At First Sight

At First Sight
Episode 102



Setelah keluar dari dalam kamar sang kakak, Yuna berjalan kearah ruang makan, meski ia sama sekali tak berselera untuk memakan apapun saat itu, namun ia tetap melakukannya, tahu bahwa Ny.Dania akan mengomelinya bila ia melewatkan hal itu.


Belum sampai ia memberikan sapaannya ketika melihat Tn.Rian yang telah duduk disana, tangannya lebih dulu ditarik oleh ibu Azka yang menggumamkan sesuatu tak jelas dibibirnya.


Ny.Dania menariknya hingga masuk kedalam kamar pribadinya, kemudian meminta Yuna untuk mengganti pakaian yang dikenakannya saat itu dengan salah satu pakaian yang telah dipersiapkannya.


Yuna menurut, ia melakukan semua yang dikatakan Ibu Azka ketika itu, dengan tanpa mengeluarkan suara bantahan apapun dari bibirnya. Hal yang kemudian membuat Ny.Dania berkerut dahi melihat kelesuannya..


“Ada masalah denganmu?”


“Tidak Bu.. Aku tidak apa-apa..”


Meski Yuna mengatakan hal itu, Ny.Dania tetap saja terus memperhatikan pada wajahnya. Wajah yang terlihat pucat ditambah dengan kedua matanya yang memerah, jelas membuat Ny.Dania tak begitu saja mempercayai ucapannya. Namun demikian ia hanya bisa mendesah melihatnya, Yuna jelas sedang terlihat enggan untuk bercerita kepadanya.


Setelah selesai mengganti pakaiannya dan mendapatkan polesan diwajahnya, sampai kemudian Ny.Dania kembali membawanya keruang makan, Yuna masih tak mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya. Ia terus hanya terdiam. Bahkan ketika tak lama Azka bergabung dengan pandangan terheran melihat ibunya.


Ibunya yang dalam dua puluh delapan tahun dilihatnya selalu nampak segar dan sudah rapi dipagi hari saat menemaninya dan ayahnya sarapan, kini justru terlihat lain dimatanya.


Ibunya masih mengenakan piyama tidur, dan hanya menggelung rambutnya asal. Serta sedang sibuk berjibaku membantu Bibi Lia menata menu sarapan pagi mereka diatas meja. Sungguh menjadi pemandangan langka dimatanya.


Pasti juga bagi ayahnya, karna Azka melihat sang ayah yang juga tak melepaskan pandangan matanya dan terus memperhatikan pada ibunya..


“Mama.. Tidakkah Mama terlihat lain pagi ini?”


Komentar Azka sambil menarik salah satu kursi disamping Yuna yang kemudian didudukinya dengan sekilas menatap gadis itu yang terlihat diam disampingnya.


“Kelakuan Mamamu membuatku ngeri, Azka..”


Komentar sang suami membuat Ny.Dania memutar mata kearahnya..


“Ck! Papa.. Jangan menjadi berlebihan..”


“Memangnya apa yang Mama lakukan, Pa?”


“Dia memasak dan membuat bekal makan siang untuk Yuna.. Kau tahu aku paling tidak suka melihat Mamamu berada didapur..”


Bahkan saat kemudian Azka tergelak, menertawai apa yang didengarnya dari sang ayah dan juga Bibi Lia yang ikut membenarkan mengenai ibunya yang mengacaukan dapurnya saat menyiapkan bekal makan siang untuk Yuna, gadis disampingnya yang telah membuat ibunya sampai melakukan hal sedemikian langka seperti itu, nampaknya justru sedang memiliki hal lain yang dipikirkannya. Yuna tak ikut melibatkan diri dalam percakapan penuh ledekan yang ditujukan pada Ny.Dania saat itu. Azka justru mendapati Yuna yang menunduk dengan terus menerus menghela napasnya.


“Kau tidak apa-apa..?”


Azka meraih tangannya dan menarik perhatian Yuna untuk menatap kearahnya.


“Ada yang sedang mengganggumu?”


Azka meremas tangan yang berada dalam genggamannya dan menatap Yuna penuh dengan tanya. Sejak semalam, ia tahu gadis itu memiliki sesuatu yang mengganggu pikirannya.


Tapi apa?


Apa mengenai Yuri?


“Tidak..”


Yuna menggeleng, dan sedikit menarik sudut bibirnya membentuk senyum untuk menguatkan apa yang dikatakannya.


Ia kemudian mengalihkan perhatian Azka dengan mengajaknya menikmati sarapan mereka, meski saat itu Yuna harus berusaha keras memaksa menelan kedalam tenggorokannya.


Dua puluh menit setelahnya, Azka menyudahi sarapan dan serta obrolan yang dilakukannya dengan sang ayah, dan berpamitan pergi kekantor. Menyusul Yuna tak lama setelahnya, setelah mendengar beberapa penuturan Ny.Dania agar ia tak melupakan menghabiskan bekal yang telah disiapkannya dengan susah payah.


Ny.Dania juga mengingatkan jika setelah menyelesaikan kelasnya, Yuna harus ikut dengannya mengunjungi salon kecantikan.


Yuna masih saja mendesah beberapa kali saat akan memasuki mobil yang akan mengantarnya, seolah ada beban dibahunya yang tak kunjung berkurang beratnya. Rasanya justru makin bertambah berat. Membuat kemuraman makin jelas terlihat diwajahnya.


Namun gurat muram diwajahnya saat itu dengan cepat berganti menjadi keterkejutan ketika mendapati Azka berada didalam mobil yang akan mengantarnya..


“Ayo, masuklah..”


Azka mengulurkan tangannya, menarik Yuna yang terdiam mematung dalam keterkejutannya.


“Pak.. Bagaimana kau bisa ada disini? Kau tidak kekantor?”


“Aku menunggumu untuk berangkat bersama.. Aku akan terlebih dulu mengantarmu. Kau bisa jalankan mobilnya sekarang, Paman..”


Begitu sang Paman supir melajukan mobil meninggalkan pelataran rumah Azka, keheningan-lah yang untuk beberapa lama terjadi diantara keduanya. Sampai kemudian Azka memecah keheningan itu..


“Bicaralah..”


Yuna menoleh pada Azka, mendapati pria itu yang intens menatap pada kedua bola matanya.


“Apa?”


“Sejak semalam kau terlihat muram. Aku tahu ada sesuatu yang sedang kau pikirkan.. Apa itu? Bicaralah denganku..”


“Pak.. Aku..”


Azka justru mendengar nada bergetar dalam suaranya dan melihat airmata menetes membasahi wajah Yuna. Apa yang sedang dipikirkan gadis itu pastilah sesuatu yang cukup sulit dan memberatkannya.


Maka kemudian, Ia merangkul bahu Yuna. Membiarkannya yang kemudian menangis didalam pelukannya. Menumpahkan airmatanya yang dengan cepat membasahi kemeja yang dikenakannya. Gadis itu terus terisak.


Hingga akhirnya, disela isakan tangisnya, Yuna mengatakan apa yang menjadi satu-satunya sumber kegelisahannya yang tak lain mengenai kondisi Yuri yang sekarang. Sang kakak yang bersikap lain padanya, hingga tiba-tiba mengatakan dengan keras tidak akan lagi melakukan terapi.


Yang dilewatkannya hanyalah mengenai kalimat Yuri yang mengatakan ingin mendapatkan kebahagiaannya. Mendapatkan Azka.


Entah mengapa, lidahnya menjadi kelu untuk menceritakan hal itu pada Azka, hingga membuatnya menyimpan hal itu untuk diketahui oleh dirinya sendiri.


“Sekarang, dengarkan aku..”


Azka menangkup wajah Yuna dengan kedua telapak tangannya. Membuat mata gadis itu kini bersitatap dengannya.


“Jika hanya masalah itu, aku bisa membujuknya. Sebelumnya Yuri juga pernah seperti ini kan.. Dan aku berhasil membujuknya. Maka jangan khawatir, aku akan kembali melakukannya”


Entah mengapa, Yuna merasa kali ini sang kakak takkan mudah terbujuk. Tapi semoga saja, dengan Azka yang kembali melakukannya, kakaknya akan kembali luluh seperti sebelumnya.


“Pak..”


“hm..”


“Mendadak aku merasa takut.. Takut dengan kebohongan ini. Aku takut menyakiti Kak Yuri..”


Azka terdiam mendengarnya, menghela napasnya dan mencoba menenangkannya. Meski kebohongan itu yang awalnya diinginkan oleh Yuna, namun Azka menyadari hal itu juga sangat berat untuk dijalaninya.


Dan sebagai seorang pria dewasa, ia akan mengerti dengan kelabilan emosi yang dimiliki gadis delapan belas tahun seperti Yuna, yang masih belum memiliki pemikiran yang matang. Gadis yang kini kembali berada dalam dekapannya. Ia takkan mungkin bisa menyalahkannya yang memilih langkah untuk melakukan kebohongan pada Yuri dan akhirnya menyeret mereka dalam pusaran kerumitan dari akibat kebohongan yang dilakukan.


“Aku akan terus bersamamu.. Jangan takut..”


Azka memberinya kecupan yang menghangatkan dahinya..


“Atau kita sudahi saja sampai disini. Aku akan menjelaskan pada Yuri..”


“Tidak.. Jangan..”


Yuna buru-buru menegakkan tubuhnya..


“Jangan melakukannya..”


“Ini hanya masalah waktu dan pilihan, Yuna. Cepat atau lambat Yuri haruslah tahu keadaan kita yang sebenarnya. Dan kau sudah seharusnya memilih kita selesaikan ini secepatnya atau kau ingin kebohongan ini berlarut-larut dan semakin membesar. Pilihan ada ditanganmu.. Dari awal aku sudah tak setuju dengan kebohongan ini. Tapi aku berusaha mengikutimu, karna aku tak ingin melihat kesedihan dimatamu. Tapi melihatmu sekarang, menangis dan bersedih, sepertinya percuma saja aku mengikutimu. Kau justru terlihat semakin tertekan, Yuna..”


Azka benar..


Tapi ia tak bisa melakukannya. Apalagi setelah mendengar yang diinginkan oleh kakaknya hanyalah bahagia bersama Azka. Jika ia mengatakan fakta hubungannya dengan pria itu, Yuna jelas akan membuat sang kakak jatuh kedalam perasaan terlukai sedemikian dalam.


Tuhan..


Ia benar-benar bingung sekarang..


“Kumohon jangan sekarang, Pak.. Kak Yuri masihlah sangat rapuh. Aku tak ingin melihatnya terpuruk sekali lagi..”


Jika tak ingin melihat Yuri terpuruk, maka menjauhlah dari Azka dan biarkan pria itu menjadi dekat dengannya, dan Yuri akan mendapatkan kebahagiaanya..


Sekelebat pemikiran itu melintas dan menyentaknya. Membuat Yuna lantas beringsut, mengambil jarak untuk memisahkan diri dari Azka yang begitu dekat disampingnya.


***


To be continue


Hai Readers ku tercinta, curhat dikit boleh lah ya... sebenarnya aku udah gak ada semangat lagi buat lanjutkan novel ini, sebab... Aku merasa gagal di novel ini, aku udah berusaha siang malam buat nulis novel ini sebagus dan Serapi mungkin... Tapi tetap aja novel ini gagal. Aku kecewa karena aku sangat berharap banyak sama novel ini, aku abaikan kegiatan aku di dunia nyata demi update tiap hari kadang 3 sampai 4 episode sehari, tapi penghasilan yg ku dapat paling banyak itu 3 ribu dan paling sedikit itu 500 rupiah seharinya... Huftt... 😥


Itu di sebabkan view-nya sangat2 sedikit, walaupun aku up tiap hari hampir 2000 kata per episode, ttp aja... Udah lebih 100 episode tp view-nya baru sekitar 360K, kadang suka ngiri sama novel lain kadang masih baru dan baru bbrp episode tapi viemnya udah jutaan, lama kelamaan JD puluhan juta 😮.. entah apa yg salah di novel ku ini, udah satu bulan pun gak pernah lagi muncul di beranda seperti novel2 lain yg setiap hari ada di beranda... 😓😓 Itulah makanya view nya sediki banget...


Duh... Jadi kepanjangan curhat nya...


Tapi buat Readers ku tercinta yg udah setia selama ini, aku pasti akan tuntaskan novel ini sampai selesai, tapi mungkin akan lebih cepat dari perkiraan ku, mungkin tinggal bbrp episode lagi...


Thanks buat yg selalu komentar setiap episode nya, yg udah like juga, dan buat yg selalu vote tentunya.... Walaupun vote kalian itu sia2 Krn GK pernah masuk ranking... Tp aku ttp berterima kasih banyak.. 😘😘😘