
Yuna telah melihat Yuri tertidur tadi, sementara dirinya justru tak sedikitpun merasakan rasa kantuk yang memberatkan kedua matanya. Turun dari atas tempat tidur, ia meninggalkan Yuri dan memutuskan untuk mencari udara segar diluar. Namun bukan justru merasakan angin segar ketika ia berada diteras sisi kanan bangunan villa itu, yang ada dirinya justru disesaki perasaan kalut.
Berbagai hal memenuhi pikirannya dari mulai kakak nya, orangtua nya yang ternyata bukanlah orangtua kandungnya, dan Azka. Pria itu memang telah mengambil alih hampir separuh isi pikirannya setelah apa yang dikatakannya tadi, Yuna benar-benar merasa bersalah telah menjadi gadis yang begitu egois mementingkan dirinya sendiri. Memutuskan apapun yang diinginkannya tanpa peduli dengan keinginan Azka, dengan apa yang dirasakannya.
Dan ketika ia melihat lagi sisi lain dalam diri Azka yang sanggup membentak, marah atas keinginannya, ia tak tahu lagi apakah keputusannya yang sekarang adalah tepat. Sementara menengok kebelakang apa yang pernah diputuskannya berakhir dengan mengecewakan..
“Kau disini?”
Menoleh, Yuna mendapati Arkhan sedang berjalan kearahnya. Dua gelas anggur berada ditangannya, yang kemudian salah satunya diulurkan kepadanya.
“Minumlah..”
Melihat raut wajah Yuna yang ragu-ragu menerima ulurannya, Arkhan menambahkan..
“Hanya segelas tidak akan membuatmu mabuk..”
Yuna hendak meraih, namun Arkhan justru menariknya..
“eh, Kau sudah cukup umur kan?”
Yuna sedikit menarik sudut bibirnya, apa pria ini sedang mencoba bercanda dengannya?
Sementara Arkhan justru terlihat tersenyum lebar sekarang..
“Aku delapan belas tahun, mungkin lebih sekarang..”
Yuna kini memegang segelas anggur itu, kemudian meneguknya dengan perlahan.
“Kau terlihat lelah.. Kenapa kau tidak tidur?”
“Aku tidak merasa mengantuk.. Dimana Jena?”
“Ada yang kau butuhkan?”
Yuna menggeleng..
“Tidak.. Aku hanya tak melihatnya”
“Aku menyuruhnya untuk berbelanja pakaian. Yuri memerlukan pakaian ganti, kau juga kan..?”
Apa pria ini selalu perhatian seperti ini?
“Aku bisa mengambil pakaianku saja, tidak perlu membeli lagi”
“Jadi kau ingin kembali kerumah Azka? Ku dengar kau sudah meminta memutuskan hubungan dengannya.. Aku mendengar kalian bertengkar tadi”
Yuna menghembuskan napas mendengarnya, dan kembali meneguk anggur dari gelasnya..
“Dapatkah aku meminum segelas lagi?”
Arkhan menyeringai kearahnya..
“Tidak.. Aku memberi ini hanya untuk menghangatkan tubuhmu, bukan menjadikannya pelarian pikiranmu..”
Terdiam..
Yuna tak memberikan tanggapan, hingga beberapa menit berikutnya hanya keheningan yang terjadi diantara keduanya.
“Apa kau mencintai kakak ku?”
“Kau sudah tahu?”
Yuna mengangguk..
“Pak Azka yang menceritakannya padaku.. Jadi kau sudah mengenal kak Yuri sejak lama?”
“Kau memanggil Azka seformal itu? Tidak bisa dipercaya”
Yuna tidak menanggapi sampai kemudian Arkhan melanjutkan..
“Hm, kami satu sekolah.. Aku sudah jatuh cinta padanya sejak saat itu. Tapi Yuri menolakku.. Mungkin dulu aku tak terlalu tampan..”
“Jadi sekarang kau menganggap dirimu tampan?”
“Jadi aku masih tidak tampan? Oh, bagaimana ini..”
Yuna merasakan geli mendengarnya..
Sejak kapan ia mengenal pria ini?
Rasanya hanya saat Azka memperkenalkannya saja. Setelahnya, ia tak pernah berbicara apapun dengannya.
Tapi mengapa obrolan mereka yang sekarang mengalir tanpa ia merasakan segan padanya, seolah-olah ia telah akrab dan mengenalnya sejak lama. Ia juga merasakan nyaman dan menjadi santai sekarang.
“Jadi bagaimana menurutmu.. Aku mencintai kakakmu. Apakah kau akan menerimaku?”
“Kau bicara terus terang sekali, Tuan..”
“Tuan..? Kau memanggilku Tuan? Kusarankan jangan memanggilku seperti itu. Aku ini calon kakak iparmu, jadi mulailah membiasakan diri denganku.. Panggil aku Kakak..”
Sebelah mata Arkhan yang mengerling, benar-benar membuat Yuna meloloskan tawa mendengarnya..
“kak Yuri bahkan menolakmu, bagaimana bisa kau menjadi kakak iparku..?”
“Jangan meremehkan , aku pastinya akan mengusahakan agar aku bisa menjadi kakak iparmu. Ayo, cobalah memanggilku Kakak..”
“Ka-kak.. Seperti itu?”
“Ya, seperti itu.. Terdengar sangat manis bila kau yang mengucapkannya..”
Yuna kembali menunjukkan senyum geli karenanya..
“Kurasa alasan Kak Yuri menolakmu bukan karna kau tidak tampan, tapi karna kau sering membual pada para gadis..”
Mengapa rasanya menjadi aneh sekarang?
“Gadis pintar.. Sekarang tidurlah, sudah terlalu malam bagi seorang gadis untuk berada diluar”
“Kurasa, ini bahkan baru jam delapan..”
Yuna mendengus..
“Lagi pula, ada yang ingin kutanyakan padamu..”
“Apa?”
“Jadi kau seorang detektif?”
“Bisa dibilang seperti itu..”
“Kau bekerja pada Pak Azka?”
“Beberapa waktu lalu untuk mencari keberadaan Yuri dan menyelidiki pria bernama Doni itu, iya.. tapi sekarang tidak. Aku…”
Apa yang dikatakan Arkhan terinterupsi oleh suara ponselnya.
“Panjang umur sekali pria ini, kita sedang membicarakannya dan dia menelpon…”
deg..
Jantungnya tiba-tiba berdesir, Yuna tahu yang dimaksud Arkhan adalah Azka.
Ia kemudian hanya bisa memperhatikan saat Arkhan menjawab ponselnya..
“Ya, Azka? hm, ada.. Kau ingin bicara dengannya? Baiklah, tunggu..”
Arkhan mengulurkan ponselnya pada Yuna..
“Azka ingin bicara denganmu”
Yuna menggeleng, membuat Arkhan berkerut dahi atas penolakannya..
“Kau tidak ingin bicara dengannya?”
“Tidak ada lagi yang harus kami bicarakan..”
“Kau benar-benar ingin putus?”
Yuna tak memberi jawaban, sementara Arkhan kembali menempatkan ponselnya menempel ditelinga, dan mengatakan pada Azka apa yang baru saja Yuna katakan padanya.
“Dia, dia ada bersamaku.. Kami sedang minum..”
Entah apa yang Azka katakan saat itu, namun Arkhan seakan menahan tawa karenanya.
“Kami hanya berdua, Yuri sudah tidur. Jena, aku menyuruhnya keluar membeli pakaian.. Telpon saja dia jika kau ada perlu dengannya”
Yuna makin berkerut dahi saat Arkhan kini benar-benar tertawa..
“Santai saja, aku tidak akan melakukan apa-apa pada gadis mu. Kau sudah tahu aku menyukai kakaknya. Jadi apa yang ingin kau katakan padanya, katakanlah.. Akan ku sampaikan..”
Arkhan menutup telpon setelah beberapa saat mendengarkan. Ia kemudian kembali mengarahkan tatapannya pada Yuna. Sisa-sisa tawa masih bertahan diwajahnya..
“Dia memintamu untuk tidur sekarang, jika tidak.. Dia akan datang dan menyeretmu pulang bersamanya”
Yuna memutar mata mendengarnya..
“Aku tidak bohong, itu memang yang Azka katakan tadi. Menggelikan.. Pria sepertinya, seorang pimpinan perusahaan besar sepertinya, ternyata bisa bersikap menggelikan seperti itu. Kurasa dia terbakar cemburu saat aku mengatakan sedang minum denganmu.. Oh, aku sangat ingin melihat seperti apa wajahnya sekarang..”
Cemburu..
Yuna sangat tahu bagaimana berlebihannya pria itu.
“Yuna..”
Arkhan menyentuh pada bahu Yuna, dan menyadarkannya dari keterdiamannya memikirkan Azka yang mungkin sedang mencemburuinya.
Oh..
Mengapa ia juga ingin melihat seperti apa wajah pria itu sekarang.
“Masuklah, kau perlu beristirahat..”
Sekali lagi, Arkhan harus beralih pada ponselnya yang berdering. Kembali Azka yang menghubunginya..
“Anda harus membayarku jika ingin mendapatkan informasi, Tuan..”
Ada canda dalam suaranya, dan dengan ponsel masih menempel ditelinganya, ia mengerling pada Yuna sebelum kemudian mulai melangkah masuk kedalam villa, meninggalkan Yuna yang masih berada disana.
Namun tak berselang lama, kemudian Yuna menyusul masuk, ia melihat Arkhan yang tak lagi berbicara melalui ponselnya, melainkan mulai mengambil remote dan menyalakan televisi. Melihat Yuna yang melangkah mendekatinya, ia lantas menunjukkan senyum diwajahnya..
“Dia benar-benar memperingatkanku, Yuna..”
“hm.. Aku akan tidur. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu karna telah menjaga kakak ku. Terimakasih untuk semua bantuanmu..”
“Tidak usah sungkan.. Itu yang dilakukan seorang pria pada gadis yang dicintainya, juga pada calon adik iparnya..”
Mau tak mau, Yuna kembali menarik senyum dibibirnya..
“Terimakasih, Kak..”
Ucap Yuna yang langsung membuat Arkhan tertawa saat kemudian melihat gadis itu melarikan diri masuk kedalam kamarnya
***
TBC