
“Papa.. Apa yang sedang Papa
perhatikan?”
Tn.Rian menoleh ketika mendengar suara Azka dibelakangnya.
“Oh, Azka.. Kau sudah pulang,
kemarilah..”
Azka mendekat..
“Lihatlah, Mamamu dan gadis itu.
Mereka semakin dekat dan kompak saja..”
Azka mengikuti arah pandang sang ayah, dan menemukan sang Ibu yang tengah bersama dengan Yuna, asik dengan tanaman-tanaman bunga dihalaman belakang rumahnya.
Tak terasa Azka pun ikut
menyunggingkan senyum
dibibirnya..
“Papa tolong bawakan ini, atau
letakkan diruang kerja atau
kamarku, terserah Papa. Aku akan menyapa wanita-wanitaku..”
Tn.Rian menggeleng-gelengkan kepala dengan tingkah Azka yang menyerahkan tas kerja ketangannya.
Azka sudah melesat menuju halaman belakang, menghampiri Yuna dan ibu nya.
“Hai, wanita-wanita cantikku.. Apakah ada yang lebih indah daripada melihat senyum yang sama diwajah kalian?”
Azka dengan cepat berada ditengah diantara Ny.Dania dan Yuna, dan merangkulkan lengannya dimasing-masing bahu mereka.
“Kurasa tidak, bahkan senja disore hari ini masih tak bisa mengalahkan keindahan senyum kalian..”
Azka menjawab sendiri pertanyaannya, dan lantas membuat aksi yang mengejutkan. Setidaknya itu apa yang Yuna rasakan. Dengan berani mencium pipinya dan kemudian melakukan hal yang sama terhadap ibunya.
“Rasanya benar-benar luar biasa berada ditengah wanita-wanitaku yang cantik ini..”
Ny.Dania yang kemudian lebih dulu melepaskan rangkulan Azka dibahunya. Dan kemudian menggerutu karna apa yang baru saja Azka lakukan.
“Apa kau tidak malu menciumnya didepanku?”
“Kenapa Ma? Apa sekarang aku harus malu padamu? Mama bahkan sudah pernah melihat sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman dipipi, yang pernah aku dan Yuna lakukan didepan mu..”
Azka justru hanya mengedikkan bahunya meski saat itu ia sedang menerima tatapan tajam dari Yuna yang seakan mengatakan bahwa ia bisa menyumpal mulutnya yang asal berbicara dengan potongan-potongan rumput taman disekitarnya, atau malah sangat ingin memotong lidah Azka dengan gunting pemotong yang berada ditangannya. Begitupun dengan Ny.Dania, sang ibu juga memberinya tatapan mengerikan seakan ingin melayangkan pot bunga kearah wajah tampannya.
Azka lantas menunjukkan cengiran dan sedikit ngeri membayangkannya.
“Oh, ayolah Mama.. Aku terbiasa banyak belajar dari Papa. Bukankah kalian juga terbiasa menunjukkan kemesaraan dihadapanku. Lalu apa salahnya bila sekarang aku mencontohnya dengan melakukan hal yang sama pada Yuna”
Ny.Dania memutar mata kearahnya, dan Yuna berusaha melepaskan rangkulannya. Namun Azka memaksanya agar tetap berada disampingnya, dengan malah mencengkram kuat bahu Yuna dan lantas berbisik ditelinganya.
“Tadi itu termasuk salah satu ‘tindakan nyata’ yang sebelumnya pernah kukatakan padamu. Dan bukankah telah terjadi kesepakan untuk itu diantara kita. Kau tak bisa menolaknya..”
Yuna menggerakkan bibirnya, menggumam kesal.
Yang benar adalah Azka yang memutuskan itu sendiri tanpa perlu persetujuan darinya.
Mengetahui gerutuan Yuna saat itu, Azka hanya mengedikkan mata sesaat sebelum kembali mengarahkan pandangan pada ibunya.
“Mama bisa mengertikan, bagaimana gejolak percintaan kaum muda yang selalu ingin.. Awhhh..”
Yuna memelototinya sambil menggunakan kakinya untuk menginjak salah satu kaki Azka dan membuat pria itu mengaduh keras, merasakan sakit pada ujung jari kakinya dan akhirnya membuatnya berhenti berbicara.
“Jika kau masih ingin mendukung Yuna dengan kebohongannya, sebaiknya jaga kelakuanmu. Kakaknya, gadis yang juga menyukaimu dan bahkan tergantung padamu, berada dirumah ini sekarang. Berada dibawah atap yang sama dengan kita. Kau tentu tidak menginginkan terjadi perang saudara, bukan? Oh, astaga.. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika hal itu sampai terjadi..”
Ucap Ny.Dania memperingatkan dan dengan cepat menyadarkan Yuna untuk secepatnya menjauh dari Azka.
Tatapan matanya langsung mengarah kesekeliling. Sang kakak tidak boleh melihatnya. Yuri tidak boleh melihatnya berada dekat dengan Azka.
Ya.. Itu tidak boleh terjadi. Dan Ibu Azka benar.
Ia sudah seharusnya menjaga jarak dengan Azka, setidaknya sampai Yuri kakak nya pulih dan ia bisa mengatakan kebenaran itu padanya.
Hanya saja..
Bagaimana dengan Azka?
Pria itu cenderung seenaknya saat memperlakukan dirinya, bahkan sangat sering memanfaatkan kesempatan.
“Oh, aku lupa jika hari ini kau pulang bersama dengan Yuri. Jadi dimana dia sekarang?”
“Kakak berada dikamarnya. Dia sedang..”
“Aku akan menemuinya..”
Yuna belum menyelesaikan kalimatnya saat kemudian Azka lebih dulu meninggalkannya dan membuatnya hanya bisa menatap pada bagian punggungnya ketika pria itu berlalu dari sampingnya.
Yuna ingin mengatakan bahwa kakak nya sedang tertidur. Tapi dari caranya bereaksi, Azka nampaknya lebih bersemangat untuk menemui Yuri hingga tak perlu untuk mendengar apa yang masih ingin dikatakan olehnya.
Benarkah seperti itu?
Setelahnya, Yuna tak mengerti perasaan apa yang berkecamuk didalam hatinya..
Namun Ny.Dania jelas memperhatikan perubahan dalam raut wajahnya, saat dan setelah Azka pergi darisana. Dan sebagai seorang wanita, ia cukup dapat mengerti sesuatu macam apa yang saat itu sedang Yuna rasakan, tapi gadis itu coba ingkari..
***
Ketika Azka kembali masuk kedalam rumah, secara kebetulan ia berpapasan dengan Jena yang baru keluar dari ruang kamar dan sedang menutup pintu dengan perlahan.
“Jena..”
Azka menangkap gelagat terkejut dari Jena saat itu, dan sedikit yakin bila satu-satunya pengawal wanita dirumahnya itu baru saja hampir terlonjak hanya karna Ia memanggilnya.
“Ada apa? Kau terkejut aku memanggilmu?”
“eh.. Saya, saya hanya..”
Jena kemudian dengan cepat menganggukkan kepalanya.
“Ya, saya terkejut Tuan. Tuan tiba-tiba saja bersuara..”
“Benarkah? Lalu apa yang baru kau lakukan?”
“Saya.. saya hanya melihat keadaan nona Yuri..”
“Jadi disini kamar Yuri? Dia sedang berada didalam?”
“Iya..”
Jena menjawab disertai dengan anggukan kepalanya. Ia kemudian segera menggeser tubuhnya ketika Azka menekan knop pada pintu itu dan kemudian masuk kedalamnya.
Diatas tempat tidur itu, Yuri masih terlelap. Azka mendekat dan hanya melihatnya. Tak ingin mengganggu istirahat Yuri, maka kemudianpun Ia beranjak dari sana. Namun baru mencapai pintu untuk keluar, suara Yuri yang tiba-tiba terbangun, yang kemudian menghentikannya.
“Azka..”
Azka menoleh dan kemudian tersenyum kearahnya..
“Azka..”
“Hai, kau bangun? Kurasa aku yang sudah membangunkanmu.. Maaf..”
“Tidak.. Tidak seperti itu. Aku tahu kau pasti tidak melakukannya”
Azka masih berdiri diambang pintu kamar itu ketika Yuri mencoba untuk mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada kepala tempat tidur itu. Dan kemudian pandangan matanya justru menemukan sebuket bunga mawar tergeletak diatas nakas disisi tempat tidurnya.
Yuri tersenyum dan kemudian kembali menatap pada Azka..
“Terimakasih..”
Azka tidak cukup mengerti untuk apa ucapan terimakasih itu, namun kemudian ia membalasnya..
“Sama-sama..”
“Terimakasih juga untuk membiarkanku tinggal disini, bersama Yuna..”
Yuri masih tidak melupakan kenyataan yang dianggapnya bahwa Yuna bekerja, dan itu cukup mengganggunya..
“Tidak masalah, senang melihatmu berada disini. Dan buatlah dirimu merasa nyaman, Yuri..”
Yuri mengangguk dan kembali menarik senyum dibibirnya.
Ia berusaha untuk beranjak dan turun dari atas tempat tidurnya. Namun baru saja kakinya menjejak pada lantai, dan mengira setelah dua kali terapi yang dilakukannya, kedua kakinya itu akan dapat menopang tubuhnya seperti dulu, tapi nyatanya ia nyaris ambruk andai tangannya tak dengan cepat meraih dan berpegang pada pinggiran tempat tidur.
Azka yang melihat itu, dengan cepat berlari menghampiri Yuri dan meraih tubuhnya. Melingkarkan tangannya pada pinggang Yuri dan membuat keduanya berada dalam jarak yang cukup dekat..
“Kau tidak apa-apa?”
“Hm, kukira aku sudah bisa kembali berjalan.. ternyata tidak..”
“Belum.. Kau hanya harus diterapi..”
“Hm, aku tahu..”
“Maka kau harus giat melakukannya..”
“Aku memang akan melakukannya. Aku ingin sembuh..”
“Aku juga.. Aku ingin melihatmu sembuh?”
“kau ingin melihatku sembuh?”
“tentu saja..”
“kenapa?”
“Karna kau akan bisa kembali membantuku dikantor..”
“hanya itu?”
Jika Azka bisa, ia ingin menambahkan bahwa ia berharap Yuri sembuh, kembali terlihat sebagai gadis yang kuat dan tangguh, bukan rapuh seperti sekarang ini, agar dirinya bisa mengatakan kebenaran status Yuna sebagai tunangannya dan meminta restu dari Yuri.
Hanya saja Azka tak sampai hati mengatakan hal itu sekarang. Ia masih sangat memikirkan perasaan Yuna daripada dirinya sendiri.
“Azka..”
“Ah Iya.. Apa kau tidak akan melakukan itu jika kau sembuh nanti? Oh, ayolah Yuri.. Demi Tuhan, aku membutuhkanmu”
Meski bukan alasan seperti itu yang sebenarnya ingin didengarnya dari Azka, namun Yuri berusaha untuk menunjukkan senyum diwajahnya.
“Ya, tentu saja aku akan membantumu. Aku akan bekerja padamu. Dan pada saat itu, kau harus memberiku gaji yang sangat besar. Jauh lebih besar dari sebelumnya..”
Azka tertawa mendengarnya..
“Tidak bisakah kita melakukan negosiasi? Semacam tawar menawar terlebih dulu..”
Yuri menggeleng dengan yakin..
“Oh, baiklah.. Sepertinya aku akan kembali mempekerjakan sekretaris yang berkuasa..”
Kini giliran Yuri yang dibuat tertawa oleh candaan Azka..
Secara tiba-tiba dan mengejutkan bagi Azka, Yuri lantas melingkarkan kedua tangan dipinggangnya dan memeluknya dengan erat.
“Terimakasih Azka.. Aku merasa aman dan nyaman saat berada didekatmu. Aku tak lagi merasakan ketakutan pada orang-orang yang ingin menyakitiku. Kau pasti akan melindungiku..”
“Kau aman selama berada dirumah ini, Yuri.. Jangan khawatir. Tidak akan ada yang menyakitimu, percayalah padaku..”
Azka membalas pelukan Yuri dengan mengusap pada rambutnya.
Dan tepat disana, didepan pintu kamar itu, Yuna sedang berdiri mematung melihat seperti apa pemandangan didepan matanya. Yang kemudian secara tiba-tiba membuat dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak sakit didalamnya.
Oh, ada apa?
Mengapa perasaan semacam itu kembali mendatanginya..
“Yuna.. Yuna.. Apa yang sedang kau..”
Ny.Dania yang telah mendekat, dan kini persis berada disamping Yuna, tidak meneruskan apa yang diucapkannya begitu melihat hal yang sama seperti apa yang pada saat itu dilihat oleh Yuna. Ny.Dania hanya mendesah, melihat Azka dan Yuri yang sedang berpelukan didalamnya.
Tapi kemudian, Ny.Dania lah yang menyeret tangan Yuna untuk pergi darisana..
“Ayo ikut denganku.. Aku akan mengatakan padamu apa yang harus kita lakukan besok..”
***
To be continue