At First Sight

At First Sight
Episode 101



“Bangun kalian.. Azka! Yuna..! Bangun.. Kalian harus bersiap.. Azka!!”


Azka hanya melenguh dan sedikit menggeliat, sementara Yuna kemudian mengerjap dan sontak terlonjak kaget melihat Ny.Dania dan terlebih menyadari keberadaannya diatas tempat tidur yang sama bersama dengan Azka.


Oh, dear..


Apa yang sudah terjadi?


“Ibu..”


Buru-buru menyingkirkan lengan Azka dari tubuhnya, Yuna dengan panik bergerak turun dari atas tempat tidur dan langsung berdiri berhadapan dengan tatapan Ny.Dania yang sedang meneliti tampilannya saat itu.


Wanita itu mendesah melihatnya..


“Setidaknya kau masih mengenakan pakaianmu dengan lengkap”


Komentarnya kemudian, yang juga membuat Yuna lantas meneliti dirinya sendiri.


“Ibu, aku bisa menjelaskan.. Kami tidak..”


“Apa tadi aku mengatakan membutuhkan penjelasan darimu?”


Ny.Dania kembali mendesah, sambil tangannya kini mengurut pada pelipisnya..


“Tidak, aku tak memerlukan penjelasan apapun.. Aku hanya akan menyuruhmu untuk bersiap-siap. Kau memiliki jadwal kuliah pagi bukan? Dan bangunkan Azka.. Dia juga harus bersiap kekantor..”


Yuna mengerjap, hampir-hampir tak percaya dengan reaksi tak biasa yang ditunjukkan Ny.Dania pada saat itu.


Bagaimana mungkin wanita itu tidak menunjukan amarah ataupun omelan-omelan yang seringkali dilakukannya, setelah tadi melihatnya berada ditempat tidur yang sama dengan Azka?


Tunggu..


Tempat tidur?


Bersama Azka..?!


Yu mna memekik dalam hati, melihat Azka yang dalam posisi tengkurap dalam tidurnya.


Ia memikirkan keras apa yang telah terjadi yang membuatnya bisa berada diatas tempat tidur Azka..


Oh, bagaimana ini?


Apa yang sudah dilakukan pria itu padanya?


“Pak.. Pak Azka! Bangun Pak..? Apa yang sudah kau lakukan padaku? Pak..!”


Yuna mengguncang-guncang tubuh Azka, membangunkannya. Ketika Azka hanya melenguh dan malah menarik sebuah bantal untuk menutup telinganya, Yuna dengan segera menarik bantal itu dan memukulkan ketubuhnya.


“Yak.. Yakk.. Awhh.. Ma, kenapa membangunkanku seperti ini?”


“Bangun dan jelaskan padaku, Pak!!”


Azka terduduk, mengucek kedua matanya kemudian mengacak rambutnya kesal, masih belum menyadari Yuna-lah yang pada saat itu membangunkannya dengan pukulan bantal ketubuhnya.


“Pak.. Cepat jelaskan padaku apa yang terjadi?”


“Ohh, Yuna.. Kau disini?”


Azka tidak menyadari kepanikan yang diperlihatkan diwajahnya..


“Kenapa.. Kenapa aku ada disini? Kenapa aku bisa tidur denganmu?”


Yang dapat diingatnya, ia berada didalam ruang kerja Azka semalam dan, dan.. Dan apalagi yang terjadi?


Yuna kian terlihat panik, mendapati ingatannya yang seakan t melihat raut wajah Yuna saat itu..


“Pak..!”


“Apa.. huh?”


“Apa yang terjadi?”


“Kau tidak ingat?”


Yuna menggeleng dengan lemah..


“Kenapa ingatanmu payah sekali.. Kau bahkan tidak mengingat kejadian manis yang semalam terjadi”


Yuna melebarkan mata mendengarnya..


“A-apa maksudmu? Ke-kejadian apa?”


Azka hanya tersenyum-senyum mengingatnya..


Semalam, setelah mendapati Yuna tertidur didalam ruang kerjanya dan akhirnya membuatnya harus membopong gadis itu, Azka dibuat kebingungan untuk menidurkannya dimana. Tidak mungkin ia membopongnya masuk kedalam kamar Yuri, itu jelas akan membuat tanda tanya besar dari Yuri nantinya. Ia sempat berniat menidurkan Yuna dikamar yang sebelumnya sempat dipergunakan Yuna sebelum kedatangan Yuri, namun akhirnya ia urungkan karna untuk melakukannya ia harus menaiki puluhan anak tangga.


Sudah terlalu malam dan ia pun cukup lelah hari itu, sepertinya takkan sanggup untuknya menaiki puluhan anak tangga itu dengan bobot tubuh Yuna dalam gendongannya. Praktis, ia mengambil pilihan paling mudah dengan membawa Yuna kedalam tempat terdekat, yaitu kamarnya..


“Benar seperti itu? Kau tidak melakukan ‘apa-apa’ padaku?”


“Jadi kau ingin aku melakukan ‘apa-apa’ padamu? Kau seharusnya mengatakan itu semalam.. Jika kau mengatakannya semalam, aku jamin kau tidak akan bangun dengan pakaian lengkap seperti ini..”


“Yakk..!!”


“Sebenarnya semalam aku sempat menciummu..”


Azka berhasil membuat Yuna menghentikan langkahnya dan untuk beberapa saat berhenti diambang pintu, dengan kedua bola matanya yang melebar menatapnya. Wajahnya yang kemudian menjadi terlihat bersemu merah sesaat sebelum menutup pintu kamarnya dengan suara bantingan yang lumayan keras, membuat Azka menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum kembali..


Ia tak berbohong mengenai ciuman yang dilakukannya terhadap Yuna. Dan bukan mengenai ciuman didahi yang dilakukannya sebelum akhirnya ia membopong tubuh gadis itu. Melainkan ciuman lain yang ia lakukan pada saat gadis itu telah berada diatas tempat tidurnya.


Semalam setelah berlama-lama memandangi wajah Yuna saat tertidur, wajahnya yang nampak sedikit pucat, lelah pasti, membuat kecemasan menyusup kedalam hati Azka. Ia lantas menyentuh dan mengusap dengan jari-jarinya. Juga membelai rambutnya, sebelum akhirnya Azka kembali menciumnya. Mencium pada bibirnya. Ciuman yang diberikannya secara lembut dan perlahan itu dilakukannya dengan harapan dirinya bisa mengirimkan rasa tenang juga nyaman dalam tidurnya. Serta tak lupa membisikkan pernyataan sayangnya, yang dirasanya Yuna mungkin juga mendengarnya. Karna semalam setelah ia mencium dan mengatakan kalimat cintanya, gadis itu yang masih lelap dalam tidurnya, beringsut untuk merapat padanya, mencari kehangatan dengan memeluknya. Yang kemudian juga membuat Azka mendekapnya dan tanpa sadar menyusulnya yang telah lebih dulu tertidur.


***


Yuna masuk kedalam kamar Yuri dan mendapati sang kakak telah berada diatas kursi rodanya. Terlihat segar sehabis mandi. Ia lantas mendekat dan menyapanya..


“Selamat pagi kak..”


Yuna tanpa segan mencium pada pipinya, dan reaksi yang kemudian diberikan Yuri dengan memundurkan kursi rodanya, memunculkan sengatan rasa sakit dihati Yuna yang kemudian dengan susah payah ia menepisnya dengan cara tetap menunjukkan senyum dibibirnya.


“Kakak sudah sangat cantik.. Siapa yang membantu kakak mandi tadi?”


Lagi-lagi Yuri tidak menjawab, ia justru memutar kursi roda dan mengarahkannya kedekat jendela. Menjauh dari Yuna.


“Kakak.. Aku..”


“Kenapa kau tidak mandi saja dan segeralah bersiap. Kau masih harus bekerja bukan?”


Sekalinya bersuara, Yuri memutus apa yang ingin diucapkan oleh Yuna, dan dengan tanpa menatap kepadanya.


“Iya, kak.. Aku akan melakukannya.”


Yuna merasakan kedua matanya mulai berair, maka buru-buru ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi. Mungkin ia akan menumpahkan airmata itu didalamnya..


Yuri yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan kemudian menutup kembali, menandakan Yuna yang telah masuk kedalamnya, membuatnya kemudian memutar kembali arah kursi rodanya. Kedua matanya menatap pada pintu kamar mandi, dimana suara gemericik air terdengar dari dalamnya.


Ia meremas kuat bagian rok yang dikenakannya dengan menggunakan kedua tangannya, merasakan tak tahu bagaimana ia harus bersikap terhadap seorang adik yang teramat disayanginya namun justru dengan teganya mengkhianatinya, menusuknya dari belakang. Ia marah, kecewa dan terluka. Tapi tak tahu dengan cara seperti apa harus melampiaskannya. Ia sendiri merasakan terguncang oleh karna kebohongan yang dilakukan Yuna kepadanya. Hingga menatap sang adik, rasanya tak lagi sama seperti sebelumnya. Sebelum kebohongan itu diketahui olehnya. Yang dirasakannya malah perasaan sakit yang teramat sangat menyayat-nyayat hatinya. Yuna telah membodohinya.


Semalam ia melihat bagaimana akrabnya Yuna dengan kedua orangtua Azka. Semalam juga Yuna membawakan secangkir kopi untuk Azka kedalam ruang kerjanya. Dan tadi pagi, ketika Jena masuk kedalam kamarnya, membantu saat berada dikamar mandi, dia bertanya dimana keberadaan Yuna saat itu. Yang berarti bahwa, semalam Yuna tak bersama Jena, tak tidur dikamarnya.


Hal itu yang kemudian memunculkan pikiran negatif dalam benak Yuri pada saat tadi ia melihat Yuna masuk kedalam kamarnya.


Jadi dimana Yuna tidur semalam?


Bersama Azka kah?


“*Gadis murahan seperti itu memanglah pantas disebut pelacur.. “


“… Dia menjual tubuhnya untuk mendapatkan kemewahan.. Aku bahkan memergoki saat mereka nyaris telanjang..! Menjijikkan*..”


Yuri makin meremas kuat ujung bagian rok nya. Kalimat yang dengan jelas diucapkan oleh Jessica kembali berdengung ditelinganya.


“Kakak..”


Yuna keluar dari dalam kamar mandi pada sekitar lima belas menit setelahnya, dan melihat pada Yuri, kemudian tersenyum padanya. Ia mengambil setelan pakaian dan mengenakannya, kemudian menyisir rambutnya.


Mendengar dering suara ponsel didalam tas tangannya, Yuna lantas meletakkan sisir ditangannya, untuk mengambil ponsel dan menjawab panggilan yang masuk saat itu..


“Halo dokter Ahmad.. Oh, ya.. Tidak apa-apa, saya bisa menemani kakak nanti malam. Iya.. terimakasih dokter..”


Menutup sambungan ponselnya, Yuna kemudian mendekati Yuri..


“Kakak.. Dokter Ahmad mengatakan terapimu hari ini diundur hingga nanti malam. Tidak apa-apa kan, Kak? Nanti malam aku justru bisa menemanimu..”


Yuna tersenyum sambil mencoba meraih tangan Yuri dan reaksi sang kakak kembali membuatnya terkesiap.


“Aku tidak akan melakukan terapi lagi..”


“Kakak... Tapi kenapa? Kenapa kau tidak…”


“Ini keputusanku.. Aku tidak akan melakukan terapi lagi. Semua itu tidak ada gunanya..”


“Tapi Kak..”


“Cukup Yuna.. Sekarang keluarlah. Aku ingin sendiri..”


Yuri yang kemudian memalingkan wajah Yuna, membuat sekujur tubuh Yuna kaku dan sangat sulit untuknya beranjak dari sana.


“Kakak..”


“Keluar Yuna.. Aku mau kau keluar sekarang..! Tinggalkan aku sendiri..”


Yuna menjatuhkan airmata tak kuasa lagi untuk menahannya. Setelah mendengar nada suara Yuri yang meninggi, ia berjalan dengan langkah berat keluar dari kamar itu.


Tuhan..


Ada apa dengan kakaknya?


Mengapa sikapnya menjadi seperti itu?


***


To be continue