At First Sight

At First Sight
Episode 117



“Yuna..”


Fariz yang masih meletakkan sebelah tangannya dibahu Yuna, sedikit menggoyangkannya untuk menyadarkan gadis itu dari keterdiamannya yang secara tiba-tiba.


“Kau tidak apa-apa?”


“Ah, ya.. tidak dokter..”


“Kalau begitu kami akan pergi..”


Senyum Fariz tak dibalas oleh Yuna, pikirannya terlalu dipenuhi oleh kejadian sesaat tadi. Ia hanya bergerak mundur, membiarkan Fariz masuk kedalam mobil sampai kemudian melajukannya. Tak berselang lama, Husna dan Siska sedikit berlari menghampirinya..


“Oh Tuhan ku.. Apa dokter tadi mengajak seorang wanita didalam mobilnya?”


Siska memberikan tatapan penuh keingin tahuan. Yuna yang menjawab hanya dengan anggukan kepalanya, sudah cukup efektif membuat sang teman berubah lesu mengetahuinya.


“Jadi siapa dia? Dokter itu sudah memiliki teman kencan?”


“Ya ampun.. Berhentilah mengagumi dokter itu yang sudah menjadi milik wanita lain..”


Husna berkomentar dan dengan cepat kembali menambahkan..


“Apa kau tak melihat kejadian yang tadi terjadi?”


Siska berkerut dahi samar dan menggeleng..


“Kejadian apa? Kurasa aku terlalu fokus pada dokter itu dan.. Aish, aku tak mau dia bersama dengan siapapun wanita itu..!”


“Ishh.. anak ini benar-benar..”


Husna mengomel..


“Kau tak lihat mobil Presdir tadi..”


“Hah? Apa maksudmu Husna..”


Siska melebarkan mata mendengarnya, sementara Yuna hanya bisa menggigiti bibir bawahnya saat Siska kemudian mencoba bertanya dengan menggunakan isarat mata, atas kebenaran apa yang dikatakan temannya yang satunya.


“Kurasa Yuna juga sudah tahu, tadi Pak Azka tiba-tiba lewat, bahkan sesaat menghentikan mobilnya dan membunyikan klakson hingga tiga kali kalau aku tidak salah. Entahlah apa maksudnya..”


“Oh my dear.. Apa dengan itu Pak Azka akan percaya jika kau berselingkuh, Yuna..”


Apa yang ditanyakan Siska, dengan segera membuat Yuna menjadi gelisah.


Sebelumnya Siska telah menggedor pintu rumahnya, hanya untuk berbicara dengannya namun ia tak menunjukkan dirinya dihadapan pria itu.


Kemudian Yuna merasakan kelegaan karna setidaknya ia mendengar ketika Siska berbicara dengan Yuri, dia mengatakan tidak mempercayai berita yang beredar. Tapi setelah melihatnya tadi, pria itu bisa jadi salah paham mengartikannya.


Mendadak ia diliputi perasaan cemas memikirkannya..


“Kalian akan kembali ke kantor kan?”


“Iya..”


“Aku ikut dengan kalian”


“Apa.. Disana banyak pencari berita berkeliaran, Yuna”


“Tidak apa-apa, ayo..”


Yuna sepertinya tidak lagi merasakan kerisauan terhadap para pencari berita yang tengah gencar memberitakan dan mencari-cari kesalahannya, atau ia sedang tidak ingin mempedulikan hal itu. Yang berada dipikirannya sekarang justru apa yang kemudian dipikirkan Azka ketika melihatnya bersama dengan dokter Ahmad tadi.


Aneh..


Mengapa ia yang meminta mengakhiri hubungan, namun keinginan untuk tidak membuat kesalahpahaman dengan pria itu justru terasa begitu kuat.


Bukankah ia seharusnya berterimakasih dengan adanya pemberitaan itu, Azka akan berpikir dan sadar bila dirinya memanglah bukanlah gadis yang baik untuknya. Dan tidaklah pantas mendapatkan cintanya..


Tapi..


Ya Tuhan..


Lagi-lagi ia adalah seorang yang egois.


Ia tidak ingin yang seperti itu. Ia tidak ingin Azka berpikir dirinya meminta mengakhiri hubungan karna alasan perselingkuhan, yang sumpah mati dengan alasan apapun ia begitu benci menyebut kata itu.


Ia ingin Azka tahu alasannya hanya murni untuk menjaga perasaan kakak nya, meski dengan itu ia terpaksa harus melukai pria itu dan membuatnya tersiksa oleh karna kerinduan yang mendalam terhadapnya.


Namun apa yang kemudian dilihatnya, dilobi gedung kantor Azka, ia justru melihat pria itu asik bercengkrama dengan seorang wanita. Wanita bermulut tajam yang selalu memberinya tatapan penuh kebencian, dan keinginan mengintimidasi, Jessica..


Saat tak berselang lama, Azka keluar bersama Jessica dengan sebelah tangannya yang berada dipinggang wanita itu.


Bukan untuk pergi bersama, namun mengantarkan Jessica menuju sebuah mobil dan bahkan membukakan pintu untuknya. Kedua mata Yuna terasa memanas, saat kemudian melihat Jessica memegang lengan Azka dan tersenyum padanya. Entah apa yang wanita itu katakan, namun ia melihat Azka yang kemudian juga membalas senyumannya. Sampai akhirnya Jessica masuk kedalam mobil itu yang segera melaju pergi dari depan gedung itu, Azka masih tak menyadari keberadaan Yuna disana.


Apakah Azka sengaja..


Apakah kemudian dia mempertimbangkan untuk kembali pada Jessica..


Kenyataan itu menyesakkan dadanya dan akhirnya membuat Yuna pergi, berlari dari sana dengan tidak memperdulikan teriakan kedua temannya.


Teriakan Husna dan Siska yang kemudian menarik perhatian Azka yang sudah akan masuk kedalam lobi kantornya..


“Apa yang terjadi? Kenapa kalian berada diluar.. Jam makan siang telah berakhir, dan jam kerja kalian masih berjalan..”


Husna dan Siska merasa gugup mendengar teguran itu..


“Maafkan kami Pak, tadi kami.. kami dan Yuna..”


“Kami bertemu Yuna dan dia ikut bersama kami. Tapi kemudian pergi setelah melihat anda.. anda bersama dengan wanita tadi..”


Ucap Husna dan Siska bergantian dan hati-hati..


“Tadi Yuna disini?”


Siska mengangguk dengan wajahnya yang masih tertunduk..


“Dimana dia sekarang?”


“Dia berlari kearah sana..”


Tak menunggu lama, Azka sudah langsung berlari untuk mengejarnya. Dan tak harus bersusah payah untuk menemukannya, ia melihat gadis itu tengah berjalan ditrotoar jalan dengan kakinya yang menghentak-hentak, dan sesekali menendang-nendang kesal.


Azka berkerut dahi melihat tingkahnya..


Ia memutuskan tidak memanggilnya, dan hanya berjalan dibelakang Yuna, mengikutinya..


“Menyebalkan.. Dia bilang tidak mau mengakhiri hubungan denganku, lalu apa tadi.. Dia sudah bersama mantan calon tunangannya. Ck, wanita itu ada urusan apa menemuinya. Apa Pak Azka yang menyuruhnya? Atau mereka memang membuat janji bertemu bersama.. Ishh, mengapa mereka menyebalkan sekali”


Yuna terus menggerutu dan kembali menghentak-hentakkan kakinya, sementara dibelakangnya Azka sedang menahan geli mendengarnya..


“Dia bersikap berlebihan kalau aku bertemu dokter Ahmad.. Dia juga memutar mata saat aku memanggil Kak Arkhan.. Apa maksudnya semua itu jika dia justru diam-diam bertemu dengan mantan calon tunangannya.. Menyebalkan!”


Sebuah kaleng minuman kosong dihadapannya (entah siapa yang secara tidak bertanggung jawab membuang sampah itu disana) kini melayang oleh karena tendangan kakinya.


Azka geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu.


Benar-benar gadis belia labil..


“Menyebalkan.. Dia benar-benar menyebalkan! Aku benar-benar kesal sekarang..”


“Siapa yang menyebalkan dan membuatmu kesal, nona..?”


“Azka.. Azka Rianda, dia pria paling menyebalkan didunia ini dan begitu mengesalkan. Apa sebenarnya yang diinginkannya?”


“Yang ku inginkan adalah kau kembali padaku”


Tersentak membuat Yuna dengan segera menghentikan langkahnya. Ia baru menyadari seseorang baru saja menyahuti ucapannya. Dan ketika kemudian ia membalikkan tubuhnya, jantungnya rasanya baru saja terlepas saat melihat Azka kini berdiri dihadapannya.


Keterkejutan yang dirasakannya saat itu nyaris mencelakakannya lantaran lonjakan tubuhnya diatas kedua kakinya yang tak seimbang membuatnya hampir-hampir terjatuh ditengah-tengah trotoar jalan andai Azka tidak dengan sigap meraih pinggangnya, menahannya dan kini malah membuat Yuna berada cukup dekat dengaannya..


Aroma parfum pria itu menusuk-nusuk hidungnya dan membuyarkan isi kepalanya. Yang dilakukannya hanyalah mengerjap. Kerjapan bodoh dari kedua matanya yang masih saja tak mempercayai apa yang pada saat itu dilihatnya meski nyata-nyata pria yang baru saja membuatnya terus menggerutu disepanjang jalan, tengah berada dihadapannya..


“hati-hati..”


Ucap Azka masih dengan menahan senyum geli melihatnya..


Oh, dear..


Sungguh tampannya dia..


Yuna, merutuk dalam hati. Bukan seperti itu seharusnya ia bereaksi. Memujanya bukanlah waktu yang tepat sekarang.


Tersadar dengan itu, Yuna lantas berusaha melepaskan diri dari kungkungan lengan pria itu dipinggangnya. Namun dengan sengaja Azka tak melepaskannya.


***


tbc