
Hangat sinar matahari yang merangkak naik, sang surya yang sedang menunjukkan besarnya perannya dalam kehidupan semua mahluk yang menjadi penghuni bumi, yang kemudian secara perlahan-lahan membuat pergerakan dibola mata Yuri ketika sinar surya itu mengenai wajahnya. Sinar itu masuk melalui kaca pada jendela-jendela besar yang terdapat dikamar itu.
Bola mata yang awalnya bergerak-gerak itu, lantas mengerjap. Hingga beberapa kali kerjapan untuk menyesuaikan intensitas cahayanya yang cukup terang sekaligus juga cukup menghangatkan.
Yuri dengan segera merasakan terkesiap..
Sedang berada dimana dirinya sekarang?
Apakah ibu dan ayahnya akhirnya menjemputnya untuk bersama dengan mereka dan terlepas dari semua rasa yang melukai hatinya?
Yuri sekali lagi mengerjap..
Menelusuri dengan pandangan matanya yang berkeliling.
Tidak..
Apa yang dilihatnya tak nampak seperti pemandangan disurga yang selama ini tergambar tak nyata dalam benaknya.
Ia sedang berada diatas tempat tidur, didalam sebuah ruangan yang luas, yang terang dan terasa hangat.
Jadi dimanakah dirinya sekarang?
Siapa yang telah membawa tubuh ini hingga sampai berada ditempatnya sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan yang mengitari kepalanya kemudian terhenti saat tatap matanya tertumbuk pada sebuket bunga yang berada diatas meja tak jauh dari sampingnya.
Yuri perlahan bergerak..
Meraih bunga itu, lalu kemudian membawanya menempel pada hidungnya. Keharuman yang lantas terasa memenuhi udara disekitarnya.
Bunga itu mengingatkannya pada buket-buket bunga yang sebelumnya banyak ia terima. Yang kemudian disadarinya telah beberapa lama ia tak menerima buket bunga semacam itu. Kerinduan mencium wangi bunga yang selalu diterimanya, kini terbayar dengan bunga yang menempel dihidungnya.
Yang kemudian dilakukannya adalah menyerap keharuman itu sampai memenuhi rongga pernapasannya..
Siapa yang telah meletakkan bunga itu?
Tatap matanya kemudian beralih, ia menemukan secarik kertas yang juga tergeletak diatas meja dimana sebelumnya bunga itu berada. Kertas itu nampaknya lebih menarik minat Yuri ketimbang semangkuk nasi beserta sup yang uap panasnya bahkan terlihat masih mengepul, menandakan tak lama makanan itu diletakkan.
Siapa pula yang meletakkan itu disana?
Menarik secarik kertas itu, Yuri menemukan tulisan yang lantas ia baca..
‘Terimakasih sudah membuka matamu..’
Tulisan yang dibacanya dalam hati itu langsung menggetarkan dadanya. Ia mengenali jenis tulisan tangan seperti itu. Jelas tulisan tangan yang sama yang selama ini juga menyertai buket-buket bunga yang selalu ia terima. Ia bahkan telah mengumpulkan dan menyimpan banyak tulisan tangan seperti itu..
Apakah Azka..
Apakah Azka yang akhirnya menemukannya?
Apakah Azka sekarang berada ditempat yang sama dengannya?
Pria itu yang telah meletakkan bunga itu untuknya?
Namun mengapa rasanya berbeda. Tak ada lagi rasa yang menggetarkan hatinya.
Mengapa mengingat Azka, sekarang justru membuatnya merasa sesak didada.
Yuri kemudian menyingkap selimut dari atas kakinya. Sontak menjadi panik mendapati dirinya yang tak lagi mengenakan pakaian miliknya..
Tuhan..
Siapa yang telah melakukannya?
Yuri telah menurunkan kedua kakinya dari atas tempat tidur dan telah memiliki niat untuk beranjak dari sana. Namun kemudian, pintu yang terbuka, menyusul suara seruan yang mengiringi langkah kaki seorang pria yang masuk, dengan segera menghentikannya..
“Ya Tuhan.. Sebaiknya kau tetap berada disana, Yuri..”
Benar rupanya nada suara memperingatkan itu, ketika kedua kaki Yuri menginjak lantai berlapis karpet dibawahnya, yang ia yakin bila ia menginjak itu dengan kaki normal akan terasa lembut, tapi yang dirasakan Yuri justru nyeri berdenyut, ngilu pada telapak kakinya..
“Awhh..”
Rintihnya kemudian sambil mengangkat kedua kakinya. Membuat Arkhan yang melihatnya, mempercepat langkah untuk menghampirinya.
Tanpa memperhatikan pada tatapan waspada dari Yuri, Arkhan meraih kedua kakinya dan kembali meletakkannya diatas tempat tidur..
“Senang melihatmu sudah sadar.. Tapi sebaiknya kau tetap berada diatas tempat tidur”
Arkhan sedikit tersenyum. Namun senyum yang hanya sedikit itu, seketika lenyap saat melihat Yuri beringsut dari atas tempat tidur dengan kilatan tatapan waspada dikedua matanya.
“Yuri.. kau tidak apa-apa?”
“Siapa kau? Siapa kau hingga berada disini?”
“Yuri..”
Arkhan mencoba meraih tangan Yuri, namun jeritan darinya yang kemudian justru ia dengar..
“Jangan sentuh aku..! Kumohon jangan sentuh aku.. Pergi..! Jangan sentuh aku..”
Arkhan mundur dari sisi tempat tidur, mengetahui tubuh Yuri yang mendadak gemetar, membuatnya sesaat meremas rambutnya sendiri.
Sialan..
Trauma itu..
Mengapa masih saja dirasakannya.
“Yuri.. Aku tidak akan menyakitimu”
Yuri menggeleng dan bahkan menutup kedua telinganya dengan telapak tangan..
“Tuhan.. Bagaimana caranya agar kau mengingatku? Tolong katakan padaku bagaimana caranya membuatmu mengingatku..”
Arkhan dibuat kehilangan kesabarannya ketika Yuri terus saja menggeleng, menutup telinganya seolah-olah tak mau mendengar apapun darinya. Ia lantas kembali mendekati tempat tidur, meraih tangan Yuri dan memegangnya dengan erat meski Yuri berontak dan kembali berteriak.
“Dengarkan aku! Yuri.. Dengarkan aku..! Aku tidak akan menyakitimu”
“Kalau begitu lepaskan aku!!”
“Aku akan melepaskanmu, tapi tolong tenanglah.. Aku bersumpah takkan pernah menyakitimu..”
Perlahan Arkhan mengendurkan cengkraman tangannya, namun masih tak melepaskannya.
“Sudah tidak lagi kan?”
Yuri tak menjawab, melainkan memberikan tatapan tajam kearahnya.
“Beri aku kesempatan untuk membantumu menemukan kepingan memori tentangku yang aku yakin masih kau miliki..”
Entah bagaimana kemudian Arkhan justru bersenandung. Sebuah lagu yang dinyanyikannya kemudian seakan tengah menggulung ingatan Yuri, membawanya kemasa lalu. Kemasa bertahun-tahun lalu, ketika seorang pria menariknya untuk berada dibelakang gedung sekolah, menunjukkan sebuah gitar kehadapannya kemudian mendendangkan lagu untuknya.
Tepat setelah syair-syair lagu itu selesai dinyanyikan, sang pria meletakkan gitarnya, kemudian berlutut dengan bunga mawar yang tiba-tiba sudah berada ditangannya. Sekuntum mawar yang sebelumnya entah disembunyikan dimana. Yang paling mengejutkannya adalah kalimat cinta yang diucapkan pria itu dihadapannya..
“Yuri.. Aku jatuh cinta padamu. Pada pandangan pertama aku melihatmu, aku tahu telah merasakan perasaan berdebar-debar didadaku. Karna itu, hari ini aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk menyatakan perasaanku padamu. Yuri ah, aku jatuh cinta padamu. Maukah kau berkencan denganku..? Jadilah gadis ku..”
Yuri tersentak oleh karna ingatan itu. Bibirnya lantas dengan lirih menggumamkan satu nama, bahkan sebelum Arkhan menyelesaikan nyanyiannya..
“Arkhan..”
Seolah tak yakin, Yuri kembali mengulanginya..
“Ar-khan..”
Arkhan menghentikan nyanyiannya..
“Kau mengingat itu? Kau mengingat saat aku menyanyikan lagu ini untukmu?”
“Ar-khan ssi.. Kau.. Kau kah.. Kau kah Arkhan..?”
Arkhan mengangguk dengan bersemangat..
Akhirnya, Tuhan..
“Kau mengingatku, Yuri?”
Yuri menganguk, perlahan tapi pasti kilatan kewaspadaan dikedua matanya memudar. Dan sepersekian detik setelahnya tubuhnya terasa hangat dalam dekapan pria itu.
“Arkhan..”
“Terimakasih karna telah mengingatku, Yuri.. Terimakasih..”
Arkhan menjalankan tangannya diatas kepala Yuri, mengusap rambutnya yang berantakan namun tetap terasa lembut menyentuh telapak tangannya.
“Arkhan.. ”
Yuri menarik diri, melepas pelukan Arkhan ditubuhnya..
“ba-bagaimana aku bisa disini..?”
“Aku akan jelaskan nanti.. Mungkin sebaiknya kau mengisi perutmu terlebih dulu.. Baru setelah itu kita bicara. Banyak hal yang harus kita bicarakan, Yuri. Jadi aku akan pastikan kau terlebih dulu memiliki cukup banyak energi untuk mendengarku..”
Arkhan menunjukkan senyumnya, sambil tangannya kembali mengusap kepala Yuri. Setelahnya, ia bergerak mengambil nampan berisi nasi dan sup..
“Pakaianku.. Bagaimana dengan pakaianku?”
Pertanyaannya membuat Arkhan berpaling, ia hampir tak menyangka Yuri akan menanyakan hal itu..
“Ah, itu.. Aku.. Aku yang menukarnya dengan pakaian yang kau kenakan sekarang. Tapi tenanglah, Yuri.. Tidak ada yang kulakukan selain mengganti pakaianmu. Pakaianmu basah, kau menggigil jadi aku harus menggantinya agar kau tidak mengalami demam. Kondisimu semalam, memaksa ku dengan lancang melakukannya karna tak ada seorang wanita disini yang bisa kumintai bantuan. Maafkan kelancanganku..”
Arkhan yang telah menjelaskan situasinya semalam, lantas mendekat kembali kesisi tempat tidur untuk meyakinkan Yuri bahwa apa yang dikatakannya adalah benar..
“Aku bersumpah, aku tidak melakukan hal yang kurang ajar padamu..”
Yuri masih diam menatap kedalam matanya, seakan sedang mencari kesungguhan kata-kata Arkhan. Dalam hati ia mempercayainya. Seingatnya, pria dihadapannya ini, yang dikenalnya beberapa tahun yang lalu, memang selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan ketika ia menolak pernyataan cintanya ketika itu, Arkhan tak sedikitpun marah kepadanya.
Siapa yang tidak menyukai pria sebaik itu..
Tidak..
Ia menolak bukan karna tidak menyukai Arkhan.
Ia menyukainya dan mungkin cinta pertamanya juga telah tumbuh pada saat itu. Tapi ia lebih tak percaya dengan dirinya sendiri. Pantaskah ia menjadi gadis yang disukai pria itu.
Yuri telah banyak mendengar mengenai reputasi keluarganya, dan menjadi tak yakin mereka akan bisa menerima gadis biasa sepertinya. Dan lagi pula, ia masihlah seorang remaja. Masih banyak yang ingin ia kejar untuk masa depannya.
Namun, perasaan tak enak lantaran tidak mengatakan perasaannya yang sesungguhnya, membuat Yuri merasakan gelisah dalam beberapa hari. Ditambah lagi dengan selentingan kabar yang berkembang diantara teman-temannya, bahwa Arkhan akan pergi keluar negri setelah kelulusannya, membuat Yuri semakin uring-uringan. Hingga akhirnya ia mendengar salah seorang teman yang mengatakan jika Arkhan benar-benar akan pergi dengan menggunakan penerbangan hari itu.
Tak ada yang dipikirkan olehnya selain berlari dari sekolahnya meski jam pelajaran saat itu sudah akan berlangsung. Ia perlu mengungkapkan perasaannya, atau setidaknya melihat pria itu untuk terakhir kalinya sebelum pergi. Namun, Yuri terlambat. Arkhan rupanya membatalkan penerbangan hari itu dan telah melakukan penerbangan lain dengan menggunakan pesawat pribadi bersama kedua orangtuanya yang ikut mengantarnya.
Yuri tergugu menangisi ketidak jujurannya terhadap pria itu. Dan tak ada yang mengetahui penyesalannya ketika itu..
“Yuri ah..”
Saat Yuri masih terus terdiam, Arkhan menyentuh tangannya dan membuat Yuri tersadar dari menerawang ingatan masalalunya..
“Yuri ah, kau mendengarku?”
“hm..”
“maafkan atas kelancanganku padamu..”
Yuri yang kemudian mengangguk percaya membuat kelegaan tersendiri dalam diri Arkhan. Pria itu lantas meneruskan mengambil semangkuk nasi dan mengaduknya dengan sup panas kemudian memberikannya pada Yuri..
“Apa kau mau aku menyuapimu?”
Yuri malah mendorong mangkuk ditangan Arkhan dari hadapannya..
“Aku tidak lapar.. ”
“Tapi kau…”
“Kau yang selama ini mengirimkan bunga untukku?”
Arkhan merasa tubuhnya menegang mendengarnya, meski inilah yang ditunggu-tunggu olehnya.
“Kau jelas telah banyak mengetahui tentangku.. Jadi bisakah kita langsung saja membicarakan banyak hal yang tadi kau katakan akan kita bicarakan..?”
***
tbc