
Satu jam kemudian Yuna masih berdiri mondar-mandir, gelisah didepan cermin sebuah meja rias besar yang berada dikamarnya.
Ia heran, siapa sebenarnya yang dulunya menempati kamar itu. Mengapa semua perabot untuk wanita berada didalamnya.
Apakah kamar yang saat itu ditempatinya sengaja telah disiapkan untuk Jessica..?
Entahlah..
Yang jelas bukan itu yang menjadi pokok utama sumber kegelisahannya.
Yuna gelisah untuk kembali bertemu dengan Ibu Azka.
Wanita itu benar-benar membuatnya menunjukkan kengerian ketika berhadapan dengannya.
“aduhhh,, bagaimana ini?..”
Yuna berkali menatap kearah cermin. Miris dengan tampilannya yang sama sekali tidak merefleksikan kelayakan sebagai seseorang yang menempati kamar super mewah menurut nya.
Ia kacau dan terlihat bertambah buruk dengan pakaian tidur yang dikenakannya..
Astaga..
Sebelumnya ia tak pernah risau dengan bagaimanapun tampilannya.
Tapi untuk saat itu, Ibu Azka sudah pasti akan mendelik ketika melihatnya..
“Apa yang harus kulakukan..?”
Yuna kembali membuka lemari pakaiannya dan entah sudah untuk yang keberapa kalinya Ia melakukannya. Yang jelas terlihat, Ia tak menemukan sesuatu yang layak untuk bisa membuat Ibu Azka tidak mendecakkan lidah kearahnya.
“Yuna.. Kau sudah selesai? Semua sudah menunggumu untuk makan malam..”
Menghela napasnya dengan berlebihan, Yuna kembali menjauh dari lemari pakaiannya, pasrah pada celana tidur dan kaos longgar yang yang saat itu dikenakannya.
Membuka pintu kamarnya dan mengatakan Ia akan segera turun pada Bibi Lia, Yuna justru merasakan bibi Lia meraih tangannya dan memintanya untuk turun bersamanya.
Sang Bibi mungkin melihat kegelisahan dimatanya, dan tak yakin bila dirinya akan segera turun untuk bergabung pada makan malam seperti yang dikatanya.
“bibi..”
“ayolah, Yuna.. Apa yang kau takutkan? Kau sudah menjadi bagian dari keluarga ini.. Kau tunangan Tuan muda Azka, kau harus membiasakan dirimu”
Yuna sangat ingin meneriakkan bila dirinya tak menginginkan pertunangan itu, namun Ia tidak bisa melakukannya.
Bayangan Yuri kakak nya dan apa yang dikatakan Doni padanya masih terus terngiang olehnya.
Mengingat Doni, Yuna lantas teringat bila dirinya belum memberitahukan keberadaanya dirumah Azka pada pria itu.
“bibi, tunggu sebentar..”
Melepaskan tangan Bibi Lia yang memegangi tangannya, Yuna kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Mencari koper miliknya untuk menemukan ponsel yang sempat ia masukkan kedalamnya..
“yuna, Apa yang kau cari?”
Bibi Lia menghampirinya..
“Aku mencari ponselku.. Aku membutuhkannya untuk menghubungi Mas Doni..”
“Oh.. Kau tidak akan menemukannya. Ponselmu ada pada Nyonya..”
“Apa maksud bibi?”
Bibi Lia mengatakan saat Yuna mandi dipagi tadi , ketika Ia membereskan koper milik Yuna dan memasukkan pakaian kedalamnya, Ny.Dania masuk dan memintanya untuk mengambil ponsel milik Yuna dan memberikan itu padanya.
“Maafkan aku Yuna, tapi aku tak bisa menolaknya.. Aku harus melakukan apa yang Ny.Dania perintahkan”
Yuna terduduk lemas diatas tempat tidur. Bagaimana bisa ibu Azka melakukan itu padanya?
Ia telah melewati batasnya..
Seharusnya Ia tak memasuki area privasinya dengan mengambil ponsel yang menjadi barang pribadinya.
Yuna mulai menyadari, pada akhirnya Ia mungkin hanya akan dijadikan tawanan didalam rumah itu..
“Kau ingin menghubungi Doni”
yuna mengangguk..
“Biar aku nanti yang akan mengatakan padanya tentang keberadaanmu disini. Jangan khawatir, setelah makan malam aku akan langsung pulang.. Kau ingin menitipkan pesan pada putraku?”
Yuna menggeleng..
Dan hanya mengucap terimakasih pada ahjumma lee yang akan mengatakan pada Donghae jika dirinya berada dirumah Azka. Setidaknya Ia hanya ingin Doni mengetahuinya. Dan selanjutnya, Yuna tak tau apa yang akan dilakukannya. Ia akan menunggu Doni untuk memikirkannya..
“Kalau begitu, ayo kita turun..”
Bibi Lia kembali meraih tangan Yuna dan membawanya keluar dari dalam kamarnya. Ia melangkah lebih dulu, sementara Yuna mengikuti dibelakangnya.
Mendekati meja makan, Yuna sudah mulai menunduk menyadari tatapan semua yang berada disana kemudian terarah padanya.
Azka mengernyit..
Tn.Rian tersenyum..
Dan Ny.Dania menghembuskan napas berlebihan, mendecak dan menggelengkan kepala melihatnya..
“Selamat malam..”
Yuna menyapa, membungkuk pada Tn.Rian yang kemudian mengangguk dan mempersilahkannya untuk duduk disebelah Azka.
“selamat malam Yuna ya.. Bagaimana hari pertamamu dirumah ini?”
Ny.Dania kembali mendecakkan lidah mendengarnya, namun Tn.Rian menghiraukannya..
“Saya.. Saya..”
“Kurasa Yuna menikmatinya, pa.. Aku melihatnya sedang merangkai bunga-bunga kesukaan mana.. mama pasti yang sudah mengajarinya”
Yuna kembali merasakan kekesalannya pada Azka. Bukan itu yang ingin dikatakannya pada Tn.Rian, melainkan Ia ingin mengatakan ketidak nyamanannya saat berada dirumah itu juga perasaan tertekan yang dirasakannya.
Astaga..
Ia bahkan baru sehari berada disana, dan Ia telah merasa tertekan..
Bagaimana ia akan menjalani hari-hari selanjutnya.
Yuna merasa ngeri bahkan hanya sekedar untuk membayangkannya..
Tn.Rian pasti tak menyadari sang istri yang sama sekali tak menunjukkan wajah senangnya atas apa yang dikatakannya.
Ny.Dania justru sedang menahan diri untuk tidak mengatakan pada sang suami atas kelakuan putranya bersama dengan gadis itu yang kembali dilihatnya tadi.
“Tidak bisakah kita hanya makan sekarang..”
Ny.Dania benar-benar tidak menanggapi, yang dilakukannya kemudian adalah mengambilkan semangkuk nasi untuk suaminya beserta makanan yang lainnya yang telah tertata diatas meja.
Yuna terdiam tak berniat mengambil apapun yang berada dihadapannya untuk dimakan..
“Kau tidak makan?”
Azka mencondongkan tubuhnya kearah Yuna dan berbisik ditelinganya. Membuat Yuna sedikit terkejut dengan apa yang dilakukannya..
“Aku tidak akan bisa menelan..”
Azka menahan diri untuk tidak tertawa mendengarnya..
“Ck! Bisakah kalian tidak bersuara saat sedang makan!”
Ny.Dania memperingatkan..
“Nyonya.. Saya ingin bicara pada anda..”
Ny.dania menatap kesal kearah Yuna. Benar-benar tidak suka ketika ucapannya diabaikan..
“Kau tidak mendengar apa yang kukatakan tadi..?”
“Tapi Nyonya.. Saya hanya ingin..”
“Makanlah Yuna.. Kau harus memakan makananmu agar mendapatkan tenaga saat berhadapan dengan ibuku..”
Azka meraih sumpit miliknya dan mengambil sepotong ikan, kemudian meletakkannya diatas mangkuk nasi milik Yuna dan mendapati Ibunya yang tengah memelototinya ketika mendengar apa yang dikatakan dan dilakukan olehnya.
“Makanlah Yuna, jangan mengecewakan putraku yang sudah menaruh perhatian lebih padamu..”
Yuna pada akhirnya mengambil sendok yang berada disebelah piring nasi miliknya, dan dengan perlahan menyuapkan itu kedalam mulutnya.
Makanan itu seharusnya terasa enak, namun dilidah Yuna saat itu rasanya sangat hambar, hingga Ia benar-benar merasa kesusahan untuk menelannya, apalagi dibawah tatapan tajam Ny.Dania yang terus terarah padanya.
Wanita itu jelas sedang mengamati bagaimana caranya menghabiskan makanan itu, terbukti Ny.dania langsung berkomentar dengan mengatakan Ia perlu belajar tatacara kesopanan saat berada dimeja makan..
“Besok aku yang akan mengajarkan semua itu padamu, agar kau tak mempermalukan Azka saat berada dalam jamuan bisnis. Kau juga belum berhasil dalam merangkai bunga.. Jadi persiapkan dirimu untuk besok..”
Ny.dania beranjak dari duduknya, nampak tak lagi tertarik untuk menikmati makanan dihadapannya. Namun kemudian Yuna menghentikannya yang sudah akan melangkah..
“Nyonya.. Bisakah anda mengembalikan ponsel saya? Saya membutuhkannya..”
Ny.dania menggeram dengan kelancangan yang menurutnya ditunjukkan oleh yuna pada saat itu..
“mama, Kau mengambil ponsel milik Yuna?”
“Aku hanya sedang berusaha menjauhkannya dari hal-hal yang tidak penting.. Dia harus berkonsentrasi pada apa yang akan kuajarkan padanya”
Ny.Dania mengungkapkan alasannya..
“Kau tidak harus berlaku sejauh itu, ma..”
“tapi saya membutuhkannya, Nyonyq..”
Yuna merasa lebih berani setelah mendengar Tn.Rian yang juga menilai sang istri yang bersikap berlebihan.
“Dengar.. Yang kau butuhkan sekarang adalah menjadi seorang tunangan yang layak untuk Azka! Aku tak akan membiarkan ke-liar-an mu mempermalukan Azka nantinya.. Tak ada lagi pembahasan mengenai ponsel. Kau akan mendapatkan ponselmu kembali nanti..”
Dan dengan begitu, Ny.Dania melangkah meninggalkan mereka yang hanya bisa menghela napas karenanya.
Tn.Rian yang kemudian memberi Yuna pengertian, dan mengatakan padanya bahwa dirinya yang akan membujuk sang istri agar mau mengembalikan ponsel miliknya.
“Bersabarlah.. Aku mengenal istriku, dia tidak akan lama mempertahankan kemarahannya..”
Yuna mengangguk mengerti..
“Aku akan meninggalkan kalian.. Azka mungkin bisa lebih mengatakan padamu bagaimana sifat ibu nya..”
Sebelumnya, Tn.rian lebih dulu menepuk bahu Azka, tersenyum pada Yuna dan kemudian menyusul sang istri yang telah lebih dulu masuk kedalam kamar mereka.
Tak ada yang dikatakan oleh Yuna maupun Azka sepeninggal Tn.Rian dari meja makan itu, hingga kemudian Azka mendorong kursi yang didudukinya untuk beranjak. Namun Yuna menghentikan dengan kata-kata nya..
“Sampai kapan anda akan mengakhiri ini, Pak..?”
“Apa? Apa yang harus kuakhiri?”
Azka berpura-pura tak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Yuna pada saat itu.
“mengakhiri kepura-puraan dengan pertunangan ini dan juga mengatakan pada orangtua anda jika saya bukanlah seseorang yang anda inginkan..”
Azka justru menunjukkan seringai diwajahnya mendengar apa yang dikatakan Yuna padanya..
“bukankah aku sudah katakan pertunangan ini adalah bentuk dari tanggung jawab atas kekacauan yang kau sendiri yang meng-awali..”
Yuna berdiri dari duduknya mewaspadai apa yang akan dilakukan Azka padanya..
“dan bagaimana kau tahu jika aku tidak menginginkanmu, Yuna..?”
Azka menutup langkahnya, membuat Yuna terdorong hingga menyentuh sisi meja dan menguncinya disana dengan kedua lengannya yang Ia letakkan dikedua sisi tubuhnya. Membuat Yuna terkurung dan berada dekat dengan tubuhnya..
“Doni mengumpankan gadis belia yang cantik kehadapanku.. Dan aku tidak akan mungkin menyia-nyiakannya..”
Yuna terkesiap dengan apa yang Azka katakan, hingga membuatnya tak cukup sigap menerima apa yang Azka lakukan pada bibirnya yang dengan cepat sudah berada dalam mulut pria itu..
Hanya beberapa detik, karena kemudian Azka menarik diri darinya..
“Aku sedang mengajarkanmu bagaimana cara mencium seseorang.. Apa yang kau lakukan malam itu benar-benar menunjukkan ketidak berpengalamanmu dalam berciuman..”
Yuna merasakan amarah berkobar dalam dirinya, Ia sudah mengangkat sebelah tangannya untuk memberikan tamparan pada Azka. Namun pria itu telah lebih dulu mencekal pergelangan tangannya, menghentikan apa yang ingin dilakukannya..
“Ibuku tidak akan suka melihat Kau menampar tunanganmu sendiri.. Benar yang dikatakannya, jika mama perlu mengajarkan kesopanan padamu. Dan ingat.. Kau adalah tunanganku, Yuna.. Aku berhak melakukan apapun yang kuinginkan terhadapmu. Termasuk mendapatkan ciuman itu darimu..”
Yuna merasakan airmata menyeruak dari kedua sudut matanya, ketika Azka menghempaskan tangannya dan meninggalkannya disana.
Membuat keyakinannya semakin kuat jika Azka adalah seorang Bajingan…
***
to be continued