At First Sight

At First Sight
Episode 33



Ny.Dania menarik Yuna keluar dari dalam toilet itu dan dengan segera keluar dari tempat berlangsungnya acara amal hari itu. Mendorong Yuna masuk kedalam mobil dan langsung meminta sang supir untuk melajukannya.


“Ibu.. Maafkan aku..”


Takut-takut, Yuna membuka suaranya ketika melihat Ny.Dania yang hanya terdiam disampingnya dengan napas memburu, pasti sedang mencoba mengendalikan atau menahan amarahnya.


“Ibu..”


Yuna mencoba meraih tangannya, namun Ny.Dania menyentakkannya.


“Aku benar-benar minta maaf.. Ibu, maafkan aku..”


Yuna mulai terisak. Sedari tadi ia sudah mencoba menahan airmata agar tak tertumpah ke wajahnya. Namun Ia tak kuat lagi sekarang. Beberapa hari yang dilaluinya sudah cukup menyulitkannya dan membuatnya tertekan. Serta kejadian tadi serta makian-makian yang diterimanya, membuat hatinya seakan teriris. Sakit hati, sebenarnya Ia tak bisa menerima tuduhan-tuduhan itu, meski Ia telah berusaha untuk mengabaikannya.


Seharusnya Ia memang bisa lebih kuat. Ia sendiri yang telah membuat dan menempatkan dirinya dalam situasi sedemikian itu.


“Wanita itu yang memulai.. Dia mencelaku, dia menuangkan anggur kedalam wajahku. Lihatlah Ibu, Wanita itu mengotori baju pemberian Ibu..”


Yuna meneruskan isak tangisnya. Sementara Ny.Dania kemudian memandangi tampilannya yang luar biasa berantakan.


Rambut panjangnya kusut acak-acakan. Sedangkan gaun sewarna bunga tulip yang dikenakan Yuna kini basah pada bagian depannya, dan meninggalkan warna kemerahan dari sisa anggur yang dituangkan Jessica kewajah Yuna.


“Dia yang lebih dulu menarik rambutku. Aku hanya melakukan perlawanan.. Aku takkan mungkin hanya diam saja dan membiarkan wanita itu menyerangku. Dia mengamuk seperti binatang hutan..”


Ny.Dania memutar mata dengan bagaimana Yuna menyebut Jessica. Wanita muda itu yang sebenarnya diinginkannya untuk menjadi tunangan putranya, bukan justru gadis belia yang berada disampingnya yang tak memiliki kesopanan dalam berbicara.


“Ibu.. Percayalah padaku. Aku tidak bermaksud membuat keributan, apalagi mempermalukan Ibu disana. Aku hanya membela diri..”


Yuna menunduk dan terisak semakin kencang. Persis seperti bocah kecil yang kehilangan mainan. Ny.Dania mendengus pada reaksi tak biasa yang ditunjukkan oleh Yuna..


“Astaga.. Hentikan tangisanmu. Kenapa kau menangis kencang seperti itu?”


Yuna menggeleng, dan malah kian terisak dengan berurai airmata. Seakan airmata yang dikeluarkannya bisa untuk menjadi perisai yang akan melindunginya.


Mungkin memang benar.


Terbukti, karna suara tangisannya dan airmata yang dikeluarkannya, Ny.Dania tak serta merta meledakkan kemarahan dihadapannya.


“Aku bahkan belum mengatakan apapun dan kau sudah menangis seperti ini.. Bagaimana aku bisa memarahimu..! Ya Tuhan..”


“Maka jangan memarahiku, Bu.. Jangan marah padaku. Maafkan aku..”


Yuna menatap Ny.Dania dengan matanya yang merah karna tangis.


“Kau tidak menangis ketika aku memarahimu. Ketika aku memakimu.. Ketika aku membentak dan berteriak kasar padamu. Kau tidak menangis karna semua itu.. Tapi sekarang, kau justru menangis sedangkan aku belum mengatakan apapun atas tontonan memalukan yang kau lakukan didepan teman temanan ku..”


“Aku sangat takut Ibu akan marah padaku..”


“Tentu saja aku marah.. Aku sangat marah. Marah besar padamu! Kau bisa membunuhku dengan kelakuanmu yang seperti itu, Yuna..! Kau tidak seharusnya menunjukkan ke-liar-an mu dihadapan teman-teman ku..”


Yuna kembali terisak-isak, dua orang wanita dalam hari itu menyebutnya liar, dan entah mengapa hatinya menjadi sakit ketika mendengarnya. Suara tangisnya yang terisak-isak terdengar hingga membuat sang supir pada mobil yang ditumpanginya memberikan sekotak tisu untuknya. Ny.Dania mendecak dan memperingatkan sang supir untuk tidak ikut campur pada apa yang sedang terjadi dibelakangnya.


“Fokuslah menyetir dan bawa aku secepatnya pulang, Pak.. Dan jangan mengurusi apa yang sedang terjadi dibelakangmu”


“Saya mengerti Nyonya..”


Kembali pada Yuna yang saat itu mulai menyeka airmatanya, membersihkan wajahnya dengan tisu pemberian sang supir, Ny.Dania melihat pada wajahnya yang memerah dan mendapati bekas cakaran pada lehernya. Gadis itu pasti sedang merasakan perih pada bagian itu dan mendadak perasaan iba, kasihan saat mengetahui hal itu membuat Ny.Dania hanya bisa menghela napas berat. Kemarahannya menguar entah kemana. Dan kemudian terdiam hingga mobil itu berhenti dihalaman rumahnya.


“Bersihkan dirimu.. Dan ganti pakaianmu. Setelahnya temui aku dan kau bisa mengetahui hukuman yang akan kau terima atas kelakuanmu yang telah mempermalukanku..!”


Yuna tak cukup responsif mendengar perintah cepat yang diucapkan Ny.Dania sebelum keluar dari dalam mobil dan meninggalkannya disana. Wanita itu tak mengulang apa yang telah dikatakannya dan justru lebih dulu masuk kedalam rumahnya. Membuat Yuna memberengut melihatnya.


Hukuman..


Apa Ibu Azka mengatakan tentang hukuman tadi?


Ya ampunn..


Yuna buru-buru mengikuti Ny.Dania masuk kedalam rumah, dan langsung mendengar suara wanita itu yang memanggil Bibi Lia untuk membawakan segelas air dingin untuknya.


Mungkin tidak hanya segelas..


Tapi Ny.Dania jelas akan membutuhkan beberapa gelas untuk dapat mendinginkan kepalanya akibat ulah yang dilakukan Yuna.


***


Jessica benar-benar merasakan kekesalan yang luar biasa saat meninggalkan acara amal yang ia hadiri bersama ibunya. Yuna dan apa yang dengan berani diucapkannya telah membuatnya kehilangan kontrol diri. Hingga membuat perkelahian itu menjadi hal yang paling memalukan yang pernah terjadi dalam hidupnya.


kesal dan marah..


menjadi dua hal yang kemudian ia bawa dalam langkah kakinya yang cepat menuju tempat parkir kendaraan untuk mengambil mobilnya.


“sungguh pertunjukan yang luar biasa, nona Jessica..”


Berbalik untuk menemukan sumber suara yang disertai dengan tepukan tangan bernada mengejek, Jessica melihat pria yang tadi mencegatnya dijalan raya, kini berdiri tak jauh darinya dengan mata mengawasi kearahnya.


“Perkelahian antara gadis yang menjadi tunangan dan bekas calon tunangan, menjadi tontonan yang seru tadi..”


“Kau..!! apa yang kau lakukan disini..!”


“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya bahwa aku memiliki penawaran untukmu.. dan anda belum mendengarnya, nona..”


“Aku tidak tertarik..!”


Terdengar bunyi bip ketika Jessica membuka kuncian pada mobilnya. berniat masuk kedalamnya dan menghindar dari pria yang akan disebutnya tak waras jika terus memaksanya. namun niatannya terhalang oleh lengan Doni yang menahan pintu mobilnya agar tak terbuka.


“Sialan.. minggir kau!!”


“Tidak.. sampai kau mendengarku..”


“Aku tidak akan berurusan dengan pria yang sama brengseknya seperti Azka..!”


“Aku bukan suruhannya..”


Jessica mengernyit mendengarnya..


“Percayalah tawaranku akan sanggup untuk membalas sakit hatimu atas apa yang telah Azka lakukan padamu..”


“Apa maksudmu?”


Doni menyeringai, mengetahui wanita itu yang mulai terpancing. sepertinya Ia masuk dalam moment yang tepat dalam diri Jessica yang sedang merasakan kekesalan pasca perkelahiannya dengan Yuna.


“ikutlah denganku.. Kita perlu mencari tempat untuk berbicara empat mata..”


***


to be continue