
Siang hari itu Azka merasa telah berada dalam puncak emosinya. Ia telah memarahi hampir semua karyawannya yang mencoba untuk menemuinya. Ruang kantornya berantakan. Berserakan berbagai kertas-kertas berisi perjanjian kerjasama yang bahkan tak lagi Ia pedulikan.
Azka juga setidaknya telah mengabaikan banyak pesan yang masuk serta panggilan telpon dari ibunya, yang jika pun Ia menghitungnya mungkin jumlahnya hampir mendekati ratusan kali sang ibu mencoba untuk berbicara dengannya. Entah itu melalui panggilan di ponsel miliknya atau melalui telpon kantornya. Namun tak sedikitpun Ia mencoba menjawabnya..
Ketika kemudian layar ponselnya yang telah memiliki baterai nyaris minus akibat deringan yang berkali-kali kembali menyala, Azka mengerang melihat nama sang ayah tertera pada layarnya.
Jika sudah berhadapan dengan sang ayah, ia jelas takkan bisa mengelak.
Maka kemudian ia menyambar ponselnya dan menyentuh layarnya untuk menerima panggilan..
“DEMI TUHAN AZKA.. APA KAU SEDANG BERNIAT MEMBUNUH MAMA MELALUI TANGISAN..!!”
Jelas bukan suara sang ayah, dan Azka langsung menjauhkan ponsel itu dari telinganya begitu mendengar sang ibu memekik dengan teriakan yang ditujukan padanya.
“Apa yang sedang kau lakukan dikantormu? Kau meniduri gadis belia lain disana? Demi Tuhan Mama akan membunuhmu jika kau berani melakukannya..!”
Azka menarik frustasi rambutnya mendengar kata-kata kasar dari ibunya yang bertujuan sebagai ancaman untuknya.
“Ya Tuhan, Mama.. Apa sih yang Mama katakan? Aku memiliki banyak rapat hari ini, maka tidak mungkin aku sempat meniduri seorang wanita pun. Meski aku sedang ingin melakukannya..”
Azka membalas dengan kemarahan yang sama pada ibunya..
“Apa yang Mama inginkan dariku, sekarang..!?”
“Yuna, Azka.. Dimana Yuna? Apa dia bersamamu? Apa dia mendatangimu.. Katakan pada Mama kau sedang bersama dengannya sekarang. Iya kan.. Kalian sedang bersama..?”
Azka mengernyit mendengarnya..
“Apa maksud Mama? Aku tak mengerti..”
“Jadi dia tidak disana? Kau tidak bersama Yuna? Kalian tidak bersama-sama sekarang?”
“Tidak Ma.. Aku sedang berada dikantor”
“Ya Tuhan.. Bagaimana ini.. Dimana dia, Azka.. Dimana Yuna sekarang?”
Azka kemudian justru mendengar suara isakan tangis dari ibunya.
Tapi kenapa?
Apa yang terjadi?
“Mama.. Apa yang…”
“Yuna, Azka.. Yuna tidak ada ketika Mama menjemputnya ditempat kelas kepribadian yang diikutinya. pengajarnya bahkan mengatakan Yuna tidak datang. jelas-jelas supir mengantarnya tadi.. Dimana dia? Kemana dia pergi..?”
Yuna pergi?
Azka terdiam mendengarnya..
Jadi gadis itu pergi..
“Ada apa dengan kalian? Kau bertingkah dengan mabuk seperti remaja.. Dan Yuna, kenapa dia tiba-tiba pergi? Itu pasti memiliki alasan.. Dia telah bersikap aneh di pagi tadi.. Ya Tuhan, seharusnya aku menyadarinya”
“Dia mungkin kembali ke rumahnya..”
Ucap Azka santai. Kemana lagi gadis itu bisa pergi jika bukan kembali ke rumahnya..
“Mama tidak akan repot-repot menghubungimu ratusan kali jika dia berada disana. Mama telah mencari dirumahnya tapi Yuna tak berada disana. Dan bahkan aku telah berkeliling dengan supir untuk mencarinya.. Tapi Yuna, dia tidak ada.. Kemana dia pergi, Azka? Seharusnya dia memberitahu seseorang dan itu pasti kau..?”
Azka menggeleng tak sadar ibunya tidak akan mengetahui responnya.
“Kau tahu kan kemana dia pergi?”
“Aku tidak tahu, Ma.. Aku tidak tahu..”
Azka kembali meremas rambutnya..
“Kalau begitu kau harus menemukannya.. Temukan dia, Azka.. Bagaiamana jika sesuatu terjadi padanya. Ya Tuhan.. Yuna mungkin memang sedang ha…”
“Aku pulang sekarang..”
Azka memotong kalimat sang ibu dan langsung mengakhiri pembicaraan. Menelpon sang supir untuk menyiapkan mobil, dan lantas bergegas keluar dari dalam ruangannya.
Didalam lift khusus yang dipergunakannya untuk turun mencapai lobi, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini panggilan dari seorang agen..
“Simpan apapun informasi yang ingin kau sampaikan. Aku tak ingin mendengar apapun sekarang..”
Azka mencegat bahkan sebelum sang agen yang disewanya sempat berbicara.
“Tapi Tuan, ini sangat..”
Azka mengerang..
“Kau bekerja atas perintahku.. Maka diamlah. Aku tak membutuhkan informasi apapun sekarang!”
Azka menutup ponselnya begitu saja. Kepalanya telah dipenuhi dengan banyak hal dan terutama Yuna. Ia merasa tidak akan bisa lagi menampung informasi apapun itu yang ingin disampaikan sang agen padanya.
Keluar dari dalam lift, Azka melangkah dengan cepat untuk menaiki mobilnya dan meminta sang sopir menyegerakan lajunya. Azka akhirnya melompat dari dalam mobil setelah beberapa menit menempuh perjalanan menuju rumahnya. Ia berlari saat masuk kedalamnya..
“Mama.. Mama..!!”
Ia tak melihat sang ibu tertangkap oleh pandangan matanya..
Mama..”
Sang ayah yang kemudian muncul dan menghampirinya..
“Apa yang terjadi, Pa..?”
“Mama mu mengatakan Yuna menghilang.. Dia tidak ada dalam kelas saat Mamamu menjemputnya. Mama mu telah mencarinya kemana-mana, dia luar biasa panik dan sampai melapor pada polisi. Namun polisi belum dapat memproses laporannya. Dia pulang dalam keadaan pucat dan terus menangis..”
Tn.Rian menjelaskan..
“Aku juga telah meminta beberapa orang untuk mencarinya.. Kau benar tidak tahu kemana dia pergi?”
Azka menggeleng..
Jadi gadis itu benar-benar pergi setelah Ia mengatakan mengusirnya dari dalam rumahnya..
“Kupikir dia pulang ke rumahnya..”
“Tidak.. Mamamu sudah kesana dan tidak menemukannya. Apa sesuatu terjadi? Kalian memiliki masalah?”
“Aku akan melihat Mama, Pa..”
Azka tidak menjawab, dia lebih memilih menghindar dari pada mengatakan suatu kebohongan pada sang ayah.
Dengan langkah lebar ia menaiki puluhan anak tangga untuk mencapai kamar yang sebelumnya bahkan semalam masih menjadi milik Yuna.
Dengan keadaan pintu kamar yang terbuka, didalamnya ia langsung dapat melihat sang ibu yang berada diatas tempat tidur, meringkuk sambil memeluk bantal tidur dan selimut yang biasanya dipakai oleh Yuna. Ibunya terisak..
Bagaimana bisa?
Bagaimana ibunya sampai bereaksi seperti itu..
“Ma..”
Ny.Dania langsung mendongak begitu mendengar suara Azka yang memanggilnya.
“Azka..”
Matanya merah, sembab karna tangis.
“Azka.. Apa kau datang bersama Yuna? Kau membawanya? Kau sudah menemukannya?”
Ny.Dania beranjak turun dari atas tempat tidur dan langsung mencari-cari keberadaan Yuna dibelakang Azka, namun Ia tak menemukannya.
“Dimana Yuna? Dimana dia, Azka..!”
“Mama.. Kenapa kau menjadi berlebihan seperti ini?”
“Berlebihan katamu..? Mama mengkhawatirkan gadis yang menjadi tunanganmu dan kau pikir itu berlebihan.. Hah?! Yang benar saja, pria macam apa kau ini..”
Sang Ibu mendorong dada Azka dan berbalik. Kembali ke tempat tidur, Ia meraih bantal tidur Yuna dan mendekapnya saat kemudian mendudukan tubuhnya dipinggir tempat tidur..
“Yuna mungkin hanya berjalan-jalan saja, Ma..”
Azka mengatakannya meski ia tahu bukan seperti itu apa yang sebenarnya.
Kenyataannya adalah Yuna benar-benar pergi karna dirinya yang memang telah mengusirnya.
Azka hanya masih bingung bagaimana harus menjelaskannya. Ia juga tak mengira ibunya akan menjadi sepanik itu dan bahkan menangisi kepergian gadis belia itu..
Bagaimana bila ia menceritakannya dan membuat sang ibu tahu mengenai apa yang dilakukan Yuna dengan rencana menghancurkannya.
Akankah sang ibu masih akan menangisi kepergiannya..?
Ahh..
Azka benar-benar merasa tak menginginkan ibunya untuk mengetahui tentang semua itu.
Atau dia akan merasakan kekecewaan dan sakit hati yang sama seperti apa yang dirasakannya.
“Ini baru beberapa jam saja Ma, jangan menjadi berlebihan seperti ini..”
Ny.Dania kembali menatap Azka dengan tatapan tidak percaya..
“Kenapa kau bisa sesantai itu?”
Tidak..
Sesungguhnya tidak..
Ia bahkan telah lupa bagaimana menjadi santai sejak peristiwa semalam. Azka tidak merasa santai menghadapi kekecewaannya terhadap apa yang coba dilakukan Yuna padanya.
Ia bahkan telah merasa kacau..
“Disaat seperti ini aku menjadi menyesal mengapa aku mengambil ponselnya. Aku seharusnya bisa menghubunginya atau dia yang menghubungiku.. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Ya Tuhan.. Aku tak berpikir sampai sejauh itu sebelumnya.”
Azka melihat ibunya yang masih jelas memiliki gurat kekhawatiran diwajahnya, kemudian berdiri dari duduknya dan meletakkan bantal yang sedari tadi berada dalam dekapannya kembali ke tengah tempat tidur.
“Bagaimana jika dia benar-benar pergi, Azka? Ya Tuhan.. Kurasa gadis itu benar-benar pergi, dia pergi karna aku.. Aku mengatakan padanya untuk tidak hamil. Tapi dia jelas sedang memiliki janin itu didalam perutnya..”
Azka melebarkan mata mendengar apa yang baru dikatakan ibunya.
***
to be continue