
“Az-Ka..”
“Aku bukan Azka, Yuri.. Lihat aku.. Aku Arkhan, kau mengenalku?”
Yuri terus mencoba memperjelas gambaran wajah pria itu, namun tetap saja genangan airmatanya membuat ia hanya bisa memandang samar-samar kearahnya.
“Aku Arkhan, Yuri.. Kau seharusnya masih mengingatku.. Sedikit saja, kenapa kau tak menyimpan memori tentangku..”
“Ar- Arkhan..”
Arkhan terkejut bercampur senang mendengarnya, namun kemudian disadarinya jika Yuri menggumamkan namanya hanya beberapa detik sebelum ia akhirnya kehilangan kesadarannya.
“Yuri.. Yuri..!”
Dengan segera Arkhan membopong tubuh Yuri, mencari dokter untuk menanganinya. Yang kemudian bertemu dengan Fariz dan seorang suster yang memang berniat untuk mencari keberadaan Yuri.
“Ada apa dengannya?”
“Dia tiba-tiba pingsan, dokter..”
“Bawa dia ke ruang pemeriksaan sekarang..”
Selama setengah jam kemudian Arkhan hanya bisa berdiri cemas didepan sebuah pintu ruang pemeriksaan itu. Menunggu dengan gelisah kepastian dari Fariz dan juga seorang dokter lain yang sedang melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Yuri.
Apa yang sesungguhnya terjadi?
Yang membuat Yuri jatuh terisak hingga kemudian tak sadarkan diri, masihlah tak diketahui oleh Arkhan. Ia hanya bisa terus berdoa, semoga bukan sesuatu yang akan semakin memperburuk keadaan Yuri.
“Arkhan..!”
Arkhan menoleh, mendapati Jena yang pada saat itu berlarian kearahnya.
“Arkhan, apa yang terjadi? Mengapa nona Yuri bisa pingsan?”
Jena menanyakan dengan napas tak beraturan setelah berlarian disepanjang koridor rumah sakit hingga menemukan keberadaan Arkhan disana.
“Aku juga tidak tau.. Dan kenapa kau tidak menemaninya tadi? Biasanya kau bertugas mengantarnya kan..?”
“Aku memiliki urusan, Tuan muda Azka memintaku untuk melakukan sesuatu. Jadi aku terlebih dulu mengerjakannya.. Aku sudah mengatakan pada nona Yuri jika aku akan menyusulnya..”
“Aku melihatnya terduduk lemas dilantai, dan dia menangis kemudian tak sadarkan diri. Tapi menurut seorang suster tadi, dia mengatakan Yuri telah bisa berjalan. Ia memaksakan diri untuk berjalan. Itu mungkin yang menyebabkan tubuhnya menjadi lemas..”
“Benarkah? Benarkah nona Yuri bisa berjalan?”
Arkhan mengangguk..
“Hal itu sedikit membuatku lega, tapi penyebab Yuri menangis karna apa, aku masih tidak mengetahuinya.. Aku sempat menangkap shock yang tersirat dimatanya, wajahnya pun terlihat sangat pucat..”
Jena menepuk bahunya, mencoba untuk setidaknya menenangkan keresahan yang sedang dirasakan Arkhan saat itu.
“Tenanglah, airmata tidak selalu menggambarkan kesedihan. Mungkin nona Yuri menangis haru karna bahagia akhirnya terapi yang selama ini dijalaninya tidaklah sia-sia. Dan juga, pucat diwajahnya pasti karna nona Yuri mengalami kelelahan setelah memaksakan kedua kakinya untuk terus berjalan”
Arkhan sedikit tersenyum dan mengangguk. Mungkin penyimpulan yang dikemukakan oleh Jena tadi ada benarnya..
“Aku akan menghubungi nona Yuna dan mengatakannya.. Dia pasti akan sangat senang jika mengetahui kakaknya telah kembali bisa berjalan. Kau belum menghubunginya kan, Arkhan?”
“Belum, aku memang tak memiliki nomer ponselnya. Aku mencoba menghubungi Azka tadi, tapi dia tak menjawab ponselnya..”
“Baiklah, biar aku yang menghubunginya..”
Jena mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan lantas melakukan panggilan. Sekali panggilan yang dilakukannya tidak mendapat jawaban. Yang kedua pun demikian. Bahkan hingga ketiga kalinya, hasilnya tetaplah sama.
“Nona Yuna tak menjawab ponselnya. Dia pasti masih mengurusi keperluannya di universitas..”
“Universitas?”
“Hm, itu yang aku dengar.. Nyonya telah mendaftarkannya masuk ke perguruan tinggi..”
“Yuri mengetahuinya?”
Jena menggeleng..
“Tentu saja tidak.. Akan timbul kecurigaan bila dia mengetahuinya”
“Maka dilakukanlah kebohongan lagi untuk menutupinya?”
Jena mengangguk, sementara Arkhan kemudian tersenyum miris..
“Aku mengerti dari awal kebohongan itu muncul, dilakukan atas niatan demi kebaikan Yuri. Aku hanya mengkhawatirkan bagaimana jika sewaktu-waktu kebohongan itu terungkap kehadapannya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya. Aku hanya berharap ketika itu terjadi, Yuri sudahlah berada dalam kondisi yang kuat dan dapat mengerti, tidak serapuh saat ini. Atau setidaknya saat itu terjadi aku ada bersama dengannya”
Jena tak bisa mengatakan apa-apa. Ia mengerti dengan kecemasan yang dirasakan Arkhan. Ia juga paham yang dilakukan Yuna memang demi kebaikan Yuri.
Hanya saja kebohongan tetaplah kebohongan. Meski dilakukan atas nama kebaikan sekalipun, siapa yang akan tau dengan balasannya nanti. Berbuah kebaikan seperti yang diharapkan ataukah justru berakhir dengan kesakitan yang lebih mendalam.
Tuhan yang bisa memutuskan..
***
Didalam mobil yang dikendarai Azka saat itu, Yuna terus mempertanyakan kemana arah tujuan mereka pergi saat itu dan sekaligus perayaan macam apa yang Azka maksud.
Namun Yuna hanya mendapati kekesalan lantaran Azka hanya mengatakan agar ia bersabar menunggu sampai mereka sampai ditempat yang dituju. Dan tak sedikitpun lagi Azka membuka mulutnya untuk memberitaukan rencana perayaan itu padanya.
Sampai kemudian setelah cukup jauh jarak yang ditempuh, Azka baru menghentikan laju mobilnya diarea sebuah taman yang dikenali Yuna lokasinya berada tak terlalu jauh dari gedung kantor Azka.
“Ayo turun..”
Azka akhirnya bersuara sambil tangannya membuka sabuk pengaman yang dikenakannya. Menoleh pada Yuna yang berada disampingnya, Azka tersenyum saat mengetahui Yuna yang sedang mengedarkan pandangan matanya seakan keseluruh penjuru area taman itu.
Namun kemudian Yuna bersedekap dan menggelengkan kepalanya..
“Aku tidak mau turun..”
“Kenapa?”
“Hanya tidak mau..”
“Kalau begitu bagaimana kita akan melakukan perayaan-nya?”
Yuna kemudian menoleh menatap pada Azka..
“Aku tidak mengerti, perayaan macam apa yang kau maksud?”
“Bukankah aku sudah mengatakannya.. Ini untuk merayakan hari pertamu masuk universitas”
“Aku bahkan tak melihat siapapun disini.. Bukankah lazimnya perayaan dilakukan dengan banyak orang?”
Azka mengulum senyum dibibirnya..
“Pada kasus-kasus tertentu perayaan tidak perlu melibatkan banyak orang. Seperti saat ini, kita hanya akan melakukan perayaan kecil untuk hari pertamamu masuk ke universitas. Jika kau ingin lazimnya perayaan yang melibatkan banyak orang, tunggu sampai aku menikahimu. Saat itu terjadi, aku akan memberimu perayaan besar dengan mengundang semua orang..”
Yubat memberengut..
“Bukan seperti itu maksudku.. Hanya saja, kurasa aku tak memerlukan perayaan..”
Azka mengabaikan apa yang Yuna katakan dengan meraih sabuk pengamannya, berniat untuk membukanya namun Yuna menahannya.
“Aku sudah katakan aku tidak mau turun..”
“Tapi aku sudah membawamu jauh kemari.. Kau tidak menghargaiku?”
“Aku tidak memintamu melakukannya..”
“Tapi aku tidak menginginkan perayaan apapun..”
Ya Tuhan..
Dalam hati Azka mengerang, mempertanyakan bagaimana dirinya bisa menghadapi gadis belia seperti ini. Maksudnya adalah untuk menyenangkannya, tapi yang terjadi justru perdebatan konyol seperti ini.
“Sudahlah, kenapa kau suka sekali berdebat denganku..”
“Aku hanya…”
“Yuna.. Yuna..”
Yuna menghentikan apa yang ingin diucapkannya ketika mendengar ketukan-ketukan pada bagian kaca pintu mobil, yang disertai dengan suara yang memanggilnya..
Menoleh ia mendapati Husna dan Siska yang berada diluar mobil itu, mengetuk pada pintu sambil terus memanggilnya..
“Yuna.. Yuna, cepatlah turun..”
“Kenapa lama sekali didalam.. Apa yang kau lakukan.. Cepatlah keluar..”
Husna dan Siska terus memanggilnya, sementara Yuna masih berkerut dahi melihat mereka. Ia kembali mengarahkan tatapan matanya pada Azka dan menemukan senyum dibibir pria itu..
“Keluarlah, mereka sudah menunggumu sedari tadi..”
Azka berucap sambil membukakan sabuk pengaman yang masih dikenakan Yuna, yang tak lagi ditolak olehnya..
“Jadi..”
“Untuk perayaan kecil hari ini, Aku sengaja mengundang mereka..”
“Yuna.. Sampai kapan kau akan berada didalam? Cepatlah turun..”
“Keluarlah..”
Membuka kuncian pada pintu mobilnya, Azka menahan senyum geli melihat Yuna yang seakan kehabisan kata.
Begitu pintu mobil itu terbuka, Husna dan Siska langsung menarik tangan Yuna agar secepatnya keluar dari dalamnya.
Azka menyusul keluar dari dalamnya, dan langsung membuat Husna dan Siska membungkukkan badan kearahnya..
“Pak..”
“Kalian sudah menerima apa yang seseorang kirimkan tadi?”
Husna dan Siska sama-sama mengangguk mengiyakan..
“Kalau begitu kalian bisa menikmatinya.. Aku mempersilahkan kalian membawa gadisku untuk ikut serta..”
Husna dan Siska saling melempar senyum disertai tatapan jahil kearah Yuna, setelah mendengar bagaimana Azka menyebutnya tadi. Keduanya juga kemudian menarik pergelangan tangan Yuna agar mengikutinya.
Sementara Azka hanya berdiri disana, bersandar didepan kap mobilnya dengan tangan dilipat didada, Ia tersenyum ketika Yuna sempat menoleh kebelakang untuk melihatnya.
Gadis itu menunjukkan raut keterkejutan dan sekaligus binar dikedua matanya ketika akhirnya mengetahui perayaan macam apa yang diberikan Azka untuknya.
Azka memberinya waktu khusus untuk bersama dengan kedua temannya.
Bukan hanya itu, Husna dan Siska ternyata menariknya untuk memperlihatkan apa yang telah mereka siapkan.
Seperti sedang melakukan piknik, diatas hamparan rumput ditaman itu, mereka telah menggelar tikar yang diatasnya penuh dengan berbagai jenis makanan. Husna melepaskan tangan Yuna untuk kemudian mengambil kue yang bertuliskan ucapan selamat untuknya. Seperti perayaan ulang tahun, Siska juga lantas meniupkan mainan semacam trompet kecil kearahnya, keduanya lantas berseru..
“Selamat.. Yuna..! Selamat masuk ke universitas..”
Yuna sesaat terbengong dalam rasa terkejutnya, namun kemudian ia berhasil mengeluarkan suara..
“Ya Tuhan.. Kalian melakukan semua ini untukku?”
Sebelum menjawab pertanyaan yang kemudian diajukan oleh Yuna, Siska terlebih dulu menarik Yuna untuk duduk.
“Sebenarnya tidak sepenuhnya.. Pak Azka menyuruh kami untuk datang kemari dan ada seorang pria berseragam, tapi entahlah aku merasa dia seorang wanita. Seseorang itu telah menunggu kami disini dan menyerahkan banyak makanan-makanan ini. Aku dan Husna hanya mengaturnya..”
Mendengar hal itu, Yuna berpikir jika Jena lah yang pasti diminta oleh Azka untuk melakukannya.
Pagi tadi Jena memang telah mengatakan padanya tak bisa mengantar Yuri ke rumah sakit, namun berjanji akan menyusul sang kakak setelah ia menyelesaikan tugasnya.
“Ayo, Yuna.. Potonglah kue nya, sedari tadi aku sudah tak sabar ingin mencicipinya..”
Ucapan Husna memutus lamunan singkatnya, Yuna lantas menerima pisau pemotong kue nya.
“Apa Pak Azka akan tetap berada disana dan tidak akan bergabung dengan kita?”
Siska mempertanyakan, membuat Yuna kemudian menoleh dan menatap pada Azka yang masih dalam posisi yang sama, berada didepan kap mobilnya.
“Aku akan memanggilnya..”
“Tidak, Tidak.. Biar aku saja..”
Husna mencegah niatan Yuna dengan lebih dulu berdiri dari duduknya dan langsung melangkahkan kakinya untuk menghampiri Azka. Yuna hanya bisa melihat, namun jarak yang meski tak terlalu jauh dari keberadaan Azka saat itu tetap membuatnya tak bisa mendengarkan apa yang pada saat itu kemudian dikatakan Azka pada Husna.
Yang kemudian terjadi, Husna kembali pada mereka tanpa berhasil mengajak Azka untuk bergabung disana..
“Bagaimana? Pak Azka tidak mau bergabung? Bukankah dia yang telah mengatur semua ini?”
Tanya Siska masih dengan mencomot beberapa makanan dihadapannya.
“Ouhh.. Aku tak menyangka bila tuan muda bisa semanis itu. Aku menawarinya untuk bergabung tapi dia mengatakan lebih menikmati saat berada disana dan menonton kita bersenang-senang bersama..”
“Ck..! Kau ini, tentu saja yang dimaksud Pak Azka bukanlah kita, melainkan Yuna..”
Husna sedikit memberengut mendengar Siska yang justru menyanggah apa yang dikatakannya. Tapi Sunny sepertinya ada benarnya, tidak mungkin tuan muda nya itu menatap pada mereka bertiga. Sudah pasti Yuna lah, sebagai gadis yang menjadi tunangannya yang mendapatkan perhatian ekstra lebih dari pria dambaannya itu..
“Oh, Yuna.. Apa yang kau lakukan hingga bisa menggaet tuan muda ku..?”
Yuna memutar mata mendengar bagaimana Husna yang menyebut Azka dihadapannya..
“Dan kau benar-benar masuk universitas?”
Sambung Husna kemudian, tanpa perlu menunggu mendapatkan jawaban dari pertanyaannya yang sebelumnya.
Yuna hanya memberikan jawaban dengan anggukan kepalanya yang disertai dengan senyuman dibibirnya, dan telah dapat membuat kedua temannya itu merasakan kecemburuan pada keberuntungan yang didapatkannya.
“Bagaimana perasaanmu sekarang setelah masuk universitas? Ah, haruskah aku menanyakan pertanyaan bodoh seperti ini. Sudah pasti kau sangat bahagia.. Kau pernah bercerita jika impianmu adalah untuk masuk ke universitas dan tuan muda telah mewujudkannya..”
“Hari ini, sebenarnya aku sangat gugup tadi. Meski aku masih belum mengikuti kelas dan hanya mengatur jadwal kelas yang akan kuikuti, tapi rasanya benar-benar gugup ketika berhadapan dengan dosen yang baru kukenal”
Yuna juga kemudian menggulirkan cerita jika sebenarnya Ny.Dania lah yang mendaftarkannya masuk ke universitas. Ide itu memang berasal dari Ibu Azka dan mendapat persetujuan dari ayah Azka. Husna dan Siska jelas sempat tak mempercayai apa yang dikatakannya. Karna yang mereka ketahui, pada waktu itu saat Azka membawa mereka kerumahnya untuk bertemu dengan Yuna, Husna dan Siska dapat memastikan jika sikap ibu Azka tak begitu baik pada Yuna. Namun Yuna menjelaskan jika ia telah dapat memahami karakter ibu Azka yang cenderung keras, galak dan masih sering mengomelinya, namun wanita itu memiliki sisi lembut seorang ibu yang juga kerap ditunjukkan kepadanya. Yuna bahkan merasa merindukan perasaan nyaman dan hangat yang perlahan tumbuh ketika ia memeluknya.
Sementara Yuna asik berkumpul dengan kedua temannya disana, Azka masihlah betah hanya dengan menonton bagaimana interaksi dari ketiganya. Melihat Yuna yang entah sedang bercerita apa pada kedua temannya, kemudian tersenyum dan bahkan tertawa bersama ketika Husna ataupun Siska menimpali apa yang diceritakannya.
Azka senang hanya dengan melihatnya..
Setelah akhir-akhir ini Azka merasa Yuna jarang tersenyum apalagi tertawa seperti saat itu. Raut wajahnya selalu lebih sering menunjukkan kecemasan. Oleh karna itu, ia kemudian memikirkan cara apa yang kemungkinan besar dapat membuat Yuna kembali bersemangat. Dan ide untuk membiarkan gadis itu mendapatkan waktu bersama dengan kedua temannya dan menikmati keakraban dengan mereka menjadi yang pertama dipilih untuk ia lakukan.
Dan sepertinya moment yang di pilihnya cukup tepat dan tidak sia-sia. Azka kini melihat tawa keceriaan itu dihadapannya, yang kemudian membuatnya enggan untuk berpaling. Rasanya sayang jika ia melewatkan moment menyenangkan yang sedang Yuna rasakan ketika itu. Gadis itu tersenyum, tertawa dan beberapa kali menoleh untuk menatap padanya. Tatapannya seakan ingin menyampaikan terimakasi atas perayaan yang diberikan padanya..
***
to be continue