At First Sight

At First Sight
Episode 62



Azka tidak kembali masuk setelah sekitar tiga puluh menit berlalu. Satu jam berlalu dan aku mulai terpikir jika dia mungkin memilih untuk pulang. Aku mencoba memastikan itu dengan melihat melalui kaca yang sama yang ada dibagian pintu, namun yang kulihat Azka berada disalah satu kursi tunggu disana dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya.


Entah karna apa, aku merasa lega, senang mengetahui dia tidak benar-benar meninggalkanku..


Aku masih tak mengetahui pukul berapa saat itu. Aku hanya terus berada disisi Kak Yuri. Aku dapat mengetahui pada saat itu alat-alat medis disekitarku bekerja dengan normal setahuku, hanya saja aku memperhatikan kegelisahan terjadi pada kak Yuri.


Dia mulai bergerak-gerak menggelengkan kepalanya, wajahnya berkeringat dan tangannya mulai bergerak seakan memukul-mukul sesuatu yang berada didepannya.


“Kakak..”


“Tidak.. Lepaskan.. Lepaskan.. Jangan sentuh aku..!”


“Kak..”


Aku mengguncang tubuhnya mencoba untuk membangunkannya.


Ya Tuhan..


Kak Yuri pasti sedang mengalami mimpi.


Mimpi yang buruk sepertinya..


“Tidak.. Lepaskan.. Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku..!!”


“Tidak apa-apa Kak, Kak Yuri kumohon.. Tidak akan terjadi apa-apa denganmu. Tidak ada yang akan menyakitimu, mas Doni telah mati.. Dia telah mati, Kak..”


Aku mengatakan itu sambil terus mengguncang tubuhnya, hingga kemudian dia terbangun dengan tanpa melihat kearahku. Tatapan matanya mencari-cari sesuatu..


“Dimana Azka.. Azka.. Dimana Azka..!”


Kenyataan itu membuatku menyadari kemungkinan Kak Yuri kini memiliki ketergantungan terhadap keberadaan Azka. Dia telah mencintainya sejak dulu dan sekarang memiliki anggapan bahwa Azka adalah satu-satunya orang yang dapat melindunginya. Menyelamatkannya dari ketakutan yang dirasakannya..


“Yuna..”


Pintu itu dengan cepat terbuka, dan aku kembali melihat kekhawatiran yang diperlihatkan oleh Azka saat dia masuk dan menghampiriku.


Aku hanya bisa menjatuhkan airmata saat itu..


“Azka.. Aku takut..”


“Tidak apa-apa Yuri, tenanglah.. Apa kau bermimpi lagi..?”


Kak Yuri menggeleng..


“Tidak.. Itu bukan mimpi. Itu nyata.. Doni menyakitiku, dia menyakitiku. Azka, tolong jangan meninggalkanku.. Kumohon jangan meninggalkanku..”


“Kakak..”


Aku begitu sedih melihatnya ketakutan seperti itu..


“Dia tidak akan bisa menyakitimu Kak, tidak lagi. Dia takkan bisa lagi melakukannya..”


Aku mengatakan itu meski kak Yuri seakan tak mendengarku. Dia hanya terus terfokus pada Azka..


Ya Tuhan..


“Kau bermimpi Yuri.. Lihatlah, tidak ada Doni disini. Kau hanya bermimpi.. Tenanglah, ada aku dan ada Yuna yang akan menjagamu..”


Kak Yuri memperhatikan kesekelilingnya, dan sepertinya tatapannya menemukan keberadaanku.


“Yuna..”


“Aku disini, Kak.. Aku disini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu..”


“Yuna.. Aku takut. Aku sangat takut..”


“Tidak Kak.. Jangan takut. Tidak ada yang perlu kau takutkan. Aku selalu bersamamu..”


Setelah mendapatkan mimpi buruk itu, Kak Yuri masih mengalami mimpi lagi pada sekitar pukul satu atau dua dinihari.


Lebih dari yang sebelumnya, dia menjerit dengan kencang dan meronta-ronta saat aku memeluk untuk menenangkannya. Dalam keadaan seperti itu, kakak seakan tidak mengenaliku. Dan itu melukaiku. Rasanya benar-benar sakit melihat Kak Yuri mengalami hal seperti itu..


Dia kembali tenang setelah mengetahui Azka bersama dengannya. Memegang tangannya, mengusap rambutnya dan bahkan memeluknya..


“Terimakasih Pak Azka.. terimakasih untuk mau membantuku menenangkan Kak Yuri..”


Pembicaraan ini terjadi diluar ruang ICU, setelah dokter melakukan pemeriksaan dan memutuskan untuk memberi suntikan obat penenang agar kak Yuri dapat benar-benar tertidur tanpa harus terjaga karna mimpi buruk yang dialami olehnya..


Melihat apa yang telah terjadi dengan Kak Yuri, aku merasa perlu untuk berbicara dengan Azka.


“Aku mengerti kekhawatiranmu, Yuna..”


“Pak..”


“hm..”


“Dapatkah aku mengatakan sesuatu?”


“Ya, tentu saja kau bisa melakukan itu..”


“Aku tahu aku bukan seseorang yang pantas untuk meminta ini setelah apa yang telah ku perbuat padamu dan pasti aku telah menjadi egois karna hanya mementingkan perasaanku. Tapi..”


Azka menatapku dengan sangat dalam..


“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”


“Bisakah.. bisakah aku meminta anda untuk bersama dengan Kak Yuri?”


“Apa maksudmu?”


“Hanya sementara.. Sampai kak Yuri benar-benar pulih. Dapatkah anda berperan menjadi seseorang yang peduli padanya.”


“Tanpa kau meminta, aku memang telah menaruh kepedulian padanya..”


“Maksudku, lebih dari itu Pak, bisakah anda menjadi sesorang yang mencintainya..?”


“Apa?”


Aku melihatnya yang tersentak oleh apa yang ku katakan.


“Kak Yuri mencintai anda, Pak.. Dan dia benar-benar bergantung pada kehadiran anda disampingnya. Aku tahu anda seseorang yang sibuk tapi..”


“Bukan itu masalahnya, Yuna..”


Aku terkejut saat Azka merengkuh bahuku dan membawaku untuk berdiri dan menatap pada kedua matanya.


“Masalahnya adalah Kau.. Apa aku harus mengingatkanmu lagi pada pengakuanku beberapa jam yang lalu? Aku telah mengatakan aku menyukaimu, Yuna. Kau gadis yang ku cintai dan bukan Yuri, kakakmu..”


“Pak..”


“Aku peduli padanya itu memang benar. Dia pernah bekerja dengan baik untukku dan aku benar-benar kehilangannya saat itu. Tapi lebih dari itu, kepedulianku pada Yuri adalah karna kau. Yuri telah menjadi bagian besar dalam hidupmu dan aku peduli akan hal itu..”


Apa yang ingin kukatakan seakan terhenti ditenggorokan ku..


“Pak Azka..”


“Ssttt.. Jangan khawatir, Aku akan tetap peduli pada Yuri. Aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu dan bukan kakakmu..”


Aku menggeleng kearahnya, dan aku melihatnya terkesiap oleh reaksiku..


“Yuna..”


“Pak, tolong aku.. Kak Yuri membutuhkan anda. anda melihat sendiri bagaimana keadaannya. Dia membutuhkan anda.. Kumohon, berpura-pura lah mencintainya..”


“Kau ingin aku melakukannya? Kau ingin aku membohonginya?”


Aku mengangguk..


Bukankah hanya itu yang sekarang dibutuhkan kakak ku?


Dia membutuhkan Azka sebagai seorang pria yang peduli padanya dan sekaligus mencintainya.


“Yang benar saja.. jangan menjadi konyol, Yuna.. Bagaimana kau bisa memintaku untuk membohongi kakakmu sendiri..”


“Seperti apa yang telah anda katakan.. bukankah kebohongan itu juga akan membuat keadaannya menjadi lebih baik”


Itu akan sama seperti dia yang telah mengarang cerita pada kejadian kecelakaan yang telah terjadi. Kebohongan yang dilakukan untuk menjaga sesuatu agar tetap menjadi baik. Dapatkah sekarang aku memintanya untuk melakukan hal yang sama demi kebaikan Kak Yuri..?


“Akan lebih baik jika kita mengatakan padanya bahwa kita telah bertunangan..”


Tidak..


Itu akan sangat melukai kakak ku.


“Yuri perlu mengetahui itu sejak dari sekarang..”


“Tidak Pak.. Aku tidak bisa. Hal itu justru akan melukai kak Yuri..”


Aku melepas cincin yang melingkari jari manisku..


“Kau dan aku sama-sama tahu, pertunangan ini hanyalah main-main. Bagian dari sebuah permainan yang sekarang telah berakhir..”


Aku melupakan ke-formal-an ku..


Meraih dan menggenggamkan cincin itu di tangannya..


“Kedua kalinya Aku memasangkan cincin itu padamu. Aku tahu, itu bukan lagi main-main. Tidak ada lagi permainan.. Aku ingin kau tahu bahwa aku serius denganmu, Yuna.. Aku ingin ini tetap berada dijari manismu..”


Aku bergerak mundur ketika Azka mencoba memasangkan kembali cincin itu dijari ku. Dan apa yang ku lakukan sepertinya hanya membuatnya marah padaku.


“Persetan dengan cincin sialan ini, kau tidak membutuhkannya untuk menjadi tunanganku..”


Dia membuatku terkesiap dengan melemparkan cincin itu..


“Pak..”


“Pertunangan kita telah diumumkan, dan semua orang mengetahui itu. Dengan atau tanpa kau memakai cincinmu kau tetaplah sebagai tunanganku.”


Dengan kalimat itu dia pergi meninggalkanku..


Meninggalkanku dalam keadaan lemas dan sendirian pada dingin dan sunyinya dini hari ini. Kesedihan dengan cepat melandaku.


Dari semua sifat yang ku ketahui dimiliki olehnya, aku sadar aku tak menyukai ketika dia menunjukkan amarah nya. Melihat Azka marah membuatku takut. Aku tahu dia pria baik tapi bisa menjadi kejam karna kemarahan yang dia rasakan.


Ini salahku..


Aku yang kembali membuatnya marah padaku..


“Maafkan aku..”


Aku ingin hanya terduduk dan menangis, tapi aku harus menemukan cincin ku..


***


to be continue