At First Sight

At First Sight
Episode 35



Yuna POV


Kurasakan udara menjadi dingin disekitar ku. Angin yang berhembus akan dengan cepat membekukan tulang-tulangku. Aku menyalahkan apa yang tiba-tiba kurasakan sebagai dampak dari ciumannya. Bibirnya yang menutup bibirku juga membuatku menahan napas.


Tangannya yang kuat dan hangat memeluk pinggangku, dengan jemarinya menekan pada pinggulku. Aku lumpuh, tak dapat bergerak atas apa yang telah dilakukannya pada tubuhku. Rasanya aneh ketika diriku bahkan tak berusaha keras untuk menolak perlakuannya.


Ketakutanku pada Ibu nya yang berada disekitar kami, yang akan dengan mudah memergoki kami mungkin yang menjadi alasan mengapa aku tak melakukan penolakan berarti terhadapnya.


Situasi yang memojokkan ini kian membuatku berdebar. Aku meremas kemeja kerjanya yang basah saat kemudian kututup mataku.


Aroma dari keringat yang bercampur dengan parfum, menguar dari lehernya. Dan aku terang-terangan menghirup dengan hidungku. Menikmati campuran dari aroma itu yang bahkan lebih terasa merilekskan dibandingkan dengan wewangian dari bunga-bunga yang sedari tadi kuhirup.


Kacau..


Itu sesuatu yang tak wajar untuk diteruskan.


Aku tak harus memiliki rasa seperti itu. Keterpesonaan yang mungkin diam-diam sedang kurasakan hanya akan mengacaukan rencana awal ku untuk menghancurkannya.


Aku mengingatkan itu dan terus-terusan memutarnya pada otak kecilku.


Membuatku kemudian tak berkonsentrasi pada aroma tubuhnya yang mampu membiusku, pada ciumannya, pada bibirnya yang basah yang kini menempel diatas bibirku. Namun aku justru was-was dengan keberadaan ibu nya yang sepertinya masih tak beranjak.


Aku membuka mataku ketika kemudian aku sedikit mendengar langkah-langkahnya menjauh disekitar kami. Lega, wanita itu telah kembali masuk kedalan rumah besarnya, masih dengan menyebut-nyebut namaku, mencari keberadaanku.


Namun Azka sepertinya tak menyadari hal itu. Atau dia dengan sengaja berpura-pura tidak mengetahuinya. Dia justru melakukan tindakan yang benar-benar membuatku tersentak. Aku merasakan lidahnya mendorong masuk kedalam mulutku.


Dengan sekuat tenaga mendorong dadanya yang kokoh, aku menjauhkannya dariku. Menghentikan lidahnya yang mencoba bergerak didalam mulutku.


Aku merasa teramat bodoh. Tidak seharusnya aku mengikuti ide nya untuk bersembunyi dari ibunya. dia bisa bersembunyi sendiri. itu akan lebih aman. harusnya aku menyadari ini lebih awal. dia pasti sedang bermuslihat. aku akan lebih mewaspadai bila **** sepertinya memiliki seribu satu macam cara untuk bermuslihat.


Sialan..


Dia benar-benar **** sialan yang pandai memanfaatkan kesempatan. Dia memanipulasi kehadiran ibunya untuk tindakan tak senonoh yang seharusnya tak dilakukannya pada gadis berusia delapan belas tahun sepertiku.


Aku tak pernah merasakan ciuman seperti itu sebelumnya.


Tidak..


Tidak sekali pun ada seorang pria yang menciumku.


Aku bahkan menyerahkan ciuman pertama ku padanya dimalam penjebakan itu.


Aku telah mengorbankan banyak hal hanya demi menghancurkan pria ini. Demi membalaskan apa yang tidak dapat dibalaskan oleh Kak Yuri padanya. Rasa sakit hatinya yang tak mampu dia hadapi hingga membuatnya depresi.


Jangan kan hanya ciuman pertama yang telah ku relakan hilang dariku, dan tak berjalan seperti harapan para gadis-gadis belia pada umumnya. Yang mengharapkan ciuman pertama itu menjadi sesuatu yang manis dan indah, hingga akan sanggup untuk dikenang dalam seumur hidup. Alih-alih mendapatkan hal itu, Aku justru dengan mudah memberikannya pada pria **** dihadapanku, hanya untuk memasang perangkap yang sayangnya juga telah memerangkap diriku sendiri kedalamnya. Hingga jauh melampaui seperti apa yang bisa kubayangkan.


Aku rela mengorbankan itu.


Aku juga rela merasa tertekan dalam beberapa hari ini.


Aku rela dinilai sebagai gadis liar..


Aku rela dipandang sebelah mata dan terlihat hina..


Aku rela menerima semua itu hanya demi Yuri Kakak ku.


Demi membalaskan sakit hatinya pada Azka.


Dia **** yang memiliki otak mesum dikepalanya..


Rasanya aku sangat ingin meneriakkan kalimat itu didepan wajahnya.


“Aku akan masuk lebih dulu..”


Bodohnya, bukan makian itu yang keluar dari bibirku. Melainkan, Aku justru berlagak tak terjadi apa-apa. Padahal dengan nyata aku merasakan dia memasukkan lidahnya kedalam mulutku.


Sialan..


“Tunggu..”


Dia menarik tanganku ketika aku mulai beranjak. Aku memelototi tangannya sampai akhirnya dia melepaskannya dan kemudian berdeham setelahnya..


“Hm, bagaimana kalau mama nanti melihatmu? Sebaiknya aku dulu yang masuk..”


Dia sama berlagak, seperti tak habis mencium ku..


“Tidak.. Aku dulu saja. Aku bisa mengendap-endap, masuk kekamar dan menyembunyikan tubuhku dibawah selimut. Nyonya tidak akan mengetahuinya..”


“Tidak.. Kau tidak akan bisa melakukan itu”


menggelikan..


Ini bukanlah sesuatu yang tepat untuk diperdebatkan. Aku memutar mata pada bagaimana dia berkeras untuk masuk lebih dulu dari pada aku..


“Tidak.. Tidak.. Aku yang akan masuk lebih dulu. Aku akan mengalihkan perhatian mama. Dan kau bisa masuk setelahnya..”


Apa yang di katakannya itu terdengar seperti sebuah ide penyelamatan. Menyelamatkanku dari amukan ibunya mungkin..


Maka aku menyetujuinya.


“Anda bisa melakukannya, Pak..”


“Kau setuju?”


Aku mengangguk..


“baiklah.. ”


Entahlah apa ini hanya perasaanku, sekedar penilaian atau memang kejadian yang sebenarnya. Tapi Aku benar-benar melihatnya berjalan kikuk saat menjauh dariku..


Sebelumnya, dari kemeja kerjanya yang basah karena ulah ku, aku telah dapat melihat bagian dada dan perutnya yang berotot. Yang pasti akan terasa keras bila aku memegangnya.


Tapi kini, setelah dia membalikkan tubuhnya, mengambil langkah untuk masuk ke dalam rumahnya, Aku hanya bisa memandang pada bagian punggungnya. Dia terlihat jelas memiliki bahu yang lebar dan sudah pasti kokoh. Benar apa yang pernah dikatakan Husna, jika dia bahkan bisa mengagumi pria itu hanya dari bagian punggungnya. Punggungnya memang terlihat bagus.


Oh, ya ampun..


Aku menggeleng dan memukul kepala ku sendiri.


Apa tadi?


Rasanya aku ingin menyentil ke dalam otakku.


Aku gadis kecil dimata Yuri Kakak ku..


Aku gadis berusia delapan belas tahun yang tidak sepantasnya memiliki pemikiran yang..


Umm…


Aku menyebutnya dengan ‘nakal’ terhadap seorang pria. Terlebih pria itu adalah Azka. Yang nyata-nyata adalah seorang **** yang telah merusak, menghancurkan kehidupan Kak Yuri ku.


Aku benar-benar merasakan marah ketika mengingat apa yang dilakukannya pada Kak Yuri.


Azka pria ****..


Dia bukanlah salah seorang pria yang bisa untuk membuatku terpesona, apalagi pantas untuk dikagumi.


Saat ini dan memang telah terjadi selama ini, satu-satunya pria yang pantas untuk ku kagumi adalah mas Doni . Dia pria yang baik. Aku bersyukur memiliki dia dalam kehidupan kami, terlebih disaat keadaan Kak Yuri yang seperti itu, Mas Doni tidak menjauh apalagi pergi meninggalkan kami. Dia justru menunjukkan padaku betapa dia pria yang sangat mencintai Kak Yuri.


Aku telah berjanji pada diriku sendiri, bila suatu hari nanti Kak Yuri membaik, aku akan membantunya untuk meyakinkan Kak Yuri bahwa hanya dia lah pria yang tepat untuk Kakak ku. Aku akan merelakan perasaanku yang selama ini ku sembunyikan terhadapnya terkubur dalam-dalam didasar hatiku.


Aku rela..


Aku sungguh rela untuk melakukan itu..


Menghilangkan pemikiran-pemikiran itu untuk sementara dari kepalaku, Aku melihat Azka telah masuk kedalam rumahnya. Membiarkan diriku menunggu sampai beberapa menit, sebelum kemudian mulai melangkah untuk masuk kedalam rumah. Aku mendengar suara Azka yang sedang berbicara dengan ibu nya, entah dibagian ruang sebelah mana. Aku hanya menduganya sedikit cukup jauh dari keberadaanku.


“Kau baru pulang? Ada apa dengan pakaianmu.. Mengapa kau basah seperti ini?”


“Diluar hujan, ma..”


“hujan? Mama bahkan baru saja keluar dan tidak sedang terjadi hujan..”


“Pasti hujan turun setelah mama kembali masuk..”


“Uh, omong kosong.. Setidaknya beri alasan yang masuk akal jika kau sedang berbohong, Azka..”


Dengan melepas kedua alas kaki ku, aku berjalan mengendap seperti seorang pencuri. Mengatur dengan keras agar langkahku tak menciptakan bunyi yang dapat didengar oleh Ibu Azka.


“Bibi Lia mengatakan kau sudah pulang dan langsung menyusul Yuna dihalaman belakang.. Jadi apa yang kalian lakukan dan dimana gadis itu sekarang? Kenapa aku tak melihat kalian disana tadi..?”


Aku terkesiap dan menutup mulutku. Dengan mempercepat langkahku, namun tak mengurangi kehati-hatianku, aku menuju tangga untuk mencapai kamar yang ku tempati. Apa yang ku dengar dari apa yang dikatakan Ibu Azka membuatku sangat ingin untuk menghidarinya. Setidaknya sampai besok pagi, mungkin pada saat itu kekesalan telah menghilang dari dirinya.


“Yuna..”


Aku baru menginjakkan kaki telanjang ku pada satu anak tangga, ketika mendengar Bibi Lia memanggilku.


“Yuna..”


Membalikkan tubuhku dengan menempatkan satu telunjuk didepan bibirku, aku berharap Bibi Lia akan dapat membaca maksud isaratku. Aku menginginkannya untuk berhenti berseru memanggilku.


“Nyonya mencarimu.. Tidakkah dia melihatmu dihalaman belakang tadi?”


“Bibi, ssttt..”


Uh, Bibi Lia masih tidak mengerti dengan maksudku.


Rasanya aku benar-benar menginginkan untuk mengabaikan Bibi Lia dan melupakan kesopananku padanya. Aku ingin secepatnya berlari menaiki puluhan anak tangga diatasku. Aku benar-benar perlu untuk menghindar dari Ibu Azka.


Setidaknya sampai nanti, sampai aku berada dikamar, mengganti pakaianku dan berpura-pura aku baru saja membersihkan diriku setelah menyelesaikan hukumannya yang diberikan padaku. Setidaknya hal itu akan menghilangkan kecurigaannya bahwa aku berada dihalaman belakang bersama dengan Azka tadi.


“Yuna..”


Oh dear..


Sayangnya itu terlambat untuk ku lakukan. Ibu Azka, wanita itu telah dalam langkah untuk mendekat padaku. Dengan tatapannya yang seolah tidak akan melepaskanku.


Sedangkan Azka, dia hanya menaikkan kedua bahunya kearahku. Dia mencoba mengatakan ketidak berhasilannya untuk mengalihkan perhatian ibu nya, atau sebenarnya dia memang tak melakukannya.


Dasar tak bisa dipercaya..


“Kau disini rupanya..”


“Ibu..”


Aku mencoba memasang senyum diwajahku, namun sepertinya tak berhasil. Aku tak bisa tersenyum dalam kegelisahan yang melandaku.


“Dimana kau ketika aku mencarimu dihalaman belakang? Kau tidak mendengar aku memanggilmu, tadi?”


“Aku..em, aku..”


Tuhan..


Apa yang harus kukatakan. Dia jelas sedang menuntut alasan yang dapat menjelaskan dimana keberadaan ku tadi.


“Ibu.. Aku sudah menyelesaikan semuanya. Aku sudah mencabuti rumput-rumput liar. Memotong daun yang mengering dan menyemprotkan pupuk. Aku juga sudah menyiram semua bunga-bunga itu..”


Dengan menggigit bibir bawahku setelah mengatakan apa yang sudah ku lakukan tadi, aku sedang mencoba mengalihkan dari pertanyaan Ibu Azka padaku.


“Oh, jadi kau sudah menyelesaikan hukumanmu..? Semuanya..?”


Aku mengangguk..


“Itu berarti kau juga sudah menyelesaikan apa yang kau lakukan dengan putraku dibalik batang pohon tadi..”


Aku tidak tahu seberapa besar mataku membulat saat ini. Dan bagaimana aku ternganga dengan begitu bodoh. Sama halnya dengan Azka yang juga memasang tampang terkejut ketika mendengar ibunya mengatakan hal itu.


Wanita itu memang benar memiliki kalimat-kalimat mengejutkan yang keluar dari bibirnya.


Jadi dia sebenarnya telah mengetahui ketika Azka menciumku tadi..


Oh My God..


***


to be continued