At First Sight

At First Sight
Episode 86



“Pak, aku ingin pulang..”


“Kenapa? Kau bahkan belum meminta maaf atas kebohonganmu padaku..”


“Tapi aku sudah menjelaskannya tadi. Aku juga tidak tahu jika sebenarnya dokter Ahmad masih belum.. Aishh, baiklah.. aku minta maaf. Maafkan aku.. Pak, ayolah..”


“Kenapa tidak memanggilku ‘Mas’ seperti tadi..?”


Yuna melebarkan mata kearahnya..


“Ck! kenapa aku harus melakukannya?”


“Kenapa? Karna Aku menyukainya. Itu terdengar sangat manis jika kau yang mengucapkannya. Dan aku ingin mendengarnya disetiap waktu. Bukan hanya disaat-saat tertentu saja..”


“Aku tidak akan melakukannya.. Pak, ayolah.. Telpon supir untuk menjemputku..”


“Kenapa kau tidak mencoba melakukannya lagi untuk menyenangkanku. Mungkin aku akan mengabulkan permintaanmu. Bersikap baiklah padaku, Yuna..”


Yuna memberengut kesal, dan berkeras tidak mau melakukan apa yang Azka inginkan dengan memanggilnya ‘Mas’. Entah mengapa, kali ini ia merasa tak akan membiarkan Azka memenangkan semua yang diinginkannya.


“Pak..”


“hmm..”


“Bolehkah aku turun kebawah untuk menemui Husna dan Siska?”


“Kau sudah bisa berjalan?”


Yuna menggeleng..


“Kalau begitu kau akan tetap berada disini”


“Tapi aku ingin mengobrol dengan mereka.. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka, Pak..”


“Ini awal pekan dan sekaligus awal bulan.. disini hanya kau yang tidak bekerja, sedangkan mereka memiliki banyak pekerjaan. Kau sebaiknya tidak mengganggu..”


Yuna kembali menunjukkan wajah yang memberengut..


Sampai sekitar satu jam setelahnya, keduanya sama-sama terdiam. Sama sekali tidak melakukan percakapan. Azka sibuk dengan pekerjaan yang dilakukannya. Mengoreksi dan mencermati beberapa tawaran bisnis yang diajukan padanya. Namun sesekali ia masih mencuri pandang pada Yuna.


Keberadaan gadis itu disana, yang meskipun saat itu hanya diam saja dan malah kembali terlihat kekesalan diwajahnya, tak menjadi masalah bagi Azka. Ia sudah cukup merasa senang bekerja dengan ditemani gadis itu didalam ruangannya.


Tapi yang dirasakan Yuna jelas berbeda dengan yang dirasakan oleh Azka. Berada satu ruangan dengan pria itu untuk waktu yang lumayan lama, disadari Yuna kemudian membuatnya gugup. Namun memikirkan untuk memenuhi keinginan Azka, jelas menjadi terlalu gengsi untuk dilakukannya. Dan tiba-tiba terlintas sesuatu didalam pikirannya yang akhirnya membuat senyum dibibirnya terlihat.


Azka yang saat itu memperhatikannya, melihat Yuna yang sedang berusaha menjangkau tas tangannya yang tergeletak diatas meja. Setelah gadis itu mendapatkannya, Ia mengambil ponsel dari dalamnya dan dengan segera memainkan jemarinya diatas layar, sebelum kemudian membawa ponsel itu menempel ditelinganya..


“Ibu..”


Dikursi kerja yang didudukinya, Azka mengernyit mendengar dan akhirnya mengetahui siapa yang dihubungi Yuna pada saat itu, adalah Ibunya.


“Ibu..”


Ia mengeluarkan suara memelas..


“Ada apa Yuna?”


“Ibu.. bagaimana ini? Bagaimana Ibu..?”


“Kenapa? Ada apa? Katakan sesuatu dengan jelas padaku?”


“Aku.. Kaki-ku Bu.. Kaki-ku sakit, Aku tidak bisa berjalan..”


“Ya Tuhan.. Apa yang terjadi?”


“Aku terjatuh.. kaki ku terkilir dan sangat sakit..”


Jawab Yuna tak sadar dengan menggigit bibir bawahnya..


“Astaga.. Kenapa kau menjadi suka mencederai dirimu sendiri, Yuna..!”


Nada suara Ny.Dania mulai meninggi..


“Dimana kau sekarang?”


Yuna menoleh kearah Azka dan tahu pria itu sedang memperhatikannya dan ia kemudian justru tersenyum sebelum kembali menjawab pertanyaan dari Ny.Dania tadi.


“Aku berada dikantor Mas Azka.. Tapi aku ingin pulang, Bu.. Aku ingin bersamamu..”


“Aku akan kesana..!!”


Begitu Ny.Dania memutus sambungan telponnya, Yuna langsung bersorak..


“Yeiii.. akhirnya aku bisa pulang dengan caraku. Bukankah aku sangat pintar, Pak..?”


Dan kemudian ia malah dengan berani menjulurkan lidah kearah Azka yang masih memperhatikan tingkahnya. Membuat pria itu dengan seketika memutar mata melihatnya.


Dasar kekanakan..


Komentar Azka dalam hati, meski disaat yang sama ia juga ingin tertawa melihatnya.


***


Satu setengah jam setelahnya Azka sudah tidak memiliki Yuna didalam ruang kantornya.


Tak lama setelah melakukan pembicaraan ditelpon tadi, Yuna dijemput oleh ibunya dan sekaligus ayahnya. Dan Azka harus rela mendesah pasrah saat setelah melihat kondisi kaki gadis itu yang dibebat dengan perban, bukan memarahi gadis itu karna kecerobohannya sendiri, sang ibu justru langsung memarahinya karna menganggap dirinya tak mampu menjaga gadis itu dengan baik.


Azka ingin mengatakan itu hanya masalah terkilir saja, tapi jelas apapun itu sang ibu takkan menerimanya. Tersirat dari apa yang sang ibu katakan tadi, jika tak ada yang boleh membuat gadis belia kesayanganya, atau Azka lebih suka menyebut ‘bonekanya’ terluka, sekecil apapun.


Maka setelah menyaksikan tingkah konyol Yuna yang menunjukkan sikap bermanja-manja dan terlihat menikmati perhatian berlebihan yang diberikan oleh ibunya, Azka memutuskan untuk berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya hari itu.


Azka bahkan tanpa sadar baru keluar dari kantor setelah jam kerja normal berakhir pada sekitar dua jam yang lalu.


Hingga hanya dalam hitungan menit saja ia telah berada dekat dengan rumahnya. Dan pada saat mobilnya berada dekat dengan area rumahnya itu, satu yang kemudian tertangkap mata olehnya, adalah keberadaan sebuah mobil yang terparkir tak terlalu jauh dari pagar rumahnya.


Azka mendadak menghentikan laju mobilnya dibelakang sebuah mobil yang terparkir itu, hanya untuk mengamati. Dan tak butuh waktu lama untuknya mengetahui itu adalah sebuah mercedes yang sama, yang beberapa kali sebenarnya pernah dilihatnya berada disekitar rumahnya dan malah pada saat itu sempat ia curigai mengikuti laju mobilnya.


Tak butuh waktu lama juga untuknya akhirnya menyadari dan mengingat siapa pemilik mobil itu. Pantas saja, ia sempat merasa tak asing dengan mercedes itu, karna jelas ia mengenal pemiliknya, lumayan mengenalnya dalam kerjasama yang pernah dilakukannya.


Maka untuk membenarkan dugaannya, Azka lantas keluar dari dalam mobilnya, melangkah mendekati mobil itu, ia sudah mendengar suara mesin mobil yang telah dihidupkan, namun beruntung ia lebih cepat beberapa detik untuk mengetuk pada bagian kaca disisi pengemudi. Mengetuknya beberapa kali hingga akhirnya sang pengendara itu menurunkan kaca mobilnya..


“Agen Arkhan…?”


Azka benar dengan apa yang diduga olehnya..


***


Jena sedang berada diluar kamar Yuri ketika itu. Memperhatikan gadis itu yang kini duduk dipinggiran tempat tidur, sedang menatap cemas pada Yuna yang tengah tertidur disampingnya. Entah apa yang berada dipikirannya. Namun sebelumnya Jena melihatnya menangisi Yuna, setelah melihat sang adik pulang dalam keadaan berjalan dengan kaki terpincang, akibat dari luka terkilir dipergelangan kakinya. Meski Yuna telah meyakinkannya bahwa ia hanya mengalami terkilir saja, namun hal itu tetap tak menyurutkan airmata Yuri yang terus mengalir.


Jena menilai Yuri memang cenderung lebih sensitif dan sangat mudah meneteskan airmata. Apalagi bila hal itu berkaitan dengan Yuna.


Jena menghela napasnya..


Oh, dia hanya tak tahu..


Betapa orang-orang yang berada dirumah itu sangat menyayangi adiknya. Bahkan Ny.Dania yang begitu terlihat ketus, sebenarnya sangat memanjakan gadis itu layaknya putri kandungnya.


Jena kembali menghela napasnya..


Dalam hati ia ikut berdoa, semoga Yuri tidak akan terlukai bila suatu hari nanti dia mengetahui keadaan yang sebenarnya. Hubungan kasih sayang persaudaraan diantara keduanya yang begitu erat, terlalu indah untuk dirusak oleh sebuah kebohongan yang diatas namakan kebaikan.


Semoga..


Semoga gadis itu akan mengerti.


Menutup pintu kamar itu dengan perlahan-lahan, Jena berniat untuk beranjak, namun kemudian getaran ponselnya yang menandakan panggilan dari seseorang, sejenak menghentikannya.


“Iya, Arkhan..”


Jawabnya setelah tahu siapa yang pada saat itu menghubunginya.


“Bagaimana keadaan Yuri, dia sudah tertidur?”


“Dia sudah berada dikamarnya, duduk diatas tempat tidur, tapi sepertinya dia belum akan tidur.. Oh, Arkhan.. Apa kau sudah kembali?”


“Aku baru saja mendarat, aku berada didepan sekarang..”


“Oh, benarkah.. Apakah aku perlu keluar?”


“Tidak.. Tidak perlu, hanya tetaplah berada disana dan mengawasi gadis ku..”


Jena kemudian justru menertawai bagaimana pria itu menyebut Yuri.


“Jangan menertawaiku seperti itu.. Kau akan tahu aku bisa melakukan itu..”


“hm, baiklah.. Aku akan mempercayainya. Tapi Arkhan.. Bagaimana dengan perjalananmu?”


Jena mendengarkan ketika pria itu kemudian menceritakan apa yang dalam seminggu terakhir dikerjakannya. Hal yang kemudian membuatnya menunda rencananya untuk mendekati Yuri, karna sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya yang pada akhirnya harus membuatnya berada diluar negri.


“Kau pasti lelah, Arkhan.. Mengapa kau tidak pulang saja dan beristirahat”


“Aku akan melakukannya nanti.. Sekarang tolong ceritakan padaku. Mengapa Yuri masih belum tidur?”


Jena mendesah sesaat, sebelum kemudian menceritakan sedikit yang diketahuinya yang disimpulkannya sendiri sebagai penyebab Yuri masih terjaga saat itu.


“Jadi dia sedang menunggui adiknya?”


“Ya, seperti itulah. Nona Yuna mengalami terkilir pada pergelangan kakinya, entahlah apa yang terjadi, kami berpisah dirumah sakit siang tadi dan dia bersama dengan tuan muda Azka yang mengatakan bila nona Yuna harus menemui Nyonya. Dan pada saat dia pulang bersama dengan Tuan dan Nyonya tadi, keadaannya sudah seperti itu”


“Dia pasti merasakan cemas karna itu”


Jena sedikit membuka kembali pintu kamar Yuri dan melihatnya yang sudah berbaring, namun masih belum tertidur. Yuri terlihat menggunakan tangannya untuk mengusap dan menyentuh kepala hingga wajah Yuna, kedua matanya pun tak lepas menatapnya.


“Dia sudah berbaring, aku rasa dia akan segera tertidur..”


“Aku harap dia akan tidur dengan nyenyak malam ini”


Jena justru tersenyum mendengarnya..


“Arkhan, kau tahu.. Ini baru pertama kali kualami. Aku masih tak percaya, sebagai seorang agen yang disewa, kau justru merasakan jatuh cinta pada gadis yang kau tangani kasusnya. Apakah mungkin nona Yuri juga telah bisa menghapus kisah cinta pertama mu yang membuatmu terluka?”


Jena tidak mengetahui bila dibalik sambungan telpon itu, sang pria yang sejak beberapa saat yang lalu mengobrol dengannya, kini sedang tersenyum setelah mendengar apa yang pada saat itu ditanyakannya.


“Kau hanya tak tahu, Jena.. siapa gadis yang menjadi cinta pertamaku itu..”


“Kau tidak pernah mengatakan padaku, Arkhan.. Apa akhirnya sekarang kau akan mengatakan siapa dia?”


Sang pria justru sesaat tertawa mendengarnya, Ia sudah merasa terpancing dan sepertinya akan mengatakan siapa gadis itu padanya, namun kesadarannya akan sebuah mobil yang berhenti dibelakang mobilnya dan dengan cepat sang pengemudi turun dari dalamnya, membuat pria itu sedikit terkejut saat mengetahui pengemudi mobil itu, yang adalah Azka, yang sudah ia kenal dan sebaliknya, mengenal dirinya. Kini dalam langkah mendekati mobilnya.


“Aku akan menghubungimu lagi nanti..”


Putusnya pada sambungan ponselnya bersama Jena. Segera menyalakan mesin mobil untuk kemudian pergi, namun ternyata tak cukup cepat untuk dapat melajukan mobilnya, karna Azka nyatanya telah berada tepat disamping mobilnya dan mengetuk-ngetuk pada bagian jendela kacanya.


Mau tak mau ia kemudian menurunkan kaca mobilnya.


“Agen Arkhan..?”


Ia menatap keterkejutan dari Azka saat itu dan membalasnya dengan senyum, lantas mematikan mesin mobilnya. Ia berpikir tidak mungkin kabur seperti seorang pengecut pada saat itu.


***


to be continue