
Udara dingin malam itu tak menyurutkan Yuna untuk tetap berdiri dibagian teras belakang rumah itu. Benaknya melayang-layang, memikirkan banyak hal yang terutama mengenai kondisi Yuri yang dirasanya menurun hari itu. Seharian tadi Ny.Dania memang tidak mengajaknya pergi kemana-mana karna kakinya yang terkilir masihlah belum sepenuhnya pulih. Dan seharian tadi Yuna mempergunakannya untuk bersama Yuri. Membujuk sang kakak agar mau pergi kerumah sakit dan kembali menjalankan terapinya. Namun Yuri bersikukuh, tidak mau melakukannya. Hingga sesi terapi hari itu harus terlewat begitu saja.
Apa yang menjadi alasan Yuri menolak pun, Yuna masih tak mengetahuinya. Yuri tidak mengatakan apapun kecuali kata tidak padanya. Sang kakak menjadi terlihat enggan untuk berbicara. Seperti itu juga apa yang dikatakan Sulis usai terapi yang dilakukannya.
Entahlah, tapi Yuna menangkap kegelisahan dan sirat ketakutan dari wajah sang kakak saat itu.
Mungkin berkaitan dengan mimpi buruk yang kembali dialaminya. Dan mungkin sang kakak kembali merasakan ketakutannya saat berdekatan dengan seorang pria.
Ya Tuhan..
Jangan biarkan hal itu terjadi lagi padanya.
Menyilangkan tangannya, Yuna lantas mengusap-usap pada kedua lengannya. Menghalau hawa dingin yang telah menembus pakaian yang dikenakannya..
“Sudah tau udara malam ini dingin, kenapa kau masih betah berdiri disini..”
Yuna tidak sampai membalikkan tubuhnya, Azka telah lebih dulu melingkarkan lengan dipinggangnya, memeluknya erat dari belakang, kemudian mencium rambut diatas kepalanya.
“Pak Azka..”
“Aku berhasil membujuk Yuri.. Dia mau kembali kerumah sakit dan melanjutkan terapinya, besok..”
Mendengarnya, Yuna dengan segera memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Azka.
“Benarkah?”
Azka tersenyum dan mengangguk. Membuat Yuna melompat senang dengan mengalungkan tangannya dileher pria itu, memeluknya disana.
Ia telah membujuk Yuri seharian dan tak berhasil. Dan lihatlah, betapa berpengaruhnya Azka terhadap Yuri. Hanya dengan beberapa menit Ia berdiri disana, meninggalkan Azka untuk berbicara dengan sang kakak, pria itu dengan mudahnya telah berhasil meluluhkan Kakak nya.
“Dia sudah berjanji padaku.. Dan sekarang dia sudah tertidur..”
“Terimakasih untuk membantuku.. Terimakasih banyak, Pak..”
Yuna makin erat mengalungkan tangannya dileher Azka dan juga membenamkan wajahnya disana. Hingga Azka dapat merasakan sesuatu yang kemudian terasa membasahi lehernya dan langsung membuatnya menyadari itu adalah airmata Yuna.
“Hei, apa yang terjadi? Kenapa kau justru menangis..”
Yuna menggeleng dengan masih menyembunyikan wajahnya. Azka lantas mengusap-usap pada punggungnya, untuk menenangkannya.
“Aku berhasil membujuk Yuri, kau tidak seharusnya menangis karna hal itu kan..”
“Tadi aku sangat takut Kak Yuri tidak mau lagi datang kerumah sakit dan kau juga tidak mengijinkanku untuk menghubungi dokter Ahmad dan memintanya melakukan terapi itu disini.. Tapi sekarang, aku merasa lega karna Kak Yuri akan menjalani terapi itu lagi.”
“Dan kau menangis karna hal itu?”
Yuna mengangguk, membuat Azka kembali tersenyum mengetahuinya.
“Aku menangis karna senang..”
“Kau memang sangat hobi menangis..”
Godanya sambil kemudian menangkup wajah Yuna yang tertunduk, agar menatapnya. Azka lantas mengusap dengan jemarinya airmata itu dari wajahnya.
“Masuk dan tidurlah, besok aku akan mengantar kalian kerumah sakit..”
“Kau tidak akan kekantor?”
“Tidak sebelum Yuri menyelesaikan terapinya, dan kau tidak lagi berada disekitar dokter perayu itu. Demi Tuhan.. Bisakah kita mencari dokter terapis yang lain?”
Yuna memberengut mendengarnya..
“Baiklah tidak perlu.. Aku bisa berada disana bersamamu dan mengawasi dokter itu. Aku tidak akan memberinya celah untuk mendekatimu”
“Ck! Kau tau.. Kau terlalu berlebihan, Pak..”
“Aku tidak perduli..”
“Terserahlah..”
Yuna terlebih dulu menyisihkan lengan Azka dari pinggangnya, berniat untuk beranjak dari sana karna merasa percuma setiap kali membicarakan dokter Ahmad dengan Azka, hanya akan membuatnya menjadi kesal pada pria itu.
“Mau kemana?”
Azka menahan lengannya..
“Kau yang menyuruhku tidur tadi..”
“Temani aku sebentar..”
“Tidak mau.. Kau juga yang mengatakan udaranya dingin kan. Dan sepertinya aku benar-benar harus masuk. Aku akan segera menggigil disini..”
Maka kemudian Azka menarik tubuh Yuna kembali kedalam pelukannya..
“Udaranya memang dingin.. Tapi jangan khawatir, dengan begini aku akan menghangatkanmu. Temani aku sebentar saja..”
“Ibu akan memarahi ku jika dia melihat kita seperti ini”
“Tidak akan.. Mama sudah berada ditangan Papa. Maka bisa kupastikan Mama tidak akan keluar kemana-mana dari kamar mereka..”
“Kau bisa menjamin?”
“Tentu saja..”
“baiklah, kupikir aku bisa menemanimu sebentar jika seperti itu..”
***
Yuna merasakan kelegaan luar biasa ketika Yuri akhirnya mau untuk pergi kerumah sakit dan melanjutkan terapinya. Sang kakak juga sudah banyak berbicara seperti sebelumnya. Sebelum mimpi buruk yang kembali menghantuinya malam itu.
Yuna kini berada dirumah sakit bersama dengan jenay, dan juga Azka yang benar-benar ikut mengantarnya. Ia sempat tak habis pikir ketika Azka bahkan rela menunggu didepan ruang terapi itu bersama dengan Jena, sementara ia berada didalam ruangan untuk menemani Yuri. Namun Yuna juga telah beberapa kali keluar dari ruangan itu, karna Azka terus mengirimkan pesan bahkan tak segan melakukan panggilan ke ponselnya.
Pria itu benar-benar bisa menjadi sangat menjengkelkan..
“Ada apa lagi, Pak?”
Tanya Yuna sedikit meredam kejengkelannya..
“Berapa lama lagi?”
Yuna memperhatikan benda mengkilat berwarna keperakan yang saat itu menghias indah pada pergelangan tangannya. Jam tangan baru pemberian Ny.Dania, yang telah ia tolak namun Ibu Azka itu tak menerima penolakannya dan memaksa agar ia memakainya.
“Sepertinya dua sampai tiga puluh menit lagi..”
Azka mendesah..
“Aku tidak akan melakukannya..”
Azka lantas menarik pergelangan tangan Yuna, memaksanya untuk duduk disebelahnya, dan kemudian menyuruh Jena untuk masuk kedalam ruang terapi. Menggantikan Yuna menemani Yuri disana.
Hingga sekitar tiga puluh menit kemudian, Jena keluar bersama dengan Yuri diatas kursi rodanya.
“Azka..”
Yuri tersenyum, mengulurkan sebelah tangan agar Azka meraihnya.
“Kau sudah selesai?”
“hm.. Kau benar-benar menungguku?”
“Tentu saja, aku sudah mengatakannya bukan..”
“Iya, terimakasih..”
Yuri meremas pada tangan Azka, dan kembali menunjukkan senyumnya pada pria itu.
“Kakak, ayo kita pulang..”
“Tunggu Yuna, sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi makan siang.. emm, maksudku kau dan Yuri..”
“Tapi Kakak..”
Yuri mengangguk pada pertanyaan yang belum sampai terucap dari bibir Yuna.
Azka lantas meminta Jena untuk menyiapkan mobilnya, sedangkan ia yang kemudian mengambil alih kursi roda Yuri. Mendorongnya disepanjang koridor, masuk kedalam lift yang kemudian membawanya turun sampai ke lobi rumah sakit itu.
Sementara menunggu Jena mengambil mobil, Yuna meminta ijin untuk berada ditoilet. Dan setelah menunggu beberapa menit, ketika mobilnya akhirnya terlihat, Azka sudah akan mendorong kursi roda Yuri ke mobilnya, namun kemudian ia mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Membuatnya mengurungkan niatannya..
“Azka..!”
Azka menajamkan pandangannya setelah mendengar seseorang yang pada saat itu memanggilnya. Seorang wanita berkacamata yang kini dalam langkah kearahnya. Begitu wanita itu semakin mendekat, lalu melepas kaca mata berwarna kecoklatan yang sebelumnya nampak pas membingkai wajahnya, Azka langsung dapat mengenalinya..
“Hei Azka..”
Azka hanya tersenyum tanggung untuk menanggapi sapaan itu, sadar bahwa wanita itu pun kini juga tak lagi mengarahkan tatapan padanya, melainkan berpindah pada Yuri yang berada diatas kursi roda didepannya.
“Siapa dia?”
Tanyanya kemudian tanpa basa-basi..
Yuri menoleh, mengulurkan sebelah tangannya dan meraih tangan Azka agar menggenggamnya. Membuat wanita tadi sesaat mengerutkan dahi melihatnya, namun kemudian senyum sinis diperlihatkan olehnya..
“Oh, jadi kemana pelacur kecilmu itu? Kenapa kau malah mengurusi wanita cacat seperti ini..”
Azka sedikit menggeram mendengarnya..
“Kenapa? Bukankah pelacur itu sudah kau jadikan tunangan? Atau sudah tidak lagi? Kau sudah membuangnya dan sekarang bermain-main dengan wanita cacat ini? Oh, seleramu benar-benar rendah, Azka..”
“Tutup mulutmu, Jessica..!!”
Wanita itu, yang adalah Jessica kini malah menertawainya..
“Azka, apa maksudnya?”
“Kau tidak perlu mendengarnya, Yuri..”
“Oh, bukankah itu dia.. Pelacur kecilmu?”
Jessica menatap sinis pada Yuna yang pada saat itu dalam langkah mendekat pada mereka. Membuat Azka kemudian mengantisipasi apalagi yang akan keluar dari mulut Jessica.
Oh, jangan sampai terjadi keributan nantinya..
Maka kemudian, saat Yuna hanya berjarak beberapa langkah saja darinya, Ia dengan segera meraih pergelangan tangan Jessica, menariknya menjauh darisana. Membuat Yuri berkerut dahi samar, bingung pada kejadian yang baru disaksikannya.
Namun tidak dengan Yuna, Ia mengenali wanita itu adalah Jessica dan menjadi was-was dengan apa yang telah dikatakannya hingga membuat Azka menarik wanita itu pergi dari sisi kakak nya.
“Kakak..”
“Oh, Yuna.. Kau sudah selesai?”
Yuri hanya sesaat menatap pada Yuna, selanjutnya ia kembali mengarahkan perhatiannya kearah dimana Azka berada. Namun Azka, bersama dengan wanita tadi yang tak dikenalnya, kini tak lagi terlihat dalam jangkauan kedua matanya.
“Yuna.. Apa maksudnya?”
“Apa maksud kakak?”
“Wanita tadi, dia mengatakan tunangan dan pelacur.. Apa kau tau maksudnya? Siapa yang dia maksud?”
Ya Tuhan..
Tidak..
Apalagi yang kakak nya dengar dari mulut wanita itu?
“Apalagi yang tadi dikatakannya padamu, Kak?”
Yuri menggeleng..
“Dia tidak berbicara padaku. Dia berbicara pada Azka. Tapi tadi.. Aku tau, dia menyebutku cacat.”
Yuna menangkap kesedihan itu dari wajah Yuri. Ia tidak perduli seperti apa Jessica menyebutnya, tapi seandainya tadi ia mendengar sendiri wanita itu menyebut Yuri seperti itu, Ia sudah pasti akan mencari sesuatu untuk menyumpal mulutnya. Atau mungkin kembali menjambak rambutnya, berkelahi dengannya seperti yang pernah terjadi waktu itu. Sayangnya Azka telah lebih dulu menarik wanita itu pergi.
“Kakak, kau bukan cacat.. Kau dengar kan, dokter Ahmad bahkan mengatakan perkembangan terapinya sangat pesat. Tadi Kakak bahkan sudah bisa berjalan tiga sampai empat langkah tanpa berpegangan. Kakak akan kembali sembuh.. Jadi sebaiknya jangan dengarkan omongan wanita itu..”
Yuri tersenyum dan mengangguk..
“Aku tau, jangan khawatir.. aku tidak perduli dia menyebutku seperti itu. Tapi Yuna..”
“Iya?”
“Apa kau mengenalnya? Apa kau tau siapa dia? Siapa yang dia maksud sebagai pelacur? Mengapa dia bisa sekasar itu menyebutnya..”
Yuna memalingkan wajahnya dari tatapan kedua mata Yuri yang seolah mencoba mencari sendiri jawaban dari pertanyaan itu melalui matanya. Namun kemudian Yuna memberi jawaban, setelah berpikir ia tak mungkin membiarkan Yuri menjadi berpikiran macam-macam..
“Aku tidak tau, Kak.. Sudahlah, tak perlu didengarkan. Dia hanya wanita yang suka berkata kasar. Bicaranya pun asal.. Sekarang, sebaiknya kita menunggu Pak Azka didalam mobil saja..”
***
to be continue