At First Sight

At First Sight
Episode 114



“Azka.. Azka..!!.. Kau tidak akan bangun..!?”


Ny.Dania mengetuk hingga menggedor-gedor pintu kamar Azka. Namun masih tak ada sahutan dari dalamnya..


“Mama tidak bisa menghubungi Yuna. Dia tidak membawa ponselnya. Ponsel Jena juga tak bisa dihubungi. Kau bilang akan menjemput Yuna kan? Cepatlah, Mama sudah siap. Mama akan ikut denganmu..”


Kesal tak juga mendapat jawaban, Ny.Dania langsung masuk kedalam dan seketika melebarkan mata mendapati Azka tertidur dilantai kamarnya. Dengan dua botol anggur tergeletak disampingnya.


“Ya Tuhan..”


Ny.Dania dengan segera menghampirinya..


“Apa yang kau lakukan? Azka.. Bangunlah..”


Azka hanya melenguh saat sang ibu terus mengguncang-guncangkan tubuhnya.


“Azka..! Bangun.. Bangun atau Mama akan mengadukan ini pada Papamu. Azka..!”


“Ma.. Kenapa Mama begitu berisik..”


Erangnya yang justru mendapat pukulan telapak tangan di bahunya dari sang ibu.


“Mama..!!”


“Bangun atau Mama akan panggilkan Papamu..”


Ancaman itu berhasil membuat Azka bangkit, dan langsung didorong masuk ke dalam kamar mandi oleh sang ibu.


Tak sampai satu jam setelahnya, Azka telah mengendarai mobilnya bersama dengan sang ibu yang memaksa ikut dengannya.


Perjalanan menuju villa Arkhan yang memakan waktu lebih dari satu jam, namun berakhir sia-sia manakala disana tak ada siapapun kecuali seorang penjaga villa yang mengatakan Arkhan dan tiga orang tamunya (yang dimaksud pastilah Yuri, Yuna dan Jena) telah pergi sejak pagi-pagi tadi.


“Kau dimana?”


Azka tak melakukan basa-basi saat kemudian menghubungi Arkhan melalui ponselnya..


“Kau mencariku?”


“Katakan, kau dimana sekarang?”


Azka sedikit menggeram mendengar disebrang sambungan ponselnya, Arkhan justru terkekeh dengan begitu santainya..


“Aku dirumah Yuri.. Mereka memaksa pulang, jadi aku mengantarkan mereka”


“Kenapa tidak memberitahuku..”


Azka tak menunggu Arkhan memberi jawaban. Ia memutus sambungan ponselnya dan dengan segera melajukan mobilnya..


“Azka, dimana mereka?”


“Yuna pulang ke rumahnya”


“Rumah yang itu?”


Ny.Dania teringat pada kejadian saat dirinya dengan terpaksa menjemput Yuna dirumahnya, (betapa rumah itu terlalu kecil untuk ditinggali) dan membawanya pulang kerumahnya, dengan tujuan mendidiknya, setelah ia merasa tak terima ibu Jessica menjelek-jelekkan Azka dan mengait-ngaitkan ketidak mampuannya mendidik sang putra hingga menyebabkan Azka bertingkah seperti seorang ******** yang mengkhianati Jessica dan justru memilih wanita rendahan seperti Yuna sebagai tunangannya.


“Apa yang Mama pikirkan?”


Pertanyaan Azka menyentak pemikiran Ny.Dania, dan membuatnya sedikit tergugup menjawabnya..


“Bukan apa-apa, hanya menyetirlah.. Mama ingin secepatnya bertemu Yuna”


Sampai akhirnya Azka menghentikan laju mobilnya dijalanan yang berada tak jauh dari rumah Yuri, Ny.Dania lah yang lebih dulu keluar dan langsung melangkah cepat menuju rumah itu.


“Yuna.. Kau didalam? Ini aku sayang, buka pintunya.. Yuna..”


Ketika pintu didepannya yang sebelumnya ia ketuk, kini terbuka dan memperlihatkan Yuna yang berada dibaliknya terkejut melihatnya, Ny.Dania tersenyum sekaligus nyaris menangis dan langsung memeluknya..


Ya Tuhan..


“Nyonya..”


“Yuna, kau baik-baik saja?”


Yuna mengangguk dalam pelukan wanita itu..


“Kenapa kau tidak pulang? Kenapa berada disini?”


Ny.Dania telah melepaskan pelukannya dan berganti meraih tangan dan menggenggamnya..


“Maafkan saya Nyonya.. Tapi..”


“Kenapa memanggilku seperti itu? Aku tidak menyukainya.. Sudahlah, tidak perlu berpura-pura lagi, kakakmu sudah tahu semuanya kan? Suka tidak suka, dia harus menerimanya..”


Yuna tak bisa memberikan tanggapan pada kalimat penuh ketegasan yang diucapkan wanita itu dihadapannya. Terlebih ia telah menyadari sedari tadi Azka terus menatapnya, meski pria itu masih belum mengeluarkan suara.


Oh..


Betapa ia sangat ingin memeluknya, kemudian menangis didadanya seperti yang seringkali dilakukannya.


Ia ingin tangan pria itu mengusap rambutnya dan mengucapkan sesuatu yang dapat menenangkannya dan mengurangi kesedihan yang dirasakannya.


Tapi..


Ia tak lagi berhak mendapatkan perhatian seperti itu, terlebih setelah berulang kali keegoisan yang diambilnya.


Yuna menggeleng, kemudian menundukkan wajahnya tak berani menatap wajah Ny.Dania.


“Aku harus bersama kakak ku..”


“Bukan masalah, kakakmu bisa ikut denganmu”


Yuna menggeleng, buliran airmatanya menetes tanpa bisa ia cegah.


Tuhan..


Mengapa ia begitu mudah menangis?


Mengapa airmatanya tak juga habis?


Ia sudah sangat lelah terus dan terus menangis seperti ini..


“Maaf Bu.. Aku.. Aku tak bisa. Aku ingin bersama Kak Yuri dan mengakhiri semuanya. Aku.. Aku minta maaf. Maafkan aku, Ibu.. Aku bukan gadis yang baik. Aku egois dan hanya bisa menyusahkan kalian.. Maaf..”


Yuna kembali merasakan pelukan wanita itu ditubuhnya dan tangan yang mengusap-usap punggungnya..


“Tidak apa-apa, Yuna.. tidak apa-apa. Aku mengerti.. Jadi kau ingin berada disini bersama kakakmu? Baiklah, kau bisa melakukannya. Apa kau ingin aku mengirim pakaian-pakaianmu kemari? Tidak semuanya, mungkin sebagian. Karna aku sangat yakin kau tidak memiliki lemari yang cukup untuk menempatkan semuanya”


“Mama..!”


Azka menggeram mendengarnya. Bagaimana bisa ibunya justru tak berkeberatan dan terkesan mendukung keinginan gadis itu. Sementara dirinya sudah membayangkan ibunya akan memaksa Yuna untuk kembali kerumahnya. Karna itu ia diam saja dan membiarkan ibunya melakukannya. Karna biasanya gadis itu tak akan bisa membantah apa yang dikatakan oleh ibunya. Tapi mengapa sang ibu justru bersikap lunak terhadap Yuna.


Bukan hanya Azka yang tercengang mendengar sang ibu mengatakannya. Tapi juga Yuna. Ia merasa sedikit tak yakin dengan pendengarannya. Ketika melihat wanita itu berdiri didepan pintu rumahnya tadi, ia bahkan telah menguatkan hati, mempersiapkan diri untuk menerima amuk kemarahan atas apa yang telah diputuskannya.


Tapi wanita itu, ibu Azka justru memeluk dan sama sekali tak menunjukkan ada amarah diwajahnya.


“Dimana kakakmu? Biar aku bicara dengannya.. Aku akan memintanya untuk tetap memperbolehkanmu berkuliah.. Kau tidak akan mengatakan kau ingin berhenti dari sana kan?”


Yuna masih tidak yakin. Ia ingin terus berkuliah dan sekaligus ingin berhenti diwaktu yang bersamaan. Ia ingin mengejar impiannya menyandang gelar sarjana dibelakang namanya, namun tak ingin terus merepotkan keluarga Azka, sementara ia justru telah menjadi gadis tak tahu diri dengan meminta mengakhiri hubungannya setelah begitu banyak bantuan yang diterimanya.


“Kakakmu tidak ada?”


Ny.Dania sedikit melongok keadaan didalam yang nampak sepi..


“Kak Yuri berada disupermarket membeli beberapa keperluan bersama Jena dan Kak Arkhan..”


“Siapa?”


“Kak Arkhan.. dia teman Kak Yuri”


Yuna pasti tak menyadari saat Azka memutar mata mendengarnya.


Apa yang telah terjadi diantara gadis itu dan Arkhan?


Mengapa dia terlihat begitu nyaman memanggil pria itu dengan sebutan Kakak?


Pertanyaan itu mengusiknya, Azka baru saja ingin bersuara namun sang ibu lebih mendahuluinya..


“Kalau begitu nanti katakan pada kakakmu kau akan tetap menjalani kuliahmu. Aku akan pulang dan mengemas beberapa pakaianmu. Katakan pada Jena untuk pulang dan mengambilnya nanti. Dan ini tas mu, ponselmu ada didalamnya.. Pastikan untuk terus aktif, karna aku akan sering menghubungimu..”


Ny.Dania tersenyum, mengusap pipi Yuna sebelum kemudian menarik tangan Azka agar mengikutinya..


“Mama, apa yang Mama lakukan? Kenapa membiarkan gadis itu berada disana? Mama seharusnya memaksanya pulang..”


Protes Azka tak terima dengan keputusan ibunya..


“Jangan cerewet.. Mama hanya membuat keputusan yang mempermudahnya. Situasinya pasti akan semakin sulit bila Mama bersikap keras padanya. Kau tidak lihat betapa kacaunya wajahnya? Dia sudah cukup tertekan. Biarkan dulu dia dengan keinginannya..”


“Tapi dia sudah terlalu sering mendapatkan keinginannya, Ma..”


“Beri dia satu kali lagi..”


“Mama..!”


“Ayo pulang.. Mama memiliki pekerjaan mengemasi pakaian-pakaiannya..”


Azka hanya bisa terus mengerang kesal saat sang ibu menariknya dan tak membiarkannya untuk berbalik pada Yuna dan memaksa gadis itu agar ikut dengannya.


***


Keberadaan Yuna dirumahnya, nyatanya memunculkan berita-berita yang sebelumnya sama sekali tak diduga olehnya. Dua hari ia berada disana, telah muncul headline dari sebuah surat kabar yang mengatakan putusnya pertunangannya dengan Azka.


Oh..


Darimana mereka mengetahuinya?


Tak sampai disitu saja, karna berita-berita serupa atau malah bisa disebut lebih parah, muncul dengan berbagai judul yang salah satunya menyebutkan Yuna didepak dari rumah Azka setelah kedapatan melakukan perselingkuhan. Lengkap dengan beberapa foto yang kemudian membuat Yuna tersentak tak percaya.


Kapan seseorang mengambil fotonya bersama dokter Fariz? Dan dimana mereka mendapatkannya?


Sial..


Apa yang kemudian dipikirkan Azka saat melihat fotonya??


***


To be continue