At First Sight

At First Sight
Episode 116



“Yuna.. Hei..!”


Yuna tergeragap oleh seruan kedua temannya yang telah berada dibelakang punggungnya. Terburu ia memasukkan lagi boneka-nya kedalam tas, untuk selanjutnya menoleh kebelakang, kearah Husna dan Siska yang lantas mengambil posisi duduk dihadapannya.


“Hei.. Aku baru akan menghubungi kalian. Kenapa terlambat?”


Husna dan Siska sama-sama menunjukkan cengiran dihadapannya..


“Kami harus kesini secara sembunyi-sembunyi.. Kami takut dikuntiti paparazi karna kedapatan akan menemui si pembuat skandal menghebohkan saat ini”


Yuna melebarkan mata terhadap keseriusan ataukah candaan kedua teman dihadapannya yang mulai terkikik melihat ekspresinya.


“Tidak lucu..”


Sungutnya dengan memasang wajah memberengut yang langsung ditanggapi oleh Husna..


“Serius.. kau tahu, banyak pencari berita yang berada didepan kantor. Menyebalkan sekali..”


“Mereka mencari Presdir.. Tapi sayangnya dalam dua hari ini, dia tidak datang.”


Siska menambahkan, mengulik rasa penasaran Yuna terhadap alasan ketidak hadiran Azka dikantornya..


“Pak Azka tidak datang? Kenapa?”


Husna dan Siska sama-sama mengangkat bahu mendengarnya. Tanda ketidak tahuan mereka terhadap apa yang ditanyakan Yuna.


Siska kemudian mencondongkan tubuhnya, dan berganti mengajukan pertanyaan..


“Serius Yuna, apa foto itu benar? Kau benar-benar putus dengan Pak Azka?”


Yuna mengangguk..


“Apa..!”


Husna memekik..


Membuat Yuna memutar mata atas reaksinya yang membuat beberapa orang yang berada disana kini menjadi lebih tertarik untuk mengarahkan perhatian padanya.


“Kalian putus?! Kau benar berselingkuh? Dan siapa pria itu? Apa dia lebih hebat dari Tuan muda? Kenapa kau melakukannya, Yuna..? Ya ampuunnn.. Aku tak percaya ini..”


“Aku sudah pernah mengatakan padamu jika Pak Azka lebih terkenal daripada selebriti dan memperingatkan bahwa skandal perselingkuhan akan selalu lebih menghebohkan dari pada berita pertunangan kalian. Terbukti benar kan..”


Yuna mendengus atas pemikiran kedua temannya..


“Ck! Dengarkan dulu.. Foto itu memang benar. Tapi tidak dengan berita yang mereka tulis. Aku tidak berselingkuh.. Pria itu adalah seorang dokter yang pernah melakukan terapi pada kakak ku”


“Bagaimana bisa mereka mengambil foto kalian seperti itu? Seolah-olah..”


“Aku tidak tahu.. Itu diambil saat aku berada dikampus”


“Tunggu Yuna, jadi kau bertemu pria itu di kampus? Kau bilang dia dokter terapis kakakmu”


“Kadang dokter Ahmad juga menjadi pembicara di universitas”


“Dia keren ya? Dokter dan pengajar.. Aku akan mendaftar di universitasmu..”


Komentar Siska dengan cengiran diwajahnya, yang dengan cepat mendapat tanggapan dari Husna..


“Pasti tidak lebih keren dari Tuan muda”


“Tipe ku adalah seorang dokter..”


Balas Siska tak mau kalah..


“Seorang pengusaha akan lebih dapat diandalkan untuk memakmurkan hidup”


“Bagaiamana jika pengusaha itu bangkrut? Dia bisa terlilit banyak hutang..”


Husna mendelikkan mata mendengarnya..


“Kau mendoakan Tuan muda bangkrut?”


“Ck! Bukan seperti itu, tapi..”


“Lalu, bagaimana jika dokter itu melakukan kecerobohan semacam malpraktek? Dia akan dipecat dan tidak memiliki apa-apa bahkan gaji..”


Astaga..


Yuna geleng-geleng kepala melihat kedua teman dihadapannya yang justru melakukan perdebatan konyol.


Bukankah mereka seharusnya mendengarkan curhatannya..


Dengusnya yang kemudian ingin menghentikan keduanya, namun ponsel didalam tas nya berbunyi. Yang secara otomatis justru langsung mendiamkan kedua temannya yang sebelumnya sibuk beradu mulut..


“Halo..”


“Yuna.. Ini aku..”


“Ah, ya.. Dokter..”


Husna dan Siska saling berpandang dengan dahi berkerut mendengar Yuna menyebut dokter dalam pembicaraan yang dilakukannya.


“Mengenai berita itu.. Aku ingin bicara denganmu..”


“Ah, iya.. Anda berada dimana, dokter? Rumah sakit? Saya bisa kesana..”


“Tidak.. Aku baru keluar dari kampus. Ada yang mengatakan padaku kau sudah tidak datang dalam beberapa hari. Kau ada dimana sekarang? Aku yang akan kesana..”


Yuna lantas menyebutkan tempatnya saat itu dan mengakhiri sambungan. Dan langsung menerima pertanyaan dari Husna dan juga Siska..


“Jangan katakan dokter yang ada difoto itu yang baru saja menghubungimu..”


“Dia orangnya..”


“Oh My God.. Dan kau akan bertemu dengannya disini?”


Yuna mengangguk..


“Apa kau gila..!”


Yuna memutar mata mendengarnya..


“Kenapa?”


“Astaga.. Ini tempat umum, Yuna. Banyak yang akan melihat kalian..”


“Karna itu, aku sengaja akan menemui dokter Ahmad disini untuk membuktikan kami tak perlu sembunyi-sembunyi saat bertemu. Aku tidak berselingkuh dengannya..”


“Apa nantinya justru tidak akan memunculkan opini jika kau sudah secara terang-terangan berhubungan dengan pria lain?”


Yuna mendesah..


Mengapa sekarang posisinya menjadi serba salah.


“Kalau begitu kalian tak boleh pergi.. Tetaplah disini, temani aku bertemu dengan dokter Ahmad. Kalian menjadi saksi aku tidak berselingkuh..”


***


Tak banyak yang Yuna bicarakan dengan dokter Ahmad pada saat ia bertemu dengannya. Dokter itu justru meminta maaf karna beredarnya foto keduanya, dan mengganggu kenyamanan Yuna.


Fariz kemudian juga mengatakan akan melakukan konfirmasi dengan para pencari berita itu bila Yuna menghendakinya. Namun Yuna mengatakan ia masih enggan menanggapi hal itu, dan terkesan membiarkan banyak spekulasi berkembang diluar sana mengenai dirinya, putusnya pertunangannya dan Azka, serta tuduhan perselingkuhan yang dilakukannya.


“Aku bukan siapa-siapa, Dokter. Aku hanya gadis biasa.. Biarkan saja mereka menilaiku semau mereka. Aku tidak peduli..”


Karna hanya Yuri lah yang pada saat itu Yuna pedulikan. Ia hanya takut bila dirinya membuka suara, permasalahan justru akan merembet kemana-mana dan akhirnya menyeret nama kakak nya.


Selain pandai memelintir kebenaran, para pencari berita biasanya juga lihai mengorek-ngorek masalah lain yang tak seharusnya terungkap, yang seharusnya hanya cukup menjadi privasi hidupnya..


Karena itu Yuna menolak ajakan Fariz untuk melakukan konfirmasi bersama-sama. Jika sang dokter itu terganggu dengan pemberitaan yang menyangkut pautkannya dengan status pertunangannya dan Azka, dia bisa melakukan konfirmasi sendiri untuk membersihkan namanya.


Cukup dengan mengatakan Yuna sebagai salah satu keluarga dari pasien yang ditanganinya yang kebetulan juga berada diuniversitas yang sama dengannya. Meski Yuna sendiri sangsi, hal itu akan cukup efektif untuk dilakukan. Mengingat opini negatif bisa saja malah semakin berkembang..


Oh, betapa memusingkan hidupnya..


Yang kemudian bisa Yuna katakan adalah permintaan maafnya pada Fariz, dan kemudian mengakhiri pembicaraan itu yang terjadi didepan kedua temannya yang sepertinya tak berkedip saat Fariz berada dihadapan keduanya.


Dokter itu dengan mudahnya pastilah telah berhasil memikat hati Siska sesuai dengan tipe pria yang diinginkannya, dan mengalihkan Husna dari menyukai, bahkan memuja Tuan mudanya..


Astaga..


“Aku tak percaya aku ingin menahan dokter itu agar tidak pergi..”


komentar Husna yang kemudian ditanggapi sinis oleh Siska..


“Aku bilang juga apa, selain pintar, pandai menyembuhkan orang, dokter tampan itu juga pastilah akan memberiku kemakmuran”


“Kau pikir dia mau denganmu..”


Kedua temannya yang terlalu sibuk mengagumi dokter itu, pastilah menjadi tak menyadari Fariz tak hanya datang sendirian saat menemuinya. Tapi Yuna, ia menyadari keberadaan seorang wanita yang berada didalam mobil sang dokter, yang dirasanya sudah tak asing lagi untuknya.


Maka meninggalkan kedua temannya yang masih saja berdebat, Yuna menyusul langkah dokter Ahmad menuju sebuah mobil yang diparkirkannya..


“Tunggu dokter Ahmad..”


Fariz sudah membuka pintu mobilnya ketika Yuna berseru memanggilnya, yang praktis membuat sang wanita yang berada didalamnya kini dapat terlihat dengan jelas meski sedikit terhalang oleh tubuh Fariz.


“Hai dokter Sulis..”


Yuna menangkap gelagat aneh serta kekikukan yang kemudian ditunjukkan oleh kedua dokter dihadapannya. Sulis tersenyum namun gelisah,


Fariz bahkan sedikit salah tingkah..


“Ah, halo Yuna..”


“Dokter Sulis disini?”


“Eh, itu.. Kebetulan, kebetulan tadi.. Aku bertemu dengan dokter Ahmad..”


“Ohh..”


Yuna mengangguk-angguk seolah paham, namun menyimpan senyum jahil dibibirnya..


“Maaf jika aku tak ikut turun. Aku tak ingin mengganggu pembicaraan kalian”


“Iya, tapi Aku tak tahu jika dokter Sulis dan dokter Ahmad menjadi dekat”


Sulis tergeragap, dengan menggunakan tangannya ia masih berusaha menyangkal kata ‘dekat’ yang dimaksudkan Yuna.


Sementara Fariz, pria itu tak dapat berbicara apa-apa. Ia sudah terpergok. Apa lagi yang perlu disangkalnya. Salahnya yang mengajak Sulis, sementara ia sendiri berniat menemui Yuna. Apa ia tak berpikir akan diketahui?


Atau secara tidak sadar ia memang ingin menunjukkannya..


Aihh..


“Dokter, anda tidak ingin menjelaskannya padaku?”


Yuna mengarahkan pertanyaannya pada Fariz..


“Apa?”


“Ada apa dengan anda dan dokter Sulis?”


“Oh, itu..”


Fariz sempat menggaruk tengkuknya, mencuri pandang pada Sulis namun dokter wanita itu menggeleng..


Entahlah apa maksudnya..


“Aku.. Maksudku, karna sama-sama menangani kakakmu, kami jadi beberapa kali bertemu dan, seperti inilah.. Seperti yang kau lihat..”


“Ohh, jadi..?”


Yuna tersenyum, mengedikkan mata dan kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Selamat.. Aku sangat menunggu kabar mengembirakan selanjutnya”


“Oh..”


Fariz tersenyum, yang kemudian terdengar adalah suara Sulis yang sepertinya mengalihkan pembicaraan.


“Bagaimana keadaan kakakmu, Yuna?”


“Kak Yuri baik, dokter.. Kakak juga sudah bisa kembali berjalan”


“Katakan padanya untuk kembali ke rumah sakit. Aku akan lakukan pemeriksaan lanjutan”


Yuna tersenyum dan mengangguk pada Fariz..


“Syukurlah, dia juga bisa datang padaku bila dia mau. Dan sampaikan salamku padanya”


“Iya, tapi dokter Sulis.. Apa berita yang sedang beradar mengganggumu? Maaf, aku tidak tahu siapa yang menyebarkan berita seperti itu. Itu sama sekali tidak benar, dokter.”


“Tidak, aku tahu.. Dokter Fariz sudah memberi pengertian padaku. Kami sudah terlalu dewasa untuk berselisih hanya karna hal semacam ini. Tidak apa-apa..”


“Ah, terimakasih dokter..”


“Kalau begitu, kami akan pergi Yuna”


Fariz bersuara..


“Oh iya dokter.. Terimakasih dan maaf atas pemberitaan itu..”


“Bukan salahmu, tak perlu meminta maaf..”


Fariz mengulurkan tangan untuk kemudian memegang bahu Yuna dan mengusapnya, tepat pada saat itulah terdengar suara klakson mobil yang dibunyikan hingga tiga kali. Fariz menoleh dan mengernyit, sedangkan Yuna dengan segera melebarkan mata mengetahui siapa yang berada dibalik kemudi mobil itu.


Azka..


“Pak Azka..”


Gumamnya lirih, sesaat kedua matanya bersitatap dengan pria itu namun setelahnya terdengar suara mesin yang menderu. Azka yang mengemudikan mobilnya, dengan serta merta kembali melajukannya dan meninggalkan Yun mematung dipinggiran jalan itu..


***


TBC