
“Kapan terakhir kali ada seseorang yang menyuapimu seperti ini? Atau jangan-jangan belum pernah ada yang melakukannya? Apakah aku menjadi yang pertama melakukannya?”
Azka sempat bertanya disela-sela suapan terakhir yang dilakukannya untuk Yuna. Ia telah benar-benar tak membiarkan Yuna mengambil alih makanan itu darinya.
“Kak Yuri yang terakhir kali melakukannya. Aku tak pernah ingat ada orang lain yang pernah melakukannya, termasuk ibuku.. Aku tak pernah ingat. Kakak lah satu-satunya yang pernah melakukan itu padaku..”
Airmata seketika menetes saat itu, saat ia teringat akan kebersamaan yang dirasakannya bersama dengan sang kakak. Segalanya tentang Yuri menjadi sangat berarti untuknya dan membuat kesedihan Yuna semakin dalam dirasa ketika Yuri yang sekarang justru dalam keadaan rapuh dan trauma.
“Aku ingin merasakannya lagi.. Aku ingin suapan tangan dari Kak Yuri. Dia telah berperan sebagai ibu dan sekaligus ayah untukku. Dia melindungi dan menjagaku.. Melihatnya sekarang, aku benar-benar sedih. Aku takut kehilangannya. Aku hancur bersamanya. Aku ingin kebersamaan kami yang dulu. Aku ingin kakakku kembali seperti dulu. Aku menyayanginya dengan sepenuh jiwaku.. Aku ingin kakak sembuh. Aku mau dia baik-baik saja.. kakak .. Aku mau kau baik-baik saja..”
Yuna telah terisak saat itu dan hampir tak menyadari Azka telah beralih dari duduknya, dan kini berada dibelakang kursi yang didudukinya. Azka merasa menyesal pertanyaanya justru makin menumbuhkan kesedihan dalam diri Yuna. Maka kemudian Ia meraih kedua bahunya dan mengusap sekaligus meremasnya untuk dapat menenangkannya.
“Maafkan aku.. Aku seharusnya tak menanyakan hal seperti itu dan membuatmu bersedih seperti ini. Hanya tolong yakinlah bahwa Yuri akan sembuh. Dia akan bisa melewati semua ini dan kembali menjadi kakakmu yang seperti dulu, percayalah..”
Menarik Yuna untuk berdiri, justru mendapati gadis itu langsung memeluknya dan terisak, menumpahkan airmata diatas dadanya.
“Sstt.. Sudahlah jangan menangis lagi. Mengapa kau begitu banyak memiliki airmata? Dimana kau menyimpan semua itu didalam tubuhmu yang kurus ini..”
Azka mengusap pada punggungnya dan sedikit mengeluarkan candaan yang sepertinya tidaklah efektif untuk menghentikan tangisan Yuna pada saat itu. Gadis itu masih terus terisak..
“Segalanya tentang Kak Yuri sekarang membuatku sedih dan emosional. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menangis..”
Azka kembali mengusap pada punggungnya..
“Ya, aku mengerti.. Tapi jika seperti ini orang-orang akan salah paham melihat kita.”
Begitu mendengar apa yang Azka katakan, Yuna langsung melepaskan pelukannya ditubuh pria itu. Dengan wajah yang basah oleh airmata ia kemudian menatapnya. Yuna dapat melihat senyuman dibibir pria itu saat kemudian tangannya bergerak menyentuh pada wajahnya dan menghapus sisa-sisa airmatanya.
“Orang-orang mungkin sedang berpikir jika aku adalah seorang pria brengsek. Didalam pemikiran mereka mungkin sedang mengira aku telah membuat wanita yang ku kencani menangis oleh karna aku menidurinya dan pada akhirnya tidak mau menerima janin yang dikandungnya..”
Sesaat Yuna memutar mata mendengarnya, sebelum kemudian memukul pada dada Azka atas apa yang telah diucapkannya.
“Jahat sekali, aku sedang bersedih, jangan bercanda konyol seperti itu. Dan lagi itu tidak pantas kau katakan pada gadis belia sepertiku..”
Azka ingin tergelak ketika sekali lagi Yuna memukul pada dadanya, namun gadis itu telah lebih dulu menubruk pada dadanya, kembali memeluknya dan kembali lagi melingkarkan tangan ditubuhnya.
“Sejak mengakui tertarik padaku, kau sudah tidak malu lagi ya memelukku..?”
Yuna berusaha untuk mencubitnya, namun kesulitan. Tubuh Azka terlalu keras dengan otot-otot yang dimilikinya. Pada akhirnya yang bisa dilakukannya hanya dengan kembali memukul pada dadanya. Bibirnya sedikit tersenyum, memeluk Azka nyatanya membuatnya merasakan perasaan nyaman dan terlindungi.
Azka juga merasa tak masalah dengan Yuna yang memukul dadanya kesal. Ia justru lega karna setidaknya telah bisa membuat ekspresi lain selain muram dalam wajah gadis itu. Yuna tersipu dan bahkan sudah sedikit tersenyum karna apa yang telah dilakukannya.
“Kembali kerumah sakit..?”
“hm..”
Yuna mengangguk dalam pelukannya, sebelum kemudian melepaskan pelukan itu dan menerima rangkulan tangan Azka ditubuhnya saat keduanya kemudian meninggalkan rumah makan itu.
Kembali kerumah sakit tak sampai sepuluh menit setelahnya, Azka langsung melongok pada kamar ICU Yuri. Lega ketika melihatnya yang masih terlelap dalam tidurnya.
“Kau tidak akan pergi ke..?”
“Jangan.. Tidak.. Lepaskan aku.. Azka.. Azka.. Azka..!!”
Yuna bahkan belum selesai dengan apa yang ingin diucapkannya, saat suara teriakan Yuri terdengar dan membuat kelegaan yang sesaat dirasakan olehnya langsung menghilang seketika dan berganti menjadi kekalutan.
“Kakak..”
Yuna langsung mendorong pintu dan berlari pada Yuri. Begitupun dengan Azka yang menyusul dibelakangnya.
Dan memang benar-benar hanya Azka yang kemudian dapat menenangkannya. Dengan meraih tangan Yuri dan mengatakan bahwa dirinya ada bersama dengannya, Yuri perlahan-lahan bernapas dengan teratur hingga pada akhirnya kembali tenang.
“Azka..”
“hm..”
“Kau tidak meninggalkanku?”
“Tidak, aku ada disini..”
“Terimakasih..”
Yuri menggenggam erat tangannya, dan kemudian beralih memperhatikan pada Yuna yang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya dan sedang berusaha menahan isak tangisnya agar tak terdengar olehnya.
“Yuna..”
“Iya, Kak.. Aku disini.”
Yuna lantas lebih mendekat..
“Kenapa sepertinya aku selalu melihatmu menangis?”
Melepaskan genggaman tangannya pada Azka, Yuri lantas meraih tangan Yuna.
“Apa kau mengkhawatirkanku? Yuna.. Aku baik-baik saja. Hanya saja tubuhku, kakiku terasa sakit..”
“Yang mana Kak? Bagian mana yang terasa sakit.. Aku akan panggilkan dokter untukmu.”
Yuri sedikit menarik pada pergelangan tangan Yuna mencegahnya untuk beranjak dari sisinya.
“Tidak apa-apa, tidak perlu memanggil dokter. Azka sudah bersama denganku. Aku akan baik-baik saja..”
Ada keyakinan dalam sorot mata kakak nya dan Yuna hanya bisa terdiam mendengarnya..
Yuri telah meneteskan airmata juga melepas genggamannya pada tangan Yuna, dan apa yang kemudian akan dilakukannya telah diperkirakan oleh Yuna. Maka kemudian ia meraih tangannya dan berganti menggenggamnya. Tidak ingin melihat kakak nya mengingat kejadian buruk yang telah bertubi-tubi dialaminya.
“Iya, kak.. Aku tahu Pak Azka telah menyelamatkanmu. Dan aku benar-benar berterimakasih padanya”
Yuna menatap pada Azka, kemudian sedikit membungkuk padanya. Juga berusaha untuk tersenyum pada saat itu, meski ia ikut merasakan sakit yang dirasakan kakak nya. Azka hanya mengangguk, mengerti dengan situasi yang dialaminya.
“Yuna..”
“hm..”
“Aku merasa lapar, bisakah kau meminta suster untuk memberiku makanan..”
Mendengarnya, Yuna kembali merasakan kelegaannya..
“Oh, iya.. Kak, aku akan melakukannya. Kakak bisa menungguku sebentar kan?”
Yuri mengangguk, namun ketika Yuna mencoba melangkah untuk beranjak, Azka menahan dengan meraih pergelangan tangannya.
“Biarkan aku yang melakukannya, Yuna..”
Yuna menggeleng..
“Tidak Pak, anda bisa tetap menemani Kak Yuri disini..”
Mengetahui perubahan sikap Yuna kepadanya saat berada didepan Yuri, berbeda bila dibandingkan dengan sebelumnya ketika keduanya menikmati makan bersama tadi, Azka tak mengatakan apa-apa kecuali melepaskan tangannya dan membiarkan Yuna untuk pergi keluar dari kamar ICU itu.
Tidak berapa lama Yuna memang kembali masuk, kali ini dengan seorang suster yang membawa nampan berisi makanan dengan kedua tangannya.
Yuna mengucap terimakasih pada sang suster sebelum kemudian membiarkannya kembali keluar darisana.
“Kakak.. Apa kau ingin aku untuk menyuapimu?”
“Tidak, aku ingin Azka..”
Yuri menggeleng kearah Yuna dan lantas mengarahkan tatapannya pada Azka yang masih belum beranjak dari samping tempat tidurnya.
“Azka, dapatkah kau melakukannya?”
Yuri terus menatapnya ketika Azka tak juga menjawab permintaannya, Azka malah lebih dulu memperhatikan pada Yuna. Namun gadis itu justru sedang menundukkan wajahnya.
“Azka..”
Yuri menarik tangannya dengan maksud agar mendapatkan perhatian darinya..
“Ah, Iya.. Kau ingin aku untuk menyuapimu?”
Yuri mengangguk..
“Baiklah, aku akan melakukannya..”
“Terimakasih..”
“Aku akan meninggalkan kalian, Kak..”
Ucap Yuna kemudian membuat Azka kembali mengarahkan tatapan padanya, dan Yuri yang kemudian bersuara..
“Kau akan kemana, Yuna?”
“Aku.. Aku hanya akan berada diluar sebentar. Kakak harus menghabiskan makanan itu dan pulih dengan cepat. Aku sudah tidak sabar untuk membawa kakak pulang. Kita akan kembali bersama-sama kakak..”
Yuri mengangguk..
“Tapi jangan terlalu jauh, Yuna. Aku takut jika kau..”
Menempatkan telunjuk diatas bibirnya, dan juga menggeleng kerahnya, Yuna mengisaratkan agar Yuri tak meneruskan kalimatnya.
“Aku hanya akan menunggu kakak diluar. Jangan mengkhawatirkanku.. kakak bisa memanggilku jika butuh sesuatu.”
Yuna mencoba untuk menghiraukan tatapan Azka yang dirasa olehnya masih terus mengarah padanya. Ia membuka pintu, dan lantas keluar dari dalamnya untuk kemudian hanya berdiri didepan pintu itu yang telah kembali ia tutup.
Beberapa saat Ia mencoba melihat melewati kaca pada pintu itu dan dapat mengetahui ketika Yuri kakak nya tersenyum.
Yuna langsung terlihat tersenyum saat itu, mengetahui Yuri yang tersenyum sungguh seakan hatinya disirami dengan kesejukan dan dibanjiri dengan kelegaan. Ia menjadi yakin bahwa kakak nya akan dapat kembali seperti dulu, sebelum kejadian-kejadian buruk dialami olehnya.
Namun kemudian suatu rasa ikut hadir disana, ketika mengetahui senyum kakak nya lantaran karna kehadiran Azka disana yang saat itu sedang menyuapkan makanan untuknya, membuat Ia teringat tak berapa lama sebelumnya Azka telah melakukan hal yang sama terhadapnya.
Dan apa yang kemudian dirasakannya aneh, dadanya berdenyut sedikit sakit. Tidak terlalu sakit, tapi cukup untuk kemudian membuat Yuna meletakkan sebelah tangan diatas dadanya, mencoba untuk semakin merasakannya..
Dan rasa semacam apakah itu?
Yuna mencoba menepiskan ketika hati kecilnya berbisik dengan pelan bahwa itu adalah kecemburuan.
Itu tidak mungkin..
Menghiraukan perasaan itu, Yuna lantas membalikkan tubuhnya, Ia mulai melangkah ke kursi tunggu dan berada disana dalam bebera jam setelahnya. Hanya untuk membiarkan Azka menemani Yuri.
***
to be continue