
Setelah mobil Azka menghilang dari pandangannya, Yuna bergegas masuk kembali kedalam rumah. Semenjak menikah Yuna memang tak memiliki banyak kegiatan, terkadang ia bosan, ingin rasanya ia kembali bekerja namun apa daya Azka tak mengizinkannya.
“Yuna, kau bersiaplah. Kita akan kerumah sakit.”
Ucapan bernada perintah itu keluar dari mulut Ny.Dania sang mertua.
“Siapa yang sakit Ma?” tanya Yuna heran.
“Tidak ada yang sakit, kita akan menemui dokter kandungan.” Jawab Ny Dania. Duh, apalagi rencana ibu mertuanya ini.
“Untuk apa Ma, aku kan sedang tidak hamil?”
“Justru karena kau belum hamil, kau harus melakukan program kehamilan dari dokter kandungan.”
Yuna menganga tak percaya mendengar penuturan ibu mertuanya itu, program hamil dari dokter kandungan? Ah, yang benar saja!
“Tapi Ma, aku masih yakin bisa hamil tanpa harus melakukan program hamil?” Yuna mencoba memberikan pendapatnya. Ia tidak mau sampai-sampai urusan kehamilan harus di atur oleh ibu mertuanya.
“Ini sudah tiga bulan semenjak kau menikah dengan Azka, Yuna. Dan kau belum hamil juga, kau mau tunggu apa lagi? Kau mau tunggu aku atau Papa mertuamu mati dulu baru kau akan memberikan kami cucu?”
Oh, astaga... mengapa mulut tajam ny.dania dari dulu tidak pernah berubah.
“Bu..bukan begitu Ma.. aku...”
Yuna tersedak dengan ludahnya sendiri, kata-kata ny.dania seakan menusuk jantungnya.
“Sudahlah jangan banyak sekali alasan, cepat ganti bajumu kita akan segera berangkat.”
“Baiklah Ma, tunggu sebentar.”
Yuna yang pasrah, hanya bisa menuruti perintah sang mertua. Tidak ada gunanya membantah nyonya besar itu, karena hanya akan berakhir sia-sia, karena Yuna tak ingin mendengar kata-kata tajam lainnya keluar dari mulut wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri itu.
***
Sepulang dari dokter kandungan bersama ny.dania, Yuna merasa benar-benar tidak bergairah sama sekali. Berbeda dengan sang mertua yang begitu bersemangat.
Dokter telah melakukan pemeriksaan dan hasilnya, Yuna dalam keadaan subur. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya perlu bersabar menunggu titipan ilahi. Namun bukan ny.dania namanya jika harus pasrah dan melakukan usaha apapun. Ia tetap meminta program hamil agar menantunya tersebut segera memberinya cucu.
Dokter kemudian memberikan beberapa vitamin, kemudian daftar makanan yang harus dikonsumsi dan yang harus dihindari, tak lupa pula resep obat herbal penyubur kandungan. Dan yang paling membuat Yuna terkejut adalah sang dokter juga memberikan jadwal berhubungan intim yang dapat mempercepat kehamilan. Yuna tak habis pikir sampai berhubungan intim pun harus di atur juga.
“Ini, minumlah.”
Ny.dania menyodorkan segelas ramuan herbal kepada Yuna.
“Ramuan herbal, yang diresepkan oleh dokter tadi. Mama membuatnya sendiri, minumlah.”
Yuna menerima gelas tersebut dengan tangan bergetar, Ramuan apa ini? Gimana rasanya ya? Batin Yuna menatap horor kedalam gelas berisi ramuan berwarna coklat tersebut.
“Ayo cepat minum.” Perintah sang mertua.
“Gimana rasanya Ma?”
“Cerewet sekali, minum saja baru kau tau gimana rasanya.”
Yuna akhirnya meminum ramuan itu dengan susah payah. Ya ampun, rasanya pahit sekali.
“Mulai hari ini kau harus rutin minum ramuan itu setiap hari. Supaya kau cepat hamil.” Kata ny.dania kemudian mengambil gelas kosong dari tangan Yuna.
“Tapi Ma...”
“Tidak ada bantahan, Yuna!”.
Oh... Yang benar saja, Yuna harus menyiksa diri dengan meminum ramuan pahit itu setiap hari sampai ia benar-benar hamil. Ya Tuhan, Yuna tak dapat membayangkan nya.
“Jangan lupa, vitamin yang diberikan dokter tadi minum lah tiga kali sehari.”
“Baik Ma.”
Ny Dania keluar dari kamar Yuna, dalam hati wanita paruh baya tersebut selalu berdoa semoga usahanya ini cepat membuahkan hasil. Ny Dania tidak perduli harus repot-repot membantu Yuna menjalankan program hamil, sampai ia sendiri harus turun ke dapur untuk membuatkan ramuan penyubur kandungan untuk menantunya. Bahkan ia tak peduli akan di omeli lagi oleh suaminya karena berada di dapur, yang terpenting ia berharap bisa segera menggendong cucu dari putra semata wayangnya itu.
***
Yuna melirik jam yang ada di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, ini artinya suaminya akan segera pulang. Ia segera turun kebawah untuk menunggu Azka, ini sudah menjadi kebiasaan Yuna setelah menikah.
Yuna mendengar suara mobil berhenti dihalaman rumah, yuna segera berlari keluar. Ia tersenyum melihat Azka keluar dari mobil dan Yuna langsung menyambutnya.
“Akhirnya Mas pulang juga.”
Yuna mengambil alih tas kerja yang ada ditangan Azka.
“Kenapa, kau rindu padaku?” tanya Azka, sambil menggandeng tangan istrinya, bersama masuk kedalam rumah.
“Sabar sayang, nanti kalau aku sedang tidak sibuk, aku akan mengajakmu jalan-jalan.” Kata Azka sambil membelai pipi istrinya.
Yuna yang mendengar nya langsung kegirangan.
“Benarkah Mas?” tanya Yuna antusias. Dan di balas anggukan dan senyum manis Azka.
“Senangnya....” sangking senangnya Yuna memeluk erat Azka dan mencium pipi suaminya berkali. Azka hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
“Ayo kita kekamar, mas mandi dulu lalu kita makan malam bersama.”
***
Tepat pukul delapan malam, Yuna dan Azka makan malam bersama dengan kedua orang tua mereka, seperti biasa. Mereka tak banyak bicara saat makan, hanya beberapa obrolan ringan saja.
Setelah makan malam selesai, Yuna membantu bibi Lia membereskan meja makan. Meskipun sudah dilarang, Yuna tetap memaksa melakukannya, dengan alasan tubuh nya terasa tidak sehat jika tak mengerjakan apapun.
“Yuna, kau ingatkan jadwal yang diberikan dokter tadi?” kata Ny Dania yang tiba-tiba menghampirinya, membuat Yuna menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada mertuanya itu.
“Iya Ma aku ingat.” Jawab Yuna cepat, sejujurnya ia sedikit malu jika ibu mertuanya membahas masalah ini.
“Pastikan malam ini kalian melakukannya, ini waktu yang bagus karena kau sedang dalam masa subur.” Kata Ny Dania menggebu-gebu.
Oh lihat lah wajah Yuna yang memerah seperti kepiting rebus, bagaimana tidak malu rasanya, sampai hal pribadi begitu mertuanya harus ikut campur.
“Yuna, kau mendengarkanku kan?” tanya Ny Dania, melihat Yuna yang hanya diam saja.
“Iya, Ma. Akan aku usahakan.” Jawab Yuna pasrah.
“Ya sudah, cepatlah naik ke kamarmu dan temani suamimu, biarkan bibi Lia yang mengerjakan tugasnya.” Perintah Ny. Dania dan Yuna hanya menurut saja tanpa membantah.
****
Yuna masuk ke kamarnya, namun tidak menemukan Azka disana. Yuna berpikir mungkin Azka ada di ruang kerjanya, ia langsung menuju kesana. Dan benar saja, Azka sedang berada disana dengan setumpuk berkas di hadapannya.
“Mas, kau sibuk?”
Azka langsung mengalihkan perhatiannya pada pemilik suara indah itu, Azka tersenyum melihat istrinya yang sedang berjalan kearahnya.
“Tidak sayang, aku hanya memeriksa beberapa berkas.” Jawab Azka, Dan Yuna hanya ber oh ria.
“Ada apa? Ada sesuatu yang kau inginkan?” tanya Azka saat melihat raut wajah istrinya yang sepertinya menginginkan sesuatu. Yuna Hanya menggeleng sebagai jawaban.
Azka tak puas dengan Jawa sang istri, laki-laki tampan itu bangkit dari kursinya kemudian menghampiri Yuna yang duduk di sofa. Azka duduk di samping Yuna, ia menangkup wajah Yuna dengan kedua tangannya.
“Ada apa?”
Kembali Azka bertanya, dan Yuna hanya diam. Azka merasa ada yang mengganjal dihati istrinya, bisa Azka lihat dari wajah Yuna yang seperti kebingungan.
“Katakan, apa yang membebani pikiranmu. Apa Mama mengatakan sesuatu padamu?”
“Tidak sayang, aku hanya ingin...” Yuna menggantungkan kata-katanya.
‘Ya Tuhan, kenapa sulit sekali mengatakannya'
Bagaimana mungkin Yuna berani mengatakan keinginannya itu, pasalnya selama menikah Yuna tidak pernah meminta duluan, Azka lah yang selalu memulai duluan, bagaimana mungkin malam ini Yuna yang harus mengajak Azka melakukan itu, duh memalukan sekali.
“Ingin apa sayang?” tanya Azka yang semakin bingung Dena tingkah istrinya.
“Hanya ingin memelukmu.” Yuna spontan menenggelamkan wajahnya di dada sang suami. Azka hanya terkekeh melihat kelakuan Yuna, ia kemudian mengecup kening istrinya.
Yuna yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, memulai aksinya menggoda Azka dengan duduk di pangkuan Azka, kemudian mencium bibir Azka. Awalnya Azka kaget dengan perlakuan Yuna, karena tak biasanya Yuna begini. Namun seketika ia mengerti apa yang diinginkan istrinya itu.
Yuna melepaskan ciumannya di bibir Azka, ia menunduk malu atas apa yang dilakukannya.
“Kenapa tidak bilang dari tadi bahwa kau ingin...”
“Mas...” Yuna memukul pundak Azka karena merasa malu.
“Tidak usah malu sama suami sendiri.” Kata Azka seolah mengerti yang dirasakan Yuna.
“Mau disini atau dikamar?” tanya Azka menggoda.
Yuna menjawab dengan isyarat, Azka yang mengerti langsung menggendong Yuna ala bridal style, membawanya ke kamar mereka.
***
to be continued