At First Sight

At First Sight
Episode 100



Masuk kedalam ruang kerja Azka dan mendapati pria itu masih terlihat berkonsentrasi pada apa yang sedang dikerjakannya,


Yuna kemudian meletakkan cangkir kopi itu disudut meja kerjanya, sembari mengatakan agar pria itu lekas meminumnya selagi masih hangat. Selanjutnya, ia kembali menduduki sofa yang sebelumnya ditempatinya, dengan sebelah tangannya terulur mengambil sebuah buku yang tergeletak diatas meja kecil disampingnya.


Yuna bahkan tak mengetahui buku semacam apa itu, ia hanya membaca tulisan pada sampulnya yang menggunakan bahasa asing, dan seketika mendengus mengetahui isi didalamnya yang keseluruhannya juga menggunakan bahasa asing. Ia menyerah, ia mungkin bisa mengerti dengan arti dari judul yang tertera pada sampulnya, namun ia takkan pernah paham dengan isi buku itu.


“Kenapa?”


Azka bertanya setelah melihat Yuna meletakkan lagi buku itu keatas meja, ketempatnya semula.


“Tidak, lanjutkanlah.. Aku tidak akan mengganggumu.”


Yuna mengalihkan tatapannya kesekeliling, menghindar dari tatapan Azka yang sedang mengawasinya. Sampai akhirnya pria itu kembali membuka-buka tumpukan map yang tersisa, Yuna baru berani memperhatikannya lagi.


Berbagai pemikiran berkelebat dibenaknya, termasuk salah satunya mengenai apa yang dikatakan Yuri beberapa saat tadi.


Ya Tuhan..


Apa yang harus dilakukannya?


Kakaknya menginginkan kebahagiaan, menginginkan Azka. Dan bagaimana ia bisa menjelaskan keadaannya pada Yuri kakaknya?


Ia tahu cepat atau lambat harus berkata jujur. Tapi ia sadar kejujurannya pun akan menyakiti hati kakaknya.


Dan menyakiti Yuri bukanlah yang menjadi keinginannya. Yang ia inginkan tentu adalah kebahagian sang kakak. Dan kebahagiaan itu jelas bersumber pada Azka. Mampukah ia memberikan kebahagiaan itu untuk Kakaknya, jika separuh hatinya terus membisikkan ketidak relaan.


Tuhan..


Apa yang terjadi dengan hatinya?


Apakah ia telah terlalu jauh bermain-main dengan melibatkan hatinya..


Yuna memejamkan matanya, tak sanggup lagi rasanya menatap pada sosok Azka yang berada tak jauh darinya. Sedetik berikutnya, ia menyusut cairan bening yang lolos membasahi pipinya dengan menggunakan jari-jarinya.


Ia kalut, cemas dan gelisah. Bahkan mendadak justru menjadi takut dengan kebohongan yang telah dilakukannya.


Tuhan..


Apa yang harus dilakukannya?


Yuna terus menggumamkan tanya yang sama disetiap tarikan napasnya. Hingga kelopak matanya yang terasa berat dan telah mengatup rapat terasa sulit untuk kembali terbuka. Lelah yang kemudian membuatnya tertidur..


Azka baru menyadari jika pada saat itu Yuna sudah tertidur pulas ketika tiga kali ia memanggilnya, namun tak ada sahutan dari gadis itu.


Menyudahi apa yang sedang dikerjakannya, Azka kemudian beralih dari kursi kerja yang didudukinya untuk selanjutnya berjalan mendekati Yuna. Berjongkok disebelah sofa yang saat itu ditiduri Yuna, ia mendecak melihat bagaimana posisi tubuh gadis itu saat tertidur. Kepalanya bersandar pada lengan sofa, sementara kedua kakinya yang bahkan lebih panjang dari sofa itu, menekuk dengan tidak nyaman.


“Bagaimana bisa kau tidur seperti ini.. Yuna, hei.. Yuna, bangunlah..”


Gadis itu hanya sedikit melenguh saat Azka mencoba membangunkannya dengan mengusap-usap pada wajahnya, dan membuat Azka menyadari bekas airmata yang masih terasa basah dipipinya.


Azka berhenti mengusapnya dan menjadi tertegun menatapnya..


“Apa yang sedang kau cemaskan sekarang? Percayalah bahwa aku akan terus ada untukmu. Aku benar-benar tak ingin melihatmu bersedih, Yuna..”


Menyingkirkan anak-anak rambut didahinya, Azka lantas mencondongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan disana. Selanjutnya beralih membuka sepasang sepatu yang masih dikenakannya, dan kemudian


Membopong tubuh Yuna keluar dari dalam ruang kerjanya.


***


“Bibi.. Bibi..! Apa kau masih belum bangun..? Bibi..!”


Pagi itu, Bibi Lia dibuat tergopoh-gopoh saat keluar dari kamarnya yang berada tak jauh dari ruang dapur ketika mendengar suara Ny.Dania yang memanggil-manggilnya, juga beberapa kali suara gaduh yang didengarnya.


Bibi Lia cukup terkejut ketika mendapati kekacauan didapurnya, serta Ny.Dania yang telah berada didapur itu, lengkap dengan mengenakan celemek ditubuhnya. Hal yang seingatnya tak pernah terjadi selama kurun waktu yang cukup lama ia bekerja disana. Wanita itu tak pernah sekalipun bersinggungan dengan dapur lantaran telah memiliki para pekerja yang melakukannya dan terlebih karna adanya larangan keras dari suaminya.


Jam berapa sekarang?


Apa ia telat bangun hingga sang nyonya sampai harus turun tangan membuat sarapan? Dan berakhir dengan mengacaukan perkakas dapurnya..


Pikir Bibi Lia dengan mata mengerjap, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya..


“Bibi..!”


“Ohh, Nyonya.. Apa yang sedang nyonya lakukan? Apa saya kesiangan? Bagaimana jika Tuan melihatnya..”


Bibi Lia mencoba meraih pisau pemotong dari tangan Ny.Dania, namun wanita itu tidak membiarkannya.


“Ayah Azka masih belum bangun, jadi aku bisa mengerjakan ini. Aku membuat bekal makan siang untuk Yuna, hari ini dia sudah harus aktif mengikuti kelas di universitas..”


“Ya Tuhan, kalau hanya itu, saya masih bisa mengerjakannya.. Nyonya menyingkir saja, biar saya yang meneruskan..”


“Tidak.. Tidak.. Aku yang akan mengerjakan ini, aku membangunkan Bibi hanya untuk menanyakan apakah yang aku buat ini rasanya sudah pas?”


Ny.Dania menyodorkan telur gulung buatannya agar Bibi Lia mencicipinya. Wanita itu bahkan terlihat was-was saat Bibi Lia kemudian mencomot satu dan mencicipinya.


“Bagaimana?”


Ketika Bibi Lia mengangguk dan mengatakan telur gulung buatannya cukup enak untuk kategori pemasak pemula sepertinya, Ny.Dania tersenyum cerah dan terlihat makin bersemangat membuat menu makanan yang telah ia daftar dalam secarik kertas yang ditempelkannya pada pintu kulkas.


Astaga..


Bibi Lia terheran saat mengetahui semua itu adalah jadwal dari menu bekal makan siang untuk Yuna..


“Kapan Nyonya mendaftar semua ini?”


Ny.Dania justru tersenyum bangga saat melihat raut ketidak percayaan yang sedang ditunjukkan sang Bibi diwajahnya.


“Semalam sambil menunggu ayah Azka pulang, Aku menyusunnya. Kau lihat sendiri, Bibi.. Betapa kurusnya gadis itu. Aku harus memberinya banyak makan, terlebih seharian dia akan berada dikampus. Yuna harus membawa banyak bekal makanan.. Bibi tidak perlu khawatir, ini tidak akan menambah pekerjaanmu, karna aku sendiri yang akan mengerjakannya.. Aku hanya membutuhkan Bibi untuk mencicipi rasanya..”


Ny.Dania kembali tersenyum..


“Saya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu Nyonya.. Hanya saja, bagaimana jika Tuan marah karna anda berada didapur?”


“stt.. Karna itu aku mengerjakannya pagi-pagi seperti ini, ayah Azka tidak akan mengetahuinya dia tidak akan bangun sepagi ini..”


Ny.Dania hampir saja menjatuhkan pisau pemotong ditangannya ketika sang suami telah berada tak jauh darinya. Berdiri berkacak pinggang dengan tatapan mata mengawasinya.


“Oh, Papa sudah bangun?”


“hm..”


“Aku.. Aku sedang mengerjakan sesuatu..”


“Keluar darisana sekarang..”


Ny.Dania mengabaikan kalimat peringatan dari sang suami dan malah meneruskan mencincang bawang putih yang rencananya akan dipergunakan untuk menumis.


“Ma, kau tidak mendengarku?”


“Nyonya.. Tuan memanggil anda, biarkan saya yang mengerjakannya”


Ny.Dania mendesah frustasi, meletakkan pisau pemotong ditangannya dan kemudian menatap pada sang suami tanpa beranjak dari dapur sesuai yang diperintahkan Tn.Rian kepadanya..


“Papa tak bisa seperti ini terus, Pa.. bagaimanapun aku juga ingin menjadi wanita normal”


“Jadi selama ini kau menganggap dirimu sendiri tak normal?”


“Ck.. Aku seorang wanita, seorang istri dan terutama seorang ibu. Apa salahnya berada didapur?”


“Kau sudah tau alasannya.. Dan lagi pula kau tak perlu melakukannya. Bibi Lia bisa mengerjakannya..”


“Iya Nyonya, Tuan benar..”


“Sebaiknya kau diam Bibi, ini menjadi urusanku dengan suamiku”


Bibi Lia kemudian menyingkir, mengerjakan tugasnya untuk membuat sarapan pagi itu dan mencoba mengabaikan perdebatan yang terjadi disekitarnya.


“Apa yang sebenarnya sedang kau kerjakan hingga kau berkeras seperti ini?”


Tn.Dania mempertanyakan..


“Aku.. Aku sedang menyiapkan bekal makan siang untuk, Yuna..”


“Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kau sedang menyiapkan bekal untuk, Yuna..?”


Ny.Dania mengangguk dan sekaligus memutar mata saat kemudian sang suami justru tertawa. Sangat jelas sedang menertawainya..


“Ya Tuhan.. Mama, Yuna bukan lagi gadis kecil di sekolah dasar, dia di universitas..”


“Memangnya kenapa kalau dia di universitas, Yuna tetap membutuhkan makan bukan..”


“Kau cukup membekali dia dengan uang, tapi jika kau berkeras membawakan bekal makan siang untuknya, biarkan Bibi Lia yang menyiapkannya.. Dan jauhkan tanganmu dari pisau itu..”


Tn.Dania sedikit menggeram melihat sang istri yang kembali memegang pisau dan dengan santainya kembali menggunakan benda berbahaya itu.


Betapa ia sedang melihat itu dengan pandangan ngeri dikedua matanya.


Bagaimana jika pisau itu melukai tangan istrinya?


Ya Tuhan..


Ia paling tidak menginginkan seseorang yang dicintainya terluka.


“Kau tidak lihat apa, Bibi sudah cukup kerepotan menyiapkan sarapan, kau tidak kasihan padanya? Dan jangan lupakan bila aku yang membawa Yuna kerumah ini, jadi segala sesuatu tentangnya menjadi urusanku. Aku tidak mau dia ditangani orang lain..”


Tn.Dania hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pada kekeras kepalaan yang diperlihatkan sang istri padanya.


“Sudahlah Pa, apa Papa tidak sadar selama ini Papa sudah menghalang-halangiku untuk menjadi selayaknya seorang istri sekaligus ibu Azka yang sudah seharusnya mengurusi kebutuhan makan kalian. Kau tak pernah membiarkanku menyentuh dapur, padahal aku sangat ingin melakukannya. Tapi mulai sekarang aku harap kau tidak lagi melakukannya dan berhenti dengan ketakutan konyolmu. Percayalah, aku bisa menangani ini. Ini adalah apa yang kuinginkan, dan kau sudah berjanji saat menikahiku akan memberikan apapun yang kuinginkan..”


Tn.Rian mendesah pasrah, apa yang dikatakan sang istri telah membuatnya mengambil sikap mengalah. Setidaknya untuk saat itu, sampai nanti dirinya menemukan cara untuk membujuk kekeras kepalaan yang dimiliki oleh istrinya.


“Baiklah, aku mengalah.. Bibi, tolong kau awasi dia. Aku benar-benar tak menginginkan satu-satunya istri yang kumiliki terluka..”


Bibi Lia mengangguk..


“Terimakasih Pa..”


Ny.Dania tersenyum-senyum sendiri melihat sang suami yang akhirnya beranjak dan tak lagi mengawasinya. Ia kemudian meneruskan apa yang dikerjakannya dengan sesekali meminta bantuan Bibi Lia, hingga akhirnya menyelesaikan semua menu masakannya, dan kemudian menyusunnya kedalam wadah.


Jelas terlihat gurat kepuasan diwajahnya saat itu, melihat hasil olahannya yang dibuat khusus untuk Yuna. Gadis itu, entah ada sesuatu macam apa dalam diri gadis itu yang mampu membuatnya melakukan hal seperti itu. Dan Yuna, sudah pasti dia harus menghabiskan semua yang dikerjakannya dengan susah payah bahkan sampai harus melakukan perdebatan di pagi-pagi buta dengan suaminya.


Ny.Dania kembali tersenyum setelah menutup satu wadah terakhir berisi makanan-makanan bekal makan siang untuk Yuna. Dan setelah sempat membantu Bibi Lia menata sarapan diatas meja, ia melepas celemek yang dipakainya, berniat untuk memanggil Yuna dikamarnya.


Biasanya, jika sudah selesai mengurusi kakaknya, Yuna akan keluar dari kamarnya. Tapi sampai saat itu gadis itu masih belum terlihat.


“Apa dia lupa jika sudah harus bersiap?”


Ny.Dania sedikit menggerutu dalam langkahnya menuju kamar yang ditempati Yuna bersama dengan Yuri. Tapi kemudian ia justru berpapasan dengan Jena yang baru saja keluar dari dalam kamar itu dan mengatakan padanya bila Yuna tak sedang berada didalamnya. Jena juga mengatakan bila Yuri bahkan mengira Yuna tidur dengannya.


“Jadi dimana gadis itu?”


“Saya akan melihat kekamar yang berada diatas, Nyonya. Mungkin semalam nona Yuna tidur disana”


Namun apa yang dipikirkan Ny.Dania jelas berbeda dengan apa yang dipikirkan Jena. Ia teringat saat semalam Yuna membuatkan kopi untuk Azka dan mengatakan akan menemani Azka yang sedang mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang belum diselesaikannya.


Dengan itu, Ny.Dania memiliki satu pemikiran pasti yang kemudian membuatnya melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kearah kamar Azka. Mereka berdua pasti bersama semalaman..


Benar saja, decakan lolos dari lidahnya saat melihat Yuna yang berada diatas tempat tidur. Jelas masih tertidur dengan lengan Azka yang memeluk pinggangnya.


“Ya Tuhan…”


Alih-alih memperlihatkan kemurkaan diwajahnya saat melihat keduanya yang berada diatas tempat tidur yang sama, Ny.Dania justru hanya mendesah sambil melangkah dengan santai mendekati tempat tidur Azka. Dan dengan segera menyingkap selimut yang hanya menutupi tubuh keduanya sebatas kaki, lalu mengguncang tubuh Azka dan juga Yuna.


“Bangun kalian.. Azka! Yuna..! Bangun.. Kalian harus bersiap.. Azka!!”


***To be continue