Membalaskan kesakit hatiannya”
Setelahnya, Doni benar-benar meninggalkannya. Entah melalui pintu pagar sebelah mana, yang jelas Yuna tak melihat ada mobil Doni disekitarnya. Ia memang tak terlalu berkonsentrasi akan hal itu, Ia lebih merasakan lututnya yang melemas setelah Doni meninggalkannya terpaku disana.
“Nona.. Nona Yuna!”
Ia mendengar suara sang supir yang mencarinya saat kemudian ia berhasil menyeret kedua kakinya untuk beranjak dari sana.
Mungkin Yuna berpikir pada saat itu tak ada yang melihat ataupun mendengar pembicaraannya dengan Doni. Namun kenyataannya adalah salah. Disana, disudut bagian rumah yang lain, yang berada tak jauh dari keberadaan Doni dan Yuna tadi, Azka dengan jelas mendengar semuanya.
Bersyukur saat tadi meminta sang supir pribadi untuk memutar arah dan membawanya kembali ke rumah untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal. Ia membiarkan sang supir tetap berada dimobil sementara dirinya turun, dengan langkah lebar berniat untuk masuk kedalam rumahnya dan mengambil berkasnya yang tertinggal. Namun suara mengaduh yang didengarnya, dan sekelebat bayangan seorang pria kemudian menahannya.
Ia memutar langkahnya sampai pada sudut yang tepat disekitar rumahnya. Hanya ingin tahu siapa orang yang berada disana dan tak berniat mencuri dengar sebenarnya, namun Ia melakukannya. Sampai akhirnya ia tetap berdiri disana dan menguping pembicaraan keduanya. Dengan rahang mengeras dan kedua tangan yang mengepal, tinjunya sudah hampir saja melayang, andai Ia tak cukup bisa mengendalikan diri. Ia mendengar lagi rencana licik itu, dan geraman lolos dari tenggorokannya segera setelah mereka beranjak dari sana.
“Sialan..!!”
***
to be continue