
Yuna POV
“Kakak..”
Aku mendekat dan tersenyum saat telah berada dihadapannya.
“Kakak..”
Aku menyentuh tangannya saat Kak Yuri hanya diam tak menanggapi sapaanku.
Apa yang terjadi?
Apa kakak ku mengalami mimpi buruk lagi..
Ya Tuhan..
Jangan biarkan hal itu terjadi lagi..
“Kakak, ada apa?”
Kakak baru merespon ketika aku meremas tangannya. Dia kemudian menatapku..
“Yuna.. kau sudah pulang..”
Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum, masih mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkannya..
“Kakak melamun?”
Dia menggeleng..
Namun jelas terlihat dari tatapan matanya saat melihatku, aku merasa ada sesuatu yang lain yang saat itu sedang dirasakannya.
Tapi apa?
“Kakak..”
“hm..”
“Pagi ini kau memiliki jadwal untuk terapi”
Anggukan kepalanya sebagai respon membuatku tersenyum. Aku merasa senang, dengan rutin menjalani terapi itu, aku yakin Kak Yuri akan lekas sembuh dan dapat kembali menggunakan kedua kakinya untuk berjalan.
“Kalau begitu aku akan membantu kakak bersiap. Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan air hangat terlebih dulu..”
Aku sudah akan beranjak dari hadapannya, tapi kurasakan kakak meraih pergelangan tanganku.
“Tunggu, Yuna.. Ada yang ingin kutanyakan padamu, ini tentang___”
“Awhh..”
Aku mengaduh merasakan nyeri, saat tangan Kak Yuri sedikit menekan dan mengenai bagian pergelangan tanganku yang terkena wajan tadi.
“Apa yang terjadi dengan pergelangan tanganmu, Yuna?”
Kakak memperhatikan pergelangan tanganku yang memerah, raut wajahnya kembali berubah. Tidak seperti yang sebelumnya, yang kali ini aku dapat menangkap kekhawatirannya padaku dalam sorot matanya.
“Ini tidak apa-apa, Kak. Hanya sedikit terkena wajan panas saat aku membantu bibi Lia memasak didapur tadi..”
Aku tersenyum, namun sepertinya hal itu masih tak melegakan untuknya. Kakak masih terus memperhatikan pergelangan tanganku yang memerah.
“kakak..”
“Apa itu juga bagian dari pekerjaan yang harus kau lakukan?”
“Ya?”
“kau sudah bekerja sepanjang malam, dan kau masih harus bekerja didapur? Kau pasti mengalami kelelahan hingga sampai membuat tanganmu terluka, Yuna”
Aku melihat setitik airmata jatuh diwajah Kak Yuri dan menyadari betapa besarnya kecemasannya terhadapku.
“Kau seperti ini karna aku..”
“Tidak, kaka.. Tidak karna kakak. Tidak seperti itu. Lihatlah aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit ceroboh dan kurang berhati-hati tadi. Kumohon, jangan terlalu mengkhawatirkanku..”
Aku menyusut airmata diwajahnya dan kembali menunjukkan senyum dibibirku. Dan kemudian kakak mengulurkan tangan, menyentuh wajahku, tepat dibagian bawah mataku.
“Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu, Yuna.. Kau bahkan tidak tidur kan? Kau memiliki lingkaran hitam ini..”
“Aku akan tidur nanti.. Sekarang sebaiknya aku membantu kakak bersiap..”
Aku tidak menginginkan pembicaraan yang semacam itu terjadi lagi. Aku tak ingin mendengar Kak Yuri terus merasa bersalah dengan menyalahkan dirinya sendiri.
Maka setelah terlebih dulu menyiapkan air hangat dan selanjutnya membantu Kak Yuri untuk mandi, dan berganti pakaian yang kesemuanya selesai pada sekitar tiga puluh menit. Aku lantas melakukan hal yang sama pada diriku sendiri. Ketika kemudian keluar dari dalam kamar mandi, aku melihat Kak Yuri yang duduk diatas kursi rodanya dan berada didepan cermin sebuah meja rias, sedang memoleskan bedak diwajahnya.
Aku tersenyum melihatnya, teringat saat dulu hal itu menjadi salah satu dari sekian banyak keahliannya, dan sepertinya yang satu itu masih tak berubah. Kakak memang sangat pandai merias wajah cantiknya dan bahkan kakak pula yang dulu sering mengingatkanku agar tak terlalu cuek pada penampilanku. Kak Yuri juga tak segan mendadaniku. Dia benar-benar mengurusku dengan baik.
“Kakak sangat cantik..”
Aku menghampirinya dan menyentuh kedua bahunya dari belakang..
“Kau juga cantik, Yuna..”
Dia meraih dan menggenggam tanganku, sementara aku menggelengkan kepalaku.
“Tidak lebih cantik daripada Kakak..”
“Kau adikku yang paling cantik, sangat cantik..”
Kini aku dapat melihat senyum diwajahnya..
“Apakah kita sudah cukup memuji satu sama lain..”
Dia masih tersenyum dan mengangguk..
“Yuna, apa kau akan menemaniku kerumah sakit?”
Aku teringat kata-kata ibu Azka yang tak menginginkanku untuk kembali menemani kak Yuri menjalani terapinya hari ini, dan baru saja ingin mengatakan hal itu padanya ketika kemudian terdengar ketukan dipintu dan melihat Jena yang kemudian melongok setelah aku mengatakan padanya untuk masuk.
“Nyonya meminta anda untuk berada diruang makan, nona.. Mereka menunggu untuk sarapan bersama..”
Tatapan Jena mengarah padaku..
“Aku?”
“Dan nona Yuri..”
***
Author POV
Ketika kemudian Yuna menuju keruang makan, dengan Jena yang membantunya mendorong kursi roda Yuri, disana Tn.Rian dan Ny.Dania sudah menunggu, begitupun dengan Azka. Ketiganya sedang memperbincangkan sesuatu yang kemudian terhenti ketika mendengar langkah Yuna mendekat.
Tn.Rian tersenyum, sementara Ny.Dania hanya menatap awas pada Yuna dan Yuri secara bergantian. Sedangkan Azka, kemudian berdiri dari duduknya dan langsung menarik sebuah kursi yang berada disebelahnya.
Yuna sempat menghentikan langkahnya ketika melihat Azka melakukan itu, tapi yang kemudian ia lakukan adalah membungkuk memberi salam pada Tuan dan Ny.Dania.
“Duduklah Yuna, istriku ingin kau berada dimeja makan dan menikmati sarapan pagi bersama kami..”
Ny.Dania memutar mata kearah sang suami setelah mendengar apa yang dikatakannya, dan lantas membuat Tn.Rian memperbaiki kalimatnya..
“Maksudku, kami semua ingin mengajakmu dan juga kakakmu untuk sarapan bersama, duduklah..”
Yuna terlihat ragu, atau sebenarnya ia justru sedang kebingungan menentukan dimana posisi duduknya saat itu. Sebelumnya ia memang terbiasa duduk disebelah Azka, namun dengan keberadaan Yuri disana, hal itu jelas tidak mungkin dilakukannya.
“Azka, bolehkah aku berada disebelahmu..”
Apa yang dikatakan Yuri membuat Tn.Rian dan Ny.Dania langsung saling berpandangan, namun mendengar keinginan Yuri itu, dengan segera dapat membuat Yuna menentukan pilihan. Ia memilih untuk melangkah memutar dan mengambil tempat duduk yang berada satu kursi jaraknya disamping Ny.Dania, namun belum sempat Ia mendudukkan tubuhnya, wanita itu telah lebih dulu meraih pergelangan tangannya dan mengarahkannya untuk menempati kursi yang tepat berada disebelahnya.
“Azka, bolehkah..?”
Yuri mengulang pertanyaannya pada Azka yang pada saat itu sedang memperhatikan langkah Yuna dan apa yang dilakukan nya dengan tidak menduduki kursi yang biasa digunakannya.
“Oh, Ya.. Tentu saja..”
Azka kemudian menggeser kursi tadi agar Jena bisa meletakkan kursi roda yang diduduki Yuri untuk berada disebelahnya.
“Terimakasih..”
Azka menunjukkan senyum untuk meresponnya..
Ny.Dania menyipitkan mata melihatnya dan memutuskan untuk tidak mengomentari apa yang dilihatnya saat itu, setelah merasakan Yuna meraih dan menggenggam tangannya yang berada dibawah meja. Tatapan mata gadis itu bahkan seperti sedang meminta agar ia membiarkannya.
Ny.Dania lantas mendengus sebelum akhirnya memanggil Bibi Lia untuk membawa sarapan pagi mereka keatas meja makan.
Bibi Lia muncul dari arah dapur dengan memimpin dua pelayan lain yang membawakan nampan berisi makanan. Mengaturnya sedemikian rupa diatas meja, Bibi Lia lantas mengisi gelas-gelas kosong disana dengan menuangkan air putih kedalamnya.
Tiba pada bagian Yuri, Bibi Lia terlihat menunjukkan senyum diwajahnya, namun respon yang didapatkannya justru teramat mengejutkannya.
Prang~
Yuri menyenggol atau memang dengan sengaja menjatuhkan gelas disebelahnya dari atas meja. Menciptakan suara berdenting dari gelas yang beradu dengan lantai marmer yang mengkilap, dan menjadi pecah berkeping-keping. Hal itu sontak membuat sang Bibi terlonjak dan bahkan sedikit merasakan shock melihatnya.
“Tolong jangan melakukan ini padaku..”
Ucap Yuri kemudian, dengan suara yang terdengar bergetar..
“Astaga.. Bibi..”
Ny.Dania langsung bersuara keras, Ia sudah akan berdiri tapi sang suami menahan dengan memegang tangannya. Yang lantas dilakukannya hanyalah mendecak, dengan tatapan tajamnya yang mengarah pada Yuri.
“Kakak..”
Yuna pun sempat terperangah, namun kemudian ia bergerak cepat menghampiri Bibi Lia, berusaha untuk menenangkannya dari keterkejutan akibat dari sikap sang kakak yang teramat jauh dari prediksinya.
“Bibi tidak apa-apa?”
Yuna menyentuh kedua bahu Bibi Lia dan sedikit meremasnya. Bibi Lia lantas memberinya respon dengan menganggukkan kepalanya, berusaha keras menunjukkan senyum dihadapan Yuna dan juga menghalau airmatanya agar tak jatuh pada saat itu.
“Aku tidak apa-apa, sebaiknya aku membersihkan pecahan gelasnya. Minggirlah Yuna, itu bisa melukai kakimu..”
“Biarkan aku saja yang melakukannya..”
Yuna kemudian merundukkan tubuhnya dan memungut pecahan gelas kaca itu dengan menggunakan tangan kosong. Akibatnya, jemari tangannya justru tertusuk serpihan-serpihan beling itu.
“Awhh..”
Yuna mengaduh setelah merasakan perih menyerangnya dan setitik darah yang keluar dari ujung jari telunjuknya.
“Ya Tuhan, sudah kukatakan jangan melakukannya, Yuna..”
Bibi Lia berusaha menarik tangan Yuna dan menjauhkannya dari pecahan-pecahan gelas itu, namun Yuna menghiraukannya.
Dan reaksi yang lebih justru ditunjukkan oleh Azka. Ia dengan cepat mendorong kursi yang didudukinya dan lantas menghampiri Yuna. Merenggut tangannya, dan kemudian memasukkan ujung jari telunjuk itu kedalam mulutnya, menghisap darah yang keluar darisana.
“Kau tidak apa-apa?”
Yuna hanya mengerjap dan terbengong. Ia seakan sedang berusaha keras mencerna apa yang terjadi, yang pada saat itu dilakukan Azka padanya.
“Gadis itu benar-benar bodoh.. tadi dia sudah membuat pergelangan tangannya terkena wajan panas, sekarang dia malah melukai tangannya dengan pecahan gelas.. Apa yang sebenarnya kau lakukan, Yuna..!!”
Ny.Dania berdiri dari duduknya, menunjukkan raut wajah campuran dari rasa kesal dan sekaligus khawatir, yang lantas membuatnya berteriak pada Jena untuk membawakannya obat luka.
Dengan cepat Jena muncul dengan membawa sesuatu ditangannya, yang kemudian langsung diberikannya pada Azka. Azka lah yang kemudian memasangkan sebuah plester kecil diujung jari telunjuk Yuna.
Namun pada saat itu tidak satupun yang menyadari tubuh Yuri menegang mengetahui kepanikan yang terjadi disekitarnya, karna semua masih terfokus pada Yuna yang terluka.
“Tidak terasa sakit kan?”
Yuna mengangguk mengiyakan..
“Sakit?”
Azka memastikan, yang langsung ditanggapi Yuna dengan gelengan cepat dikepalanya. Membuat Azka tersenyum melihatnya..
“Terimakasih..”
“hm, lain kali hati-hati..”
Azka terlebih dulu mengusap pada rambutnya, sebelum berdiri dan kembali menduduki kursinya.
“Yuna..”
Yuna dapat mendengar gumaman Yuri pada saat itu, sang kakak pasti sedang merasa bingung oleh karna kepanikan disekitarnya yang ditunjukkan padanya.
Oh, jangan sampai sang kakak berpikir macam-macam..
“Tidak apa-apa Kak, aku tidak apa-apa..”
“Tapi kau terluka..”
“Hanya luka kecil, ini akan segera sembuh. Tidak apa-apa..”
Yuna tersenyum..
“Ini salahku.. Maafkan aku, Yuna. Aku___”
Yuna menggeleng, memutus kalimat yang berusaha diucapkan oleh Yuri, ia lantas meraih dan menggenggam tangannya.
Sementara kemudian seorang pelayan lain muncul untuk membersihkan pecahan gelas, dan membereskan sedikit kekacauan yang sempat terjadi diruang makan itu. Sedangkan Bibi Lia, entah sejak berapa saat lalu sudah tak terlihat lagi disana.
“Apa kau sengaja melakukannya tadi? Membuat kekacauan dengan menjatuhkan gelas itu?”
Suara Ny.Dania seketika membuat Yuri maupun Yuna menujukan tatapan mereka pada Ibu Azka. Menggurat ketidak sukaan dalam wajah cantik wanita paruh baya itu, atas sikap yang telah dilakukan oleh salah satu dari kedua gadis itu.
“Mama.. Dia pasti tidak sengaja melakukannya, bukankah begitu Yuri?”
“Iya, Tuan.. Maaf, saya tidak bermaksud membuat kekacauan. Maafkan saya Nyonya..”
Yuri menundukkan wajahnya..
“Seharusnya kau juga mengatakan permintaan maaf itu pada Bibi Lia..”
Sambung Ny.Dania lagi, masih dengan nada kesinisannya yang kemudian dibalas dengan teguran dari sang suami..
“Jangan memperbesar masalah, Ma.. Sebaiknya ayo mulai sarapan pagi kita..”
Ny.Dania mendengus dan kemudian diam. Hanya sesaat ia terdiam, karna selanjutnya ia kembali mengeluarkan suaranya pada Yuna yang masih berdiri diam disamping kursi roda Yuri.
“Apa yang kau lakukan disana.. Cepatlah kembali duduk..”
Kalimat yang disuarakan oleh Ny.Dania seketika itu membuat Yuna tersadar dari lamunannya dan lantas kembali menempati kursi yang berada disebelah wanita itu.
Begitu Yuna berada disebelahnya, Ny.Dania langsung meraih pergelangan tangan Yuna, untuk memastikan gadis itu tidak mendapatkan luka serius pada jari tangannya.
“Kau tidak apa-apa?”
Yuna menggeleng dan tersenyum sebagai jawaban untuk pertanyaan itu. Ia dan ibu Azka saat itu pasti tidak menyadari keberadaan Yuri yang dapat mendengar dan bahkan melihat langsung interaksi singkat yang terjadi didepannya, antara Yuna dan Ny.Dania saat itu.
Yuri hanya bisa menyimpan pertanyaan didalam hati saja. Bahkan kepanikan Ibu Azka kala mendengar Yuna mengaduh tadi, masih terasa janggal bagi Yuri. Begitupun dengan sarapan bersama yang dilakukan mereka pada saat itu.
Untuk hubungan dengan seorang pekerja seperti posisi Yuna saat ini, wajarkah bila sikap Ibu Azka sampai seperti itu?
Jika pun wajar, mengapa hanya sang adik yang menerima perlakuan seperti itu.
Mengapa hanya Yuna yang diminta untuk berada satu meja dan melakukan sarapan bersama mereka.
Bagaimana dengan pekerja yang lain, termasuk dengan Jena?
Jena jelas tidak ikut serta disana..
Tidakkah posisi mereka sama seperti Yuna?
Sebagai pekerja dirumah itu..
Dan juga sikap Azk tadi..
Ada apa sebenarnya?
Yuri terus menggulirkan pemikiran itu, hingga ia merasakan pandangannya yang menjadi sedikit berkunang..
***
to be continue