At First Sight

At First Sight
Episode 124



Yuna keluar dari kamar mandi dengan langkah kecil menuju arah ranjang. Ranjang yang akan ia tempati terhitung cukup luas untuk ukuran king size, karena amat cukup bahkan masih ada space yang tersisa untuk menampung tubuh besar Azka dan Yuna yang terhitung kecil. Dibawahnya terbentang karpet asal Turki yang terkenal akan keindahannya. Desain kamarnya pun memilih warna netral namun terlihat menawan. Beberapa perabot kayu dan besi juga tertata indah melengkapi isi ruangan.


Azka saat ini sedang membaca sebuah buku tebal. Ia setengah berbaring dan menyandar pada sandaran ranjang hanya dengan bertelanjang dada, namun selimut tebal menutupi tubuhnya hingga atas perut. Azka mendengar pintu kamar mandi terbuka yang membuatnya menoleh dan langsung terpukau dengan kehadiran Yuna. Segera dilepasnya kacamata dan juga buku lalu diletakannya kedua benda itu di meja kecil di samping ranjang.


“Hallo? Ada yang bisa ku bantu?” goda Azka kemudian duduk. “Gaun tidur yang sangat indah!”


Ragu-ragu Yuna mendekat, ia menyadari tatapan Azka yang menatap nya lekat dari atas hingga bawah yang membuat jatungnya berdetak lebih kencang.


“Kemarilah sayang!”


Azka merentangkan tangannya menyambut Yuna untuk ikut bergabung di atas ranjang bersamanya. Dengan malu Yuna berbaring di samping Azka. Pria itu kemudian bergerak mendekatinya, menatap dirinya dalam temaram cahaya lampu malam.


“Ah, sayang, betapa manisnya dirimu kalau tersipu begitu,” puji Azka, mengangkat tangannya dan ujung jarinya menelusuri wajah Yuna, dari tulang pipinya, hidung, hingga ke bibir Yuna yang bergetar. Kemudian diciumnya bibir itu.


Yuna merasakan panasnya bibir Azka, dibukanya bibirnya menyambut ciuman Azka yang bergelora, membuat lelaki itu semakin bergairah. Ciuman panjang dan lapar Azka membuat Yuna merasa lemah dan bergetar. Dia mengalungkan lengannya ke leher Azka dan secara insting melengkungkan badannya mendekati Azka.


“Hmm… Yuna,” Azka menatap mata Yuna cukup lama setelah melepas ciuman mereka. Kemudian tangannya bergerak membelai kulit putih istrinya, lalu diturunkannya tali gaun tidur Yuna perlahan.


“Mas Azka…”


“Benar, sayang, memang begitu seharusnya,” bisik Azka.


Dengan tangannya Yuna menarik kepala Azka menghadap ke wajahnya. “Mas, bersikaplah lembut padaku. Ini pertama kalinya bagiku,” bisiknya parau.


Sejenak Azka menatap penuh rasa syukur ke mata rusa milik Yuna yang seperti berkabut, hingga akhirnya dia lepas kendali dan merengkuh Yuna erat-erat karena ini juga pertama untuknya.


Beberapa saat kemudian, dengan nafas yang belum sepenuhnya tenang dan tubuh masih bergetar, Yuna membaringkan kepalanya di relung bahu Azka.


“Kuharap aku tidak terlalu menyakitimu, sayang,” bisiknya di telanga Yuna, menghirup wangi rambut dan leher Yuna.


Yuna menggeleng pelan, ia menolehkan wajahnya ke sisi lain asal itu bukan menghadap Azka. Ia benar-benar tersipu malam ini, perbuatan intim mereka dan yang pertama bagi Yuna membuat nya melayang, seperti ada ribuan kupu-kupu yang bersarang di perutnya.


“Ah.. Yuna ku sayang yang ku kira manis dan lembut di luar ternyata mempunyai sisi nakal dan gairah yang mengebu di atas ranjang!” Azka membeli lembut punggung Yuna.


“Terimakasih sudah menjaga nya untuk ku! Ini juga pengalaman pertama ku!”


Yuna terkejut, ia menoleh dan mencari kebohongan dimata Azka. “Ku pikir ini adalah kali kesekiannya untuk mu!”


“Tidak sayang!” Azka tersenyum meyakinkan. Dan kemudian untuk membuktikannya sekali lagi kepada Yuna, Azka kembali merengkuh tubuh polos Yuna, menciumnya dengan segala gairah yang masih menggelora dan mereka pun kemudian sama-sama terhanyut dalam kenikmatan surgawi.


Setelah melewati malam yang panjang dan memabukan, dibawah temaram lampu kamar yang redup, dibawah seprei kusut yang membungkus tubuh polos mereka, kaki yang saling melilit dan juga tubuh yang berpelukan erat. Yuna mencium aroma tubuh Azka dalam-dalam. Tangganya membeli punggung kekar Azka. Lalu beralih ke otot lengan Azka yang tak kalah kekarnya. Tangan Yuna mencubit-cubit otot itu dengan gemas.


“Otot mu keras sekali!” gumam Yuna, sebenarnya ini bukanlah hal yang mengherankan karena ia tahu Azka sangatalah rajin berolahraga terbukti dengan adanya ruangan khusus untuk berolahraga yang terletak di lantai tiga, selain itu Azka juga memiliki kolam renang sendiri di rumahnya tak heran jika tubuh Azka kekar seperti ini.


“Hmm, kurasa begitu! Besok kita masih banyak kegiatan!”


“Kata siapa? Kerena kita akan memulai babak berikutnya!”


Dan berakhirlah mereka kembali saling memberi kepuasan. Malam ini adalah malam yang sangat berarti untuk mereka. Untuk kali pertamanya mereka saling menyalurkan hasrat satu sama lain.



“Hai?”


“Hai juga. Bagaimana hari mu?”


“Aku baik, kau?”


“Aku juga baik!”


Yuna dan Azka saling menyapa canggung ketika berada di meja makan untuk makan malam. Keduanya merasa ini aneh dan lucu setelah semalam bercinta dengan begitu mengebu dan di keesokan harinya mereka justru merasa canggung.


Setelah makan malam usai, mereka terlihat asyik dengan dunia masing-masing di ruangan kerja milik Azka. Yuna yang memang hobi membaca kini tengah terlarut dalam bacaan yang sedang ia pegang sambil tiduran di sofa di ruang kerja Azka. Sedang Azka sendiri sedang fokus mempelajari data-data anggaran yang tadi dikirim oleh asistennya.


Beberapa kali Azka terlihat gagal untuk memfokuskan pikiran dan pandangannya hanya pada angka-angka rumit yang ditampilkan oleh layar komputer. Karena matanya itu sering kali melirik Yuna yang tengah tiduran di sofa. Astaga bahkan ketika wanita itu sedang membaca, kenapa ia terlihat mengairahkan? Hingga perlahan Azka tak bisa lagi berkonsentrasi pada pekerjaanya, ia lalu berdiri dan menghampiri istrinya. Ditebutnya novel itu dari tanggan Yuna.


“Aku akan merasa berdosa jika membiarkan istriku bercinta dengan novelnya!” setelah kalimat itu, mereka kembali melebur bersama sesaat setelah Azka menggendong Yuna dan memindahkannya ke atas ranjang.


“Mas, aku ingin kerja...”


Ucapan Yuna tiba-tiba saja membuat Azka menoleh kearahnya, menatap istrinya itu dengan tatapan tidak senang. Azka tidak menyangka Yuna tiba-tiba saja mengatakan ingin bekerja, pada saat mereka baru saja selesai bercinta.


“Yuna, untuk apa kau berkerja sayang. Aku bisa memberikan apapun yang kau minta.” Jawab Azka kemudian.


“Bukan itu masalahnya Mas, aku ingin bekerja bukan hanya untuk uang. Tapi ilmu yang aku dapat di universitas akan sia-sia jika aku tidak berkerja.”


“Tidak, Yuna! Ilmu mu tidak akan sia-sia, Mama dan Papa memasukkanmu ke universitas bukan hanya supaya kau mendapat pekerjaan, tapi juga supaya kau menjadi istri dan ibu yang berpendidikan. Jadi ilmu mu tidak akan sia-sia, walaupun kau tidak bekerja. Mengerti?”


Azka menjelaskan panjang lebar pada istrinya itu, walau ia tau Yuna sangatlah keberatan dengan keputusannya, tapi Azka hanya ingin Yuna menjadi istri yang senantiasa selalu menunggu suaminya pulang dirumah, bukannya istri yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Apalagi jika suatu saat mereka dikaruniai anak, Azka tidak ingin anaknya di urus oleh pembantu.


Yuna hanya mengangguk lemah, tak ingin membantah keputusan suaminya. Azka tersenyum penuh kemenangan, ia memeluk Yuna erat kemudian keduanya sama-sama terlelap dalam mimpi yang indah.


***


tbc