At First Sight

At First Sight
Episode 40



Sekitar jam delapan malam itu, Yuna akhirnya bisa sedikit bernapas lega ketika mobil yang ditumpanginya bersama dengan ibu Azka menghentikan lajunya.


Dengan membiarkan Ny.Dania untuk lebih dulu masuk, Yuna kemudian menyusul dibelakangnya dan menyerahkan semua paper bag yang berada dibagasi mobil diurus oleh sang supir.


Masuk kedalam rumah, Yuna menerima tatapan dan decak kekaguman yang dilontarkan Tn.Rian padanya. Ayah Azka itu terang-terangan memujinya cantik didepan Ny.Dania, dan anehnya sang istri pun tak mendecak seperti biasanya.


“Sebelumnya Yuna memang gadis muda yang cantik, tapi Kau membuatnya menjadi luar biasa cantik, ma..”


“Jangan terus-terusan memujinya, Pa.. Dia bisa besar kepala nanti. Oh ya, dimana Azka? Dia belum pulang?”


“Azka memberitahuku, dia memiliki perjalanan ke Cina. Mungkin sampai dua atau tiga hari dia akan berada disana”


“Kenapa anak itu tak memberitahukannya padaku?”


“Sepertinya Azka sendiri juga melupakan kunjungannya kesana..”


“Ck! Dia terlalu memikirkan gadis itu hingga melupakan pekerjaannya..”


Yuna mendengus pada dengan mudahnya Ibu Azka membuat kesimpulan.


Malam itu dan dimalam berikutnya setidaknya Yuna tak akan lagi dibuat tak dapat tidur hanya karna mencium aroma tubuh Azka didalam kamarnya. Pria itu tak berada dirumah dan Yuna merasa bisa berhenti merasakan kegelisahan didalam dirinya.


Malam itu Yuna bahkan mendapatkan tidurnya yang lelap. Kelelahan bepergian seharian tadi pastilah yang menyebabkan dirinya dapat dengan mudah memejamkan matanya.


Pagi harinya Ia kembali menemani ibu Azka merangkai bunga. Disiang hari wanita itu akan kembali mengajaknya ke berbagai butik, hingga menjelang malam mereka baru akan pulang. Dan berlanjut dihari berikutnya.


Ny.Dania sepertinya menikmati mengajak Yuna berbelanja dan membuat penampilannya semakin terlihat sempurna dimatanya. Ia menyukai Yuna yang menurut dengan segala macam yang dipilihkannya. Ia pernah melakukan hal yang sama bersama dengan Jessica. Tapi gadis itu lebih sering menolak apa yang disarankannya. Jessica memiliki selera sendiri dalam berbusana, yang berbeda dengannya.


Sedangkan Yuna, Ia selalu mengiyakan apa saja yang dipilih Ny.Dania untuknya. Hingga wanita itu dengan senangnya mendandani Yuna sesuai dengan seleranya, dan menjadi layaknya seorang putri nya.


“Putri anda benar-benar cantik, Nyonya..”


Ny.dania sempat mengerutkan dahi ketika salah satu dari pemilik butik yang didatanginya memuji Yuna dan mengira gadis itu sebagai putrinya. Namun kemudian ia merespon dengan senyum diwajahnya, seakan tak berkeberatan dengan anggapan yang seperti itu.


Ny.Dania juga tak perlu lagi risau bila membawa Yuna bertemu dengan teman-temannya, seperti yang dilakukannya hari itu. Temannya justru berbalik memuji Yuna, dan memujinya tentu saja yang telah membuat perubahan besar pada calon menantunya itu.


“Yuna, ayo pulang sekarang.. Suamiku mengatakan jika Azka akan pulang hari ini”


Mendengar itu, mendadak Yuna merasakan debaran dalam dadanya. Terhitung sejak sarapan dipagi itu Ia memang belum bertemu lagi dengan Azka dan pria itu juga belum melihat perubahan tampilannya.


Apa yang mungkin akan dipikirkan oleh Azka ketika melihatnya nanti?


Dan bagaimana penilaian pria itu terhadapnya nanti?


Pemikiran itu mendadak muncul dalam benak Yuna..


“Iya, Bu..”


Sekitar satu jam kemudian pada sore hari menjelang malam, Yuna telah berada dirumah. Ia duduk diteras belakang, memakan potongan buah yang disiapkan oleh Bibi Lia. Bersama dengan Ny.Dania disana, yang mengagumi tanaman bunga miliknya.


Entah bermula darimana hingga kemudian keduanya terlibat dalam perbincangan. Yuna menceritakan masa kecilnya dan Ny.Dania menimpali dengan sesekali menceritakan tentang Azka dimasa kecilnya, hingga membuat tawa terpingkal dari Yuna ketika mendengarnya.


Azka yang baru beberapa saat masuk kedalam rumah, dibuat heran oleh tawa terkikik dari ibu nya dan seorang gadis yang dilihatnya tengah bersama dengannya.


“Siapakah gadis yang sedang bersama dengan ibuku, Bi..?”


Azka langsung bertanya ketika berpapasan dengan Bibi Lia dari arah teras belakang rumahnya.


Bibi Lia justru mengerutkan dahii mendengarnya..


“Oh, Azka.. Kau pulang? Dan gadis mana yang kau maksud?”


“Itu.. Dia yang sedang bersama mama..”


Azka menunjuk pada gadis berambut coklat yang duduk memunggunginya.


“Ya ampun.. Berapa hari kau pergi dari rumah ini? Kau melupakan gadis itu? Kau tidak mengenalinya?”


“Bibi, aku serius.. Siapa dia?”


“Siapa lagi gadis yang ada dirumah ini. Dia tunanganmu Azka, tentu saja dia adalah Yuna..”


Bukankah tiga hari hanyalah waktu yang terlalu singkat?


Tapi nampaknya ia telah melewatkan banyak hal selama tiga hari kepergiannya..


Azka yang masih belum mempercayai apa yang dikatakan Bibi Lia, kemudian melangkah cepat menghampiri ibunya dan harus bersusah payah menahan ke-terpana-an ketika melihat Yuna, dan sisa-sisa tawa yang menggurat diwajahnya yang bersemu kemerahan. Jantungnya bergemuruh hebat, seakan hendak melompat keluar dari dalamnya.


“Ya Tuhan.. Azka.. Mengagetkan saja..”


Ny.Dania langsung berdiri dari duduknya untuk memberikan pelukannya.


“Mama merindukanmu..”


“ Aku juga merindukan mama..”


Susah payah kalimat itu keluar, setelah seakan menyangkut ditenggorokannya.


“Bagaimana dengan perjalanannya? Pekerjaanmu berjalan baik?”


“Hm, semua baik-baik saja, ma..”


Azka kembali menatap pada Yuna yang sekarang sedang menundukkan wajahnya.


“Kau mungkin ingin berbicara dengan Yuna.. Sekali ini saja mama akan membiarkanmu berdua dengannya. Aku akan meminta Bibi Lia menyiapkan makanan”


“Tidak.. Ma..!”


Responya keras membuat Ny.Dania mengerutkan dahinya, ketika Azka menahan lengannya.


“Kenapa? Harusnya kau berterimakasih.. Setidaknya mama bisa bersikap pengertian dengan membiarkanmu bersama dengan Yuna.. Kau tidak merindukannya?”


Azka hampir-hampir tergagap untuk berkata-kata setelah mendengar apa yang dikatakan oleh sang ibu kepadanya.


Sejak kapan ibunya bisa bersikap manis seperti itu terhadap hubungannya dan Yuna.


“Aku.. Aku perlu mandi terlebih dulu. Aku akan berbicara dengannya nanti..”


Dengan langkahnya yang lebar, Azka menghindar dengan melesat cepat masuk kedalam kamarnya.


***


Yuna sendirian duduk dikursi teras itu, setelah Ny.Dania meninggalkannya untuk memberitahu Bibi Lia agar menyiapkan makan malam dan menambah menu masakan untuk Azka.


Yuna menghela napasnya, merasakan keletihan pada tubuhnya. Setelah seakan diajak untuk bermaraton tanpa henti setiap harinya mengelilingi berbagai butik bersama dengan Ny.Dania dalam tiga hari itu.


Kakinya terasa pegal, saat kemudian Ia mulai membungkuk dalam duduknya, dan menjalankan tangannya untuk memijat pada bagian betis sampai pada mata kaki nya.


“Apa ibuku telah membuatmu berlarian hari ini?”


Yuna mendongakkan wajahnya..


“Pak Azka..”


“Dibagian sebelah mana yang terasa pegal? Kau bisa menunjukkannya padaku..”


Belum sempat Yuna memberikan respon, Azka sudah lebih dulu duduk berjongkok dihadapannya dan lantas menarik kakinya untuk berada diatas pahanya, menekan pada bagian betis dan telapak kakinya..


“Aku bisa memijatnya untukmu..”


Oh dear..


darimana asalnya kupu-kupu yang kini berada didalam perutnya?


Yuna jelas tak mengetahuinya..


Ia hanya merasakan kupu-kupu itu kini sedang berterbangan disana..


To Be Continued