At First Sight

At First Sight
Episode 36



Yuna POV


Makan malam tadi berlangsung dengan penuh ocehan dari Ibu Azka. Hingga membuatku tak bisa menelan makananku. Bagaimana bisa aku menelan makanan, sedangkan Ibu Azka terus mengoceh pada kami..


Maksudku padaku dan pada Azka, dengan berbagai macam kalimat yang kebanyakan tidak ku mengerti. Aku terlalu gugup untuk dapat mencerna apa yang diucapkannya.


Menyedihkan..


Tapi yang pasti aku mengetahui dia sedang mengomeliku.


Aku hanya terus meminum entah berapa gelas air putih dihadapanku, untuk menghindari kekeringan tenggorokanku. Karna Ibu Azka jelas memanfaatkan ketidak beradaan sang suami saat itu. Entah sedang berada dimana, ayah Azka tidak ikut dalam makan malam, hingga tidak akan ada yang mencegah wanita itu untuk terus bersuara. Dia benar-benar bebas menyuarakan kekesalannya.


Hingga pada akhirnya dia selesai dengan apa yang dikatakannya, dan membuatku dapat untuk bernapas dengan lega. Sedikit bersyukur ketika kemudian Ibu Azka memintaku untuk masuk kedalam kamar lebih dulu dan meninggalkannya bersama Azka disana. Mungkin masih ada yang akan dia katakan pada Azka, entahlah..


Aku merasa tak perlu untuk mengetahuinya.


Telingaku sudah cukup panas mendengar semua omelannya. Dan aku benar-benar membutuhkan untuk mengistirahatkan tubuhku. Hari ini telah kulalui dengan begitu kacau dan melelahkan. Aku butuh tidur..


Setelah terlebih dulu melakukan mandi kilat dengan menggunakan air hangat, aku memakai celana tidur dengan atasan kaos lusuh yang kuambil dari lemari. Masih merasa menyedihkan dengan apa yang kumiliki, namun aku mengabaikannya ketika telah berbaring diatas tempat tidur mewah yang pernah kurasakan seumur hidupku.


Berharap aku akan langsung tertidur dengan kenyamanan ini, tapi nyatanya pikiranku justru kembali melayang-layang.


Menyentuh bibirku, aku merasakan basah namun juga terasa hangat, bekas dari ciuman tadi.


Oh..


Aku terkesiap saat melihat wajah Azka diatas langit-langit kamarku. Pria itu menyeringai padaku?


Sial..


Aku telah mengucek mataku berkali-kali hingga dapat menghilangkan gambaran tak wajar itu dari kepalaku. Namun secepat kemudian mendadak aku merasakan sedang mencium keharuman lain didalam kamarku. Mengendus pada apa yang berada disekitarku, aku mencium ini adalah campuran antara keringat dan parfum seperti..


Ini seperti..


Bukankah ini seperti..


Seperti saat aku mencium bau tubuh Azka..


Astaga..


Aku bangun dari atas tempat tidur dan memukul kepalaku. Apa yang saat ini berada didalamnya benar-benar harus segera dikeluarkan.


Aku tak bisa tidur..


Aku tak bisa tidur dengan wajah Azka yang berada dilangit-langit kamar, juga wangi tubuhnya yang mendominasi udara disekitarku.


Aneh..


Tak dapat dipercaya..


Adakah keanehan yang semacam ini?


Dan apakah keanehan ini nyata?


Aku tidak mempercayai keanehan yang kurasakan malam ini.


Aku benar-benar tak dapat memejamkan mata, bahkan untuk sebentar saja. Aku terjaga sepanjang malam akibat kebingungan pada apa yang kurasakan.


Membuka hordeng pada jendela kamarku, ini mungkin sekitar pukul lima pagi ketika kemudian aku juga membuka pintu yang menghubungkan pada balkon kamar.


“Apa kalian menungguku untuk merangkai kalian menjadi lebih indah..?”


Aku berbicara seolah bunga-bunga itu dapat mendengar dan mengerti dengan apa yang kukatakan.


Aku bersemangat saat keluar dari dalam kamar, dan menuruni puluhan anak tangga dengan perlahan. Ini masih terlalu pagi untuk membangunkan orang-orang. Bibi Lia bahkan belum datang.


Dengan langkah yang perlahan didalam temaramnya lampu-lampu rumah yang kebanyakan dimatikan, aku mencapai pada bagian belakang. Membuka kuncian pada pintu, aku keluar dan langsung mencium, menghirup dengan berlebihan keharuman yang luar biasa menyegarkan. Aku sedang mencoba terbebas dari keharuman tubuh Azka yang kurasakan disepanjang malam.


“Kalian benar-benar cantik..”


Dengan menggunakan gunting pemotong dan sebuah keranjang, dan terlebih dulu menciumnya satu persatu, aku kemudian memotong tangkai-tangkai bunga itu yang telah bermekaran.


Dengan mudah cukup banyak yang telah kudapatkan, dan aku benar-benar tak sabar untuk merangkainya. Diluar dari bisa atau tidaknya aku melakukan itu, tapi aku akan tetap melakukannya. Merangkai bunga-bunga itu sesuai dengan keinginan hatiku..


Setidaknya aku telah mendapatkan tiga rangkaian bunga pada saat matahari telah naik dan menunjukkan sinar hangatnya. Tak sadar, aku mungkin sudah dalam hitungan jam berada disini..


“Yuna..”


Dengan membawa satu rangkaian bunga ditanganku, aku berniat untuk masuk namun kemudian suara Ibu Azka dan keberadaannya yang sedang memperhatikanku, menahanku..


“Ibu..”


Ini mungkin bukan rangkaian bunga yang sempurna seperti yang selalu diajarkannya padaku..


“Kau merangkai bunga?”


aku mengangguk..


Dia mendekat dan kemudian memperhatikan dua rangkaian bunga yang lain yang telah kuselesaikan.


Sekilas aku melihatnya tersenyum..


Benarkah?


Benarkah Ibu Azka tersenyum saat melihat rangkaian bungaku..


“Aku mencarimu untuk mengatakan sesuatu padamu..”


Dia mengambil salah satu rangkaian bunga itu, dan membawanya dengan kedua tangannya.


“Bersiaplah Yuna, kau harus ikut denganku..”


“Apa kita akan pergi?”


Dia mengangguk. Aku sedikit cemas Ibu Azka akan membawaku pada sebuah acara seperti kemarin. Tapi itu rasanya tidak mungkin. Tidakkah dia takut aku akan mengacaukannya lagi.


“Kemana kita akan pergi, Bu..?”


Aku memberanikan diri untuk bertanya..


“Belanja dan make over.. Aku harus melakukan perubahan pada tampilanmu..”


Oh…


***


to be continued