
Yuna memekik sambil mendorong dada Azka, namun sepertinya hal itu tak banyak berpengaruh. Apa yang dilakukannya hanya membuat tubuh Azka sedikit bergeser, hingga kemudian ia bisa melepas pelukan pria itu dan lantas berhasil mendudukkan tubuhnya.
“Astaga Yuna.. Kau berisik sekali, tidak bisakah kau membiarkanku tidur?”
“Tapi.. Tapi, apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku mau tidur.. Aku lelah, mengerti..”
“Tapi kenapa kau melepas pakaianmu..”
Azka sedikit mengacak rambutnya, terlihat kesal pada Yuna.
“Diluar sangat panas.. Aku tidak tahu bagaimana caranya kau bisa hidup ditempat seperti ini. Kau bahkan tidak memiliki pendingin ruangan? Astaga.. ini sangat menyedihkan..”
“Aku tidak membutuhkannya.. Kau bilang diluar sangat panas. Lalu mengapa kau tidak pulang saja, bukankah disini jauh lebih panas”
Yuna menaikkan alisnya, menduga jika Azka mungkin saja memiliki rencana dengan masuk kedalam kamarnya. Dan tentu saja ia harus mewaspadainya.
“Kupikir disini tidak terlalu panas bila dibandingkan dengan diluar. Asal kau tahu diluar itu benar-benar luar biasa panas.”
“Bohong..”
Yuna menarik salah satu bantal dan memukulkannya ketubuh Azka.
“Keluarlah dari kamarku dan pergilah. Pulanglah Pak.. Kau tidak akan bisa tidur ditempat seperti ini..”
“Aku akan tidur jika kau menutup mulutmu dan diam, Yuna. Atau kau ingin aku yang menutup mulutmu..”
Yuna memutar mata dan kembali memukulkan bantal ketubuh Azka. Namun kali ini Azka menangkapnya dan melempar bantal itu kebawah, kemudian tangannya dengan kuat menjatuhkan tubuh Yuna agar kembali berbaring disampingnya, didalam pelukannya.
“Pak..”
“Aku ingin tidur seperti ini..”
Yuna mendongak, melihat Azka yang memejamkan mata dan mengatur pernapasannya. Ia lantas hanya bisa mendecak, ingin melepaskan tangan Azka yang melingkari pinggangnya namun usahanya sia-sia saja.
“Bukankah tadi kau sudah tertidur saat diluar?”
“Hm..”
“Lalu kenapa kau masuk kedalam kamarku?”
“Aku takut berada diluar sendirian..”
“Ck! jangan bercanda..”
“Aku serius.. Aku mendengar sesuatu tadi. Sebuah suara yang membuat bulu kudukku merinding. Kurasa ada penghuni lain dirumah ini”
Azka membuat tanda kutip dengan tangannya ketika ia menyebut ada penghuni lain, sebagai tanda agar Yuna mengerti apa yang dimaksudkannya.
“Rumahmu benar-benar memiliki aura mistis, apakah kau tidak merasakan energi berbeda yang berada disini?”
Yuna menggelengkan kepalanya dengan polos.
“Kurasa sekian lama tidak ditempati yang membuat rumahmu ini memiliki penghuni baru. Seharusnya kau terlebih dulu memanggil seseorang yang ahli untuk mengusir mereka dari sini”
“Pak, jangan menakutiku..”
“Aku tidak menakutimu.. aku hanya ingin memberitahumu jika ada beberapa hantu yang mungkin telah menghuni rumah ini dengan nyaman”
“Kau benar-benar membuatku takut..”
Yuna tanpa sadar beringsut makin merapatkan tubuhnya pada Azka. Tangannya bahkan melingkar memeluk pada pinggang Azka.
“Aku tahu kau pasti akan takut, Karna itu aku masuk untuk menemanimu. Daripada membiarkanmu ditemani oleh hantu, mahluk penghuni baru rumah ini. Bukankan lebih baik jika tunanganmu yang berada disini dan menemanimu..”
Azka mengerling sambil tangannya bergerak mengusap-usap punggung Yuna.
Namun Yuna menyadari ada tawa terkikik yang pada saat itu coba ditahan oleh Azka, dan Yuna merasa pria itu menipunya. Azka pasti sedang membohonginya dan parahnya ia mempercayai omong kosongnya.
Astaga.
betapa bodohnya dirinya..
“Pak.. ini tidak lucu!! Kau benar-benar penipu, aku tidak akan mempercayaimu..”
Azka justru tergelak dalam tawa meski Yuna bertubi-tubi memukul dadanya dengan menggunakan kedua tangannya yang mengepal.
Gadis itu marah, namun rona diwajahnya justru membuat Azka menyukai kemarahan nya. Ia tahu Yuna tidak benar-benar marah, gadis itu hanya merasa malu karna telah tertipu oleh candaan yang diucapkannya.
“Aku mencintaimu, Yuna. Aku mencintaimu..”
Kalimat itu yang kemudian justru menghentikan Yuna dari aksinya memukul Azka karna merasa sesuatu yang hangat sedang merayap, menjalari wajahnya.
Azka memanfaatkan kebisuan Yuna dengan menangkup wajahnya dan lantas mengecup pada bibirnya.
“Aku mencintaimu.. Sayang”
Yuna mengerjapkan mata saat kemudian Azka tak lagi hanya sekedar mengecup bibirnya, pria itu melumat, menarik bibir bawahnya dan menggigitnya pelan. Namun hal itu cukup untuk membuat Yuna mengerang, sedikit memberikan celah untuk Azka memasukkan lidah dan menjelajahi rongga mulutnya.
Yuna merasa kuwalahan menerima ciuman yang diberikan Azka dibibirnya, tapi kemudian dengan sedikit malu-malu, Ia mulai dengan mengalungkan kedua tangannya dileher Azka, makin merapat pada pria itu dan menggunakan keberanian yang sedikit dimilikinya pada saat itu, Ia membalas perlakuan Azka dengan menggerakkan bibirnya, ikut berpartisipasi dalam ciumannya.
Yuna merasakan sesuatu yang berbeda bila dibandingkan dengan ciuman-ciuman yang diterimanya sebelumnya. Ia tidak sekedar menerima tapi juga memberi hal yang sama. Ia sedang berciuman, tidak lagi sekedar menerima ciuman. Dan rasanya sungguh luar biasa. Dadanya bergemuruh, seakan penuh dan siap meledak oleh sensasi aneh yang dirasakannya.
“emhh..”
Azka menahan diri untuk tidak menjatuhkan tubuh Yuna, dan menempatkan gadis itu dibawahnya, ketika mendengar desah tertahan dan geliat tubuhnya, yang benar-benar telah menyulut gairahnya. Awalnya ia hanya ingin mencium gadis itu main-main, tapi untuk pertama kalinya ia merasakan Yuna membalas ciumannya, dan membuat sisi liar dalam dirinya terbangun.
Maka sebelum sesuatu yang lebih terjadi, Azka mengontrol diri dengan mengakhiri ciumannya.
Yuna terengah dan merasa kehilangan ketika Azka melepaskan tautan bibirnya.
“Woww.. Tadi itu benar-benar luar biasa, Sayang. Aku tak menyangka kau bisa menggerakkan bibirmu dengan begitu manis..”
Yuna menunduk, merasakan wajahnya memanas oleh apa yang Azka katakan padanya.
Namun kemudian Azka meraih dagunya, mendongakkan wajahnya dan membuatnya bertatapan dengannya..
“Kita akan melanjutkannya saat sudah resmi menikah nanti. Aku tidak akan menahan diri jika kau sudah menjadi pengantinku..”
Azka mengerlingkan mata kearahnya..
“Aku akan menunggu saat itu tiba, tidurlah.. Aku akan berada diluar..”
Azka terlebih dulu mengecup keningnya, sebelum turun dari atas tempat tidur Yuna dan tersenyum melihat Yuna yang masih terdiam karenanya.
Yuna bahkan masih terdiam pada sekitar sepuluh menit setelahnya, rasanya ia benar-benar akan meledak..
Berguling diatas tempat tidur, menyambar bantal tidurnya, Ia menutup wajahnya dengan itu. Merasa malu pada dirinya sendiri, karna keberaniannya tadi.
***
Pada sekitar pukul lima pagi ketika Azka tiba-tiba terjaga dari tidurnya, matanya mengerjap menyusuri apa yang berada disekitarnya. Tubuhnya sedikit terasa sakit, dan baru disadarinya ia telah tertidur disebuah sofa usang yang berada didalam rumah Yuna.
“Yuna..”
Azka terlonjak, dan kemudian berjalan kearah pintu kamar Yuna sekedar untuk memastikan keberadaan gadis itu.
Namun setelah dengan pelan membuka pintu kamar itu, Azka sedikit terkejut melihat Yuna yang tidak sedang tertidur tapi malah asik dengan ponsel ditangannya dan memainkan jemarinya diatas layar ponselnya.
“Kau tidak tidur? Apa yang sedang kau lakukan?”
Yuna mendongak dan melihat Azka yang berdiri diambang pintu kamarnya..
“Oh, Pak.. Kau terbangun..”
Yuna kembali memperhatikan layar ponselnya, sementara Azka kemudian mendekatinya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“hm.. Aku sedang membalas pesan”
Azka mengerutkan dahi mengetahuinya..
“Siapa yang mengirimu pesan pagi-pagi buta seperti ini?”
“Dokter Ahmad..”
“Dokter Ahmad?”
“Iya, dokter yang melakukan terapi pada Kak Yuri..”
Pria itu..
Azka menggertakkan gigi saat itu, menatap Yuna dengan rahang mengeras dan selanjutnya mengambil ponsel itu dari tangan Yuna, mengabaikan keterkejutan gadis itu..
“Pak..”
“Kau memberikan nomer ponselmu padanya? Dokter itu?”
Yuna mengerutkan dahi sesaat dan kemudian mencoba mengambil ponsel miliknya dari tangan Azka.
“Pak Azka, kembalikan ponselku..”
“Kenapa kau melakukannya, Yuna? Kenapa kau sembarangan memberikan nomer ponselmu?”
Yuna memutar mata mendengarnya.
Oh..
Jadi itu masalahnya?
“Apa salahnya melakukan itu?”
Salahnya adalah dokter itu seorang pria..
Pria yang bahkan dengan terang-terangan memberi perhatian pada Yuna didepannya.
Azka menggumam kesal didalam hatinya..
“Dia hanya mengirim pesan untuk mengingatkanku..”
“Pagi-pagi buta seperti ini? Dan kau terbangun hanya karna mendengar pesan darinya, kemudian bersemangat untuk membalasnya..”
“Siapa yang terbangun..? Aku bahkan tak bisa tidur sepanjang malam..”
“Kenapa? Kenapa kau sampai tak bisa tidur sepanjang malam? Karna menunggu dokter itu mengirim pesan atau menelponmu?”
“Ya Tuhan.. Kau konyol. Kenapa juga aku sampai tak tidur hanya karna dokter Ahmad? Ini tidak ada hubungannya dengan itu”
“Kau tahu, kau tidak seharusnya seperti itu..”
“Astaga.. aku tidak seperti itu.”
Yuna mulai beranjak dari tempat tidurnya, dengan kesal melangkah keluar dari kamarnya.
“Kau tidak seharusnya memberinya nomor ponselmu..”
“Apa sih salahnya aku memberikan nomer ponselku pada dokter Ahmad.. Dia hanya mengatakan agar lebih mudah mengingatkanku mengenai jadwal terapi Kak Yuri.. Dan dia melakukan itu tadi..”
“Kau bisa memberinya nomor ponselku”
“Dan membuatmu mengurus semuanya? Ini hanya hal kecil. Aku tak ingin membebankan semuanya padamu..”
“Tapi meminta nomor ponselmu dengan alasan untuk mengingatkanmu pada terapi Yuri, itu hanya akal-akalan saja.. Modus yang digunakannya untuk mendekatimu.. bukankah kau sudah memiliki jadwal itu? Dia tak perlu lagi mengingatkanmu.”
“Pak..”
Yuna terpancing semakin kesal oleh kesimpulan sepihak yang diucapkan Azka.
“Dia memang hanya melakukan itu. Dokter Ahmad mengirim pesan hanya untuk mengingatkanku bahwa pagi ini Kak Yuri harus melakukan terapi. Dan dia tidak mungkin mendekatiku.. Dokter Ahmad sudah menikah. Dia memiliki istri..”
“Bagaimana jika dia adalah seorang pria hidung belang yang sering melakukan perselingkuhan dibelakang istrinya. Dia melihatmu sebagai gadis lugu dan siap melancarkan aksi untuk merayumu..”
Yuna benar-benar membulatkan mata mendengarnya..
“Kau sudah keterlaluan, Pak.. mungkin benar, rumahku memang memiliki penghuni baru dan kau pasti sedang kerasukan salah satu hantu itu..”
Yuna mengambil tas selempangnya dan kemudian melemparkan sebuah kaos milik Azka yang ditanggalkannya, yang juga berada diatas sofa usangnya.
“Cepat pakai bajumu, aku ingin pulang sebelum Kak Yuri terbangun..”
“Jika dokter itu kembali mengirim pesan atau malah menelponmu, katakan kau sudah mengingat sendiri jadwal itu..”
Yuna mendecak sambil memelototinya..
“Aku menunggu diluar..”
Yuna keluar lebih dulu untuk mengakhiri ketidak warasan Azka saat itu.
***
to be continue