At First Sight

At First Sight
Episode 43



Doni baru saja keluar dari dalam lift dan melangkah menuju lobi ketika pandangan matanya menangkap sosok Yuna melangkah disebelah Ibu Azka yang terlihat cemas dan berjalan dengan tergesa.


Ketika itu Yuna sedang mengarahkan pandangannya kearah meja resepsionis, pada Husna dan Siska yang terbengong melihatnya, mungkin bukan hanya mereka berdua saja, melainkan karyawan lain yang mengetahui jika sebelumnya dirinya pernah berada dibelakang meja resepsionis itu, sekitar seminggu menjadi sekretaris dadakan Azka, sampai pada pertunangannya yang Yuna yakin menjadi topik pembicaraan menghebohkan. Dan kini setelah malam pertunangan itu, ia kembali muncul di kantor, melenggang bak nona muda glamour disamping Ibu Azka.


Masih menatap pada kedua teman kerjanya membuat Yuna tak mengetahui ketika kemudian Doni menghampiri.


“Oh, Nyonya.. Anda datang?”


Menyapa pada Ny.Dania dengan membungkukkan badannya, Doni kemudian menatap pada Yuna dan menyadari perubahan dalam tampilan gadis itu. Namun keberadaanya yang saat itu bersama dengan Ibu Azka, membuatnya tak menanyakan apapun.


“Doni.. Apa yang terjadi? Benarkah terjadi kebakaran.. Suamiku mengatakan sudah tidak masalah dan melarangku untuk datang. Tapi aku merasa perlu untuk memastikannya”


“Tuan benar Nyonya.. Semua sudah bisa ditangani. Anda bisa tenang sekarang..”


“Oh, tentu aku juga mengharapkan ketenangan itu Doni..”


Doni tersenyum pada Ny.Dania, namun kemudian senyumnya tak ditunjukkan pada Yuna yang kini sudah menatapnya dengan senyum yang tersungging diwajahnya. Doni tak membalas senyumnya. Senyum itu telah menghilang dari wajahnya.


Membuat Yuna seketika melenyapkan senyum itu dari bibirnya. Ia sadar rasanya yang terpendam untuk pria itu masihlah ada meski Ia sudah mencoba untuk mengubur kedasar hatinya setelah mengetahui betapa besar cinta Doni untuk Yuri kakaknya.


“Dan dimanakah Azka sekarang, Doni..?”


Pertanyaan Ny.Dania mengalihkan tatapan Doni dari Yuna.


“Azka berada diruangannya, Nyonya. Saya akan mengantar anda naik jika anda ingin menemuinya..”


Ny.Dania menahan lengan Doni..


“Tidak perlu, aku akan bersama Yuna.. Kau akan melakukan pekerjaan bukan?”


Doni mengangguk..


“Kerjakanlah.. Aku bisa naik bersama dengan Yuna”


Doni mempersilahkan dan hanya bisa memperhatikan Yuna yang melangkah dibelakang Ibu Azka. Ia memang telah mengabaikan gadis itu dalam beberapa hari terakhir dan malah tak melibatkannya kedalam rencana yang telah dijalankannya.


Setelah ia menemukan cara lain dengan kembali memanfaatkan seorang wanita yang adalah Jessica dengan kesakit hatiannya untuk mendukung rencananya menghancurkan Azka secara lebih cepat. Hanya tak menyangka pada saat tadi melihat Yuna, Ia seperti melihat gadis lain karna perubahan tampilannya.


Doni berbalik setelah mengetahui Ny.Dania dan Yuna masuk kedalam lift khusus. Ia kembali meneruskan langkahnya, merogoh kembali ponselnya dan meneruskan panggilannya..


***


“Azka.. Apa semua baik-baik saja sekarang?”


Ny.Dania mengejutkan Azka dengan begitu saja masuk kedalam ruang kerjanya dan langsung menyerukan pertanyaan padanya.


“Mama..”


Ia melihat Yuna yang menyusul masuk dibelakangnya. Masih dengan mengenakan dres berwarna hijau seperti yang tadi pagi dilihatnya.


“Aku begitu cemas mendengar kebakaran yang terjadi. Tapi papamu tak mengijinkanku untuk melihat.. Maka aku menunggu Yuna menyelesaikan kelas kepribadiannya. Menggunakannya untuk beralasan pada papamu, jika aku akan menjemputnya dan ingin pergi dengannya setelah itu. Tapi aku membawa Yuna kemari..”


Ny.Dania lantas mendudukkan tubuhnya pada sofa ditengah ruangan itu, sementara Yuna masih berdiri diam dibelakangnya. Azka segera beranjak dari duduknya dan kemudian mendekati sang ibu.


“Tidakkah Papa mengatakan jika semuanya telah dapat ditangani?”


“Ya.. papamu mengatakannya, tapi aku tak mempercayainya”


“Sejak kapan mama tidak mempercayai papa..”


Azka menggunakan kalimat itu untuk mencibir sang ibu yang kemudian memutar mata kearahnya.


“Mama hanya ingin memastikan..”


Ny.Dania menoleh kebelakang dan melihat Yuna disana.


“Tidakkah kau lelah berdiri saja. Duduklah..”


Yuna menurut dengan mengambil langkah memutar untuk kemudian mendudukkan tubuhnya pada sofa yang lain.


“Tidakkah mama sebaiknya pulang saja?”


“Dan membiarkanmu hanya bersama dengan Yuna, disini? seperti itukah yang kau inginkan? ”


Azka mendecak pada kesalahan sang ibu menanggapi maksudnya.


“Bukan seperti itu maksudku, ma..”


“Sudahlah, tak perlu menjelaskan. Mama datang bersama Yuna. Dan tentu dia harus pulang denganku. Apa yang akan dikatakan ayahmu jika aku pulang sendirian tanpa Yuna. Lagi pula, setelah memastikan disini memang baik-baik saja, aku telah berencana untuk benar-benar pergi dengan Yuna. Mama akan mengajaknya menghadiri fashion show, sekaligus mendatangi pameran perhiasan hasil rancangan salah satu putri temanku. Dan mungkin membeli beberapa yang cocok untuknya”


“Dan mama akan mengirim lagi semua tagihannya padaku, untuk membayarnya?”


“Oh, Kau sudah menerima tagihan yang sebelumnya?”


Azka mengangguk..


Baru beberapa saat yang lalu ia menerimanya.


“Dan itu lumayan besar”


Ny.Dania justru tersenyum tanpa dosa.


“Itu harga yang pas untuk kau bayarkan agar gadismu tak lagi mempermalukan mama dengan penampilannya yang biasa.. Maka bersiaplah untuk menerima beberapa tagihan lagi”


Ny.Dania yang baru saja mengatakan apa yang direncanakannya untuk dilakukannya pada hari itu, mengalihkan pandangannya dari Azka ke Yuna.


“Ada apa Yuna?”


“Ibu sudah membelikan ku terlalu banyak.. Dan aku tak tahu kemana aku akan mengenakan pakaian dan gaun-gaun itu. Kurasa aku tidak akan membutuhkannya lagi. Ibu tak perlu membelikannya lagi untukku..”


“Oh, tidak.. Tentu saja kau membutuhkannya. Ketahuilah bahwa banyak acara yang akan kau hadiri denganku. Dan aku yang akan menentukan kemana kau akan memakainya”


Azka hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar percakapan selanjutnya antara ibu nya dan Yuna. Ia justru kemudian beralih ke lemari pendingin yang berada diruangannya. Mengambil sebotol air mineral yang kemudian diberikannya untuk sang ibu dan satu minuman kaleng ia ulurkan pada Yuna, setelah terlebih dulu membukakannya.


“Minumlah.. Dan menyerahlah, kau tidak akan berhasil melawan ibuku”


Ucapan Azka mengacu pada penolakan Yuna agar Ny.Dania tak lagi membelikannya banyak pakaian.


Yuna memang merasa tak nyaman dengan itu. Mendadak Ia juga merasakan mungkin akan lebih baik bila sikap ibu Azka seperti sebelumnya. Keras, ketus dan kasar, juga penuh penghinaan terhadapnya. Meski hal itu cukup membuatnya tertekan, namun setidaknya ia tak merasakan perasaan bersalah seperti yang saat itu dirasakannya.


Ia memiliki rencana untuk menghancurkan Azka, namun sang Ibu dari pria itu justru bersikap seakan sedang memanjakannya. Menghujaninya dengan menggunakan berbagai barang mahal. Mendandaninya menjadi terlihat cantik, hingga orang-orang tak lagi memandangnya dengan sebelah mata, tapi justru membuat mereka semua melebarkan mata dan tak berkedip ketika melihatnya.


“Ambilah, Yuna..”


Azka kembali menggerakkan tangannya yang terulur kearah Yuna, membuat apa yang saat itu berada dipikirannya buyar seketika.


Yuna mengerjapkan mata melihat tangan Azka yang terulur memegang sebuah kaleng minuman kehadapannya. Tak jua mengambil apa yang disodorkannya, Azka kemudian berinisiatif dengan meraih tangan Yuna, dan menggenggamkan minuman itu ke tangannya.


Rasa dingin dari kaleng minuman itu, dan sekaligus kulitnya yang bersentuhan dengan tangan Azka, mendadak membuat Yuna merasakan semacam sengatan yang mengalir didalam darahnya.


Benarkah ada aliran listrik ditangan Azka?


Tidak.. Tidak..


Itu tidak mungkin..


Yuna terkesiap karna hal itu, dan dengan buru-buru Ia kemudian menarik tangannya yang telah menggenggam kaleng minuman pemberian Azka.


“Te.. Terimakasih, Pak..”


Mendadak gugup, membuat Yuna tergagap ketika kalimat itu terucap dari bibirnya. Dan tatapan lurus dari kedua mata Azka yang mengarah padanya, juga membuat Yuna merasa perlu untuk menundukkan wajah, menghindarinya.


“Bukankah kau pernah mengatakan akan mengubah caramu memanggil Azka, Yuna..?”


Yuna mendongak mendengar teguran dari Ny.Dania.


“Sangat terdengar tidak pantas kau memanggil Azka seperti itu.. Kau bukan lagi resepsionis atau sekretaris palsunya. Menggelikan mendengarmu memanggilnya seperti itu..”


“Iya, bu.. Maafkan aku”


Yuna kemudian beralih untuk menatap Azka. Pria itu meletakkan kedua tangan di dada. Dengan posisi bersedekap itu, raut wajahnya seakan sedang menertawakannya.


“Terimakasih, Mas..”


“Sama-sama, sayang..”


Yuna memutar mata pada kerlingan mata Azka yang menyertai ucapannya. Bukan hanya itu saja, pria itu memanfaatkan ketidak berdayaannya didepan Ny.Dania dengan berani menyentuh rambutnya. Dan menyelipkan sedikit helaian kebelakang telinganya.


Azka akhirnya merasakan bagaimana lembutnya helaian rambut itu yang selama ini terlihat berkilau dimatanya.


Namun sedikit lain dengan apa yang pada saat itu dirasakan oleh Yuna. Meski ia merasakan sedikit merinding pada tubuhnya, tapi keinginan untuk menendang Azka justru lebih besar. Ia lantas berdiri dari duduknya, dan dengan sengaja menginjak sepatu Azka dengan menggunakan sepatu berhak tujuh senti setidaknya, yang pada saat itu dikenakannya.


Ya..


menginjak menjadi cara lain yang dapat dilakukannya menggantikan keinginannya untuk menendang Azka pada saat itu.


Azka sekali lagi menyadari keberanian gadis itu yang membalas ucapan main-mainnya dengan memanggilnya ‘sayang’ didepan sang ibu yang sudah pasti melebarkan mata mendengarnya.


Azka sudah akan bereaksi dengan apa yang dilakukan Yuna pada kakinya, gadis itu benar-benar sedang menginjaknya dan bahkan menekan ujung sepatunya. Namun niatan Azka harus terhenti ketika mengetahui Ibu nya mendecak sebelum kemudian berdiri dari duduknya dan kembali menenteng tas tangannya. Ibu nya pasti telah memiliki pemikiran sendiri dalam kepalanya.


“Ayo, sudah waktunya kita pergi, Yuna. Sampai bertemu lagi dirumah, Azka..”


Azka tersenyum pada ibu nya, Ia juga merasakan sebelah kakinya sudah terbebas dari injakan sepatu Yuna. Dan ketika gadis itu kemudian beranjak tanpa mengatakan sesuatu padanya, Azka menarik pergelangan tangannya, mendekatkan tubuhnya dibelakang Yuna sebelum kemudian berbisik pelan di telinganya.


“Ingatlah.. jika ada balasan untuk segala sesuatu yang telah kau lakukan”


Ketika Yuna menolehkan wajahnya, ia langsung merasakan bibir Azka menempel pada pipinya, menekannya.


Jika tadi ia menekan sepatunya untuk menginjak kaki Azka. Sekarang pria itu membalas dengan menekan bibir di pipinya.


Sialan..


“AZKA..!!”


Ny.Dania memekik dari ambang pintu, ketika menoleh dan mendapati apa yang pada saat itu dilakukan putranya. Suara sang ibu yang kemudian membuat Azka menjauhkan dirinya dan melihat Yuna dengan terburu mendekat pada ibunya.


“Hm, Maafkan aku ma.. Aku hanya ingin memberikan saran padamu, sebaiknya mama menambah jam pada kelas kepribadian yang diikutinya..”


Ny.Dania mengerutkan dahi mendengarnya, dan Azka hanya mengangkat kedua bahunya mengetahui kekesalan yang pada saat itu tersorot dari kedua mata Yuna.


***


to be continue