
Azka POV
Aku tak pernah menduga sebelumnya, kepergianku yang hanya selama tiga hari ternyata menjadi waktu yang lama. Hingga mampu membuat banyak perubahan yang telah ku lewatkan.
Pertama, aku tak pernah mengira bila aku akan mendengar tawa dari Mama saat bersama dengan Yuna.
Apa yang telah dilakukan gadis itu pada ibuku?
Bagaimana dia bisa mempengaruhinya?
Menjadi pertanyaan dikepalaku..
Padahal sebelumnya Aku bahkan masih memikirkan dia yang merasa tertekan dengan sikap keras yang ditunjukkan Mama padanya. Tapi yang kulihat justru sikap Mama yang bisa dengan cepat berubah dan aku dapat menangkap perubahannya yang mulai bersikap ramah, bahkan hangat padanya.
Aku benar-benar melewatkan hal apa yang telah mampu mengubah sikap Mama menjadi seperti itu.
Kedua, aku juga melewatkan perubahan tampilannya. Itu benar-benar tidak terduga, saat aku melihatnya dengan rambut coklat berkilau miliknya. Aku bahkan hampir tak mengenalinya.
Sejak kapan dia mengganti warna rambutnya?
Itu jelas juga sudah aku lewatkan..
Hal ketiga yang aku lewatkan adalah sikap keras Mama yang tadinya menentang pertunangan konyol yang kulakukan dengan Yuna, kini justru menjadi aneh menurutku, ketika kudengar mama dengan mudahnya mengatakan membiarkan aku untuk berdua dengan Yuna. Mama seolah sudah merelakan ‘hubungan’ kami. padahal dimalam dia mengetahui aku menciumnya, oemma memarahiku habis-habisan dan memintaku untuk menahan hasratku terhadap gadis itu.
Namun yang pasti tidak akan kulewatkan sekarang, dan tidak akan ku sia-sia kan adalah kesempatan itu, yang telah diberikan Mama padaku untuk berbicara berdua dengannya.
Meski sebelumnya aku bersikap layaknya seorang pecundang, dengan berlari menghindar ketika Mama memberi kesempatan waktu untuk berdua dengannya. Hal itu tak berlaku sekarang, setelah aku mengguyur kepalaku dengan air dari shower.
Setelah melakukan mandi tadi, aku seakan memiliki pemikiran yang jernih dan sebuah keberanian untuk mengendalikan debaran keras dalam dadaku.
Maka kemudian aku kembali untuk melihatnya, mendekatinya yang sedang memijit bagian kakinya.
Kehadiranku pasti membuatnya terkejut. Aku melihat itu ketika kemudian dia mendongak untuk melihatku. Kedua matanya yang mengerjap dengan binar keterkejutan membuatku berani bersumpah, dia sungguh terlihat cantik dan menarik saat itu.
Dia tak lagi terlihat seperti gadis belia dengan tatapan berkilat kemarahan dan penuh kebencian pada pandangan pertama dia melihatku. Dia tidak terlihat seperti gadis belia yang dengan bodohnya berani menciumku di malam itu. Dia juga tidak terlihat seperti gadis belia usil yang pernah mencekik leherku dengan sebuah dasi, dan keberaniannya menjahiliku dengan kopi asin buatannya.
Tidak..
Dia sungguh tidak terlihat seperti gadis belia yang seperti itu.
Apa yang kulihat sekarang adalah murni apa yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Yuna yang kulihat kini, adalah seorang gadis yang memiliki rambut berwarna coklat, bergelombang dan berkilau dengan indahnya. Matanya bening memancarkan kepolosan. Wajahnya memunculkan rona kemerahan dikedua pipinya, dan dengan bibir merah jambu tipis yang sedikit basah, dia terlihat begitu memikat.
Dia sudah memikatku..
Bagaimana bisa dan bagaimana mungkin?
Sedangkan Yuri bahkan tak bisa melakukannya padaku.
Yuri jelas cantik. dia juga cerdas. dan memiliki tubuh seorang wanita dewasa yang sempurna. Yuri telah nyata-nyata menawarkan cinta padaku, tapi aku menolak.
dan apa sih yang sebenarnya kulihat dalam diri Yuna..?
dia hanya gadis belia..
dia tidak sepintar Yuri..
Mama bahkan mengkritisi tubuhnya dengan pernah menyebutnya memiliki dada yang belum sepenuhnya bertumbuh.
Yuna juga tidak menawarkan cinta dan justru memiliki rencana untuk menghancurkanku.
Karna itu
Aku mulai merasa ketertarikanku terhadapnya adalah sesuatu yang menyimpang. dan berpikir mungkin sebaiknya aku berkonsultasi pada seorang dokter ahli. Dokter mungkin akan mengatakan ketertarikanku terhadap gadis belia itu dikarenakan aku seorangphedopil.
Astaga…
Aku telah terlalu jauh berpikir. tentu saja aku bukanlah seorang phedopil. sebelum-sebelumnya aku tak pernah merasakan ketertarikan terhadap gadis belia. Meski Yuna masih tergolong gadis belia, usia kami hanya terpaut sepuluh tahun. dan bukankah itu masih tergolong wajar?
Tapi aku tak peduli mengenai perbedaan usia itu. dan niatannya yang mencoba menghancurkanku.
Sungguh, Aku benar-benar tak memperdulikan hal itu sekarang.
“Dibagian sebelah mana yang terasa pegal? Kau bisa menunjukkannya padaku..”
Aku malah teringat pada malam itu dihalaman belakang, ketika bahkan aku sempat memikirkan bagaimana dia bisa memiliki kakinya yang panjang, kini aku justru dapat menyentuhnya.
Kulit kakinya halus, bisa kurasakan kehalusannya mungkin bahkan melebihi kehalusan dari lembaran kain sutra.
Meski aku masih belum tau sehalus apa kain sutra itu.
“Aku bisa memijatnya untukmu..”
Mungkin aku telah mengatakan kebodohan. Aku sejenak melihatnya melebarkan mata sebelum kemudian kakinya menendang pahaku dan membuatku terjatuh secara tidak..
tidak pantas.
Ya..
Ini tidak pantas..
Dia begitu tidak sopan karena dengan berani telah menendangku..
“Oh, Pak.. maaf, aku tidak benar-benar berniat melakukannya. Aku tidak sengaja.. Aku hanya terkejut anda berani menyentuhku..”
Dia berdiri dari duduknya dan mencoba untuk membantuku, namun aku menolak. Aku merasakan kesal terhadapnya. Didalam hatiku aku sedang memuji dan mengaguminya, tapi dia justru menendangku.
Menjengkelkan..
“Jadi menurutmu aku menyentuhmu tadi?”
“Ya..”
Ya..
Aku memang menyentuhnya.
Tapi..
Ck! Itu hanyalah pada bagian kakinya saja. Sekedar kaki. Dia tidak seharusnya bereaksi berlebihan seperti itu kan..
“Jadi kau terkejut karna hal itu?”
Dia mengangguk, sambil menggigit bibir bawahnya.
Sial..
Itu hal yang tidak seharusnya dilakukannya dihadapanku.
Bukankah Aku sudah memperingatkannya sebelumnya..
“Kau seharusnya tidak terkejut, karna bukan hanya sekali ini aku menyentuhmu kan..”
Dia mundur ketika aku kemudian mendekat.
“Sudah seharusnya kau membiasakan diri terhadap sentuhanku. Bagaimana jika kita menikah nanti.. Tentu saja aku akan menyentuh seluruh bagian tubuhmu..”
Ekspresi terkejutnya luar biasa lucu setelah mendengar apa yang kukatakan. Wajahnya memerah, dia kembali mencoba untuk memundurkan langkahnya meski terhalang oleh kursi dibelakangnya. Hal itu yang kemudian membuatku bisa menangkap tubuhnya dengan melingkarkan lenganku dipinggangnya.
Dia bergerak risih, dan aku mencoba tak melihat itu..
“Apa yang kau pikirkan hingga kau menendang tunanganmu sendiri?”
“Aku sudah meminta maaf..”
“Aku tidak dapat memaafkan perbuatanmu..”
Dia merengut jengkel..
Aku sedang berpikir untuk membalas apa yang telah dilakukannya padaku.
Membuatnya menjadi kesal mungkin sebanding dengan tendangan yang dilakukannya padaku.
Meski yang dilakukannya tak melukaiku secara fisik, namun telah menyakiti ego ku..
“Aku mungkin masih merasakan jet lag, dan kau justru menendangku.. Yang benar saja?”
“Pak Azka.. Aku sudah meminta maaf”
“Aku belum mengatakan menerima permintaan maafmu kan..”
“Anda benar-benar seseorang yang pendendam..”
Dia melebarkan mata mendengar aku membalikkan kalimatnya, tapi aku takkan menjelaskan hal itu. Dia juga sepertinya tak membutuhkan aku untuk menjelaskan maksudku saat kemudian aku merasakan dia kembali bergerak gelisah..
“Tiga hari aku tak melihatmu, tidakkah kau berpikir aku mungkin merindukanmu..? Maka yang seharusnya kau lakukan sebagai seorang tunangan adalah memberikan pelukan untuk meleburkan rasa rindu itu. Bukan justru menendangku seperti tadi..”
Aku menarik pinggangnya lebih rapat, hingga dadanya menyentuh pada bagian dadaku. Dan kemudian memeluknya.
Aku benar-benar memeluknya.
Merengkuh tubuhnya dengan kedua tanganku, dan membuat tubuhnya terkunci dalam pelukanku. Aku bisa mencium semerbak dari keharuman rambut coklatnya yang menerpa hidungku.
“Seperti ini yang benar.. Dan kau mungkin juga harus menanyakan bagaimana keadaanku, pekerjaanku dan apakah aku sempat melirik gadis-gadis lain disana? emm, sepertinya aku ingin mendengar ada sedikit kecemburuan dari tunanganku..”
Aku mendengar dia mendengus, sebelum kemudian dengan menggunakan kedua tangannya dia mendorong dadaku dan melepaskan diri dari pelukan tanganku.
“Anda bahkan tidak bersikap layaknya seorang tunangan.. Anda pergi melakukan perjalanan tanpa pemberitahuan apalagi berpamitan terlebih dulu padaku. Bagaimana bisa kemudian anda mengajariku mengenai sikap yang benar sebagai seorang tunangan.. Sementara anda jelas yang telah lebih dulu menunjukkan ketidak benaran sikap sebagai seorang tunangan..”
Harus ku akui bahwa Yuna adalah gadis belia yang memiliki mulut pintar saat berbicara denganku. Aku juga bisa memberikan tepuk tangan pada keberaniannya melawanku.
Keberaniannya mungkin yang telah membuatku menjadi tertarik padanya.
Dari pandangan pertama dia melihatku, dia telah dengan berani menatap marah padaku. Dia berani merencanakan untuk menghancurkanku. Dia berani menciumku dimalam itu. Dia juga berani berbuat jahil padaku. dan baru saja dia telah berani menendangku.
Aku menyimpulkan bahwa Yuna adalah seorang gadis yang memiliki segudang keberanian didalam dirinya. Dan itu sangat menarik untuk mengetahui keberanian macam apalagi yang bisa dilakukannya.
“Jadi menurutmu aku…”
“Ehm..”
Aku baru saja akan membalas ucapannya ketika kemudian terdengar suara berdeham dari Mama, dan itu berada tak jauh dari kami..
“Mama melihat kalian telah membuat jarak, karna itu aku menyimpulkan jika kalian telah selesai berbicara”
Sebenarnya aku telah menduga Mama mengawasi kami. Rasanya memang tidak mungkin dia begitu saja membiarkanku dan Yuna tanpa pengawasan dari kedua matanya.
“Papamu sudah pulang dan sedang menunggu untuk bertemu denganmu, Azka. Kau bisa meninggalkan Yuna sekarang..”
Itu bukan pemberitahuan, melainkan perintah. Maka aku mengangguk, mengiyakan..
“Oh, baiklah ma.. Aku akan menemui Papa”
Aku meninggalkan Mama dan Yuna untuk kemudian menemui Papa. Berbicara beberapa waktu dengannya yang mempertanyakan bagaimana kunjunganku ke Cina dan perkembangan kerjasama perusahaan kami disana.
Aku mengatakan pada Papa perkembangannya cukup baik dan menguntungkan. Meski ada beberapa kendala yang mungkin akan sedikit menghambat dikedepannya, dan kemungkinan aku akan kembali lagi kesana dalam waktu dekat untuk melakukan pemeriksaaan lagi di semuanya.
Papa memberikan beberapa masukan padaku, dan ketika itu membuatku sangat ingin membahas mengenai Doni dengannya. Namun aku menahannya. Berpikir mengenai Doni yang melakukan itu lantaran berlatar belakang pribadi, membuatku mempertimbangkan akan lebih bijak bila aku tidak melibatkan Papa kedalamnya. Aku sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalahku sendiri.
Maka setelah perbincangan itu, Mama memanggil ku dan Papa untuk melakukan makan malam bersama. Tanpa sadar aku memang telah merindukan itu dalam tiga hari kemarin, aku menikmati makan sendiri atau dengan rekan bisnis disana. Tanpa Mama dan papa itu tidak begitu mengenakkan. Dan juga tanpa Yuna, menjadi ada sesuatu yang terasa kurang.
Begitu cepatnya gadis itu memberikan pengaruh dihidupku, bahkan hanya dalam hitungan hari dengan menggunakan jari. Aku akan mengakui bahwa aku memang merindukannya. Aku bahkan memikirnya setiap hari. Sebelum tidur, wajahnya membayangiku. Terlebih rasa bibirnya yang kurasakan dimalam itu, seakan masih membekas dibibirku. Membuatku mendamba untuk dapat kembali merasakannya.
Yuna akan sanggup menguasai pikiranku, andai aku tak segera menghentikannya.
Tapi..
Tuhan..
Aku tak ingin menghentikannya.
“Tidak bisakah kau melihat pada makanan yang berada didepanmu, Azka? Kau melihat Yuna seperti dia adalah makanan yang sebenarnya, dan kau sedang berniat untuk melahapnya bukan?”
Mama melancarkan serangannya. Kupikir dia sudah bisa berdamai tadi.
“Mama tahu, mama sudah membuat Yuna terlihat lebih cantik. Tapi yang kulakukan padanya bukan bertujuan untuk memberikan kepuasan padamu, Azka.. Maka jangan berani-berani kau menginginkannya sementara Mama berada dibawah atap yang sama dengan kalian..”
Oh, Ibu ku..
Dia benar-benar bermulut tajam. Dan ayahku bahkan tak mencoba untuk menghentikannya.
“Kau tidak lupa kan, apa yang Mama katakan padamu malam itu..?”
Ya..
Tentu saja aku ingat. Setelah memarahiku dan Yuna,
Mama menambah kemarahannya padaku seperti aku adalah anak kecil yang membuat kesalahan semacam mencuri uang kepunyaannya. Mama bahkan mengatakan berbagai macam norma yang seharusnya tidak kulanggar.
“Aku mengingatnya Mama.. Maka berhentilah mengingatkanku.. Jangan mempermalukanku seolah aku pria bodoh yang tak memiliki otak untuk menyimpan ingatan tentang itu.”
“Bagus jika kau berpikir seperti itu..”
Sisa malam itu berhasil kulalui, setidaknya karna kelelahan yang kemudian membuatku lebih cepat untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Aku terbangun karna Bibi Lia yang membangunkanku, dan bukan ibuku seperti yang biasa dilakukannya. Membangunkanku biasanya telah menjadi rutinitas pagi yang tak akan dilewatkan oleh Mama.
Dan yang kuketahui kemudian dari apa yang dikatakan Papa adalah, Mama rupanya sedang disibukkan mendandani bonekanya.
Maksudku Yuna.
Ya..
Aku melihat Mama seperti menemukan mainan baru dengan kehadiran Yuna. Dia memang menginginkan seorang putri sebenarnya, setelah mendapatkanku. Tapi sayangnya ibuku tak berhasil memilikinya dan harus puas dengan seorang putra sepertiku. Hanya tak menyangka, gadis itu bisa membuat harapan itu terwujud.
Mama tidak lagi menyiapkan pakaian untukku, dan lebih memilih berada didalam kamar gadis itu sampai ku ketahui yang dilakukannya benar-benar membuatku berdecak kagum.
Mama menuruni anak tangga dengan Yuna yang berada dibelakangnya. Gadis itu seperti yang kemarin kulihat, luar biasa mempesona.
Dres hijau sebawah lutut yang dikenakannya, membuat kulit seputih susu yang dimilikinya semakin bersinar. Rambut coklat yang bergelombang itu pun tak kalah bersinar. Kedua mata bulatnya juga memancarkan sinarannya tersendiri.
Tapi aku tidak akan menyebut bibirnya bersinar..
Itu tidak akan menjadi tepat bila aku menyebutnya seperti itu.
Aku akan memilih menyebut bibirnya berkilau.
Berkilau dengan warnanya yang merah itu.
Merah..
Itu jelas warna kesukaan ibuku. Karna itu, dia tak pernah mengganti warna kuku-kukunya selain dengan warna merah. Dan kini, gadis itu juga memiliki warna kuku yang sama seperti ibuku.
Tak salah bila kini aku menyebut Yuna sebagai bonekanya.
“Selamat pagi, Azka..”
Mama masih mengingatku rupanya..
“Selamat pagi, ma..”
“Bagaimana menurutmu? Mama menyiapkan Yuna untuk hari ini.. Dia akan mulai mengikuti kelas kepribadian..”
Aku tidak sadar apa yang kuucapkan, tapi sepertinya aku telah menyuarakan apa yang ada dalam hatiku.
“Cantik..”
Dan rona dikedua pipinya semakin terlihat merah.
“Oh, tentu saja.. Tapi bukan itu yang Mama maksud. Bagaimana menurutmu dengan kelas kepribadian yang akan diikutinya?”
“Oh, tentu saja itu hal yang bagus untuk dilakukannya. Setidaknya dia takkan lagi melakukan perkelahian atau pun tendangan pada tunangannya sendiri..”
Dia melebarkan matanya kearahku dan aku bersusah payah menahan geli karna hal itu.
“Apa yang Azka maksud adalah kau pernah menendangnya, Yuna..?”
Dia menggigit bibir bawahnya dan mengangguk pelan pada mama yang kemudian mendecakkan lidah dan menggelengkan kepala mengetahuinya.
“Astaga.. Kau benar-benar harus cepat-cepat mengikuti kelas itu”
Dan ekspresi memberengut diwajahnya benar-benar tidak ingin aku lewatkan. Tapi deringan dari ponsel milikku yang kemudian memaksaku untuk beralih.
Staf kantor menghubungiku..
“Pak.. Sebaiknya anda cepat datang kekantor. Perusahaan mengalami kekacauan..”
Sial..
Apa yang terjadi disana..??
***
to be continue