At First Sight

At First Sight
Episode 57



“Mama.. Bagaimana bisa..”


“Ya, Mama bisa mengetahuinya meski Yuna tidak mengakuinya. Kalian telah berbuat terlalu jauh..”


Bukan itu apa yang menjadi maksud Azka..


“Aku telah mengatakan padanya jika dia tidak seharusnya hamil disaat sekarang. Dia pergi mungkin karna takut pada akhirnya aku akan mengetahui itu dan kemudian memarahinya. Bukankah dia juga telah mengatakan mengenai kehamilannya padamu? Dia mengatakannya dan kau belum bisa menerimanya. Kalian pasti memiliki pertengkaran mengenai itu semalam. Itulah mengapa kau melarikan diri dengan mabuk. Sedangkan Yun, Mama melihat dengan jelas matanya membengkak. Dia pasti telah menangis sepanjang malam..”


Ny.Dania terengah oleh apa yang baru saja dikatakannya. Ia kembali duduk dipinggir tempat tidur, sementara Azka benar-benar dibuat bingung darimana asalnya sang ibu bisa mendapatkan pemikiran yang semacam itu.


“Darimana Mama tahu jika Yuna hamil? Maksudku.. Bagaimana bisa kau menyimpulkan hal seperti itu? Yuna pasti tidak sedang hamil, Ma..”


“Dia telah mengeluhkan pusing, dia juga mual dan muntah. Itu adalah tanda-tanda wanita hamil, Azka. Mama pernah merasakannya. Seharusnya aku tidak mempercayai ketika dia mengelak tadi. Bagaimana dengan sekarang? Apa yang akan Yuna lakukan pada janinnya?”


Benarkah..


Benarkah Yuna sedang hamil?


Tidak..


Itu tidak mungkin..


Gadis belia itu tidak mungkin bisa hamil karna ia belum pernah sekalipun membawanya ke atas tempat tidur.


Tapi bagaimana dengan kemungkinan pria lain?


Pria lain itu yang telah membawanya ke atas tempat tidur dan menanamkan benih didalam rahimnya..


Pria lain itu mungkin adalah Doni..?


Sial..


Azka menggeram marah didalam hatinya membayangkan gadis belia itu telah disentuh dan dimiliki oleh pria lain selain dirinya.


Dan mengapa ia harus memiliki perasaan marah yang seperti itu?


“Cari dia Azka.. Carilah kemana Yuna pergi. Temukan dimana dia berada sekarang. Dia tidak ada dirumahnya dan aku menjadi takut dengan kemungkinan dia berbuat nekat..”


Azka terkesiap dengan kalimat terakhir yang baru dikatakan oleh ibunya.


“Apa maksud Mama..?”


“Dia masihlah gadis belia. Dia memiliki kelabilan emosi dan pemikiran yang dangkal. Ya Tuhan.. Banyak kasus bunuh diri yang dilatar belakangi oleh tingkat stres yang terlalu tinggi dan pemikiran melakukan itu menjadi langkah mudah untuk melarikan diri dari masalah”


Ny.Dania menghampiri Azka, memeluknya dan terisak setelahnya.


“Cari Yuna, Azka.. Temukan dia. Mama takut dia melakukan itu karna merasa Mama ataupun kau tidak akan bisa menerima kehamilannya”


Meski Ia masih tak bisa mempercayai apalagi menerima apa yang disimpulkan ibunya mengenai kehamilan Yuna, tapi Azka langsung memikirkan jika apa yang dikatakan ibunya mengenai kemungkinan gadis itu melakukan bunuh diri, mungkin ada benarnya.


Setelah yang terjadi pada dini hari itu, setelah ia mengintimidasinya dengan kemarahan Yuna bisa saja melakukannya.


Ya..


Yuna masihlah gadis belia labil. dan bukankah dia juga gadis belia pemberani. Maka bukan tidak mungkin bila dia juga memiliki keberanian untuk melakukan hal nekat semacam itu.


Azka bergidik ngeri sekaligus dicekam perasaan takut membayangkannya.


Ia memegang kedua bahu ibunya untuk kemudian melepas pelukannya..


“Aku akan mencarinya, Ma. Aku akan menemukannya..”


Azka melihat ibunya yang mengangguk ke arahnya, sebelum kemudian Ia bergegas keluar dari dalam kamar Yuna. Ia seakan berlari saat menuruni puluhan anak tangga rumahnya.


Persetan dengan kenyataan Ia lah yang telah mengusirnya. Faktanya sekarang ia benar-benar ingin menemukan keberadaannya.


Melihatnya..


Azka bahkan sampai mengabaikan panggilan dari sang ayah yang pasti akan kembali memberikan pertanyaan padanya.


Ia melesat keluar dari dalam rumahnya, meminta kunci mobil dari sang supir dan mengemudikan sendiri mobil itu.


“Temui aku dirumah Doni..”


Azka menyempatkan diri menghubungi seorang agen yang disewanya yang di yakininya akan dapat membantunya untuk menemukan keberadaan Yuna.


Jika ibunya mengatakan Yuna tidak ada dirumahnya sendiri, satu tempat yang kemudian terpikir dibenaknya didatangi oleh gadis itu pastilah rumah Doni. Yuna pasti berada disana untuk kemudian menceritakan pada Doni mengenai dirinya yang telah mengetahui semua rencana yang dilakukan keduanya.


Menghentikan kakinya tepat didepan rumah Doni, Azka tak perlu menunggu untuk menggedor pintu rumah itu. Bibi Lia berada dirumahnya, maka Ia merasa tak perlu bersopan santun pada pria yang telah diketahuinya sedang merencanakan kehancurannya.


“Doni.. Kau mendengarku? Buka pintunya..!! Doni..!”


Selain untuk menemukan Yuna disana, Azka memang menginginkan berbicara dengan pria itu dan menyelesaikan permasalahan yang bahkan tidak diketahui olehnya yang kemudian memicu niatan Doni untuk menghancurkannya.


“Doni.. Aku perlu bicara denganmu..! Doni! Yuna.. Kau didalam..? Buka pintunya dan bicaralah denganku.. Doni.. Yuna!!”


Meski telah berkali-kali menggedor pintu itu, tetap saja tak ada jawaban yang berasal dari dalamnya.


Bukankah Ia juga tak melihat Doni berada dikantor tadi..


Kemana mereka?


Azka menggeram marah ketika tangannya mengepal dan meninju pintu rumah itu.


“Tuan Azka..”


Sang agen sampai disana dan langsung menghampirinya.


“Apa yang terjadi, Tuan?”


“Gadis itu pergi..”


Sang agen mengernyit tak mengerti..


“Yuna, adik Yuri.. gadis itu menghilang dan aku harus segera menemukannya. Tapi sepertinya dia tidak berada disini..”


“Itulah apa yang menjadi alasan mengapa saya menghubungi anda tadi, tapi anda menolak untuk mendengarkan”


“Maksudmu..?”


“Saya ingin menginformasikan apa yang telah saya dapatkan dari penyelidikan yang saya lakukan..”


Azka hanya mendengarkan ketika kemudian seorang agen itu mengatakan bahwa selain berusaha mengorek informasi dari seorang dokter yang sempat menangani Yuri saat berada dirumah sakit jiwa, mengenai penyebab depresi yang dialami Yuri, diam-diam sebenarnya dalam beberapa kali ia telah mengikuti kemana dokter muda itu pergi. Seperti juga pagi tadi, tanpa kesengajaan sebenarnya Ia malah mengetahui saat Sulis bertemu dengan Yuna hingga akhirnya membawa gadis itu bersamanya.


“Saya mendengar saat dokter itu mengatakan apa yang terjadi pada kakaknya dan saya melihat dengan jelas nona Yuna mengalami shock. Dia sepertinya tidak menyadari jika selama ini telah dibohongi dan dibodohi oleh pria bernama Doni itu.”


Pria itu meneruskan dengan mengatakan selama ini Doni mungkin mengatakan pada Yuna jika Yuri telah dipindahkan ke luar negri, dan gadis itu mempercayainya.


“Dia juga tidak mengetahui jika penyebab utama nona Yuri mengalami depresi adalah pelecehan seksual yang diterimanya. Kenyataan itu disembunyikan darinya..”


“Apa..? Apa yang kau katakan tadi? Pelecehan seksual..?”


Sang agen mengangguk..


“Malam itu seperti pada rekaman cctv yang pernah saya perlihatkan pada anda, nona Yuri terlihat memasuki gang kecil ini. Dan saya yakin rumah ini lah yang menjadi tujuannya. Dan naas baginya malam itu didalamnya dia mungkin mendapatkan pelecehan seksual itu..”


Azka mencerna dengan keras apa yang baru didengarnya.


“Jadi maksudmu Doni.. Doni melakukan itu pada Yuri..?”


Sang agen mengangguk.


Ya Tuhan..


“Saya juga mendengar dokter itu menyebut Tn. Doni sebagai seorang psyco..”


“Apa??”


Yang langsung membayangi Azka adalah Yuna. Dan tidak adanya yang bisa menjamin keselamatan gadis itu sekarang.


Karna ia merasa tidak ada yang lebih berbahaya selain apa yang bisa dilakukan oleh seorang psyco. Meski ia masih tidak percaya jika Doni adalah seorang yang seperti itu. Ia benar-benar tidak dapat mempercayai itu..


“Jadi kau tahu dimana Yuna berada sekarang?”


“Saya mengetahuinya, Tuan..”


“Kita kesana sekarang..”


Azka menyadari ia butuh untuk melihat gadis itu baik-baik saja sekarang, nanti dan seterusnya. Yuna harus baik-baik saja..


***


to be continue