
“Pak.. Pergilah, tidak perlu mengantarku..”
Keduanya telah turun dihalte terdekat dari rumah Yuna, dan sedang berjalan beriringan. Tidak secara sengaja berjalan beriringan karna beberapa kali Yuna telah mencoba berjalan lebih dulu meninggalkan Azka dibelakangnya, tapi pria itu selalu berhasil menyusulnya.
“Pak..!”
Yuna menatap dan memberinya tatapan jengkel..
“Apa?”
“Jangan mengikutiku..”
“Aku tidak mengikutimu.. Lihatlah, kita berjalan bersama-sama kan?”
Yuna benar-benar merasa kehabisan kata menghadapi pria itu yang sekarang justru memegang pergelangan tangannya, menariknya.
Oh..
Ada apa dengannya?
“Bukankah itu mobil Mama?”
Yuna beralih dari memperhatikan tangannya yang saat itu dipegang oleh Azka, kearah sebuah mobil yang terparkir dipinggir jalan tak jauh dari rumahnya.
Azka segera membawanya menghampiri mobil itu dan melihat sang sopir yang berada didalamnya..
“Oh Tuan..”
“Tidak usah turun, Paman..”
Azka mencegah ketika sang sopir hendak membuka pintu..
“Apa Paman mengantar Mama?”
“Iya tuan..”
Azka kembali mengalihkan perhatiannya pada Yuna. Gadis itu sudah melepaskan diri darinya dan kini sedang berjalan menuju rumahnya.
Begitu melihat pintu rumahnya terbuka dan masuk kedalamnya, Yuna langsung mendapati Ny.Dania yang berada didalamnya, duduk disofa usang miliknya dan Yuri sang kakak duduk dihadapan Ny.Dania.
“Ibu..”
Ny.Dania menoleh, tak menunggu Yuna mendekat, ia lebih dulu berdiri dari duduknya dan meraih gadis itu kedalam pelukannya..
“Yuna.. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu, Yuna..”
“Aku juga merindukanmu Ibu” Yuna membalas pelukan Ny.Dania, bisa ia rasakan wanita itu sangat menyayanginya.
“Aku sudah bicara pada Kakakmu mengenai kuliahmu, dan dia mengizinkanmu untuk tetap kuliah.” Kata Ny.Dania setelah melepas pelukannya.
Yuna menatap Kakaknya seolah mencari jawaban dari sang kakak, Yuri mengangguk seraya tersenyum.
“Terimakasih kak, Terimakasih sudah mengizinkanku melanjutkan pendidikanku.”
Yuna memeluk Yuri, betapa ia sangat bersyukur. Setidaknya ia masih punya kesempatan untuk meraih cita-citanya dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Meski tidak bisa bersama Azka lagi.
Bicar soal Azka, Yuna jadi tak enak hati kepada Ny.Dania. Ibu Azka itu begitu baik padanya tapi ia malah mengecewakannya dengan memutuskan pertunangan nya dengan Azka.
“Tentu saja aku mengizinkanmu Yuna, kau sangat beruntung.. Ny.Dania sangat baik padamu.”
Yuna melepaskan pelukannya dengan Yuri dan beralih menatap Ny.Dania dengan perasaan bersalah.
“Ibu, Terimakasih atas semua kebaikanmu. Walaupun aku tidak akan menjadi menantumu. Tapi aku akan berusaha sebisaku untuk membalas kebaikan mu.” Ujar Yuna.
“Apa maksudmu Yuna? Kau akan tetap menjadi menantuku setelah kau lulus dari universitas.”
Ny.Dania belum mengetahui perihal Yuna yang telah memutuskan untuk berpisah dengan Azka. Ny.Dania hanya tau dari pemberitaan mengenai Yuna putus dengan Azka karena berselingkuh dengan seorang dokter. Tapi Ny.Dania sama sekali tidak percaya berita itu, ia yakin Yuna dan putranya masih baik-baik saja, karena saat ia menyakan langsung pada Azka, putranya mengaku masih berhubungan dengan Yuna.
“Pemberitaan itu tidak benar kan Yuna, kau tidak berselingkuh dan putus dengan Azka kan?” tanya Ny.Dania penuh selidik.
“Ibu sebenarnya aku dan mas Azka...”
“Mama, ayo kita pulang.. jangan dengarkan dia. Nanti aku jelaskan dirumah.”
Azka yang sedari tadi berdiam diri di depan pintu, segara menarik pergelangan tangan ibunya sebelum Yuna melanjutkan ucapannya. Dan Langsung mendapatkan protes dari sang ibu.
“Azka lepaskan mama, mama belum selesai bicara dengan Yuna.”
“Biarkan aku yang menjelaskan pada mama nanti.”
Azka segera membawa ibunya pergi dari rumah Yuna. Azka tidak ingin ibunya mendengar kata-kata Yuna tentang putusnya hubungan mereka.
Sesampainya di mobil, Ny.Dania langsung menyampaikan semua pertanyaan yang membuatnya gelisah.
“Azka apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Yuna mengatakan tidak akan menjadi menantuku. Kalian tidak benar-benar putus kan? Berita itu bohong kan?” tanya Ny.Dania panjang lebar.
Yang ditanya hanya menghela nafas, Azka bingung bagaimana cara menjelaskan pada sang Ibu. Ibunya pasti akan merasa sedih jika hubungannya dengan Yuna berakhir begitu saja, Azka tau ibunya sudah terlanjur menyayangi Yuna.
“Azka jangan diam saja! Jawab mama!”
“Mama, aku sudah pernah mengatakan bahwa aku dan Yuna baik-baik saja, kenapa mama masih menanyakan hal itu.” Jawab Azka sekenanya, berharap ibunya berhenti bertanya.
“Lalu apa maksud Yuna tadi?”
Ny.Dania belum puas dengan jawaban Azka.
“Mama, Yuna hanya merasa tertekan. Dia merasa bersalah karena telah membuat keluarga kita menjadi sasaran pemburu berita, makanya dia bicara seperti itu.” Jawab Azka meyakinkan.
“Ya Tuhan, jika benar seperti itu kasihan sekali gadis itu.”
Azka bisa melihat gurat kesedihan dari wajah ibunya, Azka tidak ingin melihat ibunya bersedih. Azka harus bisa membuat Yuna kembali padanya, dan Yuri... Dia harus mengerti bahwa Azka benar-benar sangat mencintai Yuna, begitupun sebaliknya.
***
“Yuna, kau pulang bersama Azka? Apa kalian pergi bersama?” tanya Yuri setelah Azka dan ibunya menghilang dari rumah mereka.
“Tidak Kak, kami hanya tidak sengaja bertemu, lalu dia mengikutiku sampai kemari, aku sudah melarangnya tapi dia tidak mendengarkanku.” Jawab Yuna.
“Aku berharap kau menjaga perasaanku Yuna.” Kata Yuri datar.
Yuna mengangguk mengiyakan, baginya tidak ada yang lebih penting saat ini selain menjaga perasaan kakaknya. Walaupun Yuna harus mengorbankan perasaannya pada Azka, walaupun ia harus menyakiti hati Azka dan ibunya yang sudah begitu baik padanya.
“Sebenarnya tadi aku tak ingin mengizinkanmu kuliah, Karena aku tidak ingin kau terlalu bergantung pada keluarga Azka, tapi Nyonya terus memohon padaku.” Ujar Yuri, Yuna hanya diam memperhatikan kakaknya.
“Lagipula aku teringat kau yang begitu ingin melanjutkan pendidikanmu, harusnya itu tanggung jawabku untuk membiayaimu, tapi kau tau sendiri aku tidak mampu... Makanya aku terpaksa menerima bantuan Ny.Dania untukmu.” Lanjut Yuri kemudian.
Yuna tidak tau harus menjawab apa, Yuna hanya bisa memeluk kakaknya dan tidak terasa airmatanya mengalir begitu saja. Entah bagaimana perasaan Yuna sekarang, Yuna pun tidak mampu menjelaskannya.
***
***tbc...
maaf pendek 😓***