
Yuna masih diam memperhatikan mobil itu yang membawa kakaknya ketika kemudian Azka meraih dan sedikit menarik pergelangan tangannya, mengarah pada mobil milik Azka yang terparkir tak jauh darisana.
“Pak..”
Yuna mencoba memprotes apa yang dilakukan Azka padanya saat itu, namun pria itu bergeming dan justru membuka pintu mobilnya dan mendorong tubuh Yuna masuk kedalamnya.
Yuna hanya bisa memberengut kesal melihat Azka menutup pintu mobil dan lantas menyusul masuk kesisi pengemudi. Dengan cepat menghidupkan mesin dan langsung melajukannya..
“Pak.. Sebenarnya Aku___”
“Aku tidak berbicara saat sedang mengemudi..”
Azka memotong kalimat Yuna dengan tanpa menatapnya..
“Ishh..”
Yuna mendengus dan tak lagi mencoba untuk membuka mulutnya. Ia lebih memilih untuk memperhatikan lalu lalang kendaraan dijalan raya saat itu, daripada memperhatikan Azka yang bukan tak disadari olehnya jika pria itu sepertinya sedang marah padanya.
Ia pasti melamun sepanjang perjalanan tadi, hingga tak sadar kemana Azka mengarahkan laju mobilnya. Yuna baru menyadari ketika Azka menghentikan laju mobil itu tepat didepan sebuah gedung bertingkat, gedung kantornya.
“Pak.. Bukankah seharusnya kau menurunkanku ditempat Ibu? Kenapa justru kesini? Dimana Ibu?”
Azka sama sekali tidak menanggapi pertanyaan beruntun itu dan malah begitu saja keluar dari dalam mobilnya, membuat Yuna mendecakkan lidah melihatnya.
“Ayo turun..”
Azka membuka pintu dan mengulurkan tangannya pada Yuna..
“Dimana Ibu? Pak.. Kau membohongiku?”
“Siapa yang lebih dulu berbohong disini..?”
Yuna memberengut, menepis tangan Azka dan lantas keluar dari dalam mobil.
“Aku bisa menjelaskan jika yang kau maksud itu mengenai dokter Ahmad yang..”
“Aku tak ingin mendengarnya disini..”
“Pak..!”
“Bersikap baiklah, ini kantorku.. Banyak karyawan dan direksi yang akan melihat kita nanti..”
Azka kemudian justru menarik pinggang Yuna dan merangkulkan lengannya disana. Membawa gadis itu masuk kedalam lobi kantornya.
Dan kembalinya Azka saat itu dengan membawa Yuna bersamanya, jelas saja langsung menarik perhatian beberapa karyawannya yang melintas untuk sejenak menghentikan langkah guna melihat pada keduanya, pada pemandangan yang tak sering mereka jumpai seperti saat itu. Tak terkecuali dengan kedua resepsionis disana, Husna dan Siska yang menjadi teman-teman Yuna, yang kini sedang sama-sama menunjukkan keterkejutan meski bukan sekali itu saja mereka melihat keduanya.
Setidaknya setelah pertunangannya, Yuna memang pernah datang bersama dengan Ny.Dania kala itu. Dan sudah pernah menunjukkan perubahan tampilannya pasca menjadi seorang tunangan dari putra pemilik perusahaan pada saat itu. Yun jelas tak lagi terlihat sebagai seorang mantan resepsionis atau mantan sekertaris dadakan sang bos. Yuna yang sekarang, terlihat bukan lagi sebagai seorang gadis melainkan seperti wanita dewasa yang anggun yang cocok dan sangat pas ketika berjalan berdampingan dengan Azka.
“Pak.. Lepaskan aku. Mereka semua memperhatikanku..”
Yuna berucap lirih sambil bergerak risih untuk mencoba melepaskan rangkulan tangan Azka ditubuhnya. Ia sadar betul bila keberadaannya pada saat itu langsung menjadikannya pusat perhatian dan bisik-bisik para karyawan disana.
“Pak, lepaskan aku..”
Permintaan Yuna yang seperti itu hanya membuat Azka semakin kesal. Dengan tanpa mengatakan apa-apa Ia akhirnya melepaskan rangkulannya, dan kemudian berjalan dengan langkah lebar meninggalkan Yuna dibelakangnya.
Yuna sempat menoleh kearah Husna dan Siska, tapi justru menangkap isarat dari kedua temannya itu agar ia mengikuti langkah Tuan muda mereka. Sejujurnya ternyata, Yuna memang langsung merasakan bukan justru menjadi lebih baik tanpa Azka disisinya, ia baru menyadari takkan bisa kedua kakinya melangkah dengan tegak saat semua mata disana jelas mengarah padanya. Ia membutuhkan Azka disisinya..
“Pak.. Tunggu..!!”
Yuna lantas berusaha menyusul langkah Azka dan kembali menyadari kebodohannya jika panggilannya terhadap Azka hanya semakin membuat orang-orang disana menatap heran kepadanya.
“Mm Mas..! Mas.. Tunggu aku!!”
Ragu-ragu Yuna mengucapkannya, tapi berhasil membuat Azka menghentikan langkahnya.
Yuna yang mengetahui hal itu jelas tersenyum senang. Ia makin mempercepat langkahnya untuk menyusul Azka, namun..
“Awhh..”
Sepatu berhak tujuh senti yang dipakainya itu rupanya yang kemudian menyulitkannya. Lebih tepatnya membawa masalah untuknya, karna dengan bodohnya justru membuatnya terjatuh dan mengalami kesakitan pada pergelangan kakinya.
“Awhh..”
Azka yang mendengar suara terjatuh yang disertai dengan rintihan itu dengan cepat berbalik dan langsung menghampiri Yuna.
“Kau tidak apa-apa?”
“Awhh..”
Yuna tidak menjawab dan malah merintih semakin kesakitan. Hingga membuat Azka kemudian mendecak melihatnya..
“Menyusahkan saja..”
Meletakkan tangannya dibelakang bahu dan dibawah lutut Yuna, Azka lantas mengangkat tubuh gadis itu kedalam gendongannya. Menimbulkan sedikit suara memekik dari Yuna, merasakan keterkejutan karna apa yang dilakukan Azka padanya didepan banyak pasang mata dan didepan kedua temannya yang terbengong seolah menyaksikan pertunjukkan menarik dan tak membiarkan mata mereka berkedip.
“Pak, turunkan aku..”
Meski begitu Yuna kemudian mengalungkan kedua tangannya dileher Azka.
“Setelah terjatuh seperti itu tadi, kau mungkin mengalami terkilir pada kakimu.. Dan jangan semakin mempermalukanku dengan memintaku menurunkanmu”
Yuna memberengut dan lantas menekankan kepalanya kuat didada Azka dengan memejamkan kedua matanya rapat, seolah bersembunyi dari tatapan orang-orang yang pada saat itu melihatnya dalam gendongan Azka ketika pria itu membawanya untuk menaiki lift khusus. Meski masih merasa kesal, namun Azka juga sempat merasakan geli dengan tingkah Yuna saat itu. Dan membuatnya benar-benar tersadar, bila dirinya sudah bertunangan dengan seorang gadis belia.
Gadis belia yang dapat menjungkir balikkan perasaannya menjadi tidak karuan.
Astaga..
Seorang staf membukakan lift itu dan menutupnya setelah Azka masuk, kemudian mengantarkannya naik sampai dengan lantai atas letak ruang kerja Azka. Seorang staf lain yang berada disana sempat terkejut melihat Azka membopong tubuh seorang wanita, namun kemudian ia tersadar dan langsung bergerak cepat membukakan pintu ruang kerja Azka.
“Tolong carikan aku alat pengompres..”
Perintah Azka pada sang staf, setelah ia menurunkan Yuna dari gendongannya, kesebuah sofa yang berada ditengah ruangan.
“Baik Pak..”
Sang staf keluar, sementara Azka kemudian melepaskan sepatu yang menjadi penyebab kesakitan Yuna pada saat itu.
“Awhh.. Sakit..”
“Siapa memangnya yang menyuruhmu memakai sepatu seperti ini..”
“Ibu bilang aku cantik memakai itu”
“jangan terlalu menuruti semua yang dikatakan Mama..”
“Tapi bukankah benar, aku terlihat cantik dengan sepatu itu?”
Azka memutar mata mendengarnya..
“Jadi sekarang kau sudah mulai bisa membanggakan dirimu?”
Yuna memberengut mendengarnya dan memutuskan tak menanggapi sindirian dari Azka terhadapnya. Hingga tak berselang berapa lama seorang staf yang tadi diperintahkan oleh Azka, kembali masuk dengan membawa peralatan untuk mengompres, serta sebuah kotak yang berisi peralatan obat.
“Ini yang anda perlukan, Pak..”
“Terimakasih, kau bisa keluar dan kembali bekerja”
Dengan menggunakan peralatan itu, Azka lantas lebih dulu mengompres pada pergelangan sampai telapak kaki Yuna, yang kini memerah dan sedikit terlihat membengkak.
Ia kesal dan merasa marah setelah mengetahui gadis itu berbohong padanya, bahkan Azka sudah berencana untuk menghukumnya. Tapi melihat Yuna yang sekarang merintih kesakitan, membuatnya memikirkan ulang untuk melakukannya.
Yuna menarik kakinya dari tangan Azka yang sedikit menekan, sebenarnya sedang berusaha untuk mencari urat kakinya yang terkilir..
“Aku juga melakukan ini dengan pelan. Kau hanya harus menahannya sedikit..”
“Pak.. Awhh..!! Sakit..”
Yuna lantas memukul dan mendorong bahu Azka agar menjauh darinya..
“Kau tidak mengobati dan justru membuatku kesakitan. Kau hanya akan semakin membuatku cedera..”
“Astaga.. kau hanya terkilir, Yuna.. ulurkan lagi kakimu, aku sudah pasti tidak akan mencederaimu..”
Azka kembali meraih kakinya, melakukan pengompresan sampai beberapa saat, dan selanjutnya mengambil obat oles dari kotak obat, mengoleskannya sebelum akhirnya membebatnya dengan perban.
“Apa yang kau lakukan? Aku tidak akan bisa berjalan jika seperti ini..”
“Kau tidak harus berjalan.. Aku masih punya cukup banyak tenaga untuk menggendongmu, asal kau bersikap baik..”
“Aku tidak mau seperti itu..”
Yuna memaksa untuk mencoba berdiri, dan hasilnya denyut nyeri dikakinya kembali terasa. Kesakitan itu membuatnya meringis dan kembali merintih. Hingga Azka dengan cepat merengkuh kedua bahu Yuna dan mendorongnya untuk kembali duduk.
“Jangan menjadi keras kepala. Kau tidak mungkin bisa berjalan sekarang”
“Tapi aku harus pergi, untuk apa aku berada disini?”
Yuna mendengus..
“Kau memang sudah seharusnya tetap berada disini, kita masih perlu menyelesaikan sesuatu kan.. Itu yang menjadi alasanku membawamu..”
Yuna sedikit menjadi gelisah saat Azka kemudian menyingkirkan peralatan yang sebelumnya dipergunakan dan lantas mengambil duduk disamping nya, yang justru membuatnya beringsut sedikit menjauh dari Azka.
“Apa memangnya yang perlu kita selesaikan?”
Pancingnya berpura-pura tidak mengingat arah yang dituju oleh Azka.
“Kau dan kecenderunganmu untuk melakukan kebohongan, bahkan terhadapku. Jadi dokter itu belum menikah kan?”
“Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya___”
“Kau hanya menyukai saat ada pria lain yang tertarik padamu, hingga membuatmu berbohong padaku dengan mengatakan pria itu sudah beristri agar aku tidak mencurigaimu dan kau bisa bersenang-senang.”
Azka meneruskan kalimat Yuna dengan dugaan-dugaan yang berada dalam pemikirannya. Membuat gadis itu mendecak mendengarnya.
“Bukan seperti itu, Pak.. Kau tahu, kau berlebihan dan menjadi keterlaluan pada malam itu. Dan aku mengatakan bahwa dokter Ahmad sudah menikah semata hanya untuk menghentikanmu. Aku tidak berpikiran lain atau bermaksud lain dan bukan sengaja membohongimu. Aku juga tidak tahu jika dokter Ahmad belum menikah. Aku baru mengetahuinya tadi, jika tidak percaya, kau bisa tanyakan pada Kak Yuri. Sebelumnya, Aku hanya menduga jika pria sepertinya mungkin sudah menikah. Dia baik dan disukai banyak pasiennya..”
“Termasuk kau?”
“Aku bukan pasiennya..”
Yuna terlihat kesal, setelah menjelaskan panjang lebar dan Azka masih terus melontarkan tuduhannya.
“Tapi bukan berarti kau tidak menyukainya kan?”
“Aku tidak mengatakan aku menyukainya..!”
Yuna semakin bertambah kesal karna keadaan kakinya saat itu membuatnya tak bisa beranjak darisana. Jika bukan karna kakinya yang sakit, ia sudah pasti akan berlari keluar, terserah dengan apapun itu yang dipikirkan Azka mengenai dirinya.
Dasar pria gila..
Omelnya kesal didalam hatinya.
“Lalu siapa yang kau sukai?”
Dari tatapan kecurigaan, Azka berubah menatap dengan seringai diwajahnya ketika melihat Yuna menundukan wajah, menyembunyikan rona merah yang bergerak menjalari permukaan kulitnya. Efek dari pertanyaannya.
“Jelas kau sepertinya bimbang dengan itu”
Yu a mendongak, sejurus tatapannya melihat pada Azka yang seakan sedang membaca isi pikirannya.
Ia memberengut kesal, namun tiba-tiba memiliki pemikiran berani didalam kepalanya yang kemudian membuatnya beringsut diatas sofa yang didudukinya. Bukan untuk bergerak menjauhi Azka seperti yang sebelumnya ia lakukan, melainkan justru mendekat dan secara mengejutkan memberikan kecupan dipipi Azka.
“Bagaimana..?”
Azka hanya mengerutkan dahi, dan Yuna lantas kembali mencium pipinya.
“Bagaimana Mas?..”
Yuna bertingkah aneh dengan merangkul, menggelayut manja pada lengan Azka.
“Apa?”
“Ishh.. Bukankah tadi kau menanyakan siapa yang kusakai? Kau masih belum mengerti? Itu jawabanku..”
Yuna menundukkan wajah, namun dengan cepat kembali mendongak ketika mendengar Azka yang justru tertawa mendengarnya.
“Jadi maksudnya ciuman dipipi tadi sebagai jawabannya? Kau ingin mengatakan aku pria yang kau sukai?”
Yuna mengangguk malu-malu..
Azka tersenyum meraih dagunya, bertatapan dengannya, membuat Yuna merasa terkunci oleh tatapannya.
“Jika seperti itu caramu, masihlah belum meyakinkanku. Aku akan mengajarkanmu bagaimana cara yang benar untuk meyakinkan seseorang yang kau sukai..”
Yuna tak sempat untuk mencerna apalagi mempertanyakan maksud dari perkataan Azka, karena pria itu telah dengan cepat menutup mulutnya dengan sebuah ciuman. Bibirnya bergerak leluasa memagut dan kemudian mencecap rasa yang dimilikinya. Membuat Yuna tak kuasa untuk menolak cumbuan manis yang diterimanya. Perlahan tapi pasti bibirnya bergerak seirama, mengikuti gerakan Azka yang memimpin ciumannya.
Yuna menahan desah napasnya dan perasaan ingin meledak yang ada didalam dadanya. Dan malah kedua tangannya mengalung dileher Azka, seakan tak cukup dekat dengan pria itu meski nyata-nyata dadanya telah bersentuhan dengan kokohnya dada bidang Azka.
Yuna sedikit mengerang namun bertambah terbuai ketika merasakan gigitan pada bagian bibir bawahnya. Dan ketika Azka kemudian melesakkan lidahnya masuk kedalam mulutnya, Yuna mendadak teringat pada peristiwa penjebakan yang pernah dilakukannya pada Azka dulu, namun ternyata gagal. Ditempat yang sama, didalam ruang kerja Azka. Kejadiannya pun sama persis disofa yang sekarang diduduki olehnya.
Tak disangka olehnya bila sekarang ia justru menikmati ciuman dari pria itu disini..
Yuna dengan segara mendorong dada Azka, mengakhiri ciuman dan membuat kekecewaan tersirat jelas dimata pria itu.
“Dasar pria mesum..”
Azka kemudian justru tergelak mendengar komentar Yuna pada saat itu. Dan kemudian beranjak dari sampingnya, berpindah menduduki kursi dibelakang meja kerjanya. Ia butuh sesuatu sebagai penghalang, sebelum ia kehilangan kontrol dirinya untuk memiliki gadis belia itu didalam ruang kantornya.
Sialan..
Bisikan sisi gelap didalam dirinya seakan terus berdengung. Dan jangan sampai itu menutupi mata hatinya.
Ia tidak ingin menyakiti dan berbuat bejat terhadap gadis yang dicintainya.
Tapi menggoda gadis itu, juga sudah cukup menyenangkan untuk dilakukannya..
“Tapi pria mesum seperti aku lah yang kau sukai kan? Dan bukan dokter baik hati itu..”
“Ishh..”
Yuna mendengus sambil melemparkan sebuah bantal sofa kecil yang dilihatnya berada tak jauh darinya.
***
to be continue