
“Yuna, sepertinya kami harus kembali kekantor..”
Husna membuat Yuna seketika mengalihkan tatapannya yang sebelumnya terarah pada Azka, kini berganti pada kedua temannya itu yang mulai berkemas..
“Kenapa kalian terburu-buru”
“Tentu saja karna kami harus bekerja, nona muda..”
Gurau Siska menggoda Yuna..
“Kami tidak sama sepertimu yang sekarang tidak memerlukan lagi pekerjaan menjadi resepsionis seperti itu..”
“Tapi kita bahkan baru mengobrol..”
“Astaga.. Kau tak sadar kita sudah menghabikan waktu lebih dari dua jam?”
“Kurasa kita baru beberapa menit..”
Yuna ikut berdiri dari duduknya ketika Husna dan Siska melakukan hal itu.
“Kita bisa melakukan hal menyenangkan seperti ini lagi lain waktu, kau hanya tinggal memintanya pada Pak Azka..”
Yuna memasang wajah cemberutnya, masih tidak ingin kehilangan kebersamaan dengan keduanya yang sudah sangat jarang ia miliki.
“Benar yang dikatakan Siska. Tuan muda yang sangat baik itu pasti akan memberikan apa yang kau inginkan dan kami akan dengan senang hati menerima hal-hal menyenangkan seperti ini..”
Husna dan Siska sama-sama terkikik setelahnya. Mempunyai seorang teman yang memiliki keberuntungan seperti Yuna setidaknya juga membuat mereka sesekali ikut merasakan keberuntungan seperti menikmati makanan gratis dan dispensasi waktu kerja mereka.
“Kalian hanya tak tahu jika Pak Azka kadang tak sebaik itu..”
Yang dimaksud Yuna adalah sikap Azka yang terkadang ia rasa konyol dan begitu menjengkelkan. Namun Husna dan Siska jelaslah tidak mengetahui hal itu, keduanya saling menatap sambil mengerutkan dahi mendengar apa yang dikeluhkan Yuna saat itu.
“Jadi maksudmu tuan muda tidak baik? Begitukah?”
Yuna memberengut sambil mengarahkan tatapannya pada Azka..
“Kadangkala dia bisa menjadi seorang yang menjengkelkan..”
“Dalam hal apa Pak Azka biasanya bersikap seperti itu?”
Siska tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, Yuna pun merasa pada saat itu ia tak bisa jika tidak berbagi cerita mengenai yang satu itu dengan kedua temannya. Maka ia kemudian menceritakan bagian dimana Azka bisa menjadi seorang yang begitu menjengkelkan hanya karna seorang dokter terapi yang menangani kakaknya mengirimkan pesan padanya. Beruntung Husna ataupun Siska tak mengenal sang kakak yang dulunya pernah menjadi sekertaris Azka, mereka sama-sama baru bekerja disana. Karna itu Yuna tak perlu bercerita banyak mengenai Yuri. Yuna lantas menyambungnya dengan tak melewatkan bagian dimana Azka menuduhnya berbohong dengan status ‘pernikahan’ sang dokter. Yang sebenarnya ia sendiri hanya mengira-ira saja.
“Jadi waktu kau tiba-tiba muncul dikantor bersama dengan Pak Azka saat itu dia sedang marah padamu?”
Yuna mengangguk membuat Husna dan Siska justru menertawainya.
“Wah.. Pantas saja kalian terlihat aneh. Tapi dalam keadaan marah sekalipun tuan muda bisa bersikap manis dengan menggendongmu saat itu, bagaimana jika dia tidak sedang marah… Dan bagaimana bisa kau menyebutnya menjengkelkan? Oh, jika aku diposisi mu Yuna.. Andai saja, aku pasti akan…”
Yuna memutar mata mengetahui Husna yang mulai berandai-andai dengan apapun itu yang kini sedang berada dalam pemikirannya. Ia mendengus saat kemudian pergelangan tangannya ditarik oleh Siska dan juga Husna yang kemudian mengikuti untuk melangkah mendekati keberadaan Azka saat itu.
“Kau harus tahu, Yuna.. Jika seorang pria bersikap seperti itu, itu tandanya dia cemburu dengan kehadiran pria lain yang coba mendekatimu”
Ketiganya masih saja berbincang saat dalam langkah menghampiri Azka..
“Tapi dokter Ahmad tidak sedang mencoba mendekatiku..”
“Tetap saja kau, dengan statusmu yang sekarang kau harus berhati-hati ketika berdekatan dengan pria manapun. Pak Azka pasti tidak hanya membesarkan kecemburuan yang dirasakannya, tapi dia juga memikirkan dampak dari kedekatanmu dengan dokter itu?”
“Apa maksudmu berkata seperti itu, Siska?”
Siska mendesah..
“Apa kau masih tidak sadar? Kau seorang tunangan Azka Rianda, Yuna.. Meski Pak Azka bukanlah seorang selebriti, tapi dia lebih terkenal daripada selebriti manapun di negri ini. Dia tampan dan kaya. Satu-satunya pewaris jaringan bisnis ayahnya. Dan apa jadinya jika seorang gadis yang menjadi tunangannya kedapatan dekat dengan pria lain? Akan banyak yang mengira jika kau sedang berselingkuh dan akhirnya mereka semua akan menghujat-mu..”
Siska terus melanjutkan..
“Pasti akan banyak yang mengatakan jika kau hanyalah gadis yang tak tahu diuntung. Ingat bagaimana ramai-nya pemberitaan atas pertunangan kalian waktu itu? Dan aku yakin akan lebih ramai jika ada skandal perselingkuhan. Pak Azka pasti memikirkan sampai sejauh itu, kurasa dia juga memikirkan untuk melindungimu dari hal itu..”
Meski merasa apa yang dikatakan Siska sangatlah berlebihan saat itu, namun dalam benaknya mengikuti apa yang sedang coba digambarkan oleh Siska, dan tak ayal hal itu juga membuat Yuna bergidik ngeri membayangkannya. Ia telah mengetahui bagaimana jadinya bila publik sudah mengambil sikap terhadap skandal perselingkuhan yang dilakukan selebriti negri nya. Seperti yang dikatakan Siska, mereka menghujat dan mencaci tanpa tahu pasti kebenarannya, dan sepertinya dirinya bahkan juga pernah menjadi salah satu dari mereka yang ikut memberikan komentar tajamnya.
Meski ia tidak berselingkuh, bisa saja mereka akan salah mengira dan menganggapnya demikian bila melihatnya berama dengan dokter Ahmad.
Tapi..
Astaga..
Yang benar saja,
Mengapa ia justru terseret dalam omongan Sisk?
“Tapi aku kan tidak berselingkuh..”
Yuna mendengus..
Menyadari pemikirannya telah melanglang jauh kemana-mana.
“Lagipula untuk apa sih mempermasalahkan kecemburuan tuan muda padamu, menurutku seorang pria yang dengan terang-terangan menunjukkan kecemburuannya, itu tandanya dia benar-benar menginginkanmu, Yuna.. Oh, aku pasti meleleh. Andai saja kita bisa sesaat saja bertukar tempat, aku ingin merasakan seperti apa rasanya saat tuan muda.. Ya yaa kalian..! Jangan berlari..”
Mengabaikan Husna, Siska dan Yuna tertawa saat keduanya kemudian berlari meninggalkan teman mereka yang satu itu, yang masih terus saja mengandaikan sikap Aziz. Ketiganya lantas menghampiri Azka, pria yang banyak menjadi topik obrolan mereka tadi.
Husna dan Siska kembali membungkukkan tubuh mereka dihadapan Azka, mengatakan keduanya akan kembali kekantor, dan sekaligus mengatakan terimakasihnya karna telah diberi waktu menyenangkan untuk bertemu dan mengobrol bersama, sekaligus merayakan masuknya Yuna ke universitas.
Azka menanggapi dengan gaya penuh wibawa sebagai seorang atasan, yang sesaat lalu justru mendapatkan cibiran dari Yuna. Ia yang merasa telah begitu mengenal pria itu dalam kesehariannya, justru merasa geli melihat sikap yang ditunjukkan Azka saat itu terhadap kedua temannya. Jika Yuna tidak telah mengenal watak pria itu secara keseluruhannya, ia sudah pasti juga akan terkesan atau bahkan menjadi segan dengan ke-wibawa-an yang ditunjukkannya seperti yang sedang dilihatnya dirasakan oleh kedua temannya. Husna dan Siska terlihat jelas sedang menunjukkan raut segan mereka terhadap Azka.
“Kenapa? Dari raut wajahmu, sepertinya kau sedang menahan tawa?”
Azka..
Dengan kembali bersandar diatas kap mobilnya, kedua tangannya yang terlipat didepan dada, kaki yang menyilang dengan bagian sebelah kanan yang berada lebih didepan, serta ekor matanya yang memicing, Ia terus memperhatikan Yuna yang berada dihadapannya dengan penuh rasa keingintahuan terhadap hal menggelikan macam apa yang tengah dirasakan gadis itu.
“Lucu, sikap wibawa-mu yang kau perlihatkan sedikit tidak berada pada tempatnya..”
Kali ini Yuna terang-terangan menunjukkan tawa gelinya, setelah kedua temannya tidak lagi berada diantara ia dan Azka. Yuna tak mengelak dengan apa yang dirasaknnya ketika itu.
“Jadi kau sedang menertawai sikapku?”
“e-hm..”
Yuna mengangguk..
“Menggelikan..”
Azka memutar mata mendengar dan sekaligus menyaksikan tawa terkikik Yuna saat itu. Tapi ia lantas tak hanya tinggal diam setelah dihadapannya Yuna dengan terang-terangan sedang menertawainya. Bahkan setelah kedua temannya menunjukan keseganan terhadap sikapnya, bagaimana bisa gadis itu justru menilainya menggelikan.
Oh, yang benar saja..
Maka kemudian, Azka mendekat untuk kemudian meraih pinggang Yuna merapat ketubuhnya. Membuatnya sesaat menangkap sinyal keterkejutan dalam raut wajah belia-nya.
Yuna langsung menghentikan tawanya dan hanya bisa mengerjapkan kedua matanya..
“Kau beruntung karna hari ini aku membebaskanmu untuk bersikap semaumu.. Jadi silahkan saja menertawaiku..”
Azka mulai menjalankan ujung jemarinya dipipi Yuna..
“Aku suka melihat bibir ini yang tertawa..”
Azka juga menyentuh pada sudut bibirnya, membuat Yuna tanpa sadar menelan ludah karenanya.
“Aku suka melihat keceriaan yang membingkai indah diwajahmu.. Apa kau menyukai harimu saat ini?”
Tanpa keraguan sedikitpun, Yuna mengangguk dan dengan keberanian yang dimiliki, ia langsung mengalungkan kedua tangannya, memeluk pada leher Azka.
“Terimakasih Pak.. Terimakasih karna telah bersikap sangat baik hari ini..”
Apa yang didengarnya membuat Azka tersenyum, tangannya yang telah merangkul pada pinggang Yuna kemudian makin erat memeluknya. Beberapa saat menikmati kedekatan mereka. Yuna yang masih mengalungkan tangannya, menunjukkan senyum malu-malunya saat Azka terus menatap dengan menunjukkan senyum yang diyakini Yuna
akan mampu mempesona siapapun. Dan itu termasuk dirinya.
“Kenapa tadi tidak bergabung dengan kami?”
“Aku tak ingin mengganggu obrolan kalian dan membuat suasana jadi tidak nyaman dengan kehadiranku ditengah-tengah kalian..”
“Siapa yang akan menjadi tidak nyaman? Husna dan Siska pasti akan semakin bersemangat..”
Yuna mendengus..
“Terutama Husna, dia terus mengatakan kekagumannya padamu”
“Oh, benarkah? Temanmu itu melakukannya? Dan apa yang kau katakan padanya ketika dia sedang mengagumiku..?”
Yuna menggeleng membuat Azka berkerut dahi melihatnya..
“Tidak ada yang kau katakan?”
“hm..”
“Tidak sama sekali?”
“hm..emm..”
Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya..
“Ini tak bisa dipercaya.. Kau tidak mengatakan apapun pada gadis yang mengagumi tunanganmu didepan matamu? Kau membiarkannya..?”
Yuna kembali mengangguk-anggukan kepalanya tanpa dosa, seolah tak menyadari kalimat bernada kekesalan yang diucapkan Azka ketika itu.
“Setidaknya kau mengatakan ‘Hei.. Dia sudah menjadi tunanganku’ seperti itu..”
Yuna justru tertawa mendengarnya..
“Pak, aku tak perlu mengatakan hal seperti itu. Husna sudah pasti tahu akan hal itu..”
Sesimpel itukah pemikirannya?
Azka benar-benar tak habis mengerti. Tidakkah gadis belia yang berada dalam rangkulannya kini merasakan sedikit saja kecemburuan terhadapnya. Seperti yang selalu dirasakannya ketika ada pria lain yang berada dekat dengan Yuna. Bagaimana gadis itu justru bisa bersikap sesantai itu terhadap seorang teman wanitanya yang jelas-jelas menunjukkan kekaguman terhadapnya?
Oh, astaga..
Azka menahan erangan dari dalam dirinya..
“Aku tahu jika Husna telah lama menjadikanmu sebagai tuan muda dambaannya. Tapi dia adalah sedikit teman yang kumiliki yang mengerti dan selalu mendukungku. Dia hanya sekedar mengagumi dan tak benar-benar ingin mendapatkanmu. Karna itu aku membiarkannya terus mengagumimu. Aku justru berbangga dengan hal itu. Bangga karna bisa memiliki seseorang yang dikagumi oleh temanku..”
Apa yang dikatakan Yuna seolah karna ia tau dengan apa yang saat itu berada dalam pemikiran Azka, dan sengaja diucapkan untuk menjawab tanya dalam benak pria itu. Hal yang lantas membuat Azka kembali menunjukkan senyum dibibirnya..
“Oh, aku tak percaya jika kau bisa mengatakan kalimat semanis itu, Yuna..”
“Itu karna Aku tak mungkin memiliki kecemburuan konyol terhadap Husna”
Kalimat bernada sindiran untuknya itu kemudian membuat Azka memutuskan untuk tidak perlu menanggapinya. Jika ia melakukannya, sudah pasti hanya akan menjadikan perdebatan lagi yang tak henti diantara mereka. Perdebatan yang sangat kontras bila dilihat dari kedekatan tubuh keduanya yang bahkan telah nyaris menempel satu sama lain ketika itu. Dan Azka tak ingin merusak kemungkinan momen manis yang bisa diciptakannya bersama Yuna, dengan terus melakukan perdebatan tak penting disepanjang waktu kebersamaannya.
“Baiklah, untuk kalimat manis yang kau ucapkan itu, kau pantas untuk mendapatkan sesuatu..”
“Sesuatu?”
“hm, katakan sesuatu yang kau inginkan dan aku akan mengabulkannya..”
Yuna sesaat terlihat berpikir namun kemudian ia menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak menginginkan sesuatu lagi.. Karna tak ada lagi yang lebih kuinginkan selain melihat Kak Yuri sembuh..”
Azka mengerti dengan yang satu itu. Tapi bukan sesuatu seperti itu yang menjadi maksudnya. Maka ia meraih tangan Yuna yang mengalung dilehernya, untuk kemudian menggenggamnya.
“Aku mengerti dengan keinginanmu yang seperti itu. Tapi untuk kali ini, aku memintamu untuk memikirkan keinginan yang lain..”
Yuna tetap menggeleng..
“Pikirkanlah tentang dirimu, Yuna”
“Aku benar-benar tak memiliki keinginan yang lain, Pak..”
“Benarkah? Sekedar keinginan agar aku menciummu.. Kau pun tak memiliki keinginan yang semacam itu?”
Yuna memberengut mendengarnya..
“Oh, ayolah Yuna.. Pikirkan sesuatu yang kau inginkan”
“Apakah aku perlu melakukan itu?”
“Sangat perlu, jadi lakukanlah..”
“emm.. Kurasa, aku.. Aku menginginkan..”
Ragu-ragu Yuna mengatakan apa yang pada saat itu kemudian terlintas dibenaknya..
“kencan..”
Ucap Yuna yang kemudian langsung disesalinya. Ingin rasanya ia menggigit lidahnya saat itu, terlebih setelah melihat seringai yang ditunjukkan Azka diwajahnya.
“Kencan?”
Yuna malah kemudian menunduk saat Azka menanyakan, sekedar untuk memastikan jika itulah apa yang menjadi keinginan Yuna saat itu.
“Kau ingin kencan?”
Azka yang lantas meraih dagu Yuna, mengangkat wajahnya agar kemudian dapat bertatapan dengannya, hingga kembali menanyakan apa yang tadi diinginkannya.
“Kau ingin kencan?”
Yuna mengangguk..
***
To be continue
_____________________________________
Hai.. Hai para pembaca setia "At First Sight"
mendekati Episode² terakhir nih..
yuk kenalan sama visual cast At First Sight versi author...
1. Yuna
2. Azka
3. Yuri
4. Arkhan
5. Dokter Ahmad Fariz
6. Dokter Sulis