
Author POV
Kabar yang diinformasikan oleh salah seorang staf, mengatakan bahwa telah terjadi kebakaran di gedung kantornya. Membuat Azka cukup terkejut saat kemudian ia bergegas untuk sampai disana dan mengetahui separah apa keadaan kantornya.
Dengan ditemani oleh sang ayah, Tn.Rian yang tentu saja mengalami keterkejutan dan sekaligus perasaan panik yang sama seperti hal nya yang dirasakan oleh Azka, akhirnya mereka tiba dikantor perusahaan dalam beberapa menit kemudian. Masih banyak karyawan yang berada diluar gedung meski mereka cukup tenang pada saat itu.
“Bagaimana bisa terjadi?”
Tn.Rian lah yang pertama kali menanyakan, sementara Azka langsung bergerak masuk untuk memastikan sendiri keadaan didalamnya.
Petugas keamanan yang berjaga mengatakan, Kebakaran itu bersumber dari salah satu ruang penyimpan dokumen, dan untung saja sistem keamanan yang ada digedung itu yang terbilang canggih, langsung dapat mendeteksi sumber kebakaran yang berasal. Hingga kemudian api yang belum sepenuhnya membesar dapat dengan segera dipadamkan, sebelum merembet dan membakar bagian yang lain.
Hanya saja memang sempat terjadi kekacauan dari para karyawan yang menjadi panik dan berhamburan keluar gedung. Takut jika sewaktu-waktu api akan membesar.
Tapi yang kemudian dikhawatirkan adalah, dokumen-dokumen milik perusahaan yang terbakar saat itu. Bisakah terselamatkan?
“Bagaimana dengan dokumen-dokumen yang berada didalamnya? Adakah yang terbakar?”
“Untungnya tidak ada Pak.. Api belum sempat membakar dokumen. Namun untuk lebih meyakinkan, jelas kami akan melakukan pengecekan menyeluruh pada semua dokumen yang tersimpan didalam sana”
Azka dan Tn.Rian bersama dengan petugas keamanan, beberapa direksi perusahaan dan juga staf kemudian melihat pada ruang penyimpan dokumen yang sebelumnya sempat terbakar.
Masih tercium bau asap disana dan beberapa bagian dinding yang menghitam, bekas dari api yang membakar.
“Kalian sudah mengetahui apa yang menjadi penyebab bisa muncul api didalam ruangan ini?”
Azka mempertanyakan sambil membuka salah satu pintu lemari yang terkunci. Memasukkan nomer sandi untuk membuka kunciannya, dan kemudian mengambil beberapa dokumen dari dalamnya.
“Dugaan sementara konsleting listrik, namun kami masih akan menyelidikinya lagi, Pak..”
“Kira-kira adakah unsur sabotase dalam kejadian ini?”
Apa yang diucapkan Azka sontak membuat perhatian dari yang lain langsung terarah padanya. Tatapan dari mereka menginginkan Azka untuk menjelaskan maksud kalimat yang baru saja diucapkannya.
“Apa maksudmu dengan adanya sabotase, Azka..?”
Tn.Rian ikut mempertanyakan..
“Hanya dugaanku saja, Pa..”
“Apa gerangan yang membuatmu berpikir seperti itu?”
Dalam hati Azka langsung menyebut satu nama, Doni.
Entah mengapa nama itu yang kemudian terpikirkan olehnya.
Ditambah dengan fakta pria itu sedang merencanakan kehancuran dirinya, dan pasti perusahaan menjadi salah satu sasarannya. Ditambah dengan Doni yang bahkan belum menunjukkan batang hidungnya disituasi yang bisa dikatakan mengancam tadi.
Jadi kemanakah pria itu sekarang?
“Dalam kejadian seperti ini, banyak unsur bisa kita jadikan bahan penyelidikan, Pa. Termasuk unsur sabotase. Bisa saja seseorang memang telah merencanakan hal ini.. Pa tentu tidak lupa dengan dunia bisnis yang penuh dengan intrik dan kecurangan..”
“Ya.. aku mengerti maksudmu, Azka. Memang masih ada beberapa orang yang memilih menggunakan cara kotor ketimbang mempergunakan kerja keras dan mengoptimalkan kerja otak mereka untuk meraih hasil yang maksimal. Maka kuharap untuk memperketat sistem keamanan dan bantulah putraku menjalankan perusahaan ini dengan baik..”
Tn.Rian kembali pada wibawanya sebagai seorang pemimpin ketika berbicara dengan beberapa direksi yang lain. Sesaat setelah itu, Doni tiba-tiba muncul, dengan napas ngos-ngosan sehabis berlari sepertinya.
“Apa yang terjadi? Seseorang menghubungiku dan mengatakan terjadi kebakaran.. Apa semuanya baik-baik saja sekarang?”
Azka mendengar suara itu. Namun ia tak beralih dari lemari dokumen yang sedang diperiksa olehnya, dan lebih memilih untuk mengabaikan kehadiran Doni disana. Mendadak ia merasa muak dengan kelicikannya, yang jujur masih tak dapat dipercayai olehnya.
Doni berniat mengkhianatinya?
Hampir tidak mungkin ia akan mempercayai hal itu bila orang lain yang menginformasikan padanya. Namun sayangnya, Azka sendiri yang mendengar dengan kedua telinganya yang ia pastikan dapat berfuksi dengan baik, pada saat Doni mengatakan rencananya itu beberapa waktu yang lalu.
“Oh, Doni.. Kau baru datang?”
Tn.Rian yang justru menyambutnya..
“Maafkan saya Tuan.. Saya terjebak kemacetan dijalan..”
“Hm, aku bisa mengerti itu?”
“Bisakah saya mengetahui lebih rinci mengenai apa yang terjadi?”
Ucapan itu mungkin terdengar sebagai basa-basi saja ditelinga Azka. Entah mengapa, ia justru memiliki dugaan kuat bila Doni berada dibalik kebakaran itu.
Ia telah kehilangan kepercayaannya terhadap pria itu.
***
Setidaknya dalam catatan yang tertulis yang sedang dibaca olehnya, ada tiga pembatalan bisnis yang sebelumnya telah terjadi kesepakatan untuk dikerjakan, dan justru kini dibatalkan tanpa sepengetahuannya.
Dan seorang staf direksi menyebutkan jika mereka justru bergabung dengan perusahaan milik ayah Jessica. Azka sedikit mengerutkan dahi mengenai informasi itu.
Apa yang telah terjadi selama tiga hari kepergiaannya?
Hanya dalam tempo waktu sesingkat itu, Azka benar-benar telah melewatkan banyak hal. Bukan hanya keadaan dirumahnya saja, tapi juga keadaan yang terjadi di dalam lingkup perusahaan yang sekarang berada dalam kepemimpinannya.
Dan apakah juga ada keterlibatan Donghae didalamnya?
masih menjadi tanda tanya untuknya..
Jika iya..
itu berarti Doni sedang mencoba melakukan gerak cepat dan ia harus mewaspadainya.
“Siapa yang bertanggung jawab dengan pembatalan ini? Mengapa tidak ada yang memberitahukannya padaku”
Seseorang yang berada diruangan Azka guna memberikan laporan itu, baru akan memberikan jawaban ketika kemudian tertahan oleh masuknya Doni kedalam ruangan itu.
“Biar aku yang menjelaskannya.. Sebaiknya kau mengurus pekerjaanmu yang lain”
Seseorang itu menurut dengan apa yang dikatakan oleh Doni, dengan kemudian meninggalkan ruang kerja Azka, dan membiarkan Doni berada disana untuk menjelaskan semuanya.
“Mengapa kau tak langsung menghubungiku?”
Azka langsung bertanya tanpa berniat untuk berbasa-basi terlebih dulu. Jelas perkara sepenting itu sama sekali tak membutuhkan basa-basi.
“Apa kau sudah mengetahui kemana akhirnya mereka bekerjasama..?”
“Hm, aku sudah membacanya..”
Azka menunjukkan catatan dari salinan dokumen pembatalan yang tadi diberikan padanya.
“Kau tentu mengerti atau setidaknya dapat menebak jika ini ada hubungannya dengan Jessica..”
“Apa maksudmu?”
Doni yang kemudian menjelaskan bahwa gadis itu, Jessica berkemungkinan besar melakukan sebuah rencana sebagai bentuk pembalasan terhadap Azka, lantaran gagalnya pertunangan mereka.
“Dia mungkin membujuk ayahnya untuk melakukan hal itu”
“Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu..”
“Seseorang yang sakit hati bisa melakukan hal-hal yang jauh dari pemikiran, Azka..”
Untuk beberapa lama keduanya saling bertatapan dengan sekelebat pemikiran lain, sampai kemudian Doni kembali pada penjelasannya yang mengatakan bahwa alasan utama para pemilik perusahaan itu membatalkan kerjasamanya dan memilih beralih pada perusahaan milik ayah Jessica dikarenakan ayah Jessica memberikan penawaran keuntungan melebihi apa yang dijanjikan oleh Azka dalam kerja samanya.
Terdengar masuk akal bagi pebisnis seperti Azka. Keuntungan terbesar pastilah yang mereka cari. Hanya saja, Ia sedikit tak menyangka jika Jessica sampai mencampur masalah pribadi kedalamnya.
Tapi tidak..
Bukankah sedari awal, pertunangan itu juga direncanakan untuk kepentingan bisnis semata?
Maka harusnya tak mengherankan bila urusan pribadinya kemudian berdampak pada bisnis yang dijalaninya.
Azka berdeham dan lantas meletakkan apa yang tadi ia baca keatas meja kerjanya.
“Baiklah.. Aku mengerti dengan penjelasanmu. Kau boleh pergi..”
Azka menyudahi dan Doni merasa tak ada lagi yang perlu untuk dikatakan hingga kemudian Ia beranjak.
Keluar dari dalam ruangan Azka, Doni tersenyum, merasa rencananya berjalan dengan baik. Ia memang yang telah menawarkan kerja sama dengan Jessica. Untuk menghancurkan Azka, Ia sadar tak bisa melakukannya sendirian. Doni yang kemudian menemukan rencana lain. Ia memanas-manasi Jessica, memanfaatkan kesakit hatian gadis itu dan memintanya untuk membujuk sang ayah agar mau mengambil alih beberapa kerjasama yang melibatkan perusahaan milik Azka. Tentulah yang kemudian memberikan informasi mengenai bentuk kerjasama dan perusahaan mana saja yang sedang terlibat dalam kerjasama dengan Azka, Doni lah yang memberitahukannya.
Merasakan getaran dari dalam saku celananya, Doni merogoh ponsel yang berada didalamnya dan segera menjawab panggilan masuk disana..
“Oh, Jessica.. Baiklah, aku bisa bertemu denganmu malam nanti. Tidak ada masalah, semua baik-baik saja..”
***
to be continue