
Setelah gagal melakukan terapi pertama dihari itu, dan Yuri yang menjadi tak sadarkan diri, membuat Yuna kembali mencemaskan keadaannya.
Jena meminta ijin untuk keluar pada siang itu, menjadikan Yuna tak memiliki teman untuk diajak bicara. Yuri masih tertidur, dan ia memutuskan untuk membiarkannya beristirahat.
“Minumlah..”
Seseorang menyodorkan sekaleng minuman padanya, dan Yuna baru mengetahui setelah mendongakkan wajahnya jika sang dokter, Fariz lah yang memberikan itu padanya.
“Dokter..”
“Minumlah.. Ini akan dapat mengurangi keteganganmu..”
Fariz tersenyum ketika Yuna kemudian menerimanya.
“Terimakasih..”
“Bolehkah aku duduk..”
“Iya, silahkan dokter..”
Menempati kursi tunggu yang kosong disebelah Yuna, Fariz lantas membuka satu kaleng minuman ditangannya, untuk kemudian meminumnya.
“Apa yang sebelumnya terjadi pada kakakmu? Aku bisa melihat ketakutan dimatanya ketika aku menyentuhnya. Bahkan aku hanya memegang tangannya dan dia menjadi luar biasa histeris..”
Yuna menatap pada Fariz yang masih berbicara.
“Bukan bermaksud mencampuri, tapi aku perlu mengetahuinya. Jika tidak dan kakakmu terus seperti itu, bagaimana bisa aku melakukan terapi terhadapnya..”
Yuna sedikit menimbang-nimbang haruskah ia menceritakan kejadian buruk yang sebelumnya dialami oleh Yuri, namun kemudian ia berbicara..
“seseorang dimasalalu menyakitinya, dan kakak ku sempat mengalami depresi karna hal itu..”
Meski Yuna tidak secara gamblang mengatakan kesakitan macam apa yang telah ditorehkan oleh seseorang dari masalalu itu terhadap Yuri, namun sepertinya Fariz telah dapat memahami.
Yuna juga sempat menceritakan mengenai insiden kecelakaan itu, yang kemudian menjadikan Yuri sampai harus menjalani terapi dan hanya semakin menambah kejadian buruk yang dialami oleh kakak nya.
Tanpa sadar ketika itu airmatanya menetes, Ia selalu tak kuasa menahan cairan bening itu tiap kali dirinya ikut merasakan betapa sakit dan terlukanya hati Yuri.
Fariz yang melihat Yuna menangis pada saat itu, langsung berinisiatif mengambil sebuah sapu tangan dari dalam saku jas putih kebanggaannya, kemudian dengan tanpa diminta ia menggunakan itu untuk menyeka airmata dari wajah Yuna.
Yuna cukup terkejut mendapatkan perlakuan yang seperti itu dari sang dokter yang bahkan baru hari itu dikenalnya, namun sepertinya Fariz tak menyadari, atau memang sengaja mengabaikan ketidak nyamanan Yuna akibat dari perlakuannya.
“Maaf dokter, aku..aku..”
“Tidak apa-apa jika kau ingin menangis, aku bisa mengerti..”
Yuna bergerak kikuk, sebelah tangannya kemudian mencoba untuk mengambil alih sapu tangan itu dari tangan Fariz, namun sang dokter itu tidak mengijinkannya dan justru memegangi pergelangan tangannya. Bertepatan dengan itu sosok tinggi menjulang tiba-tiba muncul, dan berdiri didepan keduanya.
“Disini kau rupanya..”
Suara bernada dingin itu untuk sesaat sempat membuat tubuh Yuna menegang, namun kemudian ia tersadar..
“Pak Azka..”
Dengan cepat Yuna berdiri dari duduknya. Ia masih begitu terkejut dengan kehadiran Azka yang tiba-tiba.
Tapi Azka mengabaikan keterkejutan diwajah Yuna, dan lebih memperhatikan pada pergelangan tangan gadis itu yang masih dipegang oleh seorang pria disampingnya.
“Kau datang.. Kau tidak biasa datang pada siang hari seperti ini. Ada apa?”
“Aku ingin makan siang denganmu”
Ucap Azka datar, dengan masih tak melepas tatapan matanya. Ia pun lantas menarik sebelah tangan Yuna, memegangnya erat dan hal itu langsung menyadarkan Fariz untuk melepaskan pergelangan tangan Yuna dari genggaman tangannya.
Yuna yang merasa tak enak pada Fariz karena sikap Azka yang tak menunjukkan keramahan, kemudian sedikit membungkuk untuk meminta maaf padanya.
“Maaf dokter, aku harus..”
“Tidak apa-apa..”
Fariz tersenyum seolah telah mengerti apa yang coba dikatakan oleh Yuna.
Meski begitu ia masih tak berniat untuk menyapa pada Azka dan hanya mengarahkan pandangannya pada Yuna. Begitupun dengan Azka yang merasa tak perlu untuk memberikan sapaan terlebih dulu. Ekspresi wajahnya justru terlihat keras saat ia menatap pada pria itu..
“Ambilah, kau mungkin akan membutuhkannya..”
Fariz mengulurkan sapu tangan yang tadi sempat dipergunakannya untuk menyeka airmata Yuna. Namun belum sampai Yuna menerimanya, Azka telah lebih dulu menampiknya..
“Simpan itu kembali untukmu, dia tidak akan membutuhkannya..”
Dengan itu Azka kemudian menarik pergelangan tangan Yuna untuk berjalan mengikutinya. Tujuannya tentu agar Yuna secepatnya berada jauh dari seorang pria yang tak dikenalnya meski yang dilakukannya sedikit memaksa, dan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Yuna membuat gadis itu merasakan kesakitan.
“Awhh.. Pak, lepaskan tanganku..”
Azka tak bergeming..
Dan malah semakin mempercepat langkahnya.
“Apa yang kau lakukan? Mengapa tiba-tiba datang tanpa terlebih dulu memberitahuku..?”
“Aku sudah katakan aku ingin makan siang denganmu..”
Azka terus menarik Yuna sampai keduanya berada dipinggir jalan didepan gedung rumah sakit. Menunggu lampu lalu lintas berwarna merah, untuk selanjutnya menyebrang jalan menuju sebuah rumah makan yang sebelumnya sudah pernah mereka datangi.
Sampai saat itu pun, Azka masih mempertahankan pergelangan tangan Yuna untuk tetap berada dalam genggamannya.
“Pak, lepaskan aku.. Tanganku terasa sakit. Kau terlalu kuat menarikku..”
Ucap Yuna hati-hati, masih tak mengerti dengan sikap Azka yang seperti itu. Yang sungguh terasa lain dan tak seperti biasanya..
Apakah ada sesuatu yang sedang mengganggunya?
Yuna masih hanya mempertanyakan hal itu didalam hatinya saja.
“Pak..”
Azka langsung menyentakkan tangannya, dan dengan raut wajah mengeras dan tatapan mata yang menyiratkan kemarahan ia menatap pada Yuna yang berada disebelahnya.
“Pak Azka, kau marah? Kau marah padaku? Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau tiba-tiba marah padaku..?”
Rahang Azka mengeras mendengarnya..
“Kau datang tanpa terlebih dulu memberitahuku. Dan sekarang kau tiba-tiba bersikap kasar dan marah padaku. Apa sih yang terjadi?”
“Kau bilang aku tidak memberitahumu.. Sekarang jawab aku, kau kemanakan ponsel mu!!”
Yuna tersadar, ia memang tak membawa ponselnya pada saat itu. Ia bahkan lupa dimana terakhir kali meletakkannya. Mungkin tertinggal saat ia berada dikamar Yuri tadi..
Oh,
bodohnya dirinya..
“Aku berkali-kali menghubungimu tapi kau tidak menjawab ponselmu. Aku cemas dan dengan cepat berubah panik saat Jena bahkan mengatakan dia tidak sedang bersamamu. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Aku meninggalkan semua pekerjaan penting dikantor. Dan menyetir seperti berandalan gila hanya untuk memastikan kau baik-baik saja. Dan benar, kau memang baik-baik saja, bahkan asik berbicara dengan seorang pria. Aku kesal dan tentu saja marah karna hal itu. Lihat betapa bodohnya aku.. Aku panik karena mengira sesuatu yang buruk terjadi pada gadis yang menjadi tunanganku, tapi yang kutemukan justru kau yang asik berbicara dengan pria lain. Kau bahkan membiarkannya memegang tanganmu, Yuna.. Didepanku! Sialan..!”
Rahangnya mengeras, Azka bahkan terlihat ingin meninju apapun itu yang berada disekitarnya untuk melampiaskan kemarahannya.
Mendengar apa yang dikatakan Azka sebelumnya, sempat membuat Yuna merasa bersalah karna telah membuat kepanikan dalam diri pria itu, namun Yuna berubah terkesiap dengan kata-kata kasar yang diucapkan oleh Azka, dan menjadi kesal karna kemarahannya yang tidak masuk akal hanya karna melihatnya yang sedang berbicara dengan Fariz.
Yuna bergerak sedikit mundur melihat kemarahan yang masih berkilat dari sorot mata Azka pada saat itu.
Memang bukan sekali itu Ia melihat emosi dalam diri pria itu.
Tapi yang sebelumnya, kemarahan yang ditunjukkan Azka padanya selalu beralasan, dan itu karna dirinyalah yang memang melakukan kesalahan.
Tapi untuk sekarang ini, Yuna benar-benar merasa tak melakukan kesalahan.
Ok, jika kesalahannya adalah melupakan keberadaan ponselnya, dia akan meminta maaf. Tapi rasanya Azka tak perlu sampai semarah itu.
“Kurasa aku tak bisa makan siang denganmu, maaf..”
Tapi Azka tak membiarkannya begitu saja.
“Kau tidak bisa pergi.. Aku ingin kau menemaniku”
Azka meraih pergelangan tangannya, namun Yuna dengan cepat menyentakkannya..
“Aku tak bisa bersama pemarah sepertimu..”
“Oh, lalu kau akan lebih memilih bersama dengan pria lain dibanding menemani tunanganmu..”
“Pak!”
Yuna makin terpancing kesal..
Melihat lampu lalulintas yang telah berubah warna menjadi merah, Azka mencoba kembali meraih tangan Yuna untuk membawanya menyebrangi jalan raya itu, namun Yuna begitu terlihat enggan dan justru menepiskan tangan Azka darinya..
“Kau bahkan lebih rela tanganmu digenggam oleh pria lain daripada tunanganmu sendiri..”
Azka bergumam sinis, menanggapi penolakan yang dilakukan oleh Yuna padanya.
“Apa sih masalahmu? Kau terus menyebut pria lain sedari tadi. Asal kau tahu, pria lain yang terus kau sebut-sebut itu adalah seorang dokter. Dia dokter terapis yang akan membantu Kak Yuri untuk melakukan terapi berjalan. Dan seharusnya dia telah melakukan terapi mulai hari ini. Tapi tadi, kakak menolak untuk melakukannya. Dia ketakutan, dia tidak mau dokter itu menyentuhnya. Kakak bahkan menjerit-jerit hingga dia tak sadarkan diri. Apa yang pernah dilakukan Mas Doni pasti masih melekat didalam ingatannya. Dan Aku hanya membicarakan kondisi Kak Yuri dengannya. Maaf jika aku tak mengetahui kau menghubungiku. Aku terlalu panik terhadap Kak Yuri dan melupakan keberadaan ponselku. Aku takut, Aku sangat takut bila keadaan Kak Yuri memburuk, Pak.. Tapi kenapa kau justru bersikap seperti ini padaku..”
Yuna meloloskan cairan bening dari kedua matanya, dan membiarkan airmata itu membasahi wajahnya. Tak lama, Ia yang sudah merasakan lemas dikedua kakinya justru terduduk dibahu jalan itu, tak perduli beberapa orang yang melintas menoleh dan terus memperhatikannya.
Tentu saja, pertengkaran dan kemudian tangisannya yang terisak cukup untuk menarik perhatian dan tanda tanya diwajah orang-orang yang melintas disekitarnya pada saat itu.
Tapi keduanya sepertinya sama-sama tak perduli dengan hal itu.
Azka justru tercenung..
Apa yang dikatakan Yuna dan airmata yang kemudian menyertainya, dirasakan Azka sebagai tamparan keras untuknya. Menyadarkannya..
Ya Tuhan..
Mengapa ia begitu bodoh. Mengapa ia tak berpikir sampai kesana dan justru terbakar cemburu hanya karna kepanikannya yang ternyata sia-sia ketika dengan kedua matanya ia justru melihat gadis itu berbicara dengan pria lain yang tak dikenalinya.
Ia seorang pria dewasa yang seharusnya juga dapat bersikap secara dewasa, tapi kemarahannya kali ini benar-benar kekanakan.
“Kau seharusnya bertanya terlebih dulu padaku. Kau seharusnya tidak langsung marah padaku. Mengapa kau bisa begitu marah hanya karna hal seperti itu..”
Apa yang kembali dikatakan Yuna, kemudian membuat Azka tersadar untuk meraih gadis itu. Ia sudah berjongkok dihadapan Yuna, mengulurkan tangan untuk memeluknya, namun Yuna lagi-lagi menolak dan malah mendorongnya.
“Pergi.. Menjauhlah dariku..!! Aku tak membutuhkan pemarah sepertimu. Aku ingin seseorang yang bisa mengatakan padaku bahwa semua akan baik-baik saja. Kak Yuri akan baik-baik saja. Aku membutuhkanmu yang bisa menenangkan kecemasanku. Bukan justru kau yang datang dan memuntahkan kemarahanmu padaku..”
“Ya Tuhan, maafkan aku Yuna.. Aku tak tahu jika yang terjadi seperti itu. Aku benar-benar minta maaf.. Aku tak tahu apa yang sedang menguasaiku hingga menjadi seorang yang brengsek dengan kemarahanku. Maafkan aku.. Aku juga terlalu panik karna mengkhawatirkanmu.”
“Bukan keadaanku yang mengkhawatirkan. Aku baik-baik saja.. Tapi Kak Yuri.. Kak Yuri ku.. Dia, dia..”
Airmatanya mengalir bertambah deras hingga Yuna tak sanggup meneruskan kalimatnya.
“Yuri juga akan baik-baik saja.. Percayalah, dia akan baik-baik saja..”
Azka memaksa untuk memeluknya, meski Yuna masih berusaha menolak dengan memukul-mukul pada dadanya.
“Maafkan aku, sungguh aku meminta maaf karna sikapku yang tak dewasa.. Aku menyesal Yuna, maafkan aku..”
“Kau seharusnya mengerti, aku membutuhkanmu. Sejak tadi aku mengharapkanmu berada disini dan menemaniku. Aku merasa takkan bisa menghadapi semua ini sendirian. Tapi aku tak berani memintamu untuk datang. Aku tak ingin terus membebanimu..”
“Ya Tuhan, tidak Yuna.. Jangan lagi berpikir seperti itu. Kau sama sekali tidak membebaniku..”
Azka mengeratkan pelukannya, sambil mengusap dan menciumi puncak kepalanya. Berharap dengan itu dirinya dapat menenangkan dan membuat Yuna berhenti menangis.
“Maafkan aku, aku janji akan lebih “Maafkan aku, aku janji akan lebih memahamimu..”
Azka merasakan pergerakan dari kedua tangan Yuna yang kemudian membalas pelukannya. Gadis itu juga lantas menganggukkan kepala dalam pelukannya.
Meski bukan kali pertama Azka merasakan marah pada gadis itu, tapi kejadian tadi bisa dikatakan sebagai pertengkaran pertama diantara mereka setelah sama-sama mengungkapkan perasaan diantara keduanya. Dan karna Azka merasa dirinya yang jauh lebih dewasa dan seharusnya telah matang dalam berpikir dan juga bersikap, akan mengusahakan agar kesalahpahaman semacam itu tidak terjadi lagi diantara dirinya dan Yuna.
***
to be continue