At First Sight

At First Sight
Episode 123



Beberapa Minggu setelah hari wisuda Yuna, Azka dan keluarganya sudah membicarakan masalah pernikahan Yuna dan Azka. Orang tua Azka sudah tidak mau menunda-nunda pernikahan putranya, karena selain usia Azka yang sudah cukup dewasa, juga Ny.Dania yang sudah tak sabar ingin menjadikan Yuna menantunya.


Seorang pelayan butik yang memakai seragam berwarna hitam mengembangkan senyumnya, lalu ia menarik tirai fitting Room, Azka, Ny.Dania dan Yuri sudah berdiri didepan situ dengan tidak sabar. Begitu tirai dibuka semua terdiam karena terpukau begitu melihat Yuna yang sudah memakai baju pengantinnya yang berwarna putih yang terlihat sangat anggun dan cocok ditubuhnya. Yuna tersenyum manis.


Azka tidak sanggup mengedipkan matanya barang sejenak, begitu melihat sosok Yuna wanita yang ia cintai sedang memakai gaun pengantin yang akan ia kenakan dihari pernikahan mereka yang tinggal seminggu lagi. Azka juga sudah memakai Tuxedo –nya dan nampak terlihat gagah. Yuna keluar dari fitting room. Calon mertuanya dan Kakaknya langsung heboh menghampiri Yuna.


“Ya Tuhan! Calon menantuku, kenapa kau cantik sekali? Gaun ini cocok sekali denganmu! Aku sampai terharu melihatnya. Yuna kau benar-benar cantik. Padahal kau belum di Make-up. kau cantik sekali.” Ucap Ny.Dania, memuji Yuna.


“Terimakasih Bu.” Jawab Yuna Singkat sambil tersenyum cerah.


“Ah.. aku benar-benar tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya, akhirnya kalian akan menikah juga..” ucap Yuri dengan mata berkaca-kaca karena terlalu terharu.


Yuna juga jadi terharu dia langsung mendekap Yuri, memeluk erat kakaknya tercinta, pasalnya setelah semua yang pernah terjadi dulu, Yuri merasa bahagia Yuna dan Azka kembali bersatu dan kini sebentar lagi mereka akan menikah, maka lepaslah sudah tanggung jawab Yuri kepada Yuna, karena nanti suami Yuna lah yang akan bertanggung jawab untuk membahagiakan Yuna.


“Ya!! Kenapa kau diam saja? tidak berkomentar apapun pada calon Istrimu?” omel Ibu Azka, dan akhirnya menyadarkan Azka dari sikap keterpukaunya ia terhadap penampilan Yuna didepan matanya ini.


Azka mengembangkan senyumnya. Yuna melepas pelukannya dia balas tersenyum pada Azka. Mereka belum berkata sepatah kata apapun untuk mengungkapkan penilaian pasangan mereka masing-masing, hanya melalui senyuman dan tatapan mata yang tulus sudah mampu menggetarkan hati mereka berdua dan sudah dapat mengetahui apapun perasaan yang sedang mereka rasakan saat ini. Yaitu Cinta dan kebahagiaan.


Inilah kehidupan, yang berjalan dengan seiring waktu dan banyak kejutan yang kita dapat. Jodoh juga salah satu kejutan kan? Mereka boleh saja pernah berpisah dan menghadapi segala rintangan dalam hubungan mereka. Tapi Tuhan selalu mempunyai rencana lain dibalik kesusahan yang kita alami. Karena Tuhan yang maha tahu segalanya. Dia memberikan kita kejutan dengan memberikan kita cobaan, yang tak pernah kita duga sebelumnya, tapi dibalik itu Kita mendapatkan kebahagian yang tak pernah kita bayangkan dan rasakan juga sebelumnya. Inilah hidup dengan kejutannya yang begitu manis.


“You are So Pretty…” ucap Azka akhirnya setelah beberapa menit mereka hanya saling memandang dan melempar senyum.


Yuna hanya tersenyum malu, pipinya sampai bersemu merah. Dia sangat senang dipuji Azka.


“Ah..aku benar-benar tidak sabar, hari pernikahan kalian tiba. Akhirnya putraku menikah juga, dan aku akan segera menerima cucu dari kalian kan?”


Azka dan Yuna langsung kompak memandangi Ny.Dania


“Doakan saja Ma.”


***


“Saya nyatakan kalian telah sah menjadi sepasang suami istri.”


Ucapan syukur tampak terdengar disetiap sudut ruangan. Banyak wajah-wajah antusias mengiringi penyatuan antara Yuna dan Azka. Nyonya Dania pun tampak meneteskan airmata bahagia melihat anak laki-laki yang akhirnya bersatu dengan Yuna setelah beratnya masalah yang dihadapi.


“Selamat, Yuna-. Akhirnya kau menikah dengan Azka!” Yuri memberikan pelukan kepada sang adik yang kini telah menjadi istri orang.


“Terimakasih Kak.”


“Azka, selamat! Jaga adikku baik-baik. Jangan pernah membuatnya menangis.” Ujar Yuri pada Azka.


“Terimakasih, Yuri. Kau tenang saja. Aku akan menjaga Yuna semampuku.” Balas Azka sembari memeluk pinggang Yuna.


“Oh ya, mana kak Arkhan?” Tanya Yuna.


“Eum, sepertinya sedang mencari minum.” Jawab Yuri sembari memanjangkan lehernya mencari keberadaan Arkhan.


“Yuna..”


“Kak Arkhan…” Yuna segera memeluk Arkhan saat laki-laki itu menghampirinya. Yang lain hanya mampu tersenyum saat melihat mereka berpelukan, Yuna dan Arkhan selama ini memang sudah seperti adik kakak. Tak terkecuali Yuri dan Azka yang juga ikut tersenyum sembari mengusap puncak kepala Yuna saat melihat tingkah manja istrinya itu.


“Kau bahagia?” Tanya Arkhan setelah melepaskan pelukan Yuna.


“Ya. Sangat bahagia.”


“Berjanjilah untuk terus bahagia?”


“Aku tau, Kak. Aku berjanji.” Arkhan tersenyum dan mengusap kepala Yuna.


“Jaga Yuna dan bahagiakan Yuna, Azka.” Pinta Arkhan pada Azka.


“Bukan hanya menjaga, tetapi kau juga tidak boleh sampai membuatnya menangis. Jika satu kali saja kau melakukannya, aku akan langsung membawa adik iparku pulang. Mengerti?!” Azka tersenyum kecil mendengar ancaman Arkhan.


“Mengerti. Tetapi apa kau juga akan membawanya pulang, jika aku membuatnya menangis karena bahagia?”


“Hahaha….” Tawa bahagia langsung terdengar saat mendengar candaan Azka.


Acara selanjutnya yaitu resepsi pernikahan, dengan pesta yang begitu meriah. Yuna dan Azka beserta keluarga mereka, merayakan pernikahan Yuna dan Azka dengan penuh rasa syukur dan bahagia.


***


“Kalian sudah pulang?” Nyonya Dania tampak membantu Yuna berjalan, mengingat gaun panjang yang digunakannya.


“Kenapa Mama belum tidur?” Tanya Azka.


“Mama memang sengaja menunggu kalian.” Jawab Nyonya Dania.


“Ahh gaun ini benar-benar menyusahkanku. Bolehkan aku merobeknya?” Tanya Yuna polos sembari menatap Azka.


“Apa? Robek?” Azka tersenyum geli melihat wajah polos bercampur kesal dari Yuna.


“Aku harus menghabiskan waktu berapa lama hanya untuk berjalan. Aish!!” Gerutu Yuna.


“Lebih baik kalian segera ke kamar agar bisa beristirahat. Dan agar Yuna bisa segera melepaskan gaun ini. Kasihan dia.” Ujar Nyonya Dania kepada Azka. Azka mengangguk mengerti.


“Ayo!”


“Akkhh!!” Yuna baru saja hendak melangkah saat dengan tiba-tiba Azka menggendong tubuh mungilnya di depan dada. Yuna segera melingkarkan kedua tangannya di leher Azka.


“Jika sudah seperti ini, apa kau masih kesusahan, istriku?” Bisik Azka. Yuna menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Azka karena malu. Pasalnya saat itu Nyonya Dania masih berada di dekat mereka.


Azka segera menghempaskan pelan tubuh Yuna di atas tempat tidur saat sudah sampai di dalam kamarnya. Ia tidak mencoba menjauhkan dirinya dari Yuna. Azka menatap lama wajah Yuna sembari tersenyum.


“Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Yuna gugup.


“Istriku benar-benar cantik.” Ucap Azka dan membelai lembut pipi Yuna.


“Suamiku juga tampan.” Balas Yuna.


“Aku tau.” Sahut Azka percaya diri.


“Cih! Aku mau mandi. Sudah benar-benar gerah dengan gaun ini.” Yuna mendorong pelan dada Azka supaya menjauh darinya. Namun perlakuannya itu tidak menggeser sedikitpun posisi Azka.


“Mandi bersama?” Goda Azka.


“Tidak! Dasar mesum!”


BUK!


“Akkhh-” Erangan kesakitan tak terelakkan dari mulut Azka saat lutut Yuna mendarat sempurna diperutnya. Azka terlentang di atas kasur dengan memegangi perutnya dan meringis kecil. Yuna tersenyum kecil dan segera beranjak untuk ke kamar mandi.


“Yuna! Belum apa-apa kau sudah melakukan kekerasan terhadap suamimu!” Ucap Azka menggeram. Yuna membalikkan badannya dan menjulurkan lidahnya pada Azka.


“Itu hukuman karena otakmu sangat kotor.” Ucap Yuna dan segera memasukki kamar mandi sembari membanting pintu.


“Ahh benar-benar! Bagaimana mungkin aku dapat mencintai gadis itu?” Ucap Azka masih dengan meringis kecil.


***


tbc